
***
Kani dipersilakan duduk saat Eka sampai di Yayasan. Dia tahu akan diinterogasi perihal semalam.
“Ke mana kamu semalam? Kami di sini yang bertanggungjawab akan terkena masalah kalau kamu nggak bisa mematuhi peraturan!” Dia berteriak.
“Saya tidak melihat jam, Bu. Saudara saya meminta saya menginap saja, tak mungkin ke sini karena percuma, tak akan diizinkan masuk. Saya salah, maaf.”
Wanita itu mangut-mangut, setengah percaya.
“Sore ini kamu pergi ke daerah Tangerang, bekerjalah dengan baik jangan sedikit-sedikit mengeluh.” Dia mendelik tajam.
Kani menggeleng, menolak. “Saya nggak bisa, Bu. Tanggal enam saya bahkan mau pulang kampung.”
“Kenapa?” Suaranya meninggi.
“Saya sudah lama tak pulang, Bu. Keluarga saya di kampung perlu saya jenguk,” tegasnya kesal. Berani melawan wanita berwajah gelap itu.
“Balik lagi, kan, kamu ke sini?”
“Pasti, Bu.”
“Ya sudah tapi jangan lama. Sebelum pulang bayar sisa kemarin, nanti kamu kabur nggak balik lagi.”
Kani terbelalak dan memikirkan sebuah kebohongan terbaik.
“Justru saya sudah mengirimkan semua uang saya semalam, Bu. Cuman pegang seratus buat ongkos, kalau Ibu ambil, saya pulang gimana?” Sedikit merengek akan memperlancar kebohongannya dan Eka menepuk-nepuk keningnya frustrasi. Kani tersenyum, dia diminta untuk balik lagi, dia janji dan akhirnya dia bisa pulang.
__ADS_1
Tanggal enam sesuai yang dijanjikan, Amarendra, Yana, dan Raihan menunggu di Terminal rambutan. Kani ke sana dengan teman satu yayasan yang juga akan pulang tapi dari terminal mereka beda tujuan.
“Kalau Kani tahu tentang Kirana, dia ngambek, nggak ya?” Raihan menyeletuk dan Amarendra menoleh.
“Jangan sampai Kani tahu, aku nggak mau itu kejadian,” balasnya.
“Kirana cantik tahu!” Yana jujur tapi sayang, sikap Kirana bikin muak.
“Jangan dibahas lagi, pokoknya jangan sampai Kani tahu ada Kirana di antara kami,” tandas Amarendra dan keduanya mengangguk.
Keduanya berjongkok menunggu, tak sadar Kani mendengar segalanya dari tadi. Kani mundur dan berlalu pergi. Dia berjalan terburu-buru sambil menyeret tas selempangnya yang berat. Kani menolak saat ada pria mendekat, memberikan tawaran untuk membawakan tasnya, Kani tahu mereka akan meminta bayaran mahal apalagi suasana tahun baru begini. Dia sudah diperingatkan Bapaknya berulang kali. Kani terus mempertahankan tasnya dan pria itu membentak. Kani melirik petugas keamanan di Terminal tersebut, pria itu pergi takut terkena masalah. Kani mencari Bus menuju Terminal Leuwi Panjang, dia hendak masuk tapi tasnya ditarik.
“Kami menunggumu!” Yana kesal.
“Siapa yang memintamu!” sewotnya menimpali dan menarik tasnya kemudian masuk, dia bahkan tak melirik Amarendra yang menatapnya.
Amarendra duduk sendirian dan memperhatikan Kani. Kani duduk di dekat jendela, terus menatap keluar. Yana dan Raihan terheran-heran melihat kedua sejoli tak jelas itu.
“Dia kenapa, sih?” gumam Amarendra, mengirimkan pesan tak dibalas, dia telepon tak diangkat. Amarendra menyeret tasnya, menepuk bahu pria di sebelah Kani.
“Dia pacarku,” katanya dan Kani mendongak. Wajahnya merah.
“Aku tak kenal dia, tolong tetap di sini,” bantah Kani dan Amarendra terbelalak. Dia terpaksa menarik pria itu agar menyingkir, hampir berkelahi dan Kani terus menatap keluar bahkan sampai Bus melaju. Amarendra di sebelahnya belum bersuara, kepalanya terus tertoleh pada Kani, dia kaget melihat tangan gadis itu menyeka sesuatu di wajahnya.
