
Kani terpekur menatap cincin yang diberikan Amarendra, dia perlahan melepas cincin tunangannya dengan Kalingga kemudian memakai yang diberikan Amarendra. Dia menciumnya dan tersentak ketika Ibunya memasuki kamar secara mendadak.
“Hari ini kita pergi untuk melihat kebaya untuk kamu pakai nanti, Teh.” Bu Ismi menatap punggung tegak Kani dan Kani mengangguk-anggukkan kepala.
“Bu, Bapak pulang kapan?” tanya Dahlia.
“Hari ini dan nggak berangkat lagi, kan sibuk mengurus pernikahan Teteh.” Bu Ismi melanjutkan langkahnya ke dapur dan Dahlia tersenyum.
Siang harinya, Kani mengira dia pergi dengan Ibunya tapi ternyata dengan Kalingga. Kalingga begitu senang melihat Kani memakai kebaya pernikahan berwarna putih itu. Cukup lama mereka di sana sampai keluar dan Kalingga mengajak Kani makan. Kani sempat menolak, dia sudah kenyang ditambah tak selera tapi Kalingga memaksa. Keduanya ribut dan Kani meringis saat tangannya dicekal dan dia tak punya pilihan lain kecuali menurut.
Mereka makan di tempat makan yang di bawahnya sebuah danau. Kani sangat pendiam, jangankan merengek manja pada Kalingga, merapat saja dia ragu. Sadar tadi sudah kasar, Kalingga mendekat dan meraih tangan calon istrinya itu.
“Sayang, kita akan segera menikah, hentikan sikap begini, tak baik. Maaf karena aku kasar.” Kalingga terus memandang dan matanya menyapu sekeliling.
“Aku mau pulang, Mas.” Kani terus menunduk dan mengangkat matanya saat wajah Kalingga mendekat. Bibir itu hampir sampai dan sekelebat bayangan wajah Amarendra muncul membuatnya tersadar agar lekas menjauh, ia terdiam ketika teringat embusan napas Amarendra, hangat bibirnya, dan lembut kecupannya. Dia tak sanggup menerima itu dari pria lain. Sebuah pertanyaan mengerikan mendadak terngiang di telinganya.
Kamu yakin akan menikah dengannya, Kani?
Hatinya berseru pelan, bertanya.
Kalingga menjauhkan wajahnya, tak jadi karena Kani menghindar juga wajahnya yang mendadak pucat, padahal itu kesempatan bagus karena tak ada orang di sekitar mereka.
“Ciuman kecil wajar, Kani. Tak usah takut.” Dia membujuk dan Kani mendelikan matanya. “Kamu belum pernah melakukannya? Kemari, aku yang akan mengajarimu.”
Kani meronta dan melotot. “MAS!” bentaknya keras dan Kalingga membisu.
Kani mendorong Kalingga dan dia keluar lebih dulu. Tak lama Kalingga menyusul dengan muka masam. Kani rasanya ingin pulang sendiri tapi pria itu akan membuat masalah. Kani naik dan membisu.
“Siapa yang menikmati bibirmu lebih dulu sebelum aku, calon suamimu?” Kalingga kesal dan Kani diam. “Siapa orang yang merenggut ciuman pertamamu, Kani?” tanyanya lagi lebih menekan sambil melajukan kendaraan.
“Tak ada yang merenggut, aku sendiri yang memberikannya,” kata Kani bergumam dan karena berisik Kalingga tak bisa mendengar ucapannya.
__ADS_1
Kalingga mengira Kani sangat polos, Kalingga salah mengira-ngira dan setelah sampai di rumah, Kani langsung masuk ke kamar. Bu Ismi mengajak Kalingga masuk tapi Kalingga menolak, dia pergi karena ada masalah kecil di rumah, Bela mengiriminya pesan.
Besoknya, Kani memakai Hoodie jaket untuk dia gunakan membungkus kepalanya. Kalingga datang ingin berjumpa. Pak Muji yang berada di luar sedang mengupas kelapa hanya diam melihat Kalingga tak bisa menahan diri. Padahal sebentar lagi juga menikah. Keduanya akan bertemu tak perlu datang mentang-mentang rumahnya dekat.
