
Amarendra diam mendengarkan Bundanya memintanya berhati-hati dan Abah di antara mereka menjadi pendengar.
“Kamu dirawat berhari-hari dan tak ada niat sedikit pun untuk memberitahu Bunda.” Bundanya protes dan Amarendra menunduk dalam. Bu Sri kini beralih menatap Abah. “Pak, seharusnya Bapak bilang sama Sri.”
“Kamu pasti panik, Sri. Bapak menunggu Maren baikkan dulu, lihat dia, dia sudah baikkan. Andai kamu bilang sama Bapak punya utang yang berbunga kepada lintah darat, tak akan begini jadinya. Bapak sudah membayar setengahnya, sisanya Minggu depan.” Abah terdengar sangat kesal dan Amarendra dengan Bundanya menunduk. Setahun hidup di Jakarta sebelum pindah ke Bandung, tak mudah. Bu Sri harus berutang pada mereka, terpaksa, kabur ke Bandung menyembunyikan Amarendra berharap bisa tenang tapi nyatanya mereka mengejar sampai ke sini. Melukai anaknya. Baru empat bulan Bu Sri bekerja di sebuah kantor di Jakarta, itu juga setelah ditolak berulang kali karena masalah pribadinya.
Karena hari sudah malam, besok Bu Sri harus berangkat lagi, mereka mengakhiri obrolan. Abah pergi ke bawah, Toko. Amarendra dan Bundanya ke dapur. Amarendra makan dengan lahap, makanan Bundanya begitu dia rindukan. Bu Sri diam menatap, selera makannya lenyap, sudah kenyang walaupun hanya melihat anaknya makan. Tapi Amarendra tak membiarkannya, anaknya itu menyuapinya tanpa banyak bicara kemudian Bu Sri menangis.
“Jangan menangis, Bund. Kehidupan kita akan lebih baik, segera. Setelah aku lulus, akan lekas mencari kerja, aku janji, Bund.” Amarendra bersungguh-sungguh dan Bu Sri menggeleng.
“Bunda mau kamu kuliah, jika benar-benar ada uangnya. Bunda, kan, kerja. Tak usah khawatir, Nak. Maafkan Bunda sama Ayah, tak bisa memberikan kehidupan seperti dulu lagi.” Bu Sri terus terisak dan Amarendra bangkit, mendekat, memeluknya erat-erat sambil dia tahan sekuat tenaga air matanya agar tak jatuh.
“Ini sudah menjadi jalan hidup kita, tak ada yang perlu meminta maaf,” lirih Amarendra dan Bu Sri memeluk pinggangnya erat.
***
Kani dan adik-adiknya menunduk lesu melihat Bapak mereka terbaring sakit, dua hari lalu ke Puskesmas, pulang-pulang lesu, kemudian pergi lagi kemarin subuh ke Bekasi dan pulang sore. Pak Muji pergi ke rumah kerabat mereka yang di Bekasi untuk urusan yang sangat penting.
Bu Ismi dengan setia menemani, memasukkan kembali dan memeras kain kompres itu berkali-kali, banyak tetangga yang melihat saat mendengar Pak Muji sakit. Walaupun hanya demam, mereka semua begitu peduli bahkan tetangga yang jauh seperti Haryawan. Haryawan bahkan sempat-sempatnya melemparkan tatapan tak suka kepada Kani. Kani yang sadar hanya bisa menunduk penuh tanya.
Beberapa hari kemudian Pak Muji berangsur pulih, ada yang datang mengajak bekerja dia tolak dengan lembut, dia ingin istirahat untuk beberapa Minggu karena sadar diri tak mampu bekerja dengan kondisinya. Kani hanya mendengarkan dari dapur sambil menyalakan tungku lagi dan lagi, tak mau menyala, mati terus, membuatnya kesal saja.
“Teh, apa bapak perlu dibawa ke rumah sakit?” tanya Kenanga.
“Enggak tahu.” Kani tak bisa menjawab apa-apa dan mengangkat panci ke atas tungku untuk memasak air.
__ADS_1
“Bapak sakit karena harus memenuhi permintaan anak pertamanya yang nggak kira-kira. Bapak memang nggak pernah mengeluh, selalu menampilkan diri baik-baik saja, Bapak sudah batuk sejak lama. Nggak sembuh-sembuh, mungkin cuman aku sama Ibu yang nggak sadar. Teteh juga yang seharusnya paling peka dan sadar sudah banyak meminta tapi sibuk dengan ponsel baru dan pacaran!!” Dahlia mencerocos masuk ke dapur, suaranya memang dia jaga tapi cukup membuat Kani merasa tersinggung dan berdiri mendekatinya.
“Ngomong apa kamu? Aku sibuk sama Hp? Kamu bilang begini karena iri nggak punya Hp? Siapa juga yang pacaran, aku nggak pacaran, jangan sok tahu!” Matanya menyalak beringas, ucapannya cukup keras dan Kenanga takut-takut harus melerai bagaimana.
“Seisi sekolah juga tahu kali Teteh sama murid baru SMA itu pacaran! Bukannya Bapak sama Ibu sudah sering bilang, jangan pacaran, jangan pernah kalau bisa. Dosa, Teh.” Dahlia tak mau kalah dan sejauh ini ucapannya benar dan membuat Kani tegang.
“Itu teman aku, dekat bukan berarti pacaran. Bocah tahu apa, sih?” Kani mengotot dan Dahlia menatapnya tajam bersikukuh dengan apa yang dia ucapkan. Dia jelas melihat ketegangan di wajah Kakaknya.
