
***
Kani terduduk canggung di atas sofa empuk berwarna cokelat, anak kecil berumur tiga tahunan terus menatapnya lekat. Sementara Pak Muji sedang mengobrol dengan Nyonya rumah. Pemilik rumah bernama Gun dan istrinya Sartika. Memiliki dua anak, yang satu remaja dan yang satu itu terus menatap Kani. Sartika begitu ramah, memperhatikan Kani dan Pak Muji bergantian.
“Anaknya ternyata cantik sekali, Pak. Semoga dia betah di sini, tenang, akan kami jaga dengan baik.” Sartika tersenyum lebar dan Pak Muji tertawa kecil.
“Terima kasih banyak, Bu.” Pak Muji tersenyum kemudian dia diberikan waktu untuk berbicara dengan Kani berdua saja.
“Teh, tolong jaga diri, Bapak nggak bakalan menitipkan kamu sama mereka karena kamu sudah besar sudah sepatutnya bisa mempertimbangkan setiap langkah yang akan kamu lakukan. Tindakan dan ucapan kamu di sini juga akan mereka nilai tetap melibatkan Bapak, jaga diri, ya, Teh.” Pak Muji mengelus rambut Kani dan Kani mengangguk, matanya berair, Bapaknya akan pergi sekarang. Pak Muji pamit kepada Sartika kemudian pergi.
“Ayo, Kani.” Sartika mengajak Kani ke kamar, paling belakang dan Kani terdiam melihat betapa sempitnya kamar itu. Lebih lebar kamarnya di kampung! Dia meletakkan tasnya dan keluar lagi. Ada dua kamar mandi di rumah tersebut, satu untuknya dan yang satu lagi untuk empunya rumah. Kani melongok ke dapur sebentar. Kemudian diajak melihat semua kamar. Kedua anak itu senang dengan keberadaannya.
Kani melihat sebuah toko yang memang menyatu dengan rumah tersebut. Di luar ekspektasi, Kani mengira rumahnya sangat besar tapi sempit, sesak dengan barang-barang. Tak ada niat untuk menghina tapi rumah situasi begini akan menyulitkan siapa pun untuk membuatnya rapi karena terlalu banyak barang.
“Itu Mia pegawai di toko saya.” Sartika memperkenalkan Mia dan Kani tersenyum. Kani tertegun melihat toko yang hanya disekat oleh pembatas yang terbuat dari rotan itu memajang banyak sekali pakaian bagus-bagus.
Setelah menyusuri rumah. Dia diminta untuk mengajak si kecil Safira bermain, itu tak sulit bagi Kani yang memiliki banyak adik di rumah. Safira juga mudah akrab dan yang besar yaitu Manik hanya tersenyum ramah.
Waktu berlalu dan malam pun tiba, Kani bertemu dengan Tuan rumah yaitu Gun. Kemudian dia dipersilakan untuk istirahat dan besok mulai kerja. Kani tersenyum simpul dan membuka ponselnya. Apa Maren sudah sampai di Jakarta? Dan dia tinggal di mana? Kani ingin menelepon tapi ragu, akhirnya dia mengirimkan pesan. Pesan dari Amarendra tak terbalas olehnya tadi siang karena dia sibuk dan laki-laki itu paham.
Amarendra langsung menelepon dan Kani mengangkatnya.
“Bagaimana kesan pertama sampai di rumah itu?” Amarendra terdengar ceria.
__ADS_1
“Ya...bagus, mereka baik, aku baru selesai makan. Menunya tak aku kenal, ibu tak pernah memasak itu tapi itu sangat lezat, Maren.” Kani begitu antusias dan Amarendra tertawa.
“Syukurlah, aku baru merebahkan diri, selesai mandi. Aku tak dibaju.”
“Ish!” Kani kesal dan dia tertawa.
“Jelas aku berpakaian, aku baru menemukan kontrakan dan besok akan pergi ke restoran. Doakan aku, Raihan, Yana, semoga tak ada kendala.”
“Ya, Aamiin. Di mana mereka berdua?”
“Mereka sudah tidur.”
“Tolong jaga Yana, dia paling kecil di antara kalian.”
