
Seminggu kemudian, Kani di kirim ke Tangerang, keluarga Chinese lagi. Dia mengirimkan alamatnya pada Amarendra, rumah tempatnya bekerja sangat besar, dia satu kamar dua pembantu bernama Eki dan Suci. Kani tak keberatan dan dia akan menjaga anak laki-laki di rumah ini, usianya empat tahun, orang tuanya ramah tapi tidak dengan anak pertama mereka yang terus menatap Kani penuh arti. Anak kedua mereka juga ramah, menanyakan siapa namanya. Kani mengabaikan anak laki-laki menyebalkan berusia 12 tahun itu. Jangan sampai ada masalah juga yang dia timbulkan dan mengancam pekerjaannya.
Satu Minggu Kani kesulitan mendekatkan diri pada anak yang dia asuh, Minggu ketiga baru anak itu mau dia gendong dan bermain. Kani merasa ngeri melihat CCTV di mana-mana. Ditambah ada anjing yang selalu menggonggong ketika melihatnya. Setiap pagi Kani harus ikut ke sekolah, menjaga di luar, dan bertemu dengan mereka Baby siter dari yayasan lain.
Satu bulan tak ada kesulitan berarti, Kani hanya selalu kesal ketika anak yang sulung selalu membuat anak yang dia asuh menangis. Sampai majikan laki-laki melemparkan tatapan bengis. Kani mencoba sabar, mengurut dada, tapi anak laki-laki itu semakin berani dan saat dia larang perutnya malah ditendang. Kani merasa akan memuntahkan isi perutnya, sakit, perih, mual. Dia mengadukannya kepada kedua majikannya tapi malah dia yang kena marah.
Kani menangis dua malam karena perutnya memar. Amarendra di telepon terus menenangkannya sampai dia puas mengadu dan mengeluh. Mereka yang satu kamar dengannya perlahan memperlihatkan sifat asli mereka. Sering mencoba barangnya, tak menyisakan nasi, tak mau mengangkat jemurannya saat hujan sampai dia kena marah karena seragamnya basah semua. Dia dilarang memakai baju biasa tapi untuk dua hari ini dia aman karena jelas bajunya kehujanan.
Kani selalu diajak ke mana-mana tapi dia hanya bisa menelan ludah ketika duduk sendirian, tak diberi makan, hanya disuruh mengambilkan saus untuk si anak menyebalkan itu. Kani sering telat makan, itu kelemahannya, bulan ketiga gajinya dipotong karena tak kerja selama empat hari, mereka mengeluh ke Yayasan dan dia ditegur. Apa mereka kira dia robot yang tak akan pernah sakit dan lelah? Kani menelan semua kepahitannya dan mulai tak nyaman ketika sopir yang setiap pagi membawanya dengan anak yang dia asuh suka genit, mengisi pulsanya, membelikan makanan, sudah tua Bangka tapi masih mencari perhatian daun muda. Kani tak pernah merespons, pulsa yang masuk dia ganti sampai harus memblokir nomor ponsel sopir itu.
Semakin lama Kani tak nyaman, dia bahkan dilarang pulang, harus setahun sekali dan bukan di hari raya. Mereka takut dia tak akan kembali. Memang lancar soal gaji tapi Kani tak nyaman dengan anak sulung, sopir, kedua pembantu, dan dia tak bisa bertemu dengan Amarendra. Seminggu setelah lebaran, dia mendapatkan gaji dan THR yang ditahan, takut dia macam-macam. Padahal dia sudah merencanakannya.
Kani membawa keluar barang-barangnya sedikit demi sedikit, dia titip di warung dekat sekolah anak yang dia asuh, dia pergi setelah beralasan untuk membeli pembalut ke minimarket. Amarendra ketar-ketir takut terjadi sesuatu kepada Kani, mereka janjian bertemu di Terminal Bandung.
Kani menggendong tas ransel dan tas selempang menggantung di bahunya. Dia sudah bebas dan masuk ke toilet, berganti baju dan duduk di luar toilet. Dia tak mau bertemu dengan Amarendra setelah sekian lama dalam keadaan Kumal dan bau. Kani tak peduli mereka yang memperhatikannya.
Setelah selesai, Kani menyisir rambutnya yang setengah basah, dia pergi meninggalkan toilet dalam keadaan sudah rapi dan menelepon Amarendra yang sedari tadi cengar-cengir memperhatikan tingkah polahnya.
__ADS_1
“Di mana?” Kani diam.
“Kamu mandi selama dua puluh menit, berdandan lima belas menit sebelum itu juga aku sudah menunggu. Aku sampai jamuran menunggumu, Kani.” Dia tertawa.
