Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
MATI SAJA


__ADS_3

“Waktu acara di rumah Rosi, apa ada kejadian atau apa yang membuat gosip ini begitu tak terbantahkan?” ujar Amarendra pada Yana. Dia datang untuk bertanya setelah tahu dari Raihan apa yang terjadi di kampung tersebut, mengenai gadis kesayangannya.


“Heri memang ada, dia hampir melakukan hal gila pada Kani. Kani melawan, dia sampai jatuh juga menangis. Sumpah, aku dan Ibuku akan hadir di acara musyawarah itu untuk membuktikan bahwa Kani nggak salah,” tegas Yana rela pasang badan karena tak mungkin dia hanya diam. Kani temannya sejak kecil.


Amarendra mengusap wajahnya kasar dan Raihan menepuk bahunya.


“Kapan acaranya, Yan?” tanya Amarendra.


“Malam ini, baru bisa karena orang tua Heri kemarin nggak ada,” jawab Yana dan Amarendra menatap ponselnya. Nomor Kani belum juga aktif, dia sulit untuk bertanya apakah ia baik-baik saja.


“Ponselnya pasti disita bapaknya. Ini di kampung, Maren. Hal kecil saja mudah menjadi bahan gosip dan perhatian, padahal jelas di foto itu Kani sama Heri nggak macam-macam. Tapi namanya juga mulut orang, nggak bisa dikontrol apalagi mereka yang senang dan heboh memprovokasi. Nanti aku tanyakan pada Kenanga tentang keadaan Kani,” ujar Raihan menenangkan Amarendra yang begitu terlihat kusut dan bingung. Jelas, karena sudah empat hari Kani tak ada kabar.

__ADS_1


Amarendra sempat menawarkan diri untuk hadir di acara malam nanti tapi Raihan dan Yana tak setuju, itu tak baik, nanti dia akan terbawa-bawa  karena beberapa orang tahu dia dan Kani dekat. Bahkan seharusnya Amarendra menjauh untuk beberapa waktu, jika dia mau yang terbaik untuk Kani. Amarendra menimbang-nimbang ucapan keduanya yang benar adanya, jangan sampai karena dia khawatir malah membuat situasi semakin rumit. Dia berharap segalanya segera terungkap, tak bisa dia bayangkan betapa frustrasinya Kani sekarang dengan semua masalah dan tuduhan.


Di rumah keluarga Pak Muji. Kani tak kunjung memakan makanan yang diletakan Ibunya di atas papan. Dia diam sampai makanannya dingin. Jangankan ingin menyuap, dia malah terus berpikir ingin mengakhiri hidup bukan menikmati dan sabar menunggu sampai semuanya terungkap. Dia tak sanggup lagi. Entah bagaimana rupanya sekarang, tak tidur, jarang makan, malas keluar dari kamar karena Bapaknya pasti tak suka.


Kani menenggelamkan wajahnya pada pangkuan, menangis sesenggukan dan terkesiap saat suara pintu dapur dibuka, berderik keras.


“Ismi.” Suara Ibunya Rara dan Rere terdengar, entah mau apa dan Kani mengusap air matanya. Dia memberanikan diri keluar dan Bu Atik menatapnya lekat. “Bagaimana kabar kamu, Kani?” Bu Atik tersenyum dan Kani mengusap pipinya. Tak mau menjawab.


“Keluar!” bentak Kani dan Bu Atik tersentak. “Jangan datang kemari hanya untuk melihat bagaimana keadaanku. Uwa berharap apa? Berharap melihat perutku buncit? Aku nggak hamil!!” jeritnya sambil meneteskan air mata dan Bu Atik mundur menjauh.


“Rara dan Rere bahkan tahu kejadian malam itu tapi kenapa mereka diam kayak orang TOLOL melihat kerabatnya ini di fitnah. Ya jelas, aku tahu, mereka sengaja. Orang tua sama anak sama saja. Merasa anak kalian paling suci karena kalian nggak tahu mereka di luar sana seperti apa!” tegas Kani dan Bu Ismi yang baru pulang kaget melihat Bu Atik mematung dengan wajah pucat. “Dengar ini, Uwa, sampaikan juga pada Bapaknya anak-anak Uwa itu yang sibuk memperdagangkan fitnah yang menimpa keponakannya dan merasa menjadi orang tua paling sempurna. Apa yang kalian lakukan akan berbalik suatu saat nanti, dan Kaniraras sampai kapan pun akan menunggu,” ucap Kani tandas dan Bu Ismi menarik bahunya.

__ADS_1


“Kani, dia Uwa kamu.” Bu Ismi berbisik.


“Dia hanya datang untuk menyentuh perutku, Bu. Dia ingin memastikan apa perut ini besar atau tidak!” seru Kani mengadu dan menarik bajunya sampai dada, memperlihatkan betapa rata perutnya, apa ada tanda-tanda kehamilan itu? Apa yang dilakukan Kani membuat Bu Atik tak berkutik. Sadar akan sesuatu yang salah, yang dilakukan suami dan anaknya.


Bu Ismi mengeram kesal mendengar aduan anaknya, lekas dia menarik Bu Atik agar segera keluar dari rumahnya. Kani menangis sejadi-jadinya dan Bu Ismi kewalahan menenangkannya.


“Kani mau mati saja, Bu. Kani CAPEK! Bapak bahkan nggak percaya sama anaknya ini, Bapak lebih percaya sama ucapan orang-orang di luar sana. Bapak nggak sayang sama Kani. Kani mau mati saja!” Kani memukul-mukul lantai, menyiksa diri, mencakar dan memukuli wajahnya.


Kenanga dan Syamsir yang baru pulang menangis melihat apa yang terjadi. Begitu sulit Ibu mereka menenangkan Kani yang terus berteriak ingin MATI.


“Kani, istigfar... Asstaghfirullah hal adzim...” Bu Ismi meringkus anaknya itu agar diam, Kani kehabisan tenaga dan lemas dalam pelukannya, Bu Ismi terus meminta anaknya sadar. Yakin bahwa semuanya ada jalan keluar. “Cukup lihat Ibu saja, nggak usah melihat yang lain, masih ada Ibu yang percaya sama Kani. Anak Ibu nggak begitu, Ibu percaya. Kalau Kani nggak ada, Ibu gimana? Cukup, Nak. Jangan sampai meminta kematian seperti itu, istigfar.” Terus dia belai rambut anaknya itu dan Kani hanya menangis terisak-isak.

__ADS_1


__ADS_2