Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
TEMAN TERBAIK


__ADS_3

KANI mengedarkan pandangan saat semua orang memperhatikan kedatangannya. Kani menunduk dan menyumbat telinganya, lebih baik mendengarkan musik daripada mendengarkan sindiran mereka yang tak tahu apa-apa tapi bersikap paling tahu segalanya. Kani sebenarnya dilarang sekolah tapi dia bosan di rumah, walaupun takut tapi dia percaya Amarendra akan menjaganya.


“Angkat dagumu, untuk apa menunduk begitu.” Suara itu tepat di sebelahnya, Kani menarik Hoodie jaketnya dan tersenyum melihat Amarendra. Keduanya berjalan bersama walaupun menjadi sorotan kemudian berpisah dan saling mengirimkan pesan.


Saat masuk ke dalam kelas masih sepi, kemudian muncul Yana dan menyapa.


“Yan, apa semua orang di sekolah tahu tentang gosip itu? Apa mereka percaya bahwa aku hamil sampai mereka semua menatapku aneh?” ujar Kani dan Yana yang akan pergi ke tempat duduknya berbalik badan, mendekat.


“Mereka tahu segalanya, bahkan Heri sempat dipanggil guru BK. Ada yang percaya ada yang biasa saja, mereka yang paham seperti apa Kaniraras tak akan mudah terprovokasi. Mungkin kamu juga akan dipanggil guru, itu salah paham, tak perlu ada yang ditakutkan. Datang padaku jika butuh bantuan dan...untuk sementara jangan terlalu dekat dengan Reva, Citra, ataupun Teti. Si kembar apalagi, kamu tak tahu bagaimana mereka di belakangmu.” Suaranya melemah ketika menyebut nama-nama itu. Kani mengangguk dan dia juga baru ingat bahwa Amarendra sering mengingatkan hal yang sama dan bisa-bisanya dia mengabaikan itu.


Apa yang dikatakan Yana terjadi, Kani dipanggil, tak ada yang serius dan harus dia khawatirkan karena semuanya sudah selesai dan wali kelasnya hanya mengatakan agar ia bisa lebih baik lagi dalam menjaga diri apalagi ketika bepergian dan jangan sampai kejadian tersebut mempengaruhi kualitasnya, wali kelas sangat takut jika Kani terpengaruh dan nilainya menurun. Kemudian Kani dipersilakan kembali dan saat dia keluar, dia sudah ditunggu teman-temannya, Kani diam saat bahunya dirangkul Reva.

__ADS_1


“Syukurlah kamu sudah kembali.” Reva begitu antusias, padahal Kani tahu segalanya dan bahkan Dahlia mengatakan bahwa Reva yang paling heboh menggembar-gemborkan masalah kemarin di sekolah. Pertemanan macam apa ini? Hanya menyeringai sinis dan tidak memedulikan apa pun yang dikatakan mereka yang selalu tampil baik di hadapannya dan di belakang beda lagi. Padahal sejak dulu dia selalu berusaha menjaga pertemanan ini. Dia kira yang lain juga sama tapi nyatanya dia yang bodoh.


Saat jam istirahat, Kani dilarang Amarendra untuk mendekatinya, Amarendra takut setelah melihat banyak yang terpengaruh dengan gosip tersebut dan semakin heboh setelah Kani muncul kembali. Kani akhirnya dia memilih diam di kelas.


Saat pulang sekolah, Kani melihat kelas Amarendra sudah hening, entah kenapa. Dia berjalan sendiri dan mendadak mematung saat punggungnya dilempari sesuatu, terasa basah. Kani berbalik badan. Kani menutup matanya saat Arif melemparkan plastik bening yang diisi dengan air bau amis, mungkin air empang di samping sekolah karena warnanya juga hijau.


Kani membuka matanya karena dia tak merasakan apa-apa lagi. Tapi dia malah melihat Amarendra yang basah dan melemparkan tasnya kepada mereka.


“Hidupmu memang hanya bisa mengganggu perempuan!” teriak Amarendra murka dan Kani mendekat.


“Kurang ajar!” bentak Citra, mendorong Amarendra dan Reva membantu Arif berdiri.

__ADS_1


Kani lekas menarik lengan Amarendra dan meraih tas ransel yang teronggok. Arif melawan dan melemparkan plastik itu lagi mengenai tengkuk Amarendra. Amarendra tak peduli, dia menyeka pipi Kani yang basah terkena sedikit.


“Ke sini kamu Maren kalau berani.” Arif berteriak-teriak menantang dan guru keluar dari ruangan mereka, membentak-bentak agar semuanya bubar. Amarendra menarik tangan Kani, membawanya lekas pergi.


Kani terus menatap Amarendra yang menahan amarah sampai tak mau mengatakan apa-apa. Setelah keduanya keluar meninggalkan sekolah, Amarendra melepaskan tangannya.


“Kamu menendangnya, Maren.” Kani berbisik dan Amarendra diam. “Aku takut ada masalah.”


“Masalah adalah teman terbaik bagiku.” Amarendra berbalik dan mengambil tasnya. “Pulang, akan aku perhatikan dari jauh.”


Kani diam sambil memandang dan Amarendra tersenyum, barulah Kani merasa lega melihatnya. Keduanya melangkah kembali, menyusuri gang sempit, kemudian berpisah. Amarendra menepati ucapannya, memperhatikan dari jauh.

__ADS_1


__ADS_2