Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
TRAUMA FISIK DAN MENTAL


__ADS_3

Amarendra yang melihat Kani terus mendongak, melangkah perlahan kemudian berlari dan semua menjerit saat Amarendra memeluk serta mengangkat Kani turun.


“Aku benar-benar marah, Kani. Aku marah padamu.” Amarendra bergumam dalam hati dan melepaskan ikatan kain di belakang kepala Kani. Kani meringis dan terhuyung jatuh.


Semuanya mendekat dan Amarendra terus memeluk tubuh lemah Kani.


“Aku di sini.” Amarendra menangis, menyentuh dan merapikan rambut gadis kesayangannya. Kani menatap wajahnya lekat dan tangannya yang sudah dilepaskan menarik bahu Amarendra. Kani menangis sejadi-jadinya, dan Amarendra membiarkannya.


Tadi ia ingin mati, tapi sekarang setelah berada dalam pelukan teman terbaiknya, dia berubah pikiran. Kenapa dia harus lemah karena mereka yang tak menyukainya sementara dia memiliki Amarendra yang begitu berarti dalam kehidupannya. Kani terus mengeratkan pelukan, Amarendra membawa tubuh lemah itu dan seorang pria memberikan tumpangan untuk lekas membawa gadis itu ke Klinik terdekat. Amarendra dibantu yang lain membawa Kani masuk, Kani tak mau melepaskannya dan kembali menangis histeris di dalam mobil tersebut.


“Mereka menyakitiku, Maren. Aku takut. Para laki-laki itu menyentuhku, mereka hampir merusakku, Maren.”


Pemilik mobil yang sedang menyetir melirik dari kaca spion, istrinya di sebelah memberikan air minum pada Amarendra dan Amarendra menerimanya.


“Aku di sini, Kani. Minum sedikit.” Amarendra berbicara dengan lembut dan Kani tak mau. Amarendra tak memaksa dan terus memeluknya. Pasangan suami-istri itu diam, tak bertanya walaupun ingin karena kasihan melihat Kani. Amarendra terus menenangkannya, membantu Kani memakai jaketnya karena baju seragamnya terkoyak parah. Reva dan mereka harus dihukum dengan setimpal karena sudah membuat Kani seperti ini,  batinnya berseru-seru ingin membalas kesakitan yang Kani alami.


Beberapa menit hampir sampai di Klinik, Kani tak sadarkan diri, menambah panik mereka yang membawanya. Setelah mobil berhenti, Amarendra menggendong Kani masuk dan membaringkannya setelah diarahkan seorang Dokter.


Trauma fisik apalagi mental. Bu Ismi yang mendapatkan kabar tersebut lekas berangkat dengan Dahlia, Kenanga dan Syamsir dia titipkan pada istri adiknya.


Amarendra diam menunggu, masih dengan pasangan suami istri tadi yang mulai bertanya dan Amarendra menjelaskan. Tak lama Wali kelas dan Pak Dodo datang. Wali kelas ingin masuk dan dia keluar lagi setelah melihat bagaimana kondisi gadis itu, sebagai seorang Ibu yang juga memiliki anak gadis, dia tak bisa membayangkan bagaimana nanti Ibunya Kani datang.


“Maren.” Raihan dan Yana sampai, Amarendra bangkit dan menunjuk kamar di mana Kani berada. Amarendra yang ketakutan ditenangkan oleh Raihan. Rara dan Rere juga datang, terakhir Rosi, dan yang paling ditunggu muncul. Ibu Kani, Dahlia, dan Pamannya Kani. Mereka histeris bertanya di mana Kani. Bu Ismi diizinkan masuk, matanya sembab, sepanjang perjalanan menangis dan tak mau memikirkan hal buruk tapi saat melihat anaknya berbaring tak sadarkan diri. Dia menjerit, menangis, suaranya membuat mereka yang menunggu di luar saling menatap tak tega.


“Temani Ibunya Kani, Ibu sama Pak Dodo mau balik dulu ke sekolah.” Wali kelas meminta dan semuanya mengangguk. Suami istri yang baik hati tadi juga pamit, Amarendra berterima kasih, disusul Dahlia yang mendengar kebaikan keduanya.


“Kak Maren.” Dahlia tiba-tiba menarik ujung baju kusut dan basah itu.


“Kani akan baik-baik saja.” Amarendra menenangkan Dahlia dan wajahnya tertunduk lesu.


Amarendra mengajak Dahlia duduk dan Dahlia terus menatap pintu ruangan itu.


Kani harus dirawat dan hal tersebut membuat Bu Ismi hancur, dia bahkan tak berani memberitahu suaminya, Bu Ismi menuntut keadilan saat bertemu dengan Wali kelas anaknya sekaligus para orang tua dari mereka yang sudah menyakiti anaknya. Para orang tua itu janji akan bertanggung jawab, menjamin biaya perawatan Kani dan yang lainnya. Tapi Bu Ismi juga menuntut bagaimana caranya dia mengobati trauma mental yang dihadapi anaknya? Semuanya bungkam, itu tak bisa diobati dengan mudah, bukan tentang uang dan obat. Wali kelas menenangkan suasana tegang tersebut karena sekarang juga sudah malam. Kani yang sudah bangun tak mau bertemu siapa pun.


