
Sekarang Kani sedang di Perpustakaan dengan Amarendra. Amarendra bingung karena Kani masih saja terlihat murung, ya dia tahu karena Reva tak berhenti mengganggu tapi jika melihat Kani lemah begini, Reva akan semakin nekat.
Amarendra menjatuhkan pipinya ke atas meja sehingga wajahnya dan wajah Kani berhadapan. Kani diam menatapnya, begitu juga sebaliknya.
“Dia mengganggu lagi hari ini?” tanya Amarendra dengan suara parau.
“Apa setelah lulus, kita masih bisa bertemu?” tanya Kani dan Amarendra terdiam, menjauhkan pipinya, kenapa dia tak memikirkan itu? “Mau kerja atau kuliah?”
“Bunda mau aku kuliah, uang dari mana? Bunda selalu saja merasa hidup kami masih seperti dulu. Aku akan bekerja. Kamu, melanjutkan ke mana? Aku rasa masih bisa kalau untuk berjumpa, jika kau bersedia.” Amarendra menunduk sedih dan Kani meraih tangannya, menggenggam erat.
“Temui aku dan jangan berhenti, aku hanya memilikimu dan...aku akan berhenti sampai di sini, Maren.” Kani menatap kosong dan Amarendra menyapu sekeliling, dia bergeser mendekat.
“Kani...apa maksudnya?” bisik Amarendra di telinga gadis itu. Kani menoleh begitu saja dan bola mata laki-laki itu melebar. Dia mundur menjauh karena merasa wajah mereka terlalu dekat.
“Aku harus berhenti sekolah,” bisik Kani. “Bapak sakit, Maren. Butuh biaya banyak sementara pekerjaannya memperburuk keadaannya, aku tak bisa terus keras kepala mengejar mimpi dan mengabaikan orang yang aku sayangi.” Bibirnya bergetar dan Amarendra merapatkan bibirnya. Bingung harus menjawab apa.
Sesaat kemudian dia membalas. “Kani...”
“Malang sekali, bukan?” Kani tersenyum, menyela ucapannya kemudian senyumannya berganti dengan tawa kecil dan air matanya berjatuhan. Amarendra menunduk dan Kani pergi meninggalkannya. Bel sudah memanggil untuk segera masuk.
Malamnya, Kani menikmati makan malamnya tanpa banyak bicara, Ibunya diam-diam memperhatikan. Kani begitu lahap menyantap nasi kuning dengan telur dadar, tempe orek, dan sambal. Ibu memasak untuk merayakan ulang tahunnya yang sudah lewat karena baru ada uang dari hasil kuli tandur ke sawah hari ini. Sebelum memakannya, Kani bahkan mengambil gambar, mengabadikannya.
“Bu, aku mau tambah.” Kani meminta lagi untuk yang ketiga kalinya.
“Enggak salah, Teh?” Kenanga bukan melarang tapi Kani sudah makan terlalu banyak.
“Aku merasa terlalu kurus dan harus makan banyak.” Kani tersenyum lebar tapi matanya berair. Bu Ismi mengulum bibirnya, menahan tangis, dia memberikan apa yang diminta anaknya dan anaknya yang lain sibuk bertanya-tanya dalam hati. “Sangat enak, aku suka.” Kani tersenyum dengan bibir bergetar, Bu Ismi menyuap makanan dan menelannya kesusahan.
__ADS_1
Waktu berlalu, sudah jam 12, rumah sudah hening. Kani berbaring dengan posisi miring menghadap ke dinding, dia menangis dalam senyap. Dia mengirimkan foto yang dia ambil kepada Amarendra dan Amarendra di tempatnya tersenyum.
Amarendra:
Selamat ulang tahun, aku sampai lupa, doa yang terbaik untukmu. Hanya karena satu hal yang kamu inginkan terjeda, bukan berarti keinginanmu yang lain ikut sirna. Percayalah bahwa kehidupanmu akan tetap lebih baik walaupun yang ini harus berhenti sampai di sini, aku menyayangimu dan ILY! ❤️
Kani tak membalasnya dan Amarendra yang merebahkan tubuhnya terus ke pikiran tentang Kani yang akan putus sampai di sini, tak akan lanjut. Jangankan membantu, menghibur saja dia merasa tak mampu.
Amarendra terus menatap ke langit tanpa bintang, mendesah resah dan jika bisa menyerukan tuntutan pada Tuhan untuk memperbaiki kehidupan pujaan hatinya, apa itu akan dikabulkan?