“Kenapa kamu menangis, Kani? Kamu kenapa begini? Tak kenal aku, itu yang kamu katakan tadi.” Amarendra kesal, menarik paksa bahu gadis itu dan Kani tak mau. “Aku juga capek, Kani! Terserahlah!” Amarendra bangkit, mungkin memang itu yang diinginkan Kani tidak setelah tangannya diraih juga digenggam erat. Amarendra mendesah, menunduk menatap Kani yang masih tak mau melihatnya. Akhirnya dia duduk lagi dan hendak membalas genggaman tangan mungil itu tapi Kani malah melepasnya. Perempuan memang bikin pusing, susah dimengerti.
Amarendra menggenggam paksa, sangat erat, masa bodo jika gadis itu marah. Toh dia juga tak diizinkan pindah. Keheningan itu teramat menyiksa, Amarendra mengalihkan pandangannya ke depan, menunggu gadis itu menjelaskan apa yang membuatnya kesal dan marah sampai begini. Kani suka merajuk manja, juga galak, tapi dia tak pernah begini sebelumnya. Entah setan apa yang membuat gadis pujaannya menjadi sensitif.
__ADS_1
“Aku pindah, ya?” ucapnya lembut sambil menatap gadis itu. Amarendra mengelus punggung tangan Kani yang masih erat dia genggam. “Aku melihat gadis cantik di sana, aku pindah, ya? Kamu juga tak kenal aku, aku pindah...” Sebelum dia melanjutkan gurauannya Kani menoleh dan kepalanya menyembul untuk melihat mana gadis cantik itu. Sialnya, ternyata memang ada gadis yang duduk sendirian.
“Sana pindah,” kata Kani serak. “Laki-laki memang sama saja,” lanjutnya sambil terisak.
“Aku bercanda, aku hanya mau duduk denganmu. Apa yang terjadi sampai marah padaku begini? Aku salah apa? Bilang, dong! Jangan kayak anak kecil.”
“Aku memang kecil,” balas Kani ketus dan Amarendra menaikkan sudut kiri bibirnya. “Semuanya memang akan berakhir, bukan? Semua orang meninggalkanku.” Dia tak bisa menyembunyikan suara berat juga getar bibirnya.
“Kita semalam berbicara di telepon, ada yang salah dengan ucapanku sampai kamu tersinggung?” Amarendra mulai takut dan Kani menundukkan wajah sembabnya. “Aku minta maaf, Kani. Jangan begini.” Amarendra menarik gorden kaca dan menarik Kani ke dalam pelukannya.
Kani diam dan wajah Amarendra memucat.
“Aku tak akan pernah meninggalkanmu,” bisiknya lembut dan Kani menggeleng keras, tak mau dia sentuh.
Amarendra mendesah, keduanya sama-sama bingung, Amarendra terus mengingat yang mana ucapannya yang salah semalam, atau saat itu bertemu, atau di saat-saat yang lain? Dia tak menemukan jawabannya dan Kani benar-benar bungkam seribu bahasa sampai mereka turun dari Bus, menaiki Bus lain menuju tempat tinggal mereka.
Kani sudah mencatat daftar belanjaan, dia akan belanja di toko Abah. Mereka semua sampai dan melepas lelah di lantai dua bangunan tersebut. Kani merebahkan diri di atas sofa, kakinya sakit, Amarendra menghindar. Melepas jaketnya dan diam di balkon sambil mengisap rokok.
“Mereka kenapa, sih?” bisik Yana.
“Enggak tahu, bertengkar kali.”
“Iya kenapa?” Yana mendesak.
“Bawel.” Raihan menoyor wajah Yana. “Kamu tanya saja sana sendiri.”
Yana mendelik dan setelah beristirahat, Yana dan Raihan pamit, Amarendra mengangguk tak berbalik sesama sekali. Tapi saat dari balkon dia melihat keduanya, di mana gadis itu? Amarendra meninggalkan balkon dan melihat Kani tertidur. Amarendra merebahkan tubuhnya juga, di sofa berseberangan dengan gadis itu, dia diam memperhatikan Kani. Masih bingung dan memikirkan apa kesalahannya?
__ADS_1