
“Jelas aku nggak mau pisah sama kamu, Maren.” Kani mengeratkan genggaman tangannya. Amarendra bangkit dan melepaskan genggaman itu, dia sangat ingin menangis karena rasanya semakin mustahil untuk memiliki Kani.
Amarendra menoleh saat Kani mengempit tangannya, untuk beberapa detik sampai gadis itu ditarik oleh Kalingga.
“Tak bisa pelan-pelan?” Amarendra berteriak dan keduanya saling membenturkan dada.
“Kamu memang membawa pengaruh buruk buat Kani. Orang tuanya sedang sibuk mencarinya dan kamu malah membawanya pergi!” bentaknya sambil menoyor kepala Amarendra. Kani berusaha melerai dan tak suka melihat Amarendra diperlakukan begitu. “Jauhi Kani, berandalan!” makinya menambahkan, Amarendra tak bisa menerima dan dia balas mendorong tubuh pria itu, satu pukulan melayang mengenai wajahnya, Amarendra membalas, pukulan pertama kena tapi saat Kalingga hendak menghantamnya malah mengenai bahu Kani yang memeluknya erat, melindunginya. Kani meringis, tak mau melepaskan Amarendra.
“Dia sama sekali tak membawa pengaruh buruk, Mas. Justru dia yang selalu ada buat aku. Mas Lingga tak tahu apa-apa jadi tolong pergi.” Kani sekarang membelakangi Amarendra. “Mas tak berhak ngomong kayak begitu, Mas tak pantas ngomong aneh-aneh tentang dia.”
“Kani, tangan kamu, itu pukulan keras, kita periksa.” Amarendra heboh ingin membawanya tapi Kani tak mau. Kani menyentuh luka di wajah Amarendra dan Kalingga semakin kalap ingin merebutnya.
Kani menolak tapi saat suara Bapaknya terdengar, dia tak berkutik. Kalingga menelepon Pak Muji dan Amarendra meyakinkan bahwa dia tak apa. Dia merelakan Kani dibawa pria itu dan Kani menangis.
Terus memandangi Amarendra yang masih saja mengembangkan senyuman membuat Kani semakin tak tega untuk meninggalkannya.
“Kani,” geram Kalingga menegur dan Kani menatapnya jengkel.
Pak Muji berterima kasih pada Kalingga dan Kani masuk. Dia mengurung diri di kamar, tangannya sakit, Ibunya datang pun dia tak mau bicara.
“Maafin Bapak, kamu tahu sendiri Bapak memang begitu. Istirahat, Ibu mau masak dulu.” Bu Ismi berdiri dan pergi, Pak Muji menyibak gorden, melihat Kani sebentar.
***
Amarendra menatap layar ponselnya, dia geser terus dan terus, melihat semua fotonya dengan Kani yang memenuhi Galeri. Matanya basah, hampir jatuh buliran bening dan dia lekas menyekanya sambil menarik napas dalam-dalam. Dia begitu sakit melihat Kani dibawa pria lain, padahal Kani belum bisa dia klaim sebagai miliknya itu terasa menusuk tepat di jantungnya apalagi jika benar-benar Pak Muji menikahkan paksa gadis kesayangannya itu. Dia jelas masih bisa hidup tapi tak akan seindah kehidupannya setelah mengenal Kani. Terbayang senyum dan tawanya, ketika merajuk apalagi marahnya. Amarendra meringis, takut benar-benar tak bisa mendapatkan Kani.
Dia kaget saat Bundanya menelepon, dia duduk dan panggilan sudah dia angkat.
“Sudah bertemu dengan Kani, Nak?” tanya Bunda lembut. “Gimana kabarnya si Cantik Bunda itu?” Bunda begitu sayang pada Kani walaupun baru beberapa kali melihat dan lebih sering mengobrol di telepon.
“Baik, Bund,” jawab Amarendra loyo. “Pangling aku lihat dia, hampir setahun kami tak berjumpa. Dia semakin cantik dan dewasa, dia juga berani sekarang, dia juga bilang kau ketemu sama Bunda.” Amarendra menahan getar bibirnya tapi dia tak akan bisa menyembunyikan itu dari wanita yang mengandung, melahirkan, dan membesarkannya.
“Kamu menahan tangis, Nak? Kenapa, bertengkar sama Kani? Kani masih kecil, usia segitu seharusnya main tapi dia sudah banyak bekerja. Kalau dia marah mending kamu diam, setelah tenang dia juga pasti deketin kamu lagi. Dia, kan, nggak bakalan bisa lama-lama marah sama kamu.” Bunda begitu riang menghiburnya dan Amarendra tertawa renyah. “Abah sehat?”
“Sehat, Bund.”
__ADS_1
“Minggu depan Bunda ke Bandung terus kembali ke Malang. Jangan terus bertengkar sama Kani, ya. Bilang sama dia Bunda juga mau ketemu.” Bundanya tertawa kecil dan Amarendra berusaha menjawab sesantai mungkin sampai akhirnya panggilan selesai. Amarendra lagi-lagi melihat fotonya dengan Kani. Apa setelah kejadian tadi, besok mereka bisa berjumpa?
***
Kani belum mau berbicara dengan Bapaknya, dia malas. Kani meringis saat tangannya dipijat oleh tukang urut ahli, dia tak bisa tidur karena lengannya kena pukulan Kalingga. Kalingga semalaman terus menelepon, tak sudi dia angkat, dia mengirimkan banyak pesan permintaan maaf, tak sedikit pun dia mengungkit Amarendra.
