
Malam harinya, Kani sedang berjalan sendirian sepulang mengantarkan makanan ke rumah Pamannya. Dia berhenti saat melihat Amarendra berdiri sembari menatapnya. Kani celingak-celinguk dan dia mendorong Amarendra ke dalam gelap.
“Jangan melakukan hal gila, aku takut keluargaku melihat kita,” bisik Kani dan Amarendra menarik pinggangnya.
“Aku rindu,” ucap Amarendra serak.
“Bukannya besok kamu berangkat lagi? Pulanglah, Maren, istirahat.”
Keduanya diam saat mendengar suara langkah kaki, ada yang lewat dan Kani berusaha membuat pria itu mengerti.
“Aku mau kita pergi bersama, besok. Naik bus dan kamu duduk sambil bersandar padaku,” pintanya dan Kani menggeleng.
“Aku berangkat dengan Bapakku,” balasnya dan terkejut saat Amarendra menciumnya sekilas.
“Kamu boleh mengatakan apa pun tapi tidak dengan kebohongan. Mau berangkat dengan Kalingga?” Amarendra menyeringai dan Kani menjauh.
“Kamu menuduhku berbohong, Maren?” Kani kesal dan memukul dada pria itu.
“Kamu yang membuatku sulit untuk percaya lagi. Kau suka dia? Tertarik padanya? Jelas, dia mapan, baik, cinta pertamamu dan aku tak berarti sedikit pun! Aku hanya sebatas pelipur bukan pelengkap hidupmu, selalu begitu. Tapi bukannya kita sudah membicarakan sebuah komitmen? Aku mati-matian memperjuangkan tapi kamu pergi dengan pria lain dan kenapa harus Kalingga? Aku rela asalkan itu yang terbaik untukmu tapi jangan dia! Aku tak sanggup.” Ia hampir pecah dengan tangisnya dan Kani meraba cincin di jari manisnya.
Kani menutup mulutnya rapat-rapat, tak bisa berbicara apa pun.
“Tak bisa menyangkal? Dan jika kamu melakukan itu, Raihan bahkan melihatmu juga tadi siang dengan Kalingga. Aku memang pria buruk, Kani. Tapi jangan membuatmu rendah di hadapanku hanya untuk membuatku pergi dari kehidupanmu, kau memintanya sekali, akan aku lakukan!” Dia tersengal, hancur dengan ucapannya sendiri dan Kani menangis.
“Aku dan Kalingga dijodohkan, Maren,” tercetus sebuah kenyataan yang semakin menyesakkan dada. Amarendra mendekat dan Kani mengulurkan tangannya, memberikan cincin itu.
“Kamu bilang mencintaiku, lantas mengapa tak berani menolaknya?” tanyanya sambil menyeka sudut matanya.
“Apa kamu kira aku berani membantah orang tuaku? Aku ingin mengatakan ini, apa kamu pikir itu mudah?” Kani tercekat dan keduanya tak kuasa menahan tangis. Kani melangkah mendekat dan Amarendra mengangkat tangannya, tak mau lagi melakukan apa pun bahkan jika hanya didekati, “Maren.” Kani menarik-narik baju pria itu yang kini membelakanginya.
“Lihat aku.” Kani menangis dan meminta, lalu Amarendra berbalik dan wajah keduanya sangat dekat.
“Aku sadar sekarang, ini bukanlah perjuangan karena aku melakukannya sendiri tidak denganmu!” Amarendra menyentak keras.
“Maren berhenti bicara, aku...”
Kani terlonjak kaget saat Amarendra menepis tangannya, membuat cincin itu entah ke mana menggelinding di bawah kaki mereka. Kani menangis tersedu-sedu, merapatkan diri tapi Amarendra menjauh.
__ADS_1
“Aku tak sanggup kehilanganmu, Maren.” Kani terus memegang dada pria itu dan Amarendra menggeleng.
“Apa kamu ingin mengatakan bahwa kita akan tetap terjalin meski kamu menikah dengannya? Jangan sinting kamu!!”
Kani semakin deras dengan tangisannya.
