Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
TITIP SALAM


__ADS_3

Besoknya, subuh-subuh Kalingga sudah nongkrong di depan rumah Pak Muji. Yang dia tunggu akhirnya keluar dan Pak Muji merasa berat merelakan anaknya dibawa pergi.


Kani memakai helm, dia naik dan menatap kedua orang tuanya. Kalingga berseru pamit dan motor melaju. Kani begitu irit kata, hanya menjawab sebatas apa yang ditanyakan. Kalingga agak kesal dengan tingkah gadis itu. Kani tak mau diajak mampir untuk mengobrol serius dan sesampainya di kompleks perumahan. Kani turun. Kalingga bingung yang mana rumah tempat Kani bekerja.


“Aku antar sampai kamu benar-benar masuk ke rumah itu,” katanya mendesak.


“Enggak bisa, Mas. Nggak dibolehin. Sampai sini saja, terima kasih.” Kani membuat simpulan miring dan Kalingga membalas dengan senyuman manis. Kani kaget saat jemari tangannya diraih. Berusaha ia lepas tapi ditahan.


“Aku sayang sama kamu, Kani.” Dia mengangkat tangan itu dengan perlahan, punggungnya hampir dia kecup tapi Kani lebih dulu menarik kemudian berlalu. Kalingga mendesis, matanya memicing. “Kamu terus menolak tapi nanti jangan harap kamu aku lepaskan!” Dia murka dan melajukan kembali motornya, meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Kani, dia bergidik geli melihat Kalingga begitu. Dia lekas mengirimkan pesan bahwa dia sudah sampai kepada Amarendra yang sedang menunggunya dengan cemas.


Amarendra membalas singkat dan Kani sudah masuk ke rumah majikannya.


“Beneran sudah baikkan kamu?” Satya yang melihat Kani muncul setelah mengucap salam lekas bertanya.


Kani mengangguk kecil dan Shahnaz memintanya istirahat jangan kerja dulu untuk hari ini.


***


Amarendra berhenti tertawa saat melihat Pak Muji muncul. Dia menatap pergelangan tangannya. Ini jelas masih pagi tapi Kani bilang Pak Muji berangkat sore? Sontak kedua alisnya mengerut curiga, rahangnya mengetat dan Dam yang mendengar embusan napas kasar seperti menahan amarah itu hanya mampu menatap bingung.


“Kamu bohong lagi, Sayang?” gumam Amarendra kemudian menjauhi semuanya, dia terdiam diri sambil memainkan ponselnya.


Bulan puasa ditambah bekerja berat seperti mereka sangat kencang godaannya, banyak yang tak puasa karena alasan tak kuat, tapi mereka makan, minum, merokok seenak jidat. Tak mau mencari tempat tersembunyi untuk menghargai mereka yang setia menjalani ibadah puasa walaupun sama-sama lelah.


Pak Muji yang sedang istirahat sebentar memperhatikan Amar. Amarendra sedang duduk dengan tatapan mata yang kendur. Tangannya berayun menggerakkan sobekan kardus, dia gunakan untuk mengipasi tubuh bagian atasnya yang telanjang bersimbah keringat. Amarendra merasa ada yang disembunyikan Kani. Semakin sering dia mengetahui Kani bohong, semakin sulit untuk dia mempercayai setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu. Tapi yang jelas dia tak khawatir lagi karena keadaan Kani sudah membaik sekarang. Yang dia khawatirkan adalah hubungan di antara mereka.


Senja, setelah magrib, Amarendra dan Pak Muji makan bersama. Di sebuah rumah makan Padang.

__ADS_1


“Kamu akan pulang kapan, Amar?” tanya Pak Muji.


“Mungkin seperti yang lain saja, Pak. Takut pulang duluan dimarahi Mandor lagi, malas, marahnya sampai mengungkit-ungkit yang sudah berlalu.” Amarendra tersenyum ketika jawabannya membuat Pak Muji tertawa kecil.


“Yang sabar, kerja di bawah tangan orang apalagi kerjanya begini harus banyak mengalah. Kalau saya sepertinya pulang duluan, biasa suka sibuk kalau mau menyambut hari raya, bantuin istri. Kalau kamu bisa dan ada waktu, datang ke rumah, ya. Silaturahmi.” Pak Muji tersenyum penuh arti dan Amarendra mengusap anak rambut yang menghalangi matanya. Dia bingung, itu sangat tidak mungkin untuk dia lakukan.


“Titip salam untuk semuanya, Pak. Kalau untuk silaturahmi ke rumah Bapak...saya nggak bisa. Maaf.” Amarendra tak enak hati saat dia menolak dan raut wajah Pak Muji langsung berubah.


Pak Muji mengangguk mengiyakan dan keduanya berhenti mengobrol. Pak Muji sangat ingin mempertemukan pemuda di hadapannya dengan Kaniraras. Tapi begitu sulit sekali. Amarendra yang sadar diperhatikan dengan teliti menggaruk tahi lalat di tulang pipi kirinya. Dia salah tingkah dan takut Pak Muji menerka-nerka sesuatu yang buruk tentangnya karena dia menolak permintaannya.


