
Kani memulas air matanya, bingung harus menjawab apa, jika Amarendra tahu dia meladeni Kalingga jelas pria itu akan murka. Kani tak tahu bahwa ada sebuah rasa yang lebih pedih dari sakit, kesal, dan juga marah yaitu rasa kecewa.
“Aku menelepon keluargaku di kampung, bapakku juga yang khawatir dan setiap malam menelepon.” Lagi, kebohongan dia ucapkan karena kebiasaan dan Amarendra merasa sesak mendengar Kani berbohong. Dia tak pernah melihat Pak Muji menggunakan ponselnya malam hari, dia selalu menelepon ke rumahnya setelah subuh, dia tahu karena mereka ke Masjid bersama. Teganya Kani bohong sampai Amarendra menerka-nerka, laki-laki yang mana, yang berusaha menggeser posisinya.
“Oh, ya? Bapakmu setiap malam menelepon?” Amarendra tersengal. Dia tatap Pak Muji yang sedang membakar sampah sambil mengobrol dengan yang lain. “Kamu jujur, kan?” Dia melanjutkan dengan perasaan campur aduk.
“Aku nggak bohong,” balas Kani dan Amarendra menutup matanya rapat-rapat yang mendadak panas mendengar kebohongan itu. Teramat spesialkah yang menelepon itu ketimbang dirinya sampai Kani harus melindunginya?
“Oh, iya, jelas aku sangat percaya. Kamu nggak mungkin bohong. Akhir bulan ini aku pulang, kita harus bicara nanti!” tandasnya kesal dan memutus panggilan begitu saja.
Kani tercengang dan terus menyangka bahwa Amarendra berubah.
Sesuai yang dia janjikan, dia pulang, Pak Muji menatap kepergian Amarendra yang terlihat kesal terus beberapa hari ini. Dia bahkan hampir adu jotos dengan mandor yang memang suka seenaknya. Pak Muji tak pernah melihat Amarendra begitu sebelumnya dan dia khawatir anak itu memiliki masalah pelik sampai sekarang saja ijin pulang.
Di terminal biasa, Kani sudah menunggu Amarendra. Amarendra memperhatikannya sudah satu jam dan Kani terus sibuk dengan ponselnya, cengar-cengir, entah berkirim pesan dengan siapa, isi pikiran Amarendra berkecamuk. Amarendra melangkah dan Kani tersenyum sembari lekas menjejalkan ponsel ke dalam tasnya. Kani mengempit tangannya seperti biasa, ingin memeluknya tapi Amarendra menolak.
“Tak rindu padaku?” tanya Kani bingung dan Amarendra tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya. Kani meraih tangan Amarendra yang begitu kasar dan lecet, Amarendra menepis perlahan, dia malu. Tapi Kani memikirkan hal lain. Keduanya duduk bersama di Bus seperti biasa, Kani bersandar padanya dan Amarendra diam. “Kamu terlihat sedang kesal, Maren. Kenapa?” Kani menarik pipi pria itu agar mau menatapnya.
“Aku merasa dikhianati.” Amarendra menekan dagu Kani seperti biasa. Kani terus menatap kedalaman matanya, Kani merasa pandangan dalam itu menuduhnya. Ada nada menyindir yang terselip dalam ucapan pria kesayangannya. “Aku sangat menyayangimu, aku menggantungkan segala harapan pada hubungan kita, dan dengarkan ini...saling percaya serta saling menjaga adalah bagian fondasi dalam sebuah hubungan. Jangan pernah berbohong tentang apa pun karena saat aku tahu, aku harus pura-pura tidak tahu. Aneh bukan? Karena aku tak memiliki motivasi untuk berbahagia selain kamu, Kaniraras.”
__ADS_1
Kani menundukkan kedua mata sayunya, apa Amarendra tahu? Kani sangat takut dan dia mendekatkan wajahnya, bibir keduanya sudah menempel dan terbuka tapi Amarendra menghindar walaupun dia menegang hebat saat lidah basah itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Terasa manis, segar dan sangat ingin dia mengecupnya lagi sampai puas seperti waktu itu.
Dia sadar dan lekas menarik bahu Kani menjauh.
“Jangan berusaha merayuku apalagi di tempat begini, aku tak mau lagi melakukannya sampai benar-benar berhak atas dirimu. Aku terus dihantui rasa bersalah saat melihat wajah mendamaikan itu dan juga sikapnya yang begitu baik padaku.” Amarendra memegang bahu Kani agar berhenti karena dia bisa saja kelepasan. Kani mengerutkan keningnya, tak paham dengan ucapan Amarendra.
