Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
MENGHINDAR


__ADS_3

Kani mendengus dan pergi menuju ke kelas. Di luar dugaan, meja dan kursinya bersih pagi ini. Mungkin Reva dan teman-temannya bosan mengerjainya. Yang dia pikirkan mendadak datang, pamer Hp baru, Android. Kani tak peduli, baginya, ponselnya sudah sangat bagus. Mungkin Reva berpikir dia akan iri sampai membicarakan ponsel barunya dengan intonasi suara yang begitu lantang. Yana bahkan terganggu sampai terus mengomel dan Kani tersenyum simpul.


Sepulang sekolah, Kani sedang duduk dan Ibunya sedang memasak. Kani sesekali melihat ponselnya, tak bosan-bosan berkirim pesan dengan Kalingga tapi juga dia tak mengabaikan pesan dari Amarendra, takut temannya itu marah seperti tadi pagi. Kani terperanjat saat mendengar sesuatu yang roboh di dapur, dia berhenti dan pontang-panting berlari, dia masuk ke dapur dan melihat Ibunya tak sengaja menjatuhkan rak plastik yang biasa bersandar pada dinding bilik rumah mereka. Kani perlahan membantu merapikan perabotan.


“Apa ada barang yang menimpa Ibu?” tanya Kani karena melihat Ibunya menangis bahkan sesenggukan. Ibunya menggeleng dan Kani yakin ada sesuatu yang membuat Ibunya seperti itu. “Biar Kani yang bereskan, ayo, Ibu istirahat saja di kamar.” Kani mengajak Ibunya meninggalkan dapur, setelah duduk di kamar, Kani kembali untuk mengambil air. Apa Ibunya itu sakit? Mengapa begitu lemas tak bertenaga dan hanya terus menangis.


Kani duduk setelah memberikan segelas air, dia pijat kaki Ibunya kemudian Ibunya meminta satu-satunya kamar yang berpintu tersebut ditutup rapat.


“Ibu mau bicara, mungkin bapakmu akan marah kalau Ibu jujur sama kamu.” Bu Ismi mengusap air mata dan hidungnya.


“Ada apa, Bu? Ada masalah apalagi sekarang?” Kani sangat trauma dengan kejadian itu. Apa yang Ibunya perlihatkan saat ini jelas bukan masalah sepele.


Bu Ismi menarik tangan Kani yang memijat kakinya. Kani menatap genggaman tangan erat Ibunya itu kebingungan.  


“Kamu anak paling besar, kalau Ibu nggak ngomong sama kamu, sama siapa lagi? Nggak mungkin sama adik-adik kamu yang masih kecil,” ucap Bu Ismi serak dan air matanya terus menetes deras.


“Ada apa, Bu? Bilang sama Kani.” Kani maju lebih dekat, siap mendengar apa pun keluh kesah Ibunya. “Ibu bertengkar sama Bapak?” tanya Kani dan Bu Ismi menggeleng keras-keras.

__ADS_1


Dengan suara berat dan tatapan memprihatinkan, Ibunya berkata, “Bapak kalian sakit keras.”


Bahu kurus anaknya merosot disusul dengan suara tangis yang begitu keras. Sesegera mungkin Bu Ismi memeluk anaknya itu erat, meminta tenang jika tak mau adik-adiknya pulang dan kebetulan mendengar apa yang mereka bicarakan. Sebuah beban yang tak akan mudah mereka terima apalagi untuk dipahami. Hanya Kani yang Bu Ismi harapkan paham dengan keadaan Pak Muji.


“Bapak sakit apa, Bu?” tanya Kani dengan bahu naik turun, tak sanggup memberhentikan tangisannya.


“Bapak sakit paru-paru.” Bu Ismi menunduk dan Kani meringis mendengarnya.


“Lalu kenapa Bapak pergi kerja, Bu? Istirahat saja di rumah sampai sembuh.” Suaranya patah-patah.


“Kita mau makan apa kalau bapak nggak kerja, itu yang bapak bilang. Bapak sudah meminjam untuk berobat sama Uwa kamu yang di Bekasi, utang kita sudah lima juta, sewaktu-waktu pasti akan ditagih. Jika masih lama tak masalah, kita akan mengumpulkan uang, tapi jika Uwa kamu butuh juga dalam waktu singkat bagaimana? Memikirkan beban sehari-hari saja Ibu kesulitan mengaturnya. Seharusnya bapak memeriksakan diri sejak lama, tapi bapak baru mau setelah sadar bahwa sekarang kondisinya benar-benar memburuk.” Bu Ismi menatap kosong dan Kani menyeka air matanya.


“Apa, Bu? Bilang saja sama Kani, Kani janji akan berubah, akan menjadi anak yang baik. Nggak bakalan bikin bapak sama Ibu pusing lagi, Kani janji, Bu.” Dia bersungguh-sungguh.


Bu Ismi mengangguk percaya kemudian bergumam, “Kamu harus berhenti sekolah, nggak bisa lanjut SMA. Uang dari mana untuk biayanya, Nak? Bapak sama Ibu nggak sanggup.”


Kani memundurkan punggung dan berhenti menangis, menatap Ibunya lekat.

__ADS_1


“Bu...Kani mau sekolah.” Kani histeris dan Bu Ismi berusaha menenangkannya. “Kani nggak mau, Bu.”


“Semuanya harus dibeli, belum untuk makan, uang berobat bapak dan utang keluarga kita yang besar sama Uwa. Semuanya pakai uang, Nak. Maafkan Ibu sama bapak, gagal memberikan kehidupan yang baik dan layak apalagi bisa menjamin sekolah kamu. Maaf.” Bu Ismi memegang erat-erat kedua tangan Kani. Kani menepisnya kasar, berdiri,  meninggalkan kamar tersebut sambil terus mengumpat! Dunia tak bisa berdamai dengannya, Tuhan tak adil padanya, dan orang tuanya tak memikirkan masa depannya!


Kani masuk ke kamar, menangis di sana, larut dalam kesedihannya sampai lupa waktu. Kehidupan baik yang dia impikan pupus sebelum dia menerjang kesulitan untuk meraihnya, ini bahkan belum setengahnya, dia sudah kalah dengan kenyataan hidup yaitu kemiskinan.


Hari ini semua terasa mati dan sia-sia untuknya, menikmati kehidupan yang baik saja tak mampu dia rasakan apalagi untuk menata kehidupan. Kani merasa dunia benar-benar tak adil, dan dia mulai memaki Tuhan atas kehidupan yang begitu menyakitkan ini.


****


Kalingga mendesis karena Kani mendadak susah dia hubungi, jika hendak berpapasan pun selalu menghindar, padahal malam ini adalah malam Minggu yang mereka bicarakan. Dia sudah bersiap dengan kemeja hitam dan celana biru gelap. Hendak ke rumah Kani tapi jika begini, dia harus mengurungkan niat.


Besoknya, Kani masih sulit dia hubungi, bahkan ponselnya tak aktif juga media sosialnya dan hari Senin, Kalingga pergi, menatap tajam rumah panggung itu saat melewatinya karena dia berpikir bahwa Kani begitu mudah ingkar janji padahal dia tulus mendekat karena memang suka.


Sementara Kani, dia merasa tak pantas didekati pria yang dia sukai, bahkan dia tahu bahwa Kalingga sudah mendaftar untuk masuk ke perguruan tinggi. Sementara dirinya? Hanya bisa menikmati hari-hari terakhir menikmati waktu di sekolah.


Seisi kelas bergemuruh karena suara tawa Reva dan teman-temannya, Kani hendak duduk tapi kursinya ditarik oleh Citra sampai Kani terjatuh dan merasakan ngilu pada bokongnya. Rere mendekat membantu, dia tatap wajah sepupunya itu. Kani tak membuat ekspresi apa pun. Dia duduk kembali dan Yana memperhatikan sikap Kani yang begitu berubah, apa dia mulai terpengaruh oleh perilaku Reva dan teman-temannya?

__ADS_1


Bagi Kani, apa yang dilakukan mereka tak lebih menyakitkan dari sebuah kenyataan dalam hidupnya. Melawan malah akan membuatnya lelah, jadi dia memilih untuk membiarkan saja tapi karena dia diam, Reva semakin menjadi-jadi. Diam salah apalagi melawan.


__ADS_2