
Di rumah, Kani duduk di teras rumahnya, malas di dalam karena Ibunya terus mendesak agar dia lekas menjual ponselnya walaupun Pak Muji sudah mengatakan bahwa Kani tak perlu menjualnya. Sayang juga karena harganya pasti jauh lebih murah, mending kalau sudah puas memakainya. Ini baru beberapa Minggu, Pak Muji tak tega.
Kani mengangkat wajahnya saat Dahlia datang. Wajahnya sudah tampak siap untuk menyemburkan api kepada adiknya itu yang lambat sekali pulang.
“Kamu ke mana dulu, Dahlia? Atau kamu yang menuduh aku pacaran tapi malah kamu sendiri yang begitu?” tudingnya tandas dan Dahlia menggeleng kepala tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Tangannya menunjuk dari bawah sampai ke atas. “Siapa yang mau denganku, Teh? Penampilan begini, laki-laki mana yang tertarik dengan perempuan yang memakai segala barang bekas orang lain apalagi Kakaknya!” serunya jengkel dan Kani mendengus.
Tangannya dengan kasar menarik tas Dahlia. Dahlia mencegah dan bingung apa yang dicari Kani. Dia juga menanyai Kani untuk apa datang ke kelas hanya mencari tasnya. Dia curiga Kani memasukkan sampah atau hewan yang dia takuti gara-gara marah karena pertengkaran hari itu.
Kani mengeluarkan sebuah plastik hitam dari kantong paling kecil yang resletingnya bahkan macet tak pernah dipakai Dahlia. Dia tahu betul tas itu karena bekasnya.
Kani berlalu, tak mengindahkan pertanyaan dan tuduhan Dahlia. Dahlia mendesis dan masuk, masa bodo Kakaknya mau pergi ke mana.
***
Sudah setengah jam berjalan sambil menangis, Kani tergesa-gesa, sesekali menyeka pipinya yang basah karena air mata. Dia lelah dan berhenti sejenak, memegang kedua lututnya yang ngilu. Dia sudah biasa berjalan jauh, kenapa di saat genting begini kakinya terasa berat untuk dia langkahkan.
Terngiang desakan Ibunya untuk menjual ponsel miliknya. Dia lekas berusaha keras terus berjalan, tak berhenti menangis sampai dia sampai di Terminal, tepat di seberang ada sebuah Gerai ponsel paling besar di Terminal. Kani meremas kantong plastik yang dia sembunyikan di kantong bajunya, wajahnya takut, matanya jeli mengamati sekitar. Dia tampak waspada dan siaga, merasa was-was dengan semua orang, padahal tidak ada yang memedulikannya. Tidak dengan seorang pria berbaju lusuh yang bekerja di Toko Pak Haji Salim. Dia langsung mengenali Kani.
Kani memegang pahanya, lututnya terasa bergetar, berat untuk menyeberang dan sampai di sana untuk melancarkan niatnya. Akal sehatnya mengatakan dia harus kembali tapi kekhawatirannya mendorong-dorong dirinya agar meneguhkan niat. Niat busuk dan Kani terpaksa, dia menyeberang, hampir terserempet. Dia akan menunggu Gerai tersebut sepi karena ada empat orang yang sedang mengantre, sempat pula meliriknya. Kani merasa itu sebuah tatapan kecurigaan padahal mereka biasa saja.
Pria tadi berjalan menuju Toko majikannya, melihat Amarendra sedang melayani pembeli karena Abahnya tak ada.
“Maren, aku melihat gadis itu di Gerai si Ahmad, dia sedang apa? Tampak kacau sampai menyeberang saja tak hati-hati!” Pria itu berdiri di depan etalase. Amarendra mengernyit heran dan Abahnya masuk.
“Maren.” Memanggilnya dan ia menoleh. “Jangan membuat masalah. Lihat anak itu,” titah Abahnya dan Amarendra mengangguk.
“Kenapa juga gadis itu.” Abah menggerutu, duduk untuk menghitung belanjaan mereka yang sudah menunggu.
__ADS_1
“Biasa, Pak Haji. Anak zaman sekarang kisah cintanya ribet. Mungkin lagi berantem.” Pria tadi cengengesan dan Abah menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kembali ke Gerai, Kani sudah memberikan apa yang dia bawa. Pemilik Gerai tersebut menatapnya lekat.
“Mau dijual berapa?” tanyanya dan Kani merasakan tangannya berkeringat.
“700.” Kani terbata-bata dan pria itu meletakkan ponsel tersebut.
“Paling 450, harga barunya saja cuman 800, Neng. Dusnya juga nggak ada.” Ia menurunkan harga tak main-main dan Kani mengembuskan napas berat.