Amarendra mengepalkan tangannya karena Kani malah memeluknya erat. “Setidaknya dukung aku untuk menghadapi kesakitan ini, Maren. Aku ingin kamu hadir di acara itu, sebagai sahabat yang merelakan sahabatnya menikah.” Kani meraba-raba wajah Amarendra dan Amarendra mendorongnya perlahan
“Cukup, Kani. Aku tak mau mendengar apa-apa, jadi kita berakhir malam ini?” Kani tak bisa menjawab. “Kamu mau aku melihatmu dia nikahi begitu? Hah! Tak sedikit pun kau memikirkan perasaanku?” Amarendra benar-benar tak percaya dan dia membungkuk menahan denyut luka yang terus menganga di hatinya.
“Maren.” Kani menyentuh bahu pria itu.
“Diam dan pulanglah! Aku butuh waktu untuk mencerna apa yang aku dengar, kenyataan bahwa segalanya tak berarti apa-apa.”
“Karena aku terpaksa menerima pria lain kau benci dan ingin melenyapkan diri dari kehidupanku? Gadis kesayanganmu ini, hah?” Dia tarik bahu pria itu kasar dan Amarendra menepisnya.
Amarendra tak menjawab, berlalu begitu cepat dengan langkah kaki besarnya. Kani terhuyung dan menangis sejadi-jadinya. Sebuah kebohongan ditutupi kebohongan lainnya. Sebuah keadaan memburuk karena tak mau saling terbuka. Saling melukai ego masing-masing yang belum bisa mengontrol diri untuk tetap bersikap tenang.
Selalu ada sebab baik dan buruk dalam setiap tindakan. Harus siap juga dengan risiko apa pun yang akan terjadi di depan.
***
“Kamu tidak tidur semalaman, setidaknya pergi dengan sarapan dulu, Bunda membuat nasi goreng.” Bunda menuntunnya ke dapur tapi Amarendra hanya mengambil botol minumnya.
“Aku sudah telat, Bund.” Amarendra tak mau menatap.
“Kamu tak bisa menghargai Bunda, Amarendra! Kau tuli?” Lusi berteriak dan melemparkan semangkuk mie panas ke punggung adiknya lalu tumpah, disusul kerasnya suara menggema dari mangkuk yang pecah berhamburan di dekat kaki Amarendra. Dadanya naik turun karena amarahnya terpancing sampai dia harus merelakan Mie yang dia buat sendiri.
“Lusi!” bentak Bunda dan Amarendra menyentuh punggungnya lantas berbalik. Melihat amarah di wajah adiknya, Lusi menciut takut. “Tak perlu sampai menyakiti adikmu.” Bunda menangis sambil mengusap-usap punggung Amarendra.
“Apa ada belati? Kuah Mie instan ini sama sekali tak cukup untuk membuatku terbunuh!” Amarendra menatap benci dan Lusi menundukkan kepalanya.
“Amarendra, jangan bicara sembarangan. Duduk, Bunda tak izinkan kamu pergi.” Bunda menariknya tapi Amarendra tak mau. Dia menyambar tasnya dan pergi walaupun Bunda terus meneriakkan namanya.
Amarendra naik Bus, dia duduk di sebelah kaca dan melamun. Entah kenapa dunia begitu kejam padanya, mengambil segalanya kemudian mengambil juga yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya. Amarendra tak memperhatikan jalan, dia sadar tempat pemberhentiannya terlewat setelah jauh. Dia balik lagi menggunakan angkot kemudian menaiki Bus kedua. Dia berusaha menyadarkan dirinya untuk fokus dan membuang Kani jauh-jauh dari pikirannya mulai detik ini. Dia tak akan pernah memilikinya, dia hanya memiliki satu orang yaitu Bunda Sri yang sepatutnya dia bahagiakan. Sepanjang perjalanan matanya berair, wajahnya memancarkan kegundahan hati dan juga kesedihan tak bertepi.
Sementara itu, Kani di rumah menunda keberangkatannya menjadi sore hari karena Kalingga dan orang tuanya datang. Dia duduk menunduk, memikirkan Amarendra sedang apa sekarang? Orang tua Kalingga datang dengan niat untuk meminang. Pak Muji menatap anaknya dalam-dalam dan berharap anaknya itu menolak tapi malah menerimanya.
__ADS_1
Kalingga bahagia tak terkira dan acara pertunangan akan digelar besok. Kani meminta izin pada majikannya karena tak bisa berangkat hari ini. Mereka mengizinkan dan senang mendengar Kani akan bertunangan.