“Tidurlah, aku juga mau istirahat. Kita akan sama-sama sibuk, aku akan tetap menyempatkan waktu untukmu.”
“Bagiku, kamu yang utama, dah...”
Hening, Amarendra ketiduran dan Kani tersenyum. Berharap mendengar suara dengkuran laki-laki itu tapi malah suara Yana yang mengigau nyaring di telinganya. Kani lekas mematikan, meletakkan ponsel, berbaring dan terlelap.
Lekat dalam ingatan, dia harus bangun jam empat pagi.
***
__ADS_1
Sebuah Restoran mewah di antara restoran dan toko yang berjajar di sekitarnya tampak menonjol.
Amarendra menelan ludah dan memandangi sebuah gedung di seberang, kenapa bisa dia tak tahu kalau restoran ini berseberangan dengan tempat kerja Lusi? Jika Lusi melihatnya di sini apa dia bisa bersembunyi?
Amarendra tak memberitahu siapa pun kalau dia bekerja, hanya pada Abah dan Bunda. Lusi mungkin akan berhenti memberikan uang jajan jika tahu karena dia didesak untuk memikirkan kuliah bukan bekerja. Amarendra berharap takdir tak mempertemukan mereka.
“Kalian pegawai baru, kalau ada yang nggak dipahami, jangan ragu untuk bertanya daripada sok tahu dan salah. Manajer di Restoran ini cukup galak, tiga pegawai sebelumnya dipecat karena masalah sepele kemudian kalian diterima sebagai gantinya karena sebentar lagi bulan puasa dan hari raya.” Pria botak pegawai senior itu terus mencerocos dan ketiganya mengangguk paham.
Amarendra melirik wajah pucat Yana dan ketiganya mulai bekerja.
“Yan, kita tak mudah untuk sampai di sini, bahkan kontrakan sudah kita bayar. Jangan gegabah, Yan. Kerja di mana pun memang harus mengikuti arahan mereka para senior,” bisik Raihan dan Yana mengangguk. Berusaha melenyapkan kegelisahannya lalu keduanya melirik Amarendra yang didekati pegawai wanita yang sejak tadi curi-curi pandang.
Amarendra mengunci bibirnya rapat-rapat, lebih baik begitu, ketimbang meladeni wanita itu dan semakin panjang urusannya. Dia hanya ingin Kaniraras tak mau gadis lain apalagi wanita yang lebih tua darinya.
***
“Bukannya kerjaan aku membersihkan rumah, memasak, dan mengurus anak-anak, Mbak? Kenapa harus ikut-ikutan merapikan dagangan Ibu?” tanya Kani kepada Mia yang meminta bantuannya. Kani sudah sangat lelah bahkan sakit pinggang.
“Pekerjaan kamu kan sudah selesai, apa salahnya membantuku. Lebih cepat lebih baik.” Mia tersenyum, merasa pekerjaannya akan lebih mudah karena ada Kani dan dia bisa pulang sore-sore untuk bermain dengan anaknya yang masih balita. Kani sadar dia dimanfaatkan, kenapa di sudut bumi lainnya harus ada sosok Reva? Kani mendelik dan membantu. Besok-besok, dia tak sudi!
Kani menghitung setiap hari yang dia lewati, sudah satu pekan, dua, tiga, dan dia mulai merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya. Ia bahkan sering menangis ketika malam hari.
Merasakan pegal luar biasa dan lelah yang membuatnya sulit untuk tidur. Mia selalu meminta bantuannya dan kesalnya, Sartika juga begitu, memintanya menyortir baju yang baru datang di tengah malam. Apa mereka tak bisa melihat waktu? Apa dia harus bekerja dari pagi sampai pagi lagi? Dan lebih kecewanya lagi, setelah mengerjakan pekerjaan yang tak ada habisnya, Kani hanya dibayar empat ratus ribu rupiah.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak, tak senang menerima uang tersebut dan sekarang, Kani berusaha menelepon Amarendra. Mereka hanya bisa saling mengirim pesan beberapa kali saja dalam sehari, sama-sama sibuk dan lelah.