Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
MUSYAWARAH


__ADS_3

Malam itu tiba, Heri dan orang tuanya datang, kebingungan betapa banyak orang yang berkumpul di rumah Pak Ganda. Pak Muji menunduk di sebelah Raihan dan Yana juga Ibunya. Mereka semua sudah menunggu. Sempat mengira  acara akan dilaksanakan di rumah Pak Muji tapi Pak Ganda ingin di rumahnya. Jelasnya agar Rere menjelaskan tapi kehadiran Kani juga jauh lebih penting sampai akhirnya Kani dijemput dan datang dengan Bu Ismi.


Heri menghela napas melihat Kani yang begitu hancur dengan apa yang terjadi. Kani terus dirangkul Ibunya dan Ibunya menatap tajam mereka yang menatap jijik anaknya.


Setelah acara dibuka oleh pemilik rumah, Kani melirik Rere yang keluar dari kamarnya dengan wajah menor. Dia seperti mengejeknya di acara menegangkan ini.


“Sama sekali bukan, bukan anak ini yang malam itu menginap di rumah kami. Heri membawa seorang gadis sepupunya sendiri, bukan pacarnya. Maksud Bapak ini apa, ya? Apa Bapak mengira saya akan mengizinkan anak saya membawa masuk anak perempuan orang ke rumah?” tandas ayahnya Heri yang tak terima dengan pertanyaan berbau tuduhan dari Pak Ganda.


Kani merasa lega mendengarnya, suka juga karena Ayahnya Heri pemarah jadi bisa melawan Uwanya yang seenaknya itu.


“Tapi kata Rosi begitu, Kani menginap di rumah Heri,” sela Rere yang yakin dan Rosi yang dipaksa hadir oleh Yana baru datang. Dia tegas membantah ucapan Rere.


“Aku nggak bilang begitu, kan aku bilang kok bisa Kani sama Heri pagi-pagi berdua. Apa mereka nginep, aku bilang begitu. Jangan bohong kamu, Re!” tegas Rosi yang sebelum berangkat sudah diinterogasi kakeknya habis-habisan bahkan diancam jika dia mengada-ngada. Pertanggungjawabannya berat jika dia berbohong.


“Demi Allah, Pak RT, semuanya yang hadir di sini. Celaka saya kalau ngomong nggak bener. Saya jam setengah enam ke pasar ketemu sama Bu Ismi dan Kani di jalan, mau ke pasar juga, nggak bener kalau ada yang ngomong hari itu Kani menginap di rumah laki-laki ini. Demi Allah, saya nggak bohong, kami berangkat bertiga jalan kaki.” Ibunya Yana menguatkan apa yang sebenarnya hari itu terjadi dan semuanya saling menatap bingung.


Ayahnya Heri mendelik kepada kedua gadis itu yang asal menyimpulkan dan Rere menelan ludah saat Bapaknya menatap kesal padanya.

__ADS_1


Kemudian dibahas lagi masalah foto itu, dengan menarik napas dahulu Heri akhirnya menjelaskan.


“Kani mau pulang, dia sendirian sedang menunggu Yana yang mengambil sepeda dari rumah temannya. Saya salah, saya minta maaf.” Heri merapatkan kedua tangannya dan melirik Rere. “Saya hampir melakukan tindakan nggak pantas sama Kani, Kani melawan. Saya suka sama dia tapi dia nggak suka sama saya. Saya nggak tahu siapa yang memfoto saat kami ribut begitu di posisi sedang berhadapan, coba dilihat lagi fotonya, jelas di foto itu bahwa Kani sedang menangis.” Heri menurunkan tangannya, dia sudah mendapatkan foto itu dan memperbesar tepat di wajah Kani.


“Saya yang meminta Kani menunggu karena takut dia capek kalau ikut, nggak mungkin kami pulang jalan kaki karena posisinya habis Magrib. Waktu saya kembali, Kani lagi ribut sama Heri, saya sama Heri juga berantem. Ada Reva sama Citra juga di sana, tapi yang foto saya juga nggak tahu. Bukannya Rere dan Rara menginap di rumah kamu, Ros malam itu? Kenapa bisa mereka sama kamu diam aja waktu Kani dituduh malam itu menginap. Seharusnya kamu jelasin, nggak bakal sejauh ini.” Yana menjelaskan sambil mendesak Rosi dan warna wajah Rosi meredup.