“Kamu perempuan yang paling kuat, yang baru aku temukan di dunia ini, Kani setelah Bunda. Aku menyayangimu.” Amarendra sekarang memandangi fotonya dengan Kani di layar ponselnya, dia jadikan wallpaper. Dia berharap keberadaan dan dukungan darinya bisa mengobati lara hati yang didera pujaannya, walaupun sedikit tak apa.
Besoknya di sekolah, Kani duduk di antara tiga laki-laki. Dia bersebelahan jelas dengan Amarendra.
“Nomormu diganggu lagi?” tanya Amarendra dan Kani menggeleng.
“Si Om itu?” Amarendra menggigit bibir, dia memancing kesakitannya sendiri tapi Kani menggeleng. “Maksudnya?”
“Aku sudah berhenti berhubungan dengannya.” Kani menoleh karena Amarendra menatap lekat. “Jangan merasa bosan saat aku mengganggumu, aku bingung harus mengirim pesan pada siapa lagi kalau bukan padamu.”
“Aku tak keberatan meskipun kamu ganggu setiap waktu.” Amarendra tersenyum kegirangan.
“Huh?” Kani menaikkan kedua alisnya dan Amarendra menggeleng.
“Pergilah, sebentar lagi masuk,” titah Amarendra setelah menatap jam tangannya. Kani menatap sejenak, laki-laki itu suka sekali memakai jam tangan, mungkin hal biasa bagi yang memang terbiasa melihat tapi bagi Kani, itu hal yang baru dia lihat. Kani tersenyum dan bangkit, suatu saat nanti, akan dia belikan jam tangan yang baru agar laki-laki itu bisa menata waktunya dengan lebih baik.
Amarendra memiringkan kepala, menatap kepergian gadis itu sampai Yana dan Raihan saling memandang kemudian meliriknya yang terus terpaku.
__ADS_1
“Sesuka itu sama Kani?” celetuk Yana dan Amarendra terkejut, lekas mengubah ke mana tujuan matanya juga dengan pikirannya.
“Hanya teman.” Bibirnya menyimpan senyuman.
Yana dan Raihan tertawa mengejek mendengar ungkapan berbau kebohongan dari Amarendra.
***
Beberapa hari kemudian, Yana diam, mengamati Kani yang terus menulis apa yang ada pada papan tulis. Yang lain berisik, heboh, guru tak ada. Tepat di belakang Kani, Teti dan Reva terus berbicara. Menyindir, memaki, dan Kani membuka buku paket tebal IPS. Dia lebih memilih membaca tapi tetap tidak bisa konsentrasi dengan mereka di belakang yang terus mengoceh.
“Sok cantik dia padahal si Maren cuman kasihan sama cewek miskin cuman anak kuli bangunan!” lantang Reva menyindir dan Kani mulai terpancing. Dia memasang telinganya baik-baik dan Rere yang awal mula menyebarkan hal tersebut merasa bersalah.
“Arif saja bilang, kok, nggak bakal ada yang tertarik sama dia. Kucel, bau, dekil.” Reva menambahkan.
“Merasa paling pintar padahal yang pintar di kelas bukan dia doang.” Teti menyambung.
“Sekarang dia sendirian, ya, nggak punya teman. Siapa suruh macam-macam. Sombong karena merasa dibela sama si Maren, kenapa juga si Maren ngebet belain dia, Tet?” Reva menyeringai dan Teti lekas menimpali.
“Dikelonin kali, kan sering banget dia dibonceng, nggak tahu tuh di bawa ke mana sama si Maren.”
“Paling ke semak-semak, pasang tarif berapa ya Tet kira-kira?”
“Kan Maren ganteng, kayaknya dia dapat servis spesial, nggak usah bayar malah bisa bermain-main sepuasnya, Rev.”
“Widih, widih, memang si Maren nafsu, gitu?” Reva terbahak sambil memperhatikan rambut Kani, tangannya kini iseng menarik anak rambut gadis itu. Kani menarik buku paket, dia bangkit, dan Reva mendelik sebal.
BRUKKKKK.... Kani menghantamkan buku tebal itu tepat ke wajah Teti. Teti meringis dan menangis. Dia tak bersandiwara, sungguh rasanya sakit, hidungnya langsung terasa pedih dan seisi kelas panik.
__ADS_1
“KALAU BERANI LAWAN AING!!!” Reva histeris menjerit-jerit, menantang Kani dengan bahasa yang kasar. Kani sudah mendorong meja untuk melanjutkan dengan puas karena ditantang tapi Rara dan Rere menahannya.