Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
SEDETIK


__ADS_3

Hari berbahagia itu tiba, Kani terus berdiri menatap pelaminan, memastikan bahwa adiknya dengan suaminya baik-baik saja. Awalnya Dahlia tenang tapi tidak setelah dia melihat Kakaknya begitu sibuk memastikan tak ada masalah. Air matanya luruh, Bu Ismi memilih ke dapur dan menyeka pipinya.


Bashir yang melihat Dahlia menangis mengambilkan tisu. Dahlia terus memandang Kani, Kani pun tak tahan dan menangis sambil menebarkan senyuman. Kerabat yang melihat merasa terharu dan Kani naik ke atas pelaminan, memeluk adiknya itu.


“Aku menyayangimu.” Dahlia mencium pipi Kani dan keduanya menangis sambil menepuk-nepuk punggung adiknya. Keduanya begitu untuk waktu yang cukup lama. Dahlia mengangguk-angguk mengerti saat Kani memintanya untuk tak menangis lagi. Cukup dan waktunya berbahagia.


Setelah pernikahan Dahlia, tak lama  kemudian Kenanga dan kekasihnya Ramlan menyusul. Kani selalu berdiri menatap ke pelaminan, bukan dia iri tapi dia ingin melihat adiknya yang begitu cantik hari ini. Pak Muji dan Bu Ismi saling menatap iba, sudah dua kali Kani terlangkahi tapi dia terlihat baik-baik saja. Tidak baik-baik saja di dalamnya karena mulut-mulut komentator itu selalu Kani dengar. Dilangkahi kedua adiknya bahkan selalu dijadikan bahan gurauan di tempat kerja, padahal dia merasa itu tak ada yang perlu ditertawakan.


Setelah Kani selesai dengan sekolah kejar paket C nya, dia mendapatkan ijazah, mencari pekerjaan lain, di minimarket kontrak satu tahun lalu ditambah setahun setengah. Dia berhenti karena umur tak bisa disembunyikan.


Dahlia dan Kenanga sudah memiliki anak, Pak Muji dan Bu Ismi senang saat akhir pekan semuanya berkumpul bersama di rumah. Kani tak meminta apa-apa saat kedua adiknya menikah, dia hanya menginginkan mereka tak lupa dengan rumah, selalu menyempatkan waktu dan jika tak ada itu perlu disempatkan.


“Kapan anak kita menikah, Bu? Melihat kedua adiknya rukun dengan rumah tangga mereka Bapak tenang tapi Kani...” Pak Muji mengurut dada dan Bu Ismi yang sedang memasak tak bisa menjawab apa-apa. Kani sudah 26 tahun sekarang. Hidupnya hanya sibuk untuk bekerja dan menghindar saat disinggung mengenai pernikahan.


“Kapan Teteh pulang, Bu?” Syamsir bertanya.


“Biasanya kalau hari Jum’at jam lima sore juga sudah pulang,” kata Bu Ismi.


“Aku pergi dulu.” Syamsir yang sudah dewasa itu begitu rapi entah mau ke mana. Dia menarik kunci motor yang digantung. Pamungkas ingin ikut tapi dia melotot, menyogoknya dengan uang dua ribu, anak itu langsung diam.


“Dih, mau-maunya kamu.” Dahlia mencibir dan Pamungkas tak masalah, yang penting duit.


***


JAKARTA, seorang wanita dengan kerudung berwarna hitam sedang melangkah menuju ke kamar anaknya. Dia tak lain adalah Bunda Sri. Tangannya berayun mengetuk pintu dan dari dalam suara berat anaknya memberi izin untuk masuk.


“Bunda kira kamu belum bangun.” Bunda Sri meletakkan segelas teh manis hangat, dia tatap punggung anaknya yang berbalut kemeja hitam.


“Aku telat salat subuh berjamaah, terpaksa di rumah. Sebentar lagi aku harus berangkat,” katanya sambil meraih jam tangan di dalam laci dan dia terdiam sejenak melihat jam tangan berwarna hitam paling pojok. Tangannya dengan kasar menutup laci dan Bunda Sri memperhatikannya.