Rara dan Rere saling memandang dan semua mata juga tertuju pada mereka.


“Anu...foto itu diambil sama Rere.” Tunjuk Rosi dan Rere langsung membantah. “Kamu yang bilang sendiri, Re waktu kita mau tidur. Kamu keluar sama pacar kamu setelah Kani sama Yana pulang. Kamu bilang lihat Kani sama Heri, terus kamu foto bukan kamu tolong Kani padahal jelas Kani hampir dilecehkan sama Heri.” Rosi mencerocos karena dia lebih takut pada Kakeknya ketimbang pada Rere.


Semuanya menggeleng kepala dan Rere menahan tangis.


“Bukannya Aa yang bilang Kaniraras hamil,” tegas Pak Muji penuh amarah. “Aa yang mulai membicarakan semuanya ke setiap orang sampai melebar ke mana-mana,” sambungnya jengkel dan jika tidak ditahan mungkin sudah lepas kendali memukul Kakak iparnya sendiri.


“Kenapa kamu menyalahkan suami saya, ya kalau sudah pernah menginap, tidur bareng, nggak mungkin kan kalau hal itu nggak kejadian?” tegas Bu Atik membela suaminya yang sudah tersudut.


Bu Ismi tiba-tiba menarik satu bungkus pembalut dari dalam jaketnya dan dia lemparkan ke tengah-tengah semua orang.

__ADS_1


“Kani sedang datang bulan sekarang. Masih ada yang mau bilang kalau anak saya hamil? Ayo siapa!!!” bentak Bu Ismi dan Kani menatapnya lekat. “Kalian semua para orang tua terutama kalian kerabat kami, bisa-bisanya menuduh sembarangan, ini Fitnah, pencemaran nama baik. Semoga Allah tidak membalas sakit yang kami rasa dengan sakit yang lebih pedih pada kalian. Anak saya nggak salah tapi bukan berarti juga lepas dari yang namanya kesalahan.”


“Apa buktinya kalau Kani datang bulan? Seorang Ibu akan melakukan segala cara untuk melindungi anaknya,” balas Bu Atik dan Pak Ganda menarik bahunya agar duduk dan tak membuat keluarga mereka semakin malu.


“Kamu nggak salah, jadi jangan khawatir, mereka yang masih juga belum percaya biar sibuk dengan isi pikirannya masing-masing. Yang jelas, semuanya fitnah, kamu korban. Jadikan pelajaran,” ujar Ibunya Yana sambil memegang tangan Kani dan Kani mengangguk sambil menangis.


Kani terbukti tidak hamil dan semua tuduhan itu malah berbalik membuat keluarga Pak Ganda malu. Semuanya bubar dan Pak RT menggeleng-geleng kepala merasa malu sendiri dan meminta maaf kepada Pak Muji begitu juga dengan semuanya.


Sore tadi, Kani merasa lega apalagi Ibunya karena dia datang bulan walaupun telat, itu menjadi kabar baik untuk membantah semuanya. Lagi pula mana ada orang hamil yang tidak mengalami perubahan fisik apa pun.


Kani meninggalkan rumah itu dengan kelegaan, dia juga merasa senang Heri tak mempersulit keadaan begitu juga dengan semuanya dan sesampainya di rumah, Kani langsung makan, menyeka air matanya sesekali, dia bahagia dan semua adiknya memperhatikan.


Sementara Pak Muji dan Bu Ismi di kamar sedang berdebat, entah memperdebatkan apalagi dan Kani tidak peduli. Apa yang sudah terbukti tidak membuat Bapaknya mau memandangnya, ada rasa lega dan juga percuma saja atau entah bagi Bapaknya dia tetap salah mau apa pun yang terjadi di acara musyawarah tadi.


Kani merasa akan bisa tidur nyenyak malam ini. Setelah makan dia mandi, bersih-bersih dan merebahkan diri. Ibunya kemudian datang, memberikan ponselnya dan air minum.


“Istirahat, jangan memikirkan yang aneh-aneh lagi,” kata Bu Ismi dan Kani tersenyum.

__ADS_1


Bu Ismi keluar dari kamar, Kani tidur sendirian dan dia berguling-guling dengan bebas. Dahlia dan Kenanga tidur di ruang tamu, mereka ketiduran saat menonton televisi.


__ADS_2