
Bu Ismi memperhatikan Kani berkemas, besok subuh berangkat, berat dia merelakan dan Kani yang sudah selesai meraih ponselnya di atas meja. Dia dapat kabar dari Amarendra bahwa dia juga akan berangkat besok ke Jakarta, keduanya sama-sama meninggalkan tempat yang penuh kenangan bagi mereka besok pagi. Yang Kani tahu, Amarendra akan bekerja di sebuah Restoran, dia tak tahu bahwa Ibunya Amarendra sudah berhenti bekerja dan kembali ke Malang. Amarendra merasa tak perlu mengatakannya karena Kani harus fokus menyiapkan mental untuk pertama kalinya bekerja dan pekerjaannya tidak mudah.
“Kani.” Bu Ismi memandang lekat dan Kani diam. “Dunia di luar sana tak seindah yang kamu bayangkan, lebih baik tetap tinggal di rumah.”
“Berdiam diri malah membuatku terbayang suasana sekolah, Bu. Tolong relakan aku pergi, kan kerjanya juga di bosnya bapak.” Kani bersikukuh dengan niat awalnya untuk lekas pergi, mengadu nasib.
“Kalau begitu janji sama Ibu, jaga diri dan jaga nama baik bapakmu di mata bosnya,” ucap Bu Ismi pelan dan Kani mengangguk yakin. Bu Ismi keluar dan Kani merebahkan tubuhnya. Dia menoleh saat tangannya ditusuk telunjuk Kenanga.
“Teteh kapan pulang?” Kenanga terus menatap.
“Belum juga berangkat masa sudah menanyakan kapan Teteh pulang, Nga? Teteh janji kalau pulang akan membelikan apa yang kalian semua mau, doakan Teteh semoga betah di sana dan disayang sama bos bapak.” Kani tersenyum dan Kenanga tak mau itu semua, dia hanya mau Kani tetap di rumah. Ia beringsut dan memeluk Kani kemudian Kani membalasnya.
Paginya, Kani dan Bapaknya berangkat, mereka yang di rumah memperhatikan sambil menahan tangis terutama Bu Ismi. Apa anaknya itu bisa? Bu Ismi merasa tidak yakin.
Sementara di Terminal, Amarendra sedang menghangatkan tubuh sambil mengisap mengusap sebatang rokok. Dia berjongkok menunggu di depan Toko Abahnya yang masih tutup. Ransel besar bersandar pada rolling door toko. Amarendra terlihat melamun sampai suara klakson motor membuyarkan lamunannya. Dia mengacak rambutnya yang masih setengah basah. Sesekali menatap jam di pergelangan tangan, pukul enam kurang lima belas menit dan akhirnya dia melihat Raihan tapi yang membuatnya heran adalah Yana cengar-cengir mengintil.
“Kita naik Bus lain saja, yang sudah penuh agar cepat berangkat.” Tunjuk Raihan dengan ekor matanya pada Bus yang masih kosong melompong.
“Yan, kamu mau ke mana?” Amarendra bingung.
“Ya...kerja, lah!” Yana mendengus apa Amarendra mengira dia akan piknik?
__ADS_1
Amarendra mengalihkan pandangan kepada Raihan.
“Dia yang aku maksud teman kita di kontrakan nanti.”
“Tapi, Yana mending kamu sekolah, ngapain kerja?” Amarendra bukan tak senang tapi dia yakin Yana akan menyesal suatu saat nanti dengan keputusannya.
“Aku mau kerja, malas sekolah, nggak masalah, kok walaupun cuman tamatan SMP.” Yana mendelik sebal. Raihan lekas menghentikan perdebatan keduanya dan menariknya karena Bus sudah berhenti menunggu ketiganya masuk. Amarendra menggendong tasnya dan dia mendongak, Abah di balkon melambaikan tangan dan ia tersenyum. Abah melarang Amarendra berkali-kali tapi dia begitu keras kepala dan harus menghidupi Ibunya walaupun Abah sudah lantang akan menjamin. Amarendra tak mau ada kecemburuan sosial dari cucu, keponakan, sepupu, paman, bibi dan yang lainnya. Dia sudah cukup mampu untuk menghidupi dirinya dan Bundanya.
