Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
FLASHBACK


__ADS_3

“Tak mau bertanya kenapa aku belum menikah?” Dia tersenyum dan Kani lebih memilih menatap ke arah lain. “Kamu juga belum menikah, jelas sekali hanya aku yang bisa singgah menempati hati dan pikiranmu.”


Kani membulatkan matanya dan melirik jengkel. “Kata siapa aku belum menikah? Jika iya, apa seorang wanita melajang alasannya harus karena laki-laki?”


Amarendra melirik sekitar dan menarik tangan Kani sampai gadis itu terpaksa mencondongkan badannya dan wajah keduanya hampir berbenturan.


“Aku seperti dulu, sangat mencintaimu. Aku jujur karena tak mau lagi ada salah paham di antara kita, tak sepertimu yang sibuk membohongi perasaan sendiri. Mungkin benar, aku kembali tak ada gunanya...” Dia begitu loyo dan Kani tak tega melihatnya.


“Aku juga sangat mencintaimu, Amarendra. Tak pernah sedetikpun berpaling bahkan selama bertahun-tahun kau meninggalkanku, aku masih melajang karena tak sanggup menerima sentuhan lelaki lain. Aku selalu bermimpi kau kembali tapi aku takut itu hanya sebuah angan-angan. Jadi, aku memutuskan untuk tak pernah mengharapkanmu kembali padaku. Aku sangat sadar diri, selalu menyakitimu.” Kani terus menundukkan kepala. Dia terisak pelan dan Amarendra meraih tangannya lagi.


“Aku di sini, Kani. Kenapa bisa kamu mengira aku tak akan kembali?”


“Aku bahkan mengira kau sudah menikah dengan Kirana, memiliki anak-anak yang tampan dan cantik, mewarisi itu dari kalian berdua. Aku hanya gadis kampung rendahan yang selalu membuatmu sulit, menghadang jalan suksesmu, aku benar-benar hanya perempuan merepotkan.” Tangisannya semakin hebat dan Amarendra memandangnya begitu dalam.


“Kirana yang bahkan membatalkan perjodohan kami setelah dia sadar dan menikah dengan pria lain karena dia tahu, aku tak akan pernah bisa membalas perasaannya. Bersama denganku malah akan membuatnya sengsara.”


“Iya! Dan kau tak pernah bilang bahwa kau dijodohkan dengannya. Aku seperti orang ketiga di antara kalian.” Kani kesal.


“Tapi aku tak pernah menganggap itu.” Amarendra berusaha meyakinkan.


“Tapi apa susahnya memberitahu dari awal?” Kani menatap lemah dengan matanya yang basah. “Bahkan sekarang pun aku tak pantas bersanding denganmu. Cari perempuan lain yang sederajat denganmu, jangan aku, bertemu denganmu sudah cukup bagiku, Maren. Bahagiakan Bunda, menikahlah.” Genggamannya mengendur tapi Amarendra mempertahankannya.


“Kau tidak waras berbicara begitu?” Dia menatap jengkel.


“Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan. Aku sangat mencintaimu tapi aku tak pernah mengharapkanmu kembali bahkan sampai berniat menikahiku, tidak, Maren. Lagi pula aku sudah menerima lelaki lain walaupun lebih muda dariku. Terpaksa karena aku ingin membuat keluargaku lega, terkhusus bapak dan ibu.” Kani bersungguh-sungguh dan Amarendra mengeratkan genggamannya. Jangan harap dia melepaskannya.


“Batalkan! Aku sudah di sini, jangan harap aku melepaskanmu untuk lelaki lain. Kau hanya milikku.” Matanya memicing dan tangan satu lagi terangkat. Dia merogoh dompetnya dan Kani takut Amarendra nekat.


“Maren...” Berusaha membujuk tapi pria itu menyela ucapannya.


“Diam! Aku tak mau mendengar ocehanmu yang tak jelas!” Dia mendelik tak suka dan membayar semuanya kemudian membawa Kani pergi. Dia ingin menemui keluarga Kani sekarang, tak mau menunda.

__ADS_1


Di dalam mobil, menuju rumah Kani, Amarendra memperhatikan wanita itu memainkan jemari, cincin itu di sana dan bibirnya menyunggingkan senyuman bahagia.


“Di mana anting yang pernah aku berikan?” tanya Amarendra saat melihat daun telinga Kani begitu polos.


“Hilang sebelah, maaf. Maren, jangan begini, urungkan niatmu untuk pergi ke rumahku, berhenti.” Kani berusaha menahan karena sebentar lagi sampai.


Mata Amarendra memicing menahan amarah.


“Benar-benar kau, ya!!” Amarendra murka dan menepikan mobilnya. “Kau selalu ingin aku menemui keluargamu, aku sudah siap segalanya dan kau tak mau?” Nada bicaranya penuh emosi.


“Kau bisa melihatku dan dirimu? Perbedaan menonjol antara kita. Kita hanya bisa saling mencintai tapi tidak untuk bersama. Tolong, Maren, mengertilah sedikit.” Kani menatap layu dan Amarendra mendelik.


“Oke, pilihkan perempuan untuk aku nikahi tapi syaratnya kau tetap bersamaku.” Dia menyeringai.


“Kau sinting! Ingin menjadikanku selingkuhan, Maren. Kau benar-benar tega!” Matanya berair dan dia memukul bahu pria itu kuat-kuat tapi tak berpengaruh apa pun.


“Itu juga yang kamu minta saat akan menikah dengan Kalingga.” Satu alisnya terangkat dan matanya melirik Kani.


“Benar-benar rela saat melihatku di pelaminan dengan perempuan lain?” Dia berusaha menahan senyumnya.