“Kenapa kalian ribut?” Bu Ismi datang menegur. Menutup gorden tengah dan menarik kedua anaknya itu. Bertengkar di tengah-tengah situasi begini membuatnya semakin pusing. Dahlia tanpa ragu mengadu, segalanya tanpa terkecuali, dia juga pernah melihat Kani dibonceng Amarendra dan bersama di Perpustakaan. Betapa menyeramkannya ekspresi Bu Ismi yang mendengar, dia menarik tangan Kani yang memegang ponselnya. Mencubit serta memukul lengan anaknya itu dan Dahlia menjauh, takut kena juga, sementara Kani. Wajahnya sudah memerah, sakit karena tangan Ibunya dan kesal karena Dahlia mengadu berlebihan.
“Kamu bilang ponsel untuk belajar, tahu-tahunya untuk berhubungan dengan lelaki? Bikin malu! Kamu nggak sadar siapa bapakmu? Bapak begitu dihormati, setiap acara keagamaan selalu diandalkan, Bapakmu begitu-begitu juga dulunya anak pesantrian. Tapi anaknya nggak bisa menjaga harga diri keluarga dan dirinya. Ini sudah bilang jangan terlalu dekat dengan lelaki sekalipun itu Yana. Nggak baik, nanti timbul fitnah, kalau begini...jual saja ponselmu, Ibu juga butuh uang untuk berobat Bapakmu.” Bu Ismi berbicara dengan patah-patah. Betapa kecewanya ia, memanjakan anak memang tak ada habisnya tapi harus diawasi juga agar tidak dimanfaatkan begini.
Kani menggeleng, tak mau sampai Hp itu dijual, sudah sangat bergantung.
Hal tersebut cukup membuat napas Pak Muji terdengar tercekat. Kecewa apalagi jika istrinya bilang bahwa anak mereka itu pacaran. Entah akan bagaimana.
“Hp Kani jangan dijual, Pak. Jangan...” Kani memohon dan Pak Muji diam, saling melempar tatapan dengan istrinya.
“Jangan coba-coba membujuk Bapakmu, Ibu sudah putuskan, kita jual segera ponsel itu daripada kamu terus begini.” Bu Ismi berlalu, duduk di depan tungku yang sudah mati dan terus mengomel.
Berkali-kali Kani memanggil Bapaknya agar dibela, Bapaknya hanya diam tanpa berkata-kata. Ada sedikit rasa penyesalan di hati Pak Muji karena benar apa yang dikatakan istrinya, membelikan benda itu tak mengubah keadaan menjadi baik dan malah sebaliknya.
***
Amarendra terus mengirim pesan dari semalam tapi Kani tak kunjung membalasnya. Amarendra memperhatikan gadis itu dari balik kaca, sedang duduk di teras Aula dengan tatapan kosong. Entah apa yang terjadi, yang jelas dia melihat bahwa Kani ingin sendirian. Mungkin memang harus dia biarkan dahulu dan akan mau bercerita setelah dia tenang.
__ADS_1
Besoknya, seisi kelas heboh saat ponsel milik Reva lenyap entah ke mana. Reva menangis dan tak bisa membayangkan bagaimana murkanya ayahnya nanti.
“Siapa yang ada di kelas saat jam istirahat?” Pak Dodo guru bahasa Indonesia bertanya.
“Semuanya keluar, Pak.” Yana yang menjawab.
“Kamu pergi ke mana saja tadi istirahat, mungkin lupa.” Wali kelas menenangkan Reva. Reva menyeka air matanya dan Kani memperhatikannya.
“Cuman jajan, Bu. Ke Perpustakaan juga, sudah dicari di sana tapi nggak ada.” Reva menangis lagi dan Wali kelas, Guru BK, dan Pak Dodo meminta semuanya mengumpulkan tas di meja guru. Semuanya duduk. Harus pulang terlambat gara-gara kejadian ini. Tak
Setelah diperiksa, semuanya aman, ponsel itu entah di mana dan tangisan Reva semakin menjadi-jadi karena tak kunjung menemukannya, mereka semua sudah telat pulang, mereka dibubarkan dan Reva diminta untuk mengingat ke mana lagi dia pergi saat jam istirahat, karena dia baru sadar ponselnya tak ada ketika membereskan tasnya untuk pulang. Mungkin besok kelas lain juga harus ditanyai, para Guru sampai mendiskusikan hal tersebut cukup lama.
Di tempat lain, Dahlia sedang menunggu di depan pagar rumah temannya, ia ingin meminjam buku komik dan temannya keluar. Dia sempat diajak masuk tapi malas membuka sepatu, aromanya tak sedap tak mau sampai mengganggu. Maklum, kaos kakinya sudah coklat, sepatu bagian bawahnya bolong, jika menginjak jalanan basah sedikit saja membuat bagian dalam sepatunya lembab.
“Ini, jangan lama-lama, ya.” Temannya tersenyum.
“Iya, tenang.” Dahlia tersenyum dan memasukkan komik tersebut ke dalam tas.
“Eh, Dahlia. Tadi Teteh kamu datang ke kelas, cuman mencari tas kamu terus pergi lagi.” Dia menjelaskan dan Dahlia mengerutkan keningnya.
“Hah, kapan?”
“Tadi, waktu istirahat, cuman ada aku doang di kelas lagi makan bekal.”
Dahlia menggaruk kepala dan bingung, jika ada urusan kenapa tak menemuinya langsung? Entahlah, dia tak terlalu peduli dan kemudian berpisah dengan temannya itu.
__ADS_1