__ADS_1


“Maren,” ucap Bunda lemah lembut dan Amarendra meraih jas, tas kerja, dan ponselnya. “Bagaimana? Ini sudah dua Minggu berjalan proses Ta’aruf kamu.”


Amarendra mengangkat bahu dan Bunda Sri menggeleng kepala. Dia keluar dan Amarendra mengekor di belakang. Sadar Bundanya merajuk dia mencoba menyejajarkan diri tapi Bundanya mendelik dan Amarendra tertawa.


Lusi yang sudah mulai sarapan diam saat bahunya disentuh Amarendra. Kepalanya dikecup penuh kasih.


“Jangan harap caramu ini membuatku memaafkanmu, Maren. Aku malu!” Lusi kesal dan Amarendra mulai menciduk sarapannya. “Lihat, Bund. Dia selalu pura-pura budek.”


“Selamat pagi.” Amarendra menarik Merlin anak kedua Lusi ke atas pangkuannya dan Lusi mendelik jengkel.


“Lihat dia, terus bermain dengan anak-anakku, memanjakan mereka tapi tak mau menikah dan memiliki anak sendiri.” Lusi berdecak kecil dan Amarendra menghela napas panjang.


“Apaan, sih, Kak? Pagi-pagi sudah mengomel, biarkan aku sarapan dengan tenang. Masalah adik temanmu yang kau jodohkan denganku sudah aku bilang tak mau, kau memaksa, terpaksa aku melakukan cara sendiri untuk menolak gadis itu.” Amarendra kesal dan Bunda memijat keningnya yang penat.


Lusi mencondongkan bahu ke arah adiknya. “Kau membuat gadis itu menangis, aku habis-habisan diprotes kakaknya. Apa yang kamu bilang?” Lusi melotot dan Amarendra menelan ludah.


“Bund...” Lusi frustrasi. “Amarendra membuat persahabatanku diambang kehancuran.” Ia mendesah dan Merlin cengengesan.


Sementara Bunda, jauh lebih khawatir dengan gadis bernama Salwa. Sudah dua Minggu, tak ada perubahan apa-apa? Ini sudah bertahun-tahun lalu sejak Amarendra meninggalkan Kani tapi tak kunjung Bunda melihat anaknya ingin membuka hati dan menjalin hubungan serius. Amarendra bukan tak pernah melihat perempuan cantik yang lain bahkan yang lebih cantik dan menarik tapi bukan berarti dia mudah jatuh hati. Kani begitu spesial mengisi relung hati dan jiwanya, tak mudah diganti atau disejajarkan dengan yang baru, tetapi nyatanya dia selalu berbohong kepada dirinya sendiri. Dia mengatakan dia benci dengan semua kebohongan dan pengkhianatan yang dilakukan perempuan itu, sudah mengubur dalam-dalam rasa cintanya, sudah tak mau lagi ingin tahu bahkan mendengar namanya. Namun tetap ada terbersit perasaan cemas dan terkadang ingin mencari tahu bagaimana kabarnya dia sekarang.


Di sebuah Perusahaan yang menduduki kategori salah satu posisi Perusahaan Multinasional tanah air, Amarendra keluar dari mobilnya. Dia menatap jam tangannya, kaki panjangnya sesekali berlari mengejar waktu.


“Selamat pagi, Pak.” Para karyawan menyapa, Amarendra hanya mengangguk kecil dan memperbaiki dasinya yang terasa tak nyaman.


Sepanjang lorong, dia mengangguk-angguk merespons mereka yang menyapa. Amarendra menaiki Lift, menuju lantai 19. Dia keluar dari Lift, merapikan rambutnya yang sudah rapi itu, seorang pria menyambut dan Amarendra merangkulnya, keduanya memasuki ruangan rapat  di mana yang lain sudah menunggu untuk rapat  mendadak pagi ini.


Pukul sebelas siang di ruangan kerjanya, Amarendra memperhatikan layar laptopnya, tubuhnya bergerak ke kiri-kanan di atas kursi kerjanya tersebut. Amarendra mengangkat kedua matanya saat pintu ruangannya didobrak, padahal bisa pelan-pelan, toh tak pernah dia kunci.