Mereka semua mengerti dan pulang, hanya beberapa orang paman, Dahlia, Rere, dan Bu Ismi yang menunggu.  Yang bisa masuk cuman Bu Ismi atau Dahlia.

__ADS_1


Esok, hari sudah agak siang, Kani merasakan ngilu di sekujur tubuh sampai Bu Ismi menangis melihatnya. Setelah ke kamar mandi, Kani disuapi dan menanyakan di mana ponselnya. Bu Ismi memberikannya dan Kani tahu Ibunya tak tahu bagaimana cara menggunakannya, pesan dari Amarendra belum dibuka sejak dari dini hari.


Amarendra:


Aku tak bisa tidur.


Amarendra:


Aku benar-benar marah padamu. Ingin mati, meninggalkan semua orang dan aku???


Amarendra:


Kamu yang berdiri di atas sana, aku yang di bawah yang rasanya akan digulung air bergemuruh itu.


Amarendra:


Kalau sudah baikkan, jangan membalas, tak usah. Aku benar-benar marah!!!


Amarendra:


Amarendra:


Aku benar-benar tak tidur semalaman.


Pesan terakhir dikirim jam lima subuh. Kani membaca semuanya, menahan senyum karena Ibunya ada di hadapannya, terus menyuapinya.


“Dahlia dan Mamangmu sudah pulang tadi, Dahlia harus sekolah. Mereka menerima apa yang seharusnya mereka dapat, mereka tidak diizinkan ke sekolah selama dua Minggu dan itu dari orang tua mereka tadi pagi, Ibu tak butuh itu semua, Ibu hanya senang ketika melihatmu membuka mata.” Bu Ismi meneteskan air matanya dan Kani memeluknya erat, matanya menatap semua buah-buahan dan makanan yang berada di atas meja. Apa mereka mengira dia akan sembuh dengan semua itu?


“Aku bikin Ibu repot. Tolong jangan bilang sama bapak.” Kani menahan tangis dan Bu Ismi mengecup rambutnya.


“Ini jadi rahasia kita, bapak pulang empat Minggu lagi. Ada waktu untukmu tenang dan sembuh. Setelah benar-benar bisa, akan ibu ceritakan karena kita  tak mungkin terus-terusan menyembunyikan kejadian ini.” Bu Ismi menyeka sudut mata anaknya yang basah dan Kani tak merespons dengan apa pun.


***


Yana dan Raihan terus melirik Amarendra yang terlelap tanpa alas di teras Aula. Ponselnya terus dia genggam erat dan Raihan menggeleng kepala.

__ADS_1


“Maren, sebentar lagi masuk. Heh!” Yana menggoyangkan kakinya dan Amarendra memiringkan tubuhnya, membuka matanya perlahan dan mengecek ponselnya. Dia duduk dan mengucek matanya.


“Yan, Yan, pijat bahuku, Yan. Sebentar doang, tolonglah.” Amarendra menepuk-nepuk bahunya dan Yana mendesis tapi dia menurut. Kini Amarendra yang mendesis karena pesannya tak kunjung dibalas. “Apa dia belum baikkan juga?” Amarendra menggaruk alis. Sangat ingin ke Klinik dan melihat Kani tapi tak mungkin karena ada Bu Ismi.


“Dia, kan, lagi sakit. Kangen berat, lo?” Raihan terbahak melihat wajah kusut itu  dan Amarendra mendelik.


Amarendra ingin menelepon takut mengganggu, dia diam dan akhirnya Kani membalas.


Kani:


Aku mendingan tapi mendadak lemas setelah tahu kamu marah. Maaf 🙂


Amarendra menyengir kuda dan mengetikkan balasan, dari belakang Yana mengintip sambil terus memijat.


Amarendra:


Aku sudah tak marah lagi setelah kamu membalas juga artinya kamu baikkan, ILY. 🤟


Yana cengar-cengir dan Amarendra melihat bayangan wajah Yana di layar ponselnya, dia menoleh ke belakang dan Yana langsung mingkem.


“ILY apa tuh?” Yana menggoda.


“I Love you, dong,” sahut Raihan dan Amarendra risi melihat keduanya.


“Mereka pacaran, Bro?” Yana lagi.


“Yoyoy, Bro!” Raihan terkekeh-kekeh.


Amarendra mengacak rambutnya dan Raihan mengernyit. Sambil menutup mata Amarendra berujar, “Dia bahkan tak tahu apa itu ILY, aku sering mengatakannya tapi dia mengira itu panggilan lain dariku untuknya bukan sebuah singkatan. Kenapa makhluk seperti kalian yang lebih paham?” Amarendra kesal dan keduanya tertawa.


“Kani benar-benar polos, boro-boro pacaran, dia hanya menganggapku kakak. Kakak ketemu gede.” Amarendra mendesah resah.


“Ya kamu, dong, ngomong secepatnya.” Yana mendorong bahu Amarendra dan ia diam.


“Sudah tahu Kani polos, jangan main singkat atau kode-kode, ngomong langsung, Ren.” Raihan memberikan usul dan Amarendra menggeleng, dia takut. Bukan takut ditolak, lebih takut Kani menjauhinya.

__ADS_1


__ADS_2