“Terserah! Aku tak akan datang.” Dadanya tiba-tiba sesak, baru mendengar apalagi jika melihat.


“Ya, karena kamu tak akan sanggup bahkan kalau iya, aku akan menciumnya di hadapanmu, itu yang kau mau, mau melihat itu? Sungguh? Hah!”


Kani mendorong bahu Amarendra, hendak keluar tapi pintu masih terkunci.


“Maren, buka!”


“Jangan bertingkah, jangan sampai aku melakukan hal gila karena untuk membuatmu diam. Mari bicarakan baik-baik.” Suaranya melembut dan Kani duduk kembali dengan tenang. “Serius, sudah menerima lelaki lain?” Matanya memandang sedih, dia telat.


Kani menggeleng, membalas sekali pesan dari Bara tak membuat segalanya menjadi spesial. Tak ada gairah untuk meladeni pemuda itu yang terus mengirimkan pesan berbau gombalan cinta, Kani merasa melihat Syamsir sedang kasmaran dan memutuskan tidak meladeni Bara lebih lanjut, dia sudah tak pantas lagi dan tak akan merasa tersanjung dengan hal semacam itu, itu malah membuatnya meringis geli.  Amarendra merasa lega. Kesempatan baginya terbuka lebar.

__ADS_1


“Maaf karena aku tak bilang-bilang, perjodohan itu, aku merasa tak perlu mengatakannya. Aku tak pernah menganggap itu spesial. Aku jauh lebih sibuk merencanakan kehidupan kita. Tapi segalanya hancur setelah kau berubah, banyak berbohong, kau tak terima karena merasa dibohongi untuk satu hal. Lantas bagaimana denganmu yang berbohong, berkali-kali, tapi aku berusaha menahan saat tahu kau begitu karena membahasnya malah akan membuat hubungan kita yang bermasalah semakin runyam. Coba bayangkan luka di hatiku sesakit apa, Kani.  Sangat menyakitkan, satu kebohongan kau timpa lagi dengan kebohongan lainnya, kau lakukan lagi agar aman dariku, tapi semuanya dengan mudah aku ketahui karena apa yang kita rencanakan tak akan selamanya berjalan mulus. Aku benar-benar hancur apalagi melihatmu dibonceng pria lain tapi saat aku ajak untuk menyelesaikan masalah, kau banyak alasan, kau berbohong lagi dan lagi.”


Dia menghela napas setelah mengatakan segalanya yang dia tahan bertahun-tahun. Selalu dia tutupi dan Kani perlahan menatapnya. Memandangi Amarendra yang sibuk menunduk.


“Aku minta maaf, Maren.”


“Kau memilih Kalingga, itu yang paling sakit. Membuatku sadar diri dengan statusku dan kau bilang dijodohkan tapi nyatanya kau sukarela menerimanya, kau tertarik padanya, kau mengabaikanku. Tak mau menunggu sampai aku mampu datang melamarmu.”


Kani beringsut mendekat. Mengempit tangan Amarendra dan bersandar pada bahu pria itu.


“Aku tak pernah tertarik padanya. Sumpah, aku terpaksa menjauhimu perlahan dengan sedikit demi sedikit agar kau tak curiga, saat pertemuan kita aku berubah, aku terpaksa melakukan itu. Aku bertemu dengan pak Sutan di sebuah acara, aku habis-habisan dia sadarkan bahwa posisiku jelas tak sepadan denganmu, dengan kalian semua..”


Beberapa tahun silam, Kani yang memang selalu diajak menghadiri banyak acara oleh majikannya juga diajak oleh Shahnaz dan Satya. Acara pernikahan mewah seorang artis di salah satu gedung di Bandung tahun itu. Shahnaz meminta Kani tak perlu memakai seragam Baby siter. Shahnaz membelikan baju baru nan indah, menganggap Kani seperti seorang adik karena Shahnaz hanya anak satu-satunya di keluarganya tapi Kani sadar diri dengan posisinya. Dia menjaga anak majikannya yang paling kecil seperti seharusnya, sampai bertemu dengan para pengasuh lain yang berseragam resmi.


“Saya juga seorang pembantu, pengasuh.” Kani tersenyum lebar dan mereka tak percaya melihat penampilannya dari atas ke bawah.


“Masa, sih, Mbak?”


“Iya, tapi memang saya bekerja dengan majikan saya di sini bukan lewat yayasan. Mereka baik, saya diminta memakai baju bagus ini.” Kani tersenyum lagi dan menyentuh sedikit dres panjang berwarna abu.


“Baiknya mereka, Mbak Kani sangat beruntung.” Yang satu begitu takjub dan yang lain menahan pujian mereka sebatas hati karena belum percaya sepenuhnya.


Kani duduk di antara mereka, sesekali melihat anak asuhnya. Seorang pria yang baru datang ke sudut tersebut memperhatikan Kani dengan saksama. Dia Sutan yang langsung menggaruk kepala melihat gadis pujaan keponakannya.


Kani yang sadar diperhatikan tersentak melihat siapa di sana. Menatapnya rendah dan senyuman mengejek.


“Itu Omnya Maren.” Kani menunduk lagi setelah memastikan, pria itu benar-benar Om kekasihnya yang dia lihat saat di Malang.


Kani pamit dan membawa anak asuhnya. Tapi, Sutan menghadang jalannya.


“Kaniraras?” Tangannya menunjuk dan Kani mengangguk. “Sebagus apa pun pakaian yang kau pakai, posisimu memang di sana.” Matanya menunjuk para Baby siter itu.

__ADS_1


__ADS_2