
Saat Amarendra hendak kembali setelah mengobrol dengan Yana dan Raihan, dia sedikit canggung karena ditatap mereka yang belum tidur. Setelah membuka pintu dan masuk ke kamar. Dia merasa lega bukan main dan melihat Kani sudah benar-benar tidur. Dia tersenyum dan mengunci pintu, sangat pelan, penuh kehati-hatian, jika menimbulkan suara, itu sangat kentara dan membuat semua orang di luar akan saling berbisik dan menertawakan. Menjadi pengantin baru sangat wajar menjadi sorotan. Saling menebak apa yang mereka lakukan di dalam kamar. Padahal mau jungkir balik pun itu terserah mereka. Jiwa-jiwa ingin tahu memang susah dikendalikan.
Perlahan, Kani membuka matanya dan terpaku melihat wajah suaminya.
“Maren, aku ketiduran. Maaf.”
“Tidurlah lagi, subuh masih lama, aku tak akan mengganggu malam ini tapi biarkan aku memelukmu.”
Kani tersenyum dan meletakkan tangannya di leher suaminya.
“Lalu kenapa kamu belum tidur? Masih terlihat segar bugar.” Kani memandang dengan mata yang perlahan-lahan merapat kembali, Amarendra beralasan bahwa dia hanya terbangun, dia mengelus rambut Kani sampai Kani kembali hanyut dalam mimpi. Amarendra masih mengamati wajah di hadapannya. Jika rembulan di luar sana bisa dipandang semua orang , berbeda dengan rembulan yang sedang dalam pelukannya, hanya dia yang berhak atasnya.
Pagi pertama sebagai pasangan suami-isteri yang belum melakukan kegiatan itu, tetap saja membuat semua mata tertuju pada mereka yang bahkan canggung untuk saling memandang.
“Kani, ada tamu!” teriak Ibu dan Kani melihat siapa yang datang. Reva dengan wajah pucat dan sendirian. Kani tersenyum dan Amarendra melengos pergi dengan wajah bengis , Kani menatap sejenak kepergian suaminya yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan.
“Masuklah.” Kani mengulurkan tangannya dan ia membawa Reva masuk, duduk bersama, dan Reva memberikan hadiah yang langsung ditatap penuh curiga oleh Amarendra yang mengamati. Dia takut Kani disakiti lagi.
“Kani, aku kemari tak mudah, benar-benar butuh keberanian agar aku mampu melihatmu.” Dia tertunduk penuh sesal. “Aku memutuskan datang hari ini agar tak bertemu dengan yang lain.”
Perlahan, Kani menggenggam tangannya. “Justru aku menunggumu. Tak mudah bagimu juga bagiku, tapi sekarang kau datang dan aku sangat senang, kenapa tak mengajak anakmu?”
__ADS_1
Reva perlahan tersenyum tipis. “Ada ibuku datang jadi aku bisa pergi. Hari itu di Toko, aku minta maaf.”
Kani menghela napas dan mengeratkan genggaman. “Aku yang seharusnya meminta maaf, aku bahkan melakukan hal lebih buruk...aku, yang dulu mencuri ponselmu, Rev. Aku minta maaf.”
Keduanya sama-sama menunduk menyesali apa yang terjadi.
“Aku sudah tahu.” Reva mengangkat wajahnya dan Kani tersentak. Mata lemah Reva melirik Amarendra. “Setelah hari kelulusan, Amarendra menemuiku, mengatakan segalanya dan memintaku berhenti mengganggumu karena sebelumnya aku sudah curiga padamu kemudian diperkuat saat mendengar kau pergi ke kelas Dahlia hanya untuk menyimpan sesuatu di dalam tasnya. Aku marah dan kesal, karena aku dimarahi habis-habisan orang tuaku karena ponsel itu lenyap tapi Amarendra menjelaskan penyebabnya dan aku merasa malu karena sudah menyakitimu. Aku memetik hasil dari apa yang aku tanam, Tuhan yang bahkan langsung membalas segalanya sakit yang aku beri padamu dan kepada orang-orang di sekelilingku.”
Kani menggeleng-geleng kepala dan kemudian keduanya saling memeluk erat.
“Semua orang meninggalkanku, semua yang datang ada maunya dan aku menyia-nyiakan semua uluran tanganmu yang tulus dan memanfaatkannya.” Tangisannya semakin hebat dan Kani menekan tengkuknya.
Reva terus terisak sampai dia tenang dan keduanya melepas pelukan, saling membebaskan yang sudah berlalu dan sama-sama tersenyum tulus menggenggam perdamaian. Reva dan pelaku perundungan lain bertahun-tahun lalu pada Kani merasa bersyukur terselamatkan, karena Bully di jaman sekarang begitu mudah viral lewat media sosial, jika dulu media sosial seganas sekarang, mungkin mereka sudah dihujat seantero negeri. Perlakuan buruk yang dialami Kani tak mudah ia lupakan, dia bahkan selalu menghindar saat bertemu teman-teman sekolah apalagi ketika ada acara reuni, jangankan untuk datang, meniatkan diri sepintas saja tak terbayang.
Setelah Reva pulang, Kani menunggu Amarendra masuk, pria itu muncul setelah membuka pintu, tubuhnya yang setengah basah hanya dibalut handuk dari pinggang ke bawah. Dia lupa membawa baju sampai harus menyilangkan kedua tangan di dada sepanjang dari kamar mandi ke kamar saat ini.
"Kani, aku basah. Biarkan aku berpakaian.” Amarendra tersentak saat istrinya menghambur memeluknya, dalam keadaannya yang begitu. Apa istrinya itu sudah siap siang-siang begini?
“Kenapa kau tak pernah meminta izin untuk melakukan apa pun, dan kenapa semuanya untuk kebaikanku? Aku merasa tersanjung setelah tahu dan aku merasa menjadi manusia paling berharga atas perlakuanmu.” Dia terus mempererat pelukannya di leher suaminya. Amarendra terdiam mendengar istrinya begitu serius.
“Kamu memang berharga, Kani.” Dia menarik kedua bahu istrinya mundur dan keduanya bertatapan lekat. Kani memalingkan wajah melihat apa yang terpampang di hadapannya. Dia buru-buru menghindar dan naik ke atas kasur. Amarendra terkekeh melihat istrinya malu-malu.
__ADS_1
Hari yang paling menyedihkan tapi juga tak bisa melakukan apa-apa ketika Kani diboyong ke Jakarta. Pamungkas tak mengatakan apa pun tapi setelah mobil pergi, dia menangis histeris dan Kani pun diam melamun sampai Amarendra terus menenangkannya.
Dekat dengan Bunda dan tinggal di rumah Lusi menciptakan ketegangan tak berkesudahan bagi Kani berhari-hari tapi itu tak terjadi lagi setelah dia seminggu di sana. Mengurus suaminya, menyiapkan segala keperluan bekerja, jalan-jalan, dan yang lainnya membuat waktu tak terasa berlalu sampai Amarendra membawanya dengan Bunda pindah ke sebuah rumah di Bandung. Sekitar satu jam perjalanan dari rumah Kani ke rumah mereka sekarang. Keluarga Kani juga datang. Pindah sekaligus menggelar acara syukuran. Kani terus melangkahkan kaki ke setiap sudut rumah barunya yang berlantai dua. Aroma cat masih menyeruak menusuk hidung. Amarendra sudah lama membeli rumah itu karena Abah mendesak, tak ditempati juga tak masalah yang penting dibeli dulu karena harganya lumayan rendah dengan luas tanah yang tak akan didapat dengan harga segitu di tempat lain, hanya memerlukan renovasi di beberapa titik bangunan yang masih kokoh tersebut.
Kani sangat senang juga dengan keluarganya.
“Maren, apa... keluargaku sewaktu-waktu jika ingin datang kemari menjengukku, boleh?” ucapannya sedikit tertahan dan Amarendra bangun, mendekatinya yang sedang berdiri di depan cermin.
“Kenapa harus meminta izin?” Wajahnya mulai merapat. “Ini rumahmu. Undang dan biarkan mereka datang sesuka hati, aku senang mendengarnya, ini tak sejauh dari Bandung ke Jakarta seperti kemarin.”
“Terima kasih, Amung pasti senang, dia sangat manja padaku dan bahkan menangis saat aku pergi meninggalkan rumah. Aku bukan seperti kakak tapi malah seperti ibu kedua baginya.” Kani merasa senang.
Perlahan Kani menjauh, dia keluar dari kamar setelah melewati pintu menuju balkon. Berdiri di sana memandangi sekitar yang gelap dengan angin menyejukkan dan Amarendra yang berbalut selimut mendekat, merapat, memeluknya dari belakang, memberikan kekasih hidupnya itu kehangatan dan tangannya tak berhenti mengelus perut Kani. Amarendra menyadari bahwa tubuh istrinya semakin berisi.
“Kani, aku mencintaimu dan aku merasa bangga memilikimu,” bisik Amarendra dan Kani menoleh sambil melebarkan senyuman manisnya.
Benar adanya bahwa hidup hanya sebatas saling berprasangka, dan sebuah kebiasaan buruk melahirkan banyak kesalahpahaman, memisahkan komitmen pada jalinan kasih, serta mengikat pada kebahagiaan semu yang sebenarnya berdampingan dengan kesengsaraan.
Di dunia ini bukan hanya tentang kisah cinta Kaniraras dan Amarendra yang rumit karena lahirnya kesalahpahaman dari prasangka dan kepergian ‘Tanpa Pamit’ yang lebih sakit dan rumit.
__ADS_1