Kani menggigit bibir dan berbalik, melihat lelaki itu mendekat dan dia menunduk malu. Amarendra terlihat kurusan juga rambutnya yang tak sempat dia potong, keletihan jelas di wajahnya.
“Apa harus sampai sebegitunya untuk bertemu denganku?” Dia menggoda dan Kani mendelik.
“Ini demi kenyamananku sendiri bukan untukmu,” bantahnya dan Amarendra mengangkat bahu. Dia mengambil alih tas Kani yang sesak dan Kani memperhatikannya. Dia mengempit tangan Amarendra dan Amarendra pasrah, keduanya berjalan bersama.
Setelah mencari makan, keduanya naik ke dalam Bus. Kani sangat lelah, tak bisa tidur semalaman memikirkan niatnya kabur. Amarendra memperhatikan pergelangan tangan Kani lalu meraihnya.
“Itu cuman gelang biasa, wajar gampang putus, lagi pula sudah lama. Pakai punyaku saja.” Amarendra mengisi pergelangan itu kembali, dia sudah memahat sebuah janji, nanti akan dia ganti gelang murah itu dengan gelang emas berwarna putih. Kani tersenyum dan dia mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya. Amarendra bingung dan memperhatikan gadis yang semakin tumbuh dewasa dalam pengawasannya itu.
“Untukmu.” Kani memakaikan jam tangan dan Amarendra menarik tangannya. “Kenapa?”
“Jangan membeli apa pun untukku, simpan uangmu, bukannya mau sekolah?” Amarendra memandang dan Kani sudah mengubur dalam-dalam keinginannya. Yang mengisi kepalanya hanya mencari uang dan bersama dengan Amarendra.
__ADS_1
“Aku akan marah kalau kamu menolak, aku tahu jam tanganmu rusak.” Kani mendelik dan menarik tangan besar itu. Amarendra diam, membiarkannya. “Bagus, aku membeli ini di Mal. Hadiah ulang tahun walaupun ya, sudah lewat jauh. Kita hampir setahun tak bertemu karena mereka menawanku.” Kani kesal. Amarendra menatap jam tangannya dan berterima kasih.
“Ulang tahunmu juga sudah lewat, aku membeli sesuatu, tapi saat itu kamu melarangku datang ke Tangerang walaupun sebenarnya aku bisa nekat untuk bertemu karena rindu sekaligus ingin memberikan ini.” Amarendra memberikan kotak kecil, warnanya merah, agak butek, setiap hari dia melihatnya dan berharap lekas bertemu dengan gadis yang dia sayang itu.
Kani menyukai sepasang anting itu walaupun sebenarnya dia tak terlalu suka memakai anting. Rambutnya yang sudah panjang lagi dia tarik dan Amarendra menyibak rambutnya perlahan. Lelaki itu terdiam melihat daun telinga Kani. Meraih satu anting dan Kani meringis, itu sakit dan Amarendra kaget. Sudah terpasang dan dia memasangkan yang satu lagi. Kani melihatnya dari kamera ponselnya. Dia ingin mengabadikan momen tersebut dan Amarendra menatapnya lagi dan lagi. Dia merasa pangling setiap berjumpa setelah sekian lama walaupun setiap hari berkomunikasi, bahasa tubuhnya bahkan terlihat agak kaku.
Butuh waktu sampai dia terbiasa lagi dan sekarang Kani tertidur, bersandar di bahunya. Ia mendekap bahu gadis itu, menjatuhkan dagunya ke atas pucuk kepala Kani, dia semakin takut sekarang, takut Kani dimiliki pria lain.
Gadis manja yang dia kenal sudah berubah begitu berani dan dewasa, rela menekan segala derita agar bisa membawa uang untuk keluarganya, rela mengubur keinginannya dalam-dalam walaupun Amarendra pernah melihat mata Kani berair saat mereka yang berseragam putih abu-abu lewat. Amarendra sangat ingin mencium rembulan dalam dekapannya itu, dia menepuk keningnya sendiri, dia selalu tak bisa menahan diri ketika berdekatan dengan Kani.
“Maren.”
“Apa?”
“Masih lama?”
Amarendra menatap keluar kaca bus.
__ADS_1
“Masih jauh, Kani, tidurlah.” Amarendra mengeratkan dekapannya dan Kani memeluk perutnya erat. Amarendra menghela napas. Seharusnya dia juga tidur agar lebih aman tapi takut ada copet. Kani mengantongi uang besar. Dia belum paham bagaimana caranya mengirimkan uang dan juga tak ada yang memiliki rekening di rumahnya. Tapi empat bulan gaji Kani ada di rekening Amarendra. Amarendra memberikan nomor rekeningnya saat awal-awal Kani takut pembantu di rumahnya bekerja mengambil uangnya karena memakai barang-barangnya saja berani.