
KANI berguling-guling di atas kasurnya, dia senang karena sedang berkirim pesan dengan Kalingga. Kani diam, menunggu balasan, sementara kedua adiknya Dahlia dan Kenanga saling menatap bingung melihat tingkahnya. Senyum-senyum sendiri membuat mereka geli.
Kalingga:
Yang rajin belajarnya, ya.
Kani:
Iya, Mas, siap.
Kalingga:
Mas, mau isi pulsa kamu boleh, ya? Mau berapa?
Kani terkejut membacanya, itu sama sekali tak perlu.
Kani:
Pulsa Kani masih banyak, nggak usah.
Kalingga:
Nggak apa-apa, biar tambah banyak, hehe.
Kani:
Emm, iya, terima kasih, Mas.
Kalingga:
Sama-sama, nanti malam Minggu kita main, ya. Mumpung Mas masih di sini, hari Seninnya mau masuk kerja di tempat baru. Bisa, kan? Nanti biar Mas yang izin sama orang tua kamu, Neng.
Kani:
Aku nggak pernah main malam-malam sama laki-laki, bapak juga pasti nggak kasih izin.
__ADS_1
Kalingga:
Kan, Mas yang minta izin nanti asal kamu mau atau nggak. Mas mau yang pasti-pasti saja, mau, kan?
Setelah menimbang-nimbang, Kani akhirnya mengiyakan dan Kalingga sangat senang. Obrolan mereka tersambung menjadi obrolan di telepon, Dahlia terus menegur karena merasa terganggu sedang belajar sampai dia mengancam mengadu kepada orang tua mereka dan akhirnya Kani mematikan panggilan sepihak. Kani mendelik, mengomel, dan menjelaskan lewat pesan pada Kalingga dia tak bisa berbicara di telepon lama-lama.
Sebagai seorang gadis yang sudah memiliki perasaan spesial untuk laki-laki tertentu, Kani jelas senang karena Kalingga mendekatinya, berhari-hari obrolan mereka begitu hangat. Kani selalu lupa waktu dan kena marah, juga lupa sesaat dengan masalahnya ketika berkirim pesan dengan Kalingga, pernah sampai pagi, kepalanya sakit pun tak dia hiraukan. Yang penting senang bisa menceritakan banyak hal pada Kalingga termasuk di dalamnya terselip Amarendra, Kalingga tak terlalu merespons, dia tak suka Kani membahas pemuda itu.
Sementara di tempat lain, Amarendra sudah berkali-kali mengirimi Kani pesan, menanyakan tentang lukanya apa plesternya diganti, dan apa anak itu menurut karena dia memintanya agar Kani mengoleskan obat merah, tak ada balasan, tapi gadis itu berstatus Online pada akun Facebooknya. Amarendra berpikir mungkin ponsel Kani sedang dipegang Dahlia atau Kenanga karena itu hal biasa.
“Maren.” Bu Sri mendekat dan Amarendra menoleh. “Bunda besok harus ke Jakarta lagi, nggak bisa lama, pulang cuman ingin melihat kamu,” katanya melanjutkan dan Amarendra mengangguk.
“Hati-hati di jalan, Bund.” Amarendra tersenyum.
“Bunda pulang denganku, tak perlu khawatir!” tandas Kakaknya dari dalam, sedang merapikan pakaian anaknya ke dalam tas. Amarendra mendelik dan bahunya dirangkul.
“Bunda sudah melihat gadis yang bernama Kani waktu itu, dia masih kecil ternyata, berapa usianya?” Bu Sri berbisik dan Amarendra menunduk.
“Dia masih SMP, Bund. Tahun ini lulus.” Amarendra tampak malu-malu.
“Gila! Pacaran kok sama anak kecil,” sahut Lusi dan Amarendra tak peduli. “Bund, aku mau tidur tapi ada yang harus aku kerjakan nanti dua jam lagi, bangunkan aku.” Lusi berlalu setelah meminta dan Bu Sri mengiyakan dengan mengangguk. Bu Sri paham dengan pekerjaan anak pertamanya yang memang padat, lelah saja masih harus berhadapan dengan laptopnya.
“Ya memangnya aku sudah tua, Bund? Kami teman.” Matanya memicing, kesal.
“Ah masa, jelas kamu suka dia. Bunda tahu. Cantik, ya, Bunda sampai seneng banget dan kebayang terus wajahnya itu. Cantik, manis, polos. Jangan kamu rusak gadis seindah itu, Maren.” Bu Sri berhasil membuat Amarendra terbelalak dengan ucapannya.
“Asstaghfirullah hal adzim, Bunda. Kapan aku begitu? Pacaran saja aku nggak pernah apalagi merusak anak orang. Bunda, pikirannya.” Amarendra cemberut, bisa-bisanya dia disangka akan begitu.
“Tapi kamu ada niat buat pacaran sama dia, kan?” Bundanya menyelidik.
“Enggak, mau aku seret ke KUA secepatnya.” Amarendra mendelik sebal dan Bu Sri tertawa lepas.