Setelah keduanya selesai, Amarendra membayar dan keluar.


“Sudah dibayar, Pak,” kata mereka dan Pak Muji menurunkan tangannya lalu menyusul Amarendra keluar.


“Saya bisa bayar sendiri, Amar.” Pak Muji merasa tak enak hati karena anak itu selalu begitu.


Amarendra hanya tersenyum dan keduanya melangkah pergi.


“Amar, ponselmu menyala.” Dam melempari Amarendra dengan tisu yang dia remas sejak tadi dan Amarendra bangkit. Meninggalkan bukunya dan sibuk dengan ponselnya.


“Tunggu dulu sebentar.” Amarendra berbicara begitu karena dia belum jauh dari semua orang. “Oke, aku sudah jauh dari semua orang. Bagaimana gadis kecilku hari ini? Aku jangan kamu tanya, aku sangat ingin berjumpa.”


Kani yang mendengar ucapan Amarendra langsung tersenyum.


“Aku baik, aku besok pulang, Maren.” Getaran dari bibirnya didengar jelas oleh Amarendra.


“Kamu menangis, Kani? Kenapa?” Dia khawatir dan mengusap rambutnya.


“Aku...” Kani tercekat kemudian menangis sesenggukan.

__ADS_1


“Kani, kenapa?” Suaranya berat. Kani di tempatnya berusaha mengendalikan diri dan memulas air matanya yang mengalir deras.


Gadis itu duduk di atas kasurnya dan bersandar pada dinding. Rambutnya berantakan, mata bengkak, wajah sembab apalagi kalau bukan karena menangis.


“Aku sangat mencintaimu, aku merasa sedih karena rasanya sudah lama tak melihatmu. Kita harus berjumpa nanti.” Ia meremas rambutnya kasar dan Amarendra menghela napas. Pria itu yakin ada sesuatu yang terjadi.


“Aku tak percaya karena rindu padaku kamu sampai menangis seperti itu. Jujur, ada apa?” Dia menekan dan Kani terus mengatakan bahwa dia tak apa.  Akhirnya dia menjadikan penyakit lambungnya sebagai alasan.


“Sudah aku bilang jangan lupa makan, minum obatmu, tak mau menurut padaku tak apa. Setidaknya dengarkan apa yang dikatakan dokter,” tandasnya sedikit kesal dan Kani tersenyum lebar.


“Jelas kita akan bertemu nanti,” dia melanjutkan dan Kani membisu. “Kamu mengantuk?”


“Hmmm.” Kani sudah berbaring dan air matanya terus berjatuhan.


“Aku mencintaimu, tidur, ya.”


“Iya.”


Percakapan mereka usai tapi Amarendra tak kunjung berlalu dari tempatnya. Dia mendesah kasar ke udara. Beberapa menit kemudian dia mendekati teman-temannya. Pak Muji sudah pulang tadi sore, juga dengan pekerja yang lain. Amarendra akan pulang besok, dia harus ke Jakarta, memastikan Bunda baik-baik saja di rumah itu dan untuk bertemu Kani, dia akan mengatur waktu nanti.


“Pak Muji punya tiga anak perempuan cantik-cantik, loh.” Salah satu dari mereka menyeletuk dan Amarendra mengangkat pandangannya.


“Iya, aku tahu tapi aku hanya tertarik pada anak Pak Muji yang pertama,” balas pria lebih tua dari Amarendra dan Amarendra mendelikan matanya. Dam yang melihat itu merasa ngeri sendiri.


“Pasti anak pertama Pak Muji sudah punya kekasih, jangan macam-macam,” kata Dam menegur pria tadi yang sedang melihat-lihat akun sosial media Kaniraras.


“Jangan mimpi kalian! Pak Muji tak akan memilih laki-laki kere apalagi kuli bangunan. Anakku saja dia tolak, dia ingin menantu yang memiliki pekerjaan tetap, mapan, bukan seperti kamu!” seru Jarwo dan Amarendra membuka bukunya lagi.


“Kalian sibuk bergunjing tapi bersikap sok baik di depan orangnya. Tak ada yang salah dengan keinginan Pak Muji, semua orang tua ingin pasangan yang terbaik bagi anak-anaknya!” tegas Amarendra tanpa mengalihkan pandangan. Semuanya diam karena mendengar suara berat itu amat menyeramkan. Seperti marah bukan hanya menyindir.

__ADS_1


Amarendra tak bisa fokus pada apa yang dia baca, Pak Muji menginginkan menantu dengan kualitas tinggi, itu tak salah, dan dirinya merasa memiliki kualitas amat rendah. Jika tahu dia dan Kani berhubungan sejak lama, apa Pak Muji akan membencinya? Apalagi dia menyembunyikan itu selama ini.


Amarendra terus memikirkan hal tersebut sampai dia tak bisa memejamkan mata untuk mengistirahatkan fisik dan pikirannya yang lelah.


__ADS_2