“Kenapa semalam Mas SMS dan telepon nggak kamu respons?” tanya Kalingga sepele.
“Aku capek, Mas. Tidur lebih awal.” Kani menggeser minuman ke hadapan pria itu dan Kalingga sangat senang.
“Iya memang seharusnya kamu banyak istirahat.” Tangannya menyibak Hoodie jaket itu dan senyumannya redup melihat Kani memotong pendek rambutnya. “Kamu memotongnya?” Matanya melotot dongkol.
“Iya, Mas. Rambut panjang boros sampo,” kata Kani beralasan.
“Kenapa kamu nggak tanya sama Mas? Mas suka rambut panjang kamu, Kani.” Kalingga kecewa dan Kani terdiam.
“Rambut panjangku yang sangat dia sukai, aku tak bisa melenyapkan kelembutan yang dia tinggalkan di setiap helainya tapi setelah memotongnya juga, masih saja terasa.” Kani bergumam dalam hati dan Kalingga terbelalak melihat gadis itu diam saja.
Keduanya menoleh saat Pak Parto, Bu Wati, dan Bela menyusul. Pak Muji yang melihat lekas meminta Bu Ismi di dapur yang sedang membuat kue untuk ke depan. Entah ada apa tapi mimik wajah Pak Parto sepertinya akan menciptakan ketegangan.
“Pak Parto sudah pulang ternyata,” ucap Pak Muji ramah. “Silakan diminum, Pak, Bu.”
“Saya ke sini tak mau berbasa-basi, pernikahan ini tak bisa kami lanjutkan,” tegas Pak Parto dan Kani yang duduk di sebelah Ibunya langsung mengangkat kepala dengan mata terbelalak. Apa ini?
Di dapur semua orang tak kalah kaget mendengarnya.
“Ada masalah apa ini, Pak? Asal membatalkan, apa Bapak tak melihat semua persiapan di rumah kami.” Pak Muji merasa dipermainkan apalagi melihat wajah memerah anaknya. Bu Ismi terus menenangkan Kani dengan mengusap bahunya.
“Pak...” Kalingga mencondongkan tubuhnya. “Jangan begini, aku mau menikah sebentar lagi, jangan karena masalah sepele Bapak seenaknya,” dia melanjutkan, berbisik-bisik.
Dengan angkuhnya Pak Parto berdiri dan menunjuk-nunjuk Kani. “Kamu mau menikah dengannya? Yang bahkan pernah hamil sampai menggugurkannya, dia juga tak sekolah, jauh denganmu yang berpendidikan tinggi. Kalian bahkan tak akan nyambung kalau berdiskusi, harusnya kamu bilang ini sama Bapak, Bapak tak akan setuju dari awal jika tahu, kamu sepatutnya bisa memilih yang sederajat!” Tangannya tak berhenti menunjuk-nunjuk Kani.
Kani tersengal dan terus terisak, ketiga adiknya dari dapur mendekat, mereka menatap tajam keluarga Kalingga tak terima Kani dihina.
__ADS_1
“Anak saya nggak pernah hamil, itu fitnah, masalahnya juga sudah beres, Kani nggak salah.” Dengan tersendat-sendat seorang Ibu membela anaknya dan Kani menahan lutut Ibunya agar tetap duduk.
“Semua orang sudah tahu anak Pak Muji seperti apa, saya tak bisa menerima kenyataan bahwa anak saya tak melihat bibir, bebet, dan bobot perempuan yang akan dia jadikan istri. Hal itu mencoreng nama baik keluarga kami.” Pak Parto kesal dan jengkel kepada Kalingga.
“Restu dari saya bukan hanya sebuah formalitas, saya mendidik anak-anak saya dengan baik dan saya tak mau dengan masuknya Kani ke keluarga Kami, itu akan merusak, akan terus dibahas masa lalu dan ditambah dia yang tidak berpendidikan.” Telapak tangannya berayun-ayun di hadapan Kani, ingin memperlihatkan bahwa Kani tak pantas untuk anaknya.