“550, Pak. Masa harganya jauh banget.” Kani protes, mendesak dan pria itu memangku dagu memandangnya.
“Kamu anaknya Pak Muji, ya? Bukannya baru beberapa Minggu dia membeli ponsel untukmu, bapakmu belinya dari sini karena harga ponsel di Kota mahal dan juga saya lagi kepepet butuh modal. Terus ini Hp siapa? Saya kenal bapak kamu sejak lama. Dia senang bercerita tentang keluarganya apalagi anaknya yang paling besar. Kamu disuruh siapa menjual HP ini?” Pria bernama Ahmad tersebut malah menginterogasi karena merasa ada yang janggal. Dia tahu bagaimana perekonomian kawannya, Pak Muji kawan baiknya, dan Pak Muji sering bercerita banyak bahkan situasinya yang sulit sekali pun karena dia percaya pada Ahmad. Ahmad bahkan pernah beberapa kali datang ke rumah Pak Muji tapi sepertinya Kani lupa.
Kani menelan ludah, menunduk, hampir menangis kemudian dia terkejut saat ponsel itu disambar seseorang.
“Saya yang menyuruh. Saya nggak jadi menjual ponsel ini, Bang. Maaf.” Amarendra menjelaskan sambil menatap tajam Kani. Ahmad kenal siapa pemuda tersebut dan dia percaya. “Tolong jangan bilang-bilang sama bapaknya Kani, Bang. Dia akan terkena masalah nanti.” Amarendra melemah dan Kani semakin menekuk wajahnya.
Amarendra masuk ke dalam gang sepi, Kani menangis histeris dan Amarendra berbalik, mengangkat tangannya.
“Ini ponsel Reva, kan? Gila kamu...Kani!” Amarendra membentak dan Kani terus menangis. “Kenapa, sih? Kamu mencuri.” Amarendra menatap galak dan Kani terus menunduk.
“Aku butuh uang, aku nggak bisa menjual ponselku, aku baru saja punya...aku nggak mau, Maren. Bapakku sakit itu sebabnya.” Kani menjelaskan dengan suara tercekat, terus menangis dan Amarendra menatap penuh kecewa.
Amarendra menarik tangan Kani kasar dan Kani mempertahankan diri. “Pulang, aku antar sampai rumah.” Suaranya bergetar, tak menyangka bahkan ia tak mau menatap Kani untuk sekarang dan Kani yang menyadari itu semakin kencang dengan tangisannya.
Kani terduduk lemas, memohon agar Amarendra tak memberitahu orang tuanya atau siapa pun, yang akan merusak nama baik keluarga dan semua orang akan memandang rendah dirinya.
“Kamu mengira cara ini bisa menyelesaikan masalah? Tega kamu membawa ayahmu yang sakit harus berobat dengan uang hasil mencuri? Lihat aku, Kani, lihat!” Amarendra murka karena gadis itu terus menunduk, dia menarik dagu Kani agar mata mereka saling memandang. “Sadar, Kani. Bukan begini caranya!!”
__ADS_1
“Maren, aku mohon. Aku janji tak akan mengulangi ini...aku tak akan sanggup membayangkan reaksi kecewa keluargaku jika mereka tahu aku begini.” Kani mencengkeram baju laki-laki itu, menariknya sampai Amarendra yang berjongkok di hadapannya hampir menimpanya. Kani terus mencengkeram kemudian menangis dengan wajah bersandar di dada pemuda itu.
Amarendra merasa pusing dan bingung. Dia diam dan merasakan air mata gadis itu menembus sampai membasahi dadanya. Kani tak mau melepaskannya sampai dia janji tak akan membocorkan kejadian ini pada siapa pun.
Amarendra akhirnya mengiyakan, setengah hati. Dia sangat kecewa. Meminta dilepaskan tapi Kani terus menangis. Amarendra menunduk yang sedari tadi menatap entah ke mana, dia bisa mencium aroma rambut gadis itu. Setelah susah payah meyakinkannya akhirnya Kani mengendurkan cengkeramannya dan mengikuti ke mana Amarendra berjalan.
Kani mengamati sekitar, dia diminta menunggu di depan sebuah Bank dan Amarendra masuk untuk mengambil uang.
Amarendra sudah memasukkan kartu Atm-nya. Dia menatap Kani yang berdiri di sana. Amarendra meneguhkan hati, dia memasukkan PIN. Menarik uang jajannya yang selalu dia irit agar bisa dia simpan sedikit untuk kepentingan jika ada hal yang mendesak. Kartu ATM tersebut milik Ibunya, dia yang memegang dan Ibunya punya yang lain.
Kani menoleh saat mendengar suara pintu ATM terbuka. Amarendra memