Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
KABAR DUKA


__ADS_3

HUBUNGAN Kani dengan teman-temannya semakin jauh, dia bahkan tak mau diajak bermain-main apalagi dimintai contekan jika ada tugas atau ulangan mendadak.


Hal tersebut membuat Reva yang memang bodoh dalam setiap pelajaran kelabakan, tak ada cara lain selain menegur Amarendra, karena laki-laki itu yang mengubah Kani menjadi berani melawannya. Reva memutuskan menemui Amarendra, keduanya terlihat sama-sama sengit dan mengotot sekarang.


“Kani menjauh karena dia sadar bahwa dia hanya dimanfaatkan,” kata Amarendra dan Reva tak terima.


“Kamu membawa pengaruh buruk buat Kani, Kani polos...kamu yang seharusnya sadar dan mengakui, kamu yang memanfaatkan dia!” Reva menyentak dan Amarendra terlihat tenang-tenang saja. Sesekali menyeringai begitu puasnya. Kani melakukan hal yang selalu dia nantikan. “Kamu cuman memanfaatkan temanku, kamu sama saja dengan laki-laki lain,” makinya kesal dengan reaksi Amarendra membuatnya bingung harus menyerang lagi dengan kata-kata yang bagaimana. Bahkan, Kani sekarang sedang menuju ke belakang sekolah untuk melihat apa yang terjadi. Dia tahu hal tersebut dari Yana.


“Seperti laki-laki yang selalu kamu jadikan selingkuhan? Laki-laki yang memuja kecantikan luarmu sebatas penasaran kemudian mereka bosan tapi kamu yang lebih dulu memutuskan hubungan. Perempuan semacam kamu ini sudah sering aku temui di kota, sudah biasa, gerak-geriknya bahkan sudah aku hafal.  Kani terlalu berharga untuk bergaul denganmu. Arif diam bukan karena dia sangat mencintaimu, tapi dia juga bisa melakukan hal yang lebih. Kami laki-laki, kalian mempermainkan, kami bisa lebih dari itu. Dunia bukan melulu harus berpusat pada dirim. Kamu menarik bagi laki-laki lain tapi bagiku, untuk dilihat sekilas saja kamu tak menarik sama sekali. Jauhi Kani dan aku hanya memperingatkanmu sekali!” Amarendra dengan tegas berbicara, mengacungkan jari telunjuknya karena dia tak tahan lagi. Reva memakan ludah, gemeretak giginya terdengar, tergambar jelas bahwa dia sangat murka sampai tangannya melayang tepat di pipi pemuda itu.


Reva tersentak, meringis saat punggungnya dibenturkan dengan kasar ke dinding.


“Kani, lepas. “ Amarendra menarik bahu Kani agar berhenti tapi Kani membalas apa yang dilakukan Reva padanya.


Reva meneteskan air mata, memegang pipinya yang ngilu.


“Aku sudah muak, kenapa kamu harus mengganggunya? Dia sama sekali tak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan, aku memang menjauh karena aku sudah malas kamu manfaatkan, kamu suruh-suruh. Sebelumnya aku selalu mengiyakan karena mengira kita teman baik tapi nyatanya saat aku sakit, kamu adalah orang yang merasa paling puas. Apa salahku, Rev? Apa yang kamu cemburui dari kehidupanku? Heri sudah menceritakan segalanya dan aku diam karena aku malas ribut tapi kamu malah membuat kegaduhan.” Matanya sudah berkaca-kaca, dia tahan agar tak setetes pun jatuh, tak pantas dia lakukan untuk teman macam mereka.


“Jika benar malam itu aku menginap, kamu dan Heri mungkin mengatur rencana lain untuk melibatkanku ke dalam masalah,” kata Kani sambil mengeratkan cengkeramannya.


Reva tak bisa melawan, bajunya dicengkeram kuat dan setelah melihat wajahnya memucat, Kani melepaskannya.


Kani menunduk dan Amarendra meraih tangannya.


“Dia temanku, jangan ganggu dia dan mulai sekarang jangan datang padaku karena kalian sebatas butuh,” tandas Kani kepada Reva yang menangis dipeluk Teti, Citra menatap kesal dan Kani pergi dengan Amarendra.


Setelah jauh, Amarendra melepaskan genggaman tangannya.


“Hati-hati, mungkin mereka akan melakukan sesuatu karena tak terima,” kata Amarendra dan memperhatikan wajah kesal Kani.

__ADS_1


“Tak ada bedanya, selama ini pun mereka menyakitiku.” Suaranya parau dan memandangi wajah Amarendra. “Dia menamparmu. Pasti sangat sakit.” Tangannya berayun lembut dan menempel di pipi pemuda itu tapi lekas ditepis pelan.


Bibir pemuda itu menyeringai senang, “Aku tak apa, sama sekali tak terasa. Kembalilah ke kelas,” balasnya halus dan Kani menurut.


***


Hari ini, Kani mendapatkan kabar buruk, dia bergegas bersiap untuk pergi. Raihan juga sudah menunggunya tapi dia tidak mendapatkan izin saat berbicara kepada Ibunya.


“Tolong, Bu, cuman sebentar.” Kani terus mengekor ke mana pun Ibunya menghindar.


“Kamu bahkan belum membantu Ibu.” Mata Ibunya membeliak menghardik.


“Iya, tapi aku janji setelah pulang akan aku kerjakan semua tugas rumah asal Ibu memberikanku waktu,” katanya sambil menarik-narik baju Ibunya. “Tolong, Bu...aku harus pergi, sebentar saja,” sambungnya dengan nada memohon.


“Memangnya ada acara apa sampai kamu harus pergi?” tanya Pak Muji yang baru pulang dan Kani menunduk, takut.


“Kenapa kamu nggak bilang?” suara Ibunya meninggi.


“Pergi, jangan lama.” Pak Muji mengizinkan dan Kani merasa lega.


Kani pergi dengan Raihan, berpapasan dengan Kalingga, pria itu baru pulang dari kota, tersentak melihat Kani dibonceng Raihan, dia sampai berhenti dan terus memperhatikan. Kani ingin menoleh jika tak khawatir lehernya pegal dan ada Raihan juga yang membuatnya ragu.


“Jelalatan, lo, udah punya Maren juga.” Raihan sebagai teman sepenanggungan dengan Amarendra merasa dongkol.


“Aku sama Maren cuman temen, kok.” Kani mendelik dan Raihan berdecak.


“Maren itu suka sama kamu, temenan dari mananya? Kamu malah suka sama Mas, Mas itu.” Matanya memicing.


“Maren itu kayak kakak buat aku, aku juga seperti adik baginya. Ngomong-ngomong...Mas Lingga makin ganteng, ya.” Saat melihat Kalingga, Kani seolah lupa dengan apa yang terjadi pada temannya.

__ADS_1


“JELEKKKKKK!” Raihan berteriak emosi dan sangat ingin menurunkan Kani sekarang juga tapi jika anak itu mengadu pada Amarendra, mampus dia.


Sesampainya di Terminal, di rumah berlantai dua yang didatangi banyak pelayat, banyak teman Amarendra yang datang, ada Pak Dodo juga yang rumahnya memang tak jauh dari rumah Abah.


Kani memperhatikan seorang wanita yang wajahnya merah juga sembab, sedang ditenangkan oleh beberapa orang. Apa itu Bundanya Maren? Kani masuk dengan Raihan tapi dia tak melihat di mana sosok temannya itu.


“Itu temannya, Maren,” kata pegawai Toko Abah saat Bundanya Amarendra memperhatikan Kani yang baru datang.


“Apa itu yang namanya Kaniraras, Mang?” balas Bu Sri.


Pria itu mengangguk. Bu Sri berdiri dan Kani menatapnya, dia memberanikan diri untuk menanyakan di mana Amarendra sampai Bu Sri menuntunnya ke lantai dua. Yang sunyi, sepi, dan hanya ada satu orang di sana berbalut pakaian serba hitam, di sudut ruangan, menekuk kedua kakinya sambil menyandarkan punggung tak bertenaga.


“Maren.” Kani menangis dan ikut sedih melihat bagaimana keadaan anaknya. Dia menjauhi Bu Sri dan mendekatinya. Amarendra terus menunduk, tak mau bersuara apalagi menatap gadis yang dia sayang. Kani duduk di hadapannya dan memegang lengannya. “Maren, ini aku. Aku baru datang...Maaf.” Dia goyangkan lengan laki-laki itu tapi tak ada reaksi sampai akhirnya dia diam dan hanya ikut menangis lalu Bu Sri meninggalkan keduanya.


Pemuda itu menangis tanpa suara, Kani terus diam memperhatikannya. Tak lama tangisannya berhenti dan Kani membujuknya agar bangun, menuntunnya ke balkon.


Tangan Amarendra memegang pagar balkon kuat, Kani bisa melihat semua otot di lengan laki-laki itu menegang, dengan mata sesekali terpejam. Saat ia menarik napas, begitu berat dan Kani perlahan mengusap punggungnya. Kani menoleh sejenak saat ada yang mengantarkan air minum.


“Masa depan yang pasti itu hanya kematian dan aku menyesal bertengkar dengan ayahku di saat terakhir kita bertemu. Aku ini anak macam apa?” Amarendra tercekat dan Kani mengajaknya duduk.


“Sekarang menyesal hanya akan melahirkan rasa sakit dan itu tak baik. Relakan dan doakan saja. Hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai manusia yang masih hidup dan akan tiada juga nantinya,” kata Kani dan Amarendra menutup wajahnya yang sembab dengan kedua telapak tangannya. Kani terus menepuk-nepuk bahu kemudian dia bersandar pada bahu itu. “Apa pun kesalahan ayahmu, kamu masih begitu menyayanginya. Bagaimana pun sikap ayahmu, kamu masih menerimanya. Kamu luar biasa, tak semua orang tua bisa memiliki anak sepertimu,” katanya pelan dan Amarendra termenung.


Setelah tenang, Kani meraih satu botol minum dan Amarendra bersandar pada sandaran sofa sambil memperhatikan gadis di sebelahnya itu.


Keduanya hening sesaat sampai Kani menatapnya lekat.


“Aku mau minum, Kani,” pinta Amarendra dan Kani memberikan apa yang sedang dia minum. Amarendra menerimanya ragu dan Kani mendesaknya untuk menghabiskan agar bisa tenang sedikit.


Kani melirik jam di dinding, sudah satu jam lebih dia di sini, dia harus pergi. Amarendra berat mengiyakan tapi tak punya pilihan. Dari balkon dia menatap kepergian Kani dengan Raihan. Semoga gadis itu tidak kena masalah karena pergi terlalu lama, batinnya.

__ADS_1


__ADS_2