Bus melaju dan Amarendra dengan keduanya baru saja duduk. Yana terus menyenggol Amarendra yang duduk di tengah. Mereka memilih tempat duduk memanjang di dekat kaca belakang Bus dan di bersebelahan dengan pintu.
“Maren.” Yana terus menyenggol dan Amarendra mendesis. “Itu...” Yana melirik seorang gadis yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga.
Amarendra menunjuk kursi kosong di sebelah Kani dan Kani menggeleng, melirik Bapaknya sekilas kemudian dia mengangkat tangannya dan Amarendra mengangguk paham. Raihan dan Yana yang melihat keduanya saling melempar kode hanya bisa menjadi penonton dan akhirnya memilih tidur dengan wajah mereka tutup menggunakan jaket.
Kani:
Aku gugup, Maren.
Amarendra:
Mereka jelas akan menerimamu, kamu anak yang rajin. Sepertinya kita akan berpisah sebelum Terminal kota. Aku akan memuaskan diri dengan melihatmu sekarang.
__ADS_1
Kani mendelik membacanya dan Amarendra tersenyum, memperhatikan mimik wajah gadis itu saat membaca pesannya lalu mengangkat wajah dan tersenyum padanya.
“Dari sisi mana pun, aku bisa melihat betapa indahnya dirimu. Aku sangat ingin mendekat tapi takut disangka laki-laki berandal yang mengganggumu,” gumamnya dalam hati dan membaca pesan balasan dari Kani, gadis itu memintanya berhenti memandang dan Amarendra menggeleng. Terus melakukannya.
Satu jam kemudian, mereka sudah berhenti berkirim pesan. Amarendra diam memperhatikan Kani yang terlelap bersandar pada bahu Pak Muji. Amarendra mengeluarkan kamera digitalnya dan mengambil potret gadis itu. Amarendra yang melihat Pak Muji bangun dengan cepat lekas melipat kedua tangan diperut, menutup matanya rapat-rapat dan jangan sampai pria paruh baya itu melirik ke arahnya. Pak Muji tak ada waktu untuk melirik-lirik, dia terus mendekap bahu anaknya agar tak tersenggol yang baru masuk. Bus sudah penuh sekarang. Amarendra tak bisa melihat Kani karena terhalang mereka yang berdiri. Matahari pun semakin merangkak naik, Kani dan Pak Muji akan turun sebentar lagi dan Kani mencari celah untuk melihat Amarendra tapi tak bisa. Akhirnya dia dan Pak Muji turun melewati pintu di mana Amarendra berada dengan kedua temannya. Amarendra dan Kani saling memandang dan Kani bisa mendeteksi kesedihan di dalam mata temannya itu. Setelah turun, Kani tersenyum dan Amarendra membalasnya.
Di rumah, Bu Ismi kedatangan tamu yang tak lain adalah Kalingga. Agak aneh karena pemuda itu mau berkunjung.
“Begini, Bu, izin mau mengajak Kani jalan-jalan.” Dengan senyuman lebar nan manis dia berujar. Kenanga dan Dahlia yang mendengar pun memperhatikan.
Bu Ismi menggeleng dan hal tersebut membuat Kalingga mengernyit.
“Kani tadi subuh baru berangkat sama bapak untuk bekerja.” Bu Ismi tersenyum, dipaksakan.
Kalingga menundukkan pandangan beberapa detik, “Kerja, Bu? Bukannya...sekolah?”
Bu Ismi mengurut dadanya pelan dan menjawab. “Kani nggak melanjutkan sekolah ke SMA, Mas. Jadinya dia kepingin kerja, mungkin takut Ibu jodohkan seperti gadis-gadis lainnya di kampung kita ini yang menikah di usia belia karena nggak sekolah.”
Kalingga mangut-mangut, tanpa harus bertanya apa penyebab Kani tak melanjutkan sekolah dia sudah bisa menebaknya. Dia kemudian pamit undur diri dan Bu Ismi mengangguk sambil tersenyum.
“Apa Kani masih dekat sama si Maren itu, ya?” gumam Kalingga yang kini sudah duduk di atas motornya. “Ah nggak mungkin, kalau Kani bekerja jelas anak itu juga akan pergi dan mereka berjauhan. Aku harus lebih cepat mendekati Kani.” Dia menambahkan tetap dalam hati kemudian berlalu pergi, kembali ke rumah.
__ADS_1