“Pikirkan baik-baik, Nak. Bapak merasa kamu terpaksa menerima Kalingga, sebelum jauh kamu masih berhak menolak.” Pak Muji terus memperhatikan Kani yang begitu pendiam akhir-akhir ini. Apa anaknya terbebani dengan keinginannya untuk lekas menikahkannya? Tapi tidak dengan Kalingga, Pak Muji kurang sreg.
“Kenapa Bapak bisa mengatakan itu? Bapak nggak usah sok tahu tentang Kani.” Kani kesal dan meninggalkan Bapaknya yang langsung memegang dadanya. Ngilu, Pak Muji merasa ada sesuatu yang menusuk, menyakitkan bagi orang tua ketika anak-anak mereka berbicara dengan lantang apalagi merendahkan. Kani tak sadar bahwa dia sudah melukai perasaan Bapaknya.
Pertunangan Kani dan Kalingga berlangsung secara sederhana, semuanya serba mendadak. Pak Parto sebagai Ayah pihak laki-laki tak mau menunda karena dia tak bisa selalu pulang. Setelah pertunangan tinggal pernikahan yang harus dipikirkan.
“Kamu sangat cantik, Kani.” Kalingga menyentuh pipi gadis itu dan Kani menepisnya pelan.
“Malu, Mas, banyak orang.” Dia mendelik.
“Maaf.” Kalingga tak bisa menahan diri dan tersenyum lebar.
***
Amarendra terus minum dan membeli obat, dia merasa tubuhnya semakin lemah, Mandor terus berteriak karena dia terus berhenti. Yang lain memperhatikan Amarendra yang begitu pucat. Seperti sedang sakit tapi terus memaksakan diri. Amarendra juga batuk dan sekarang dia merasa tubuhnya meriang.
“Izin saja, Amar. Kau tak sehat.” Haryawan memberi usul dan Amarendra menggeleng.
“Satu jam lagi, aku berhenti setelah istirahat.” Amarendra melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas, sedikit lagi agar terhitung dia setengah hari bekerja hari ini. Dia minum dan setelah itu mendongak ke atas, melihat teriknya matahari yang perlahan membuat pandangannya remang-remang bukan silau. Sakit di kepalanya semakin parah, dia pejamkan matanya rapat-rapat sampai akhirnya dia limbung dan terjatuh.
“Amarendra!” teriak Dam histeris melihat kawannya jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Berdebam suara tubuh besar itu ambruk sampai semuanya yakin ada yang jatuh dari atas. Pak Mandor yang paling takut dan meninggalkan tempatnya berpijak. Dia berlari memburu mereka yang berkerumun. Gumaman semakin keras sampai mereka gotong royong membawa Amarendra menuju tenda.
Sorenya, Amarendra masih berbaring, dia meringkuk dan terus menolak untuk dibawa ke klinik. Air matanya jatuh saat memiringkan tubuhnya membelakangi mereka semua.
“Ada apa ini?” Pak Muji yang baru sampai terheran-heran melihat wajah tegang mereka dan menyebut-nyebut nama Amar. Pak Muji lekas mendekati Amarendra dan menyentuh kening pemuda itu dengan punggung tangannya. “Panas.” Pak Muji menatap tak tega apalagi setelah tahu Amar kesayangannya tumbang ketika sedang bekerja.
“Dia temanmu, kan? Di mana tempatnya tinggal? Antar dia pulang dulu.” Haryawan berbicara pada Dam dan pemuda itu menggeleng.
“Aku tak tahu rumahnya, kami satu sekolah dan dia murid pindahan, hanya itu,” jawabnya dan yang lain pun sama. Tak pernah tahu pemuda yang sedang sakit itu anak siapa, di mana tinggal, dan identitasnya yang lain.
Dam memperhatikan Pak Muji yang mengompres Amarendra dengan telaten. Dia sangat ingin mengungkapkan bahwa Kani pasti tahu di mana tempat tinggal Amarendra. Tapi dia lebih takut mati dihajar Amarendra jika membuka mulut.
Pak Muji membelikan obat dan bubur, mengurus Amar seperti mengurus anaknya sendiri. Pak Muji yang tidak tinggal di tenda tersebut memutuskan untuk di sana, dia sesekali mengusap-usap rambut pemuda itu yang terus mengigau.
Amarendra setengah sadar apa yang dia dengar dan siapa yang menyentuhnya. Matanya lengket untuk dia buka, kepalanya terasa sangat berat untuk dia angkat agar bisa mengubah posisi dan Pak Muji membantunya.
__ADS_1
***