Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
PINDAH SEKOLAH


__ADS_3

***


Bu Ismi terlihat kesal sepulang dari Warung, tadi dia bertemu dengan Rara, menanyakan ayah teman yang mana yang dimaksud Kani kemarin. Rara tidak tahu dan merasa tidak ada orang tuanya yang meninggal di kelas. Bu Ismi menyangka Kani bohong apalagi perginya dengan Raihan. Apa anaknya menjalin kasih dengan Raihan anak bandel itu?


“Kani,” panggilnya dengan galak dan Kani yang sedang mengupas bawang mengangkat wajahnya. “Tadi Ibu ketemu sama Rara, Ibu tanya, katanya nggak ada teman kalian yang ayahnya meninggal. Kamu bohong?” ia membentak.


“Ya Rara nggak bakal tahu, Bu. Temanku itu beda kelas sama aku, lagian kenapa, sih, Ibu masih saja penasaran dan tanya-tanya sama Rara. Ibu jangan kayak bapak, baik-baik sama keluarga mereka yang sudah jelas memfitnahku,” balas Kani kesal dan Ibunya mengurut dada.


“Kalau diungkit tentang masalah itu Ibu juga kesal, tadi Ibu cuman tanya karena penasaran.” Bu Ismi sangat hati-hati berbicara, takut anaknya yang sudah trauma kena fitnah itu tersinggung.


Kani menggeleng dan melanjutkan pekerjaan. Kedua orang tuanya sama saja, tak bisa menjaga perasaannya, masih saja mau membantu dan terhubung dengan keluarga itu.


Malamnya, sepulang mengaji, Kani melewati rumah Kalingga seperti biasa, sengaja dia perlambat langkahnya sampai pria yang sedang nongkrong di depan rumahnya menyapa, basa-basi, kemudian menanyakan kenapa akun media sosialnya tak kunjung dikonfirmasi. Kani terkejut dan janji akan memeriksanya. Ada sesuatu yang berbeda dengan pria itu, mulai tertarik pada Kani dan Kani yang memang suka padanya sejak lama jelas berbunga-bunga juga melupakan Kalingga yang kemarin ikut terhasut dengan semua fitnah yang dia alami.


Paginya, Kani berangkat sekolah seperti biasa, tak membawa ponsel padahal dia penasaran keadaan Amarendra sekarang, apa dia akan sekolah hari ini? Semoga temannya itu baik-baik saja. Sesampainya di sekolah Kani melihat Amarendra sedang mengobrol dengan guru, bahunya ditepuk-tepuk sebagai bentuk dukungan dan Amarendra yang masih sembab wajahnya mengangguk sambil menyunggingkan senyum paksa. Amarendra berlalu dan Kani sengaja tak memanggilnya, biar dia pergi dan mungkin ingin sendiri dahulu, tak perlu dia ganggu dan ia lekas ke kelas. Betapa terkejutnya Kani saat ia sampai melihat mejanya penuh dengan saus juga dengan kursinya.


Kani dengan mudah menebak siapa yang melakukannya, ia bersihkan dengan segera tanpa perlu ribut tapi hari-hari berikutnya, kejadian itu terulang. Ada yang tersenyum dan tertawa dengan puas, siapa lagi kalau bukan ketiga mantan temannya. Kani masih diam, berusaha sabar, Yana bahkan menegur Reva tapi Reva tak peduli sampai Reva dan kedua temannya semakin menjadi-jadi. Kani tersungkur kasar saat dia lewat dan Reva merentangkan kedua kakinya, kedua lutut Kani sampai lecet dan dia harus menahan itu sampai pulang sekolah.


“Kaki kamu kenapa, Kani?” Mereka bertemu di pintu gerbang, Amarendra sudah terlihat baik-baik saja tidak seperti sebelumnya.


“Aku jatuh,” jawab Kani berbohong, dia tak mengira kakinya sesakit ini, membuatnya sulit berjalan.


“Aku antar pulang, ya,” ucap Amarendra sambil menunduk dan Kani mengangguk. Amarendra membonceng Kani dan Kani memeluk pinggangnya. Heri yang melihat pemandangan itu diam, walaupun sakitnya karena cemburu masih dia rasa. Heri memenuhi janjinya, tak pernah mengganggu Kani lagi.

__ADS_1


Saat sampai di rumah, Kani mengeluh dan Bapaknya memintanya duduk dengan kaki terlentang. Pak Muji mengoleskan minyak urut, anaknya jatuh sangat kencang, dan Kani mengaduh saat Pak Muji terlalu kuat menekan belakang lututnya.


“Hati-hati, cuman memar, terus kasih minyak angin biar hangat, sebentar lagi juga sembuh,” kata Pak Muji menenangkan dan Kani mengangguk.


Tidak puas sampai di situ, Reva dan teman-temannya terus saja berusaha menyakiti Kani, Kani sampai duduk sendirian karena tak ada yang mau terkena masalah juga dengan Reva. Seisi kelas bingung karena tiba-tiba Kani diperlakukan seperti itu. Reva bahkan mengajak semua orang di kelas untuk mencederai Kani. Ada yang ikut-ikutan karena mereka merasa itu lucu tapi mereka yang masih sedikit waras memilih diam tak ikut-ikutan atau pun membela.


Saat jam olahraga selesai, semuanya main badminton termasuk Kani, dia mendadak tegang saat Reva menjadi salah satu di kandang lawannya. Reva terus menghantam dengan kuat, berharap bisa mengenai tepat di wajah Kani tapi Kani terus menghindar.


“Si Reva kayaknya sengaja, deh!” celetuk anak-anak SMA yang sedang menonton. Amarendra yang mendengar dan menonton sedari tadi juga melihat itu.


“Biar tahu rasa si Kani, gedek banget aku sama dia,” timpal Bela yang tak suka setelah tahu Kalingga dengan Kani begitu dekat dan sering berbicara di telepon.


Amarendra diam dan terus memperhatikan wajah tegang Kani. Semuanya menjerit saat raket yang dipegang Reva melayang mengenai wajah Kani, Kani terduduk langsung dan mengaduh.


“Kani, bangun.” Rosi dan Rara lekas membantu.


“Aku nggak apa-apa, aku mau ke toilet.” Kani pergi dan mengambil jaketnya. Reva tersenyum melihat wajah Kani merah hampir menangis.


“Rev, aduh! Itu keterlaluan,” bisik Citra dan Reva menatapnya kesal.


“Main sana sama dia,” tandas Reva jengkel dan Citra tak berani lagi berbicara.


Yana yang hendak menyusul tak jadi karena melihat Amarendra.

__ADS_1


Kani menyalakan keran air, dia tak masuk ke toilet, dia hanya ingin membasuh wajahnya. Ia meringis merasakan perih di beberapa titik wajahnya sampai bahunya ditarik dan Amarendra yang dia lihat.


“Berdarah, kenapa kamu diam saja, harusnya kamu mengadu di sana supaya guru bisa melihat.” Amarendra yang cemas mengomel. Amarendra menekan luka di kening gadis itu, menahan darah dan Kani mengangguk saat diminta menunggu sebentar.


Tak lama Amarendra kembali, Kani minum dan diam saat wajahnya disentuh, meringis saat plester direkatkan pada lukanya. Hidungnya juga sedikit lecet tapi dia tak mau diplester juga.


“Aku bisa menutupinya dengan poni.” Kani menarik anak rambutnya ke depan dan Amarendra menoyor kepalanya kesal. Kani tertawa renyah dan Amarendra merapikan rambut gadis itu seperti semula.


“Mereka membalasmu, aku sudah yakin itu,” katanya pelan dan Kani juga berpikir seperti itu tapi dia tak menyangka sampai separah ini. “Bicara pada wali kelas supaya mereka kena hukum ini, sudah keterlaluan.” Amarendra sangat takut. Sadar tak akan selalu bisa berada di dekat gadis itu.


“Aku tak mau ada masalah, aku juga lebih memilih menyibukkan diri belajar untuk menghadapi ujian,” balas Kani dan Amarendra menggeleng, kesal sendiri dengan sikap Kani. “Aku akan pindah sekolah jauh dari mereka. Mereka tak akan bisa mengganggu setelah itu.”


Amarendra hanya menatap dan Kani menoleh padanya.


“Teman terbaik, aku cuman punya kamu, Maren.” Kani menatap sendu dan Amarendra menjatuhkan telapak tangannya di pucuk kepala gadis itu.


“Aku tak akan bisa selalu ada menjagamu. Tolong, lawan mereka agar aku tak merasa bersalah ketika mendengarmu terus diganggu,” imbuhnya serak dan Kani tersenyum kemudian mengangguk lucu. Amarendra menjauhkan tangannya dan memilih menatap ke langit. Kani ikut-ikutan dan mereka melihat sepasang burung merpati melintas saling mengejar.


“Itu terlihat seperti aku dan kamu.” Kani menyeletuk dan Amarendra tertawa.


“Jadi, siapa yang mengejar?” tanyanya walaupun sudah tahu jawabannya, dialah yang mengejar.


“Tak ada, kita terbang bersama, tak saling mengejar apalagi meninggalkan.” Kani tersenyum dan Amarendra terdiam mendengarnya. “Janji padaku, selalu pamit ke mana pun, memberiku kabar, dan pertemanan kita akan berlangsung sampai tua.”

__ADS_1


Amarendra merasa tercekat mendengarnya, dia menginginkan hal yang sama tapi untuk status berbeda. Getaran itu hanya dia yang merasakan atau Kani terlalu kecil untuk memahami sebuah perlakuan spesial yang ditujukan laki-laki padanya? Ya, mungkin itu. Amarendra tak mau berpikiran tidak baik. Kani masih belia, itu adalah kenyataan tak terbantahkan.


__ADS_2