“Masih panjang, Maren. Bunda mau kamu kuliah dulu, punya pekerjaan dulu, cukup belajar dan menikmati masa muda, jangan memikirkan hal-hal yang berat.” Bu Sri menepuk bahu Amarendra dan anaknya itu mendesis.
“Bercanda, Bund, jangan dibawa serius. Aku juga memikirkan itu tapi untuk kuliah, sebaiknya kita realistis, setelah lulus SMA aku mau cari kerja, mengubur dalam-dalam keinginan buat kuliah. Nggak harus kuliah, kan, Bund?” balasnya dan Bu Sri menggeleng.
__ADS_1
“Om kamu sudah beberapa kali membicarakan ini, dia siap menanggung biaya kuliahmu, Maren. Asal kamu nurut sama Om kamu” Bu Sri berusaha membujuk dan Amarendra menggeleng.
“Aku mau kerja, Bund, sama jagain Bunda. Nggak ada pikiran buat kuliah.” Amarendra tak mau menatap, ada getaran halus di dalam ungkapannya dan Bu Sri tak bisa berbicara lagi. Dia tahu anaknya hanya pura-pura, dulu saat kehidupan mereka masih baik, Amarendra sampai les bahasa Jepang karena ingin kuliah di sana. Kata ayahnya, belajar bahasanya terlebih dahulu akan memudahkan segalanya nanti tapi nyatanya semua hanya rencana, takdir Tuhan tak bisa ditebak akan seperti apa ke depannya.
***
Kani membuatkan teh tawar hangat untuk Bapaknya, masih memakai mukena, sesekali mengucek matanya yang terasa lengket. Bapaknya akan pergi bekerja ke daerah Tangerang. Dia berikan teh hangat tersebut dan Bapaknya menerima.
“Bangunkan adik-adikmu, kalau Syamsir bertanya, bilang sama dia Bapak nggak sempat pamit yang penting semalam Bapak sudah bilang sama kalian semua mau pergi subuh,” ucap Pak Muji dan Kani mengangguk. Setelah meneguk setengah gelas minumannya, Pak Muji pergi dengan Bu Ismi yang terus memandangi kepergiannya dari bibir pintu.
“Lihat bapak kalian, masih sakit saja tetap harus mencari uang buat kita.” Bu Ismi menyeka air mata di pipi. Kani diam dan semua adik-adiknya yang masih setengah mengantuk saling menatap.
“Semoga nanti batuknya bapak cepat sembuh, Bu.” Kenanga berlalu setelah menimpali sambil membawa sandal khusus di dalam rumah, hendak mengambil wudhu.
Semuanya tak melihat Ibu mereka menangis kecuali Kani. Dia sampai bingung dan bertanya-tanya, hanya menurut saat diminta untuk membuat sarapan. Bu Ismi duduk di atas kursi, melamun.
Ibunya selalu begitu akhir-akhir ini, membuatnya yang membutuhkan sesuatu ragu untuk meminta apalagi jika meminta pulsa.
Saat di sekolah. Amarendra mendekat dengan wajah tak seperti biasanya.
“Aku mengirimimu pesan berkali-kali semalam,” ujar Amarendra yang kini sudah di sebelah Kani.
“Aku sudah tidur.” Dengan mudahnya Kani bohong padahal dia Online sampai pukul tiga.
“Terakhir aktif jam tiga pagi? Belajar atau ngapain?” Amarendra sadar bahwa dia berlebihan tapi dia juga penasaran.
“Iya, deh, ya. Aku sibuk berkirim pesan sama mas Kalingga,” jawab Kani dan Amarendra mematung, kecewa. Kani berbalik badan karena mendadak Amarendra lenyap dari sampingnya. Sambil tertawa dia mendekat dan mengempit tangan laki-laki itu. “Masih ingat Kalingga, kan? Yang waktu itu.” Dia bercerita dengan riang.
“Iya, si Om-om.” Amarendra malas dan sangat ingin pergi tapi Kani menahannya.
“Dia belum setua itu, Maren.” Kani merajuk.
“Yang jelas dia jauh lebih tua darimu, apa bisa bergaul dengan yang usianya dekat-dekat saja? Seperti aku, teman sekelas, beda setahun dua tahun wajar kali. Dia terlalu dewasa...orang dewasa itu berbeda.” Amarendra khawatir dan Kani mencubit lengannya. “Sakit!” pekiknya.
“Apa kamu mengatakan bahwa mas Lingga pria nakal, Maren? Jahatnya mulutmu.” Kani kesal dan menampar mulut Amarendra, laki-laki itu menyentuh bibirnya dan sangat ingin dia balas jika bisa tapi dengan bibirnya sendiri. “Jangan begitu. Aku kenal dia, aku suka dia sejak lama.”
__ADS_1
Amarendra membuang napas berat, sangat ingin menyumpal telinganya, dia tak sanggup mendengar apa pun sekarang. Kani benar-benar hanya menganggapnya teman.
“Menyebalkan.” Amarendra melangkah dan tangan Kani terlepas. Pemuda itu tak peduli walaupun Kani terus memanggilnya.