Amarendra mengelus pipinya lembut dan menariknya agar bersandar lagi.
“Ada yang kamu sembunyikan, Maren. Kamu bahkan tak tertarik lagi padaku, jelas gadis itu lebih unggul dalam segala hal tak seperti aku.” Kani memejamkan matanya, dia bergumam dalam hati.
Keduanya berhenti walaupun perjalanan masih jauh, Amarendra mengajak Kani makan. Dia menyuapinya dan Kani menerima walaupun canggung.
“Kalau aku tak bisa pulang bagaimana?”
“Bukannya tempat kerjamu dekat dengan alun-alun kota Bandung? Kita bertemu di sana.” Amarendra mengangkat gelas, minum sambil memperhatikan wajah Kani. Dia akan berusaha melenyapkan rasa sakitnya karena Kani bohong dan berharap apa yang dia katakan tadi bisa dicerna gadis itu dengan baik agar tak meladeni pria mana pun kecuali dirinya.
Keduanya melanjutkan perjalanan, Kani berpikir keras setelah dia sampai di rumah atas semua ucapan Amarendra. Kani duduk termenung dan menoleh saat ketukan pintu terdengar.
Kalingga datang untuk menemuinya.
__ADS_1
Bu Ismi mempersilakan masuk dan Kani dengan Kalingga duduk di kursi yang sama. Bu Ismi tersenyum melihat keduanya dan dia berharap tahun ini anaknya segera melepas masa lajang dan tak usah kerja lagi.
“Enggak capek kerja di rumah kayak begitu? Mending diam di rumah, menunggu suami pulang, nggak baik perempuan terus bekerja.” Kalingga tersenyum dan Kani menunduk. Dia paham ke mana arah pembicaraan tersebut, yang di sebelahnya Kalingga tapi yang ada di pikiran dan hatinya hanya Amarendra.
Kalingga pamit pulang dan malamnya Pak Muji sampai di rumah. Kani besok bisa pergi ke Bandung dengan Bapaknya. Bapaknya hanya pulang sebentar karena takut di rumah sudah tak ada uang.
“Bu, terpaksa Bapak besok berangkat lagi. Ini proyek baru dimulai ya biasalah Ini juga paham pasti Bapak sibuk.” Pak Muji memberi paham karena Bu Ismi khawatir dengan kesehatannya.
“Di tempat kerja Bapak yang sekarang ada pemuda yang luar biasa, ganteng, rajin, namanya Amar.” Pak Muji melirik Kani yang sibuk dengan ponselnya.
“Tumben banget Bapak, biasanya nggak pernah, tuh, cerita-cerita tentang mereka yang bekerja sama Bapak.” Bu Ismi tak senang jika suaminya ada niat memperkenalkan Kani dengan pemuda bernama Amar itu.
“Dia beda, Bu. Kalau si Teteh melihat, dia juga pasti suka.” Pak Muji menggoda dan Kani lebih memilih menyingkirkan diri.
“Ibu nggak mau punya menantu juga seorang kuli. Bukan Ibu menghina ya minimal yang punya pekerjaan tetap, Pak. Kayak Kalingga, dia juga kayaknya suka sama anak perawan kita.” Bu Ismi protes dan Pak Muji terdiam.
“Dia kerja bangunan cuman selingan, Bapak yakin itu. Dia sudah nggak punya orang tua lengkap, tinggal Ibunya. Dia suka sekali baca buku, bahasa Inggris, bahasa Jepang, yang lain niatnya mau pinjam malah pusing lihat bahasanya. Pintar itu anak, ah semoga saja sama anak kita berjodoh.” Pak Muji tersenyum dan Bu Ismi mendelik. “Kalau Kalingga bapak nggak seneng, dia anaknya plin-plan dari dulu, nggak suka juga sama perangai Bapaknya. Mending si Amar, biarin kuli bangunan juga tapi anaknya punya pendirian kuat. Laki-laki harus kayak begitu, kuat fisik, juga pendiriannya.”
“Berisik, Pak, ah! Ibu maunya Kalingga jangan si Amar kebanggaan Bapak itu.” Bu Ismi pergi dan Pak Muji menggeleng-geleng kepala.
__ADS_1