
Kani sedang berkemas, majikan perempuannya memperhatikan, takut-takut anak itu membawa semua barangnya dan tak akan kembali. Wanita bernama Shahnaz itu kesusahan mencari pegawai di rumah yang masih muda dan energik seperti Kani.
“Janji, Kani. Kamu akan balik lagi, kan?” Dia menatap lekat.
“Kalau nggak ada halangan saya pasti kembali, Bu.” Kani tersenyum lebar.
Wanita itu memberikan amplop coklat, berisi gaji dan bonus akhir tahun, Kani terus berterima kasih dan wanita itu pergi. Tak lama muncul anak kedua majikannya.
“Yah, Teteh mau pulang.” Anak perempuan bernama Dila itu merajuk dari kemarin, meminta Kani tak pulang.
“Kamu juga mau liburan akhir tahun, kan? Teteh juga sama, dong. Bakalan balik juga, kok, tenang.” Kani cengengesan.
“Awas saja kalau bohong, aku minta Papi buat menyusul ke kampung nanti!” Dia mendelik dan pergi. Kani tertawa renyah dan melanjutkan berkemas. Setelah selesai dia bersih-bersih, hendak memakai Skincare tapi Amarendra membuat panggilan.
“Genitnya Kani sekarang,” gumamnya bercanda saat gadis itu memberitahu apa yang hendak dia lakukan. Kani mendelik sebal dan Amarendra tersenyum sambil memeluk guling.
“Biar kinclong tahu. Jangan sampai telat besok, aku nggak mau menunggu lama-lama.” Mulai mengomel.
“Iya.” Amarendra tersenyum. “Yana sama Raihan pengen ketemu juga sama kamu.”
“Ya ajaklah, eh enggak, nanti mengganggu,” tuturnya masih sibuk memoles wajah.
“Emang kita mau ngapain?” Amarendra tersenyum.
Kani memutar bola matanya kesal. “Ya ketemu. Ini sudah setahun lebih.”
Amarendra terkekeh-kekeh pelan.
“Tidur, besok kita ketemu,” kata Amarendra dan Kani menyahut mengiyakan. “Eh, aku sekarang gelap banget, jangan mencibirku ya besok,” pintanya sambil membayangkan bagaimana potret Kani sekarang.
“Aku gemuk sekarang, kalau kamu gendong pasti kamu tak kuat, jangan mencibirku juga, awas saja!” Dia berbicara dengan galak dan Amarendra tersenyum. Iyakah Kani gemuk? Dia jadi bingung sendiri bagaimana gadis kurus itu bisa gemuk. Tak bisa dia bayangkan. Tak sabar menunggu besok.
Kani diantar majikan perempuan ke Alun-alun kota Bandung, dia turun dan melambaikan tangan pada mereka semua. Yang kecil bernama Sona menangis karena dia turun dari mobil, anak perempuan berumur tiga tahun itu belum paham bahwa dia juga perlu pulang.
Kani mencari tempat yang nyaman untuk menunggu Amarendra. Dia duduk pada sebuah kursi, memeriksa wajah dan rambutnya. Ponselnya berdering dan Amarendra bilang dia sudah sampai.
__ADS_1
“Aku menunggumu,” ucap Kani.
Di sisi lain Amarendra terus melangkah bersama Yana dan Raihan. Mencari di mana gadis itu. Gemuk, itu yang terus terngiang di kepala Amarendra semalaman.
“Bagaimana bajuku?” Amarendra meminta kedua temannya menilai.
“Sudah rapi.” Raihan mengusap sedikit debu di rambut Amarendra. Amarendra berdeham untuk menetralkan kegugupannya. Dia memakai kemeja hitam polos dan celana panjang berwarna coklat. Rambutnya yang biasa kumal dan berminyak dipotong rapi sampai pakai parfum rambut segala.
“Mana dia, Maren?” tanya Yana. Alun-alun sangat ramai karena ini hari Minggu.
Amarendra memutar tubuhnya dan kembali menelepon Kani. Amarendra menoleh saat Raihan dan Yana menarik-narik lengannya kemudian menunjuk seorang gadis dengan rambut keriting gantung melambaikan tangan. Amarendra butuh waktu beberapa detik untuk memastikan itu Kani. Dia tersengal dengan kedua mata membulat.
“Lihat Kani kita, dia sudah dewasa,” kata Raihan ikut terpaku. Kani berjalan mendekat dan Amarendra masih diam menatapnya.
Kani menghambur memeluk Amarendra, dia tertawa kecil saking senangnya bisa melihat lelaki itu. Amarendra membalas, mencium rambut dan pipi Kani. Kani harus berjinjit untuk memeluknya dan dia menahan agar Kani tak jatuh.
Raihan merangkul dan menarik bahu Yana. “Jika aku tahu si kucel Kani akan berubah begini, aku yang akan mendekat padanya.”
“Memangnya dia mau?” balas Yana dan membuat senyuman Raihan langsung lenyap.
Satu setengah tahun yang mengubah banyak hal. Kani dan Amarendra sama-sama menahan tangis dan melepaskan pelukan. Amarendra merapikan rambut panjang dan wangi itu.
“Aku sering ke sini, dua atau tiga bulan sekali karena keluarga itu selalu senang berolahraga.” Kani tersenyum lebar.
“Kamu diberi libur berapa hari?”
“Seminggu, agak lama karena mereka liburan ke luar kota. Mereka baik, mereka selalu mengakuiku sebagai saudara jauh bukan pembantu jika ada yang bertanya.” Ia tersenyum dan Amarendra menatap tangannya yang bergerak-gerak ingin meraih tangan Kani tapi ragu. Kulitnya dekil sekali bersebelahan dengan gadis itu. Amarendra terkesiap saat Kani mengempit tangannya seperti biasa, dulu, dan dia selalu rindu itu.
“Keluargamu tak pernah marah lagi?”
Kani menggeleng pelan. “Bapak pernah berkunjung untuk memastikan, disambut ramah majikan perempuan. Bapak percaya bahwa aku bekerja dengan baik dan disayangi oleh mereka, anak-anak semuanya sedih dan mengancam akan menyusul jika aku tak kembali,” ungkapnya begitu ceria dan Amarendra tersenyum.
“Kamu terlihat seperti Nona bukan pembantu,” bisik Amarendra lalu menggeleng saat Kani menatap karena mendengarnya sekilas.
Keduanya mencari makan, juga untuk Yana dan Raihan. Setelah membeli, mereka mencari tempat duduk.
__ADS_1
“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi,” kata Amarendra dan Kani tersenyum. Keduanya diam dan saling menyuapi. Kani diam-diam memperhatikan wajah di hadapannya itu. Amarendra duduk bersila di sebelahnya. Pria itu ingin melihat jelas keindahan di sebelahnya.
“Kamu sudah 18 tahun, Kani. Tak terasa,” katanya lembut dan Kani menggeleng.
“Enam bulan lagi 19,” balasnya dan Amarendra mengangguk, dia tahu.
Amarendra mendesis saat ponselnya bergetar, seharusnya dia matikan agar tak ada yang mengganggu. Kani diam melirik-lirik, tak lama Amarendra memasukkan kembali ponselnya.
“Kani, nanti kita bertemu lagi, aku janji dan sekarang aku tak bisa lama.” Amarendra berat mengatakannya dan Kani bingung.
“Kenapa? Tak dapat cuti lagi? Jahatnya bos kalian itu.” Kani mendelik sebal.
“Aku janji akan menemuimu,” kata Amarendra dan Kani menunduk. Dia takut lagi-lagi tak bisa bertemu, lama seperti kemarin. “Kani.” Dia menarik dagu gadis itu.
“Aku takut seperti kemarin.” Dia tak mau memandang dan Amarendra terus meyakinkannya. Kani terpaksa mengiyakan kemudian mereka kembali ke tempat tadi. Yana dan Raihan menerima makanan dari Amarendra.
“Ayo, aku sudah tak sabar ingin pergi ke Malang bertemu Bunda.” Yana bersorak gembira dan Raihan mendorong punggungnya.
“Maren?” Mata Kani memicing, Amarendra menatap kesal Yana dan dia bingung sekarang. Yana mengira Kani juga akan ikut jadi dia bersorak senang begitu. “Aku mau ikut, Maren.” Kani menarik lengan Amarendra lembut.
“Jauh, Kani. Pulang dan nanti kita ketemu lagi.”
Kani merebut tasnya dari Raihan. “Terserah!” Dia kesal dan berlalu. Amarendra menatap Yana lagi dan dia mengejar Kani. “Aku juga akan pergi dengan teman-temanku.” Kani hanya beralasan.
Amarendra menarik lengannya dan Kani tersentak saat menabrak dada pria itu.
“Siapa? Yang mana?” Amarendra tahu Kani bohong tapi bisa saja gadis itu aneh-aneh. “Ayo bilang sama siapa? Aku akan marah jika di dalamnya ada laki-laki.”
Kani merengek dan memegang dada Amarendra, jelas saja pria itu ciut. “Aku ingin ikut.”
“Kamu tak akan dapat izin,” balas Amarendra lugas.
“Aku bisa berbohong.” Kani mengerlingkan matanya dan Amarendra menaikkan satu alisnya.
“Aku tak mau kamu begitu.”
__ADS_1
“Ya sudah aku jujur.”
“Apalagi itu, kamu tak akan diizinkan.”