“Maren, Papi...” Wanita dengan setelan jas berwarna putih tulang itu menangis dan tersendat tak bisa melanjutkan ucapannya. Amarendra bangkit, menyambar kunci mobil dan keduanya pergi terburu-buru.

__ADS_1


“Bu Kirana!” seru seorang wanita sambil mengangkat tangan tapi wanita itu sudah masuk ke dalam mobil Amarendra.


Sesampainya di rumah sakit, Ibunya Kirana yaitu Kemuning sudah tak bisa ditanyai. Kakak Kirana maju dan mengatakan kabar menyakitkan. Kirana menangis dan terhuyung, ditahan oleh Kakaknya. Ayahnya yaitu Sutan meninggal dunia. Padahal semalam saat Amarendra menjenguk, kondisinya sudah membaik.


Amarendra menghubungi semua orang, kediaman Kirana ramai dikunjungi para pelayat. Karangan bunga ucapan turut berduka cita berjajar berjejal. Amarendra yang memasang badan paling depan ikut menggotong keranda. Di balik kacamata hitamnya, kesedihan karena kehilangan itu menyeruak.


“Sabar.” Bunda Sri menenangkan Kemuning yang memang sudah siap untuk berhadapan dengan kehilangan atau mautnya sendiri. Suaminya sakit-sakitan dan setelah Amarendra pulang semalam, suaminya mengatakan sesuatu.


“Aku ingin berbicara dengan Amarendra, Sri.” Kemuning berbisik.


“Tentu saja Amarendra tak akan menolak,” balas Bunda dan Kemuning menyeka pipinya.


Malam hari, setelah Kemuning merasa mampu berbicara, Amarendra yang diminta Bunda untuk tetap di rumah tersebut masih setia menunggu. Entah apa yang ingin dibicarakan wanita itu. Amarendra berusaha menebak tak berhasil. Dia menoleh saat punggungnya disentuh.


“Aku di sini, Tante.” Amarendra menatap tanpa membuat ekspresi.


“Om kamu menangis setelah kamu pulang malam itu.” Kemuning memandang lekat Amarendra yang begitu sudah dewasa lalu dia melirik kanan-kiri. “Dia pernah melakukan kesalahan bertahun-tahun lalu dan itu mengganggu jiwanya karena merasa bersalah. Dia terus memanggil nama gadis itu sampai akhirnya Om  kamu tiada.” Dia menangis lagi dan Amarendra yang tak mengerti hanya mengerutkan keningnya dalam-dalam.


“Aku tak paham, Tante. Aku tak tahu apa masalah itu, mungkin Kirana tahu, coba tanyakan padanya.” Amarendra berusaha menanggapi dengan baik dan Kemuning memegang tangannya kuat-kuat.


“Kaniraras.” Kemuning menatap sendu, saat dia menyebut nama gadis itu, Amarendra tersengal kemudian mundur. Matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan dan dia terganggu mendengar nama itu.


“Aku tak tahu apa-apa, Tan.” Amarendra menunduk dan mengepalkan tangannya. “Aku harus pulang, assalamualaikum.”


Amarendra lekas pergi dan Kemuning menatap kepergiannya. Sesampainya di luar, Amarendra masuk dan menyadarkan kepala kemudian dia memijat keningnya.


“Kenapa aku harus mendengar namamu lagi?” Amarendra mengembuskan napas kasar dan menyalakan mesin mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju pulang, dia terus terbayang-bayang wajah Kani, semua kenangan indah, semua kejadian yang mereka lakukan bersama, dan Amarendra mengerem mendadak saat tak memperhatikan jalan, ini benar-benar merusak suasana hati dan mengguncang hebat perasaannya.


“Aku benci padamu, ya aku benci, sampai tak bisa melupakanmu meskipun sedetik!” Amarendra kembali melajukan mobilnya, mengatur napasnya, tapi dia tak sanggup meredakan debar jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2