Kalingga menunduk saat Kani meliriknya. Pecundang itu bahkan tak berani membelanya.
Pak Muji hancur, sakit, tak sanggup mendengar makian Pak Parto sampai dia naik pitam, mendorong mereka semua keluar dari rumahnya dan Bu Ismi bangun. Kerabat laki-laki menyarankan untuk masalah ini dirundingkan karena pernikahan sebentar lagi. Pak Muji tak mau, akan seperti apa anaknya jika benar-benar dinikahi Kalingga yang bahkan menjadi bisu di hadapan keluarganya yang terhormat itu.
“Pak, tahan, Pak. Bapak tega begini, bujuk mereka dan jelaskan bahwa itu fitnah.” Bu Ismi sambil menangis meminta dan Pak Muji mencengkeram sandaran kursi.
“Itu memang fitnah dan mereka bisa mencari tahu kebenarannya dengan bertanya baik-baik tapi fakta bahwa aku tidak berpendidikan, Ibu mau bilang apalagi?” Kani berbicara sambil memulas air matanya, dia menjatuhkan cincin pertunangan ke atas meja dan mengunci diri di kamar. Dahlia dan Kenanga masuk, menenangkan Kani.
Semua kerabat bingung, menenangkan Bu Ismi, Pak Muji diantar Hakim dan yang lain ke rumah Kalingga. Mereka tetap tak mau melanjutkan, merasa terhina karena diusir padahal mereka yang heboh mencela Kani.
Malam hari mereka tak kunjung mendapatkan kabar baik, pasrah dan Kani baru berhenti menangis. Dia terlelap dalam pangkuan Ibunya. Pak Muji berdiam diri di ruang tamu, ketiga adik Kani di kamar saling melamun sesekali menatap.
Hujan deras di luar membumbui suasana kesedihan yang mereka rasa. Tumpukan kelapa di luar tergeletak tak beraturan, semua kerabat yang datang untuk membantu membuat kue pulang kecuali keluarga Hakim. Gagalnya pernikahan Kani membuat riuh seisi kampung. Semua orang sudah tahu dan harus mengundur niat mereka untuk datang menyaksikan pernikahan tersebut dan Kalingga berserta keluarganya hening setelah mempermalukan keluarga Kani.
Seorang perempuan yang gagal bertunangan saja selalu menjadi bahan cemoohan di kampung apalagi seperti Kani yang gagal menikah. Sebelum hari H yang akan memasang pelaminan kembali dengan membawa barang mereka, ikut prihatin.
“Di mana Amarendra, Rai?” Yana bertanya, keduanya sedang membicarakan perihal Kani di Pos Ronda.
“Enggak tahu, dia hilang sudah seminggu ini.” Raihan tertunduk penuh penyesalan, dia merasa pernikahan Kani gagal karena mulut kotornya, dia menyumpahi pernikahan tersebut gagal karena Kani sudah menyakiti Amarendra dan sekarang? Apa yang terjadi pada Kani membuatnya terpukul.
“Apa dia ke Malang, Rai?”
“Enggak tahu tapi dia bilang akan hadir di acara pernikahan Kani tapi ini sudah lewat beberapa hari dari H, dia tak kunjung muncul. Aku takut dia nekat menyakiti diri karena patah hati.” Raihan menunduk dalam dan berhari-hari dia selalu mencoba menelepon sahabatnya itu tapi nihil.
Yana diam tak mau bicara lagi. Jika iya Amarendra pergi meninggalkan Kani karena sakit hati, Amarendra juga meninggalkan semua orang yang menyayanginya.
__ADS_1
Jejak pria itu bahkan tak ada yang bisa melacak, bagai lenyap ditelan bumi, dan Kani yang menunggunya hanya bisa sibuk bertanya kenapa Amarendra tak datang walaupun pernikahan itu gagal dia sangat ingin menangis padanya, mengadu bahwa dia dihina dan disakiti. Kani yakin Amarendra akan menenangkannya. Tapi sudah lewat dua Minggu dari hari itu, Amarendra tak kunjung datang.