Tukang urut pergi setelah dibayar, Kani makan perlahan, dia memperhatikan Syamsir sedang mengupas buah apel yang dibeli Amarendra. Laki-laki itu selalu membeli sesuatu tapi selalu tak mau dia perkenalkan pada keluarganya.
“Teh, ini Hp buat aku, kan?” Dahlia tersenyum.
“Untuk di rumah, siapa pun boleh pakai,” balas Kani dan kedua adik perempuannya itu senang.
“Tambah lagi?” Bu Ismi menawari bakwan jagung lagi dan Kani mengangguk, dia suka apalagi masih hangat.
“Besok aku berangkat, yang mau protes silakan. Mau diam atau pergi dari rumah tetap saja gosip akan terus ada, aku juga nggak mau menikah muda, kalau pria yang dipilihkan untukku memberikan kesengsaraan apa waktu bisa diulang? Pernikahan bukan ajang uji coba atau kompetisi, mereka yang menikah muda, ya, silakan. Kalau aku tak mau, Dahlia dan Kenanga juga jangan menikah di bawah umur. Jaman semakin maju, harga diri perempuan semakin dijunjung, tapi adat di kampung masih saja selalu terjadi, menikahkan anak mereka sembarangan.” Kani mendelik dan berharap Ibu dan adik-adiknya paham dengan apa yang dia sampaikan.
“Ibu cuman minta jangan kayak kemarin kamu nggak pulang-pulang,” ujar Bu Ismi serak.
“Aku bakalan pulang tiga bulan sekali, Bu. Tenang saja. Kemarin cuman apes dapat majikan kayak begitu, mereka butuh tapi melarang pulang,” kata Kani dan Bu Ismi diam memperhatikan. “Kalau ada yang bilang Kani jual diri, ayo di tes, sekarang alat-alat canggih! Yang perawan sama yang sudah jebol bisa diketahui.” Kani kesal sampai tak menyaring kata-katanya. Bu Ismi mengusap-usap bahunya dan memintanya diam, takut suaminya tiba-tiba muncul dan mendengar lalu keributan terulang.
Kani:
Besok aku berangkat, maaf hari ini nggak bisa ketemu, tangan aku sakit gara-gara kemarin.
Amarendra:
Kita ke rumah sakit buat dicek, aku takut ada luka dalam yang serius. Aku juga besok berangkat, kita sudah janji untuk berangkat bersama, kan?
Kani:
Aku sudah diurut, cuman memar. Aku minta maaf untuk kejadian kemarin, bagaimana lukamu? Ya besok kita pergi bersama, aku juga tak mau jika pergi tanpa kamu.
Di tempatnya, jelas Amarendra kegirangan membaca pesan tersebut walaupun seharian ini dia hampa karena merindu.
Amarendra:
__ADS_1
I.L.Y
Kani:
Iya aku juga kangen
Amarendra:
Capek, deh!😑😑😑😑
Kani cengengesan melihat pesan terakhir Amarendra. Dahlia dan Kenanga sampai menatapnya dan Kani berhenti, mendelik, menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya.
“Apa Teteh punya pacar?” tanya Kenanga.
“Kalau pacarnya kak Maren, sih, nggak apa-apa. Dia baik.” Dahlia tersenyum.
“Bukannya itu pacar Teteh waktu di sekolah? Kan sekarang sudah nggak sekolah?” Kenanga bingung.
“Ya aku cuman asal tebak,” kata Dahlia dan Kenanga menggeleng kepala.
Besoknya, Kani sudah siap, mengikat tali sepatunya dan Pak Muji memperhatikan. Kani meminta tetangga mengantarkannya ke jalan raya. Tak akan pergi ke Terminal karena di sana ada Amarendra. Dia tak mau ada gosip baru.
“Kani pergi, Pak.” Dia meraih tangan Pak Muji dan mengecup punggung tangan itu. Kemudian Ibunya yang memeluknya erat. Adik-adiknya menyalami tangannya dan Kani pun pergi setelah mengucap salam.
“Bapak keterlaluan sama anak sendiri!” Bu Ismi mulai lagi sambil melengos ke dapur.
Pria yang mengantar menurunkan Kani sesuai yang Kani minta. Kani diam dan menunggu Bus, tak lama muncul dan dia melambaikan tangan kemudian naik. Kani sudah bisa melihat Amarendra, dia duduk dengan tas di sebelahnya dan wajahnya dia tutup dengan jaket. Kani mendekat dan menarik jaket itu. Amarendra tersenyum lebar.
“Bisa-bisanya kamu tahu ini aku.” Amarendra memindahkan tas dan dia pindah tempat, Kani yang duduk di sebelah kaca.
“Maren.” Kani cemas, menyentuh tulang pipi Amarendra yang membiru.
“Aku tak apa,” katanya sambil menurunkan tangan Kani.
“Dia keterlaluan, maaf.”
__ADS_1
“Kenapa jadi kamu yang meminta maaf? Sudah diam atau aku pindah tempat duduk!” Ancamannya berhasil membuat Kani merapat, mengempit tangannya. Kani tak banyak bicara begitu juga dengan Amarendra, kejadian itu membuat keduanya takut dipisahkan. Amarendra sesekali mengubah dagunya yang bersandar di atas pucuk kepala Kani menjadi pipinya. Dia memainkan jemari mungil itu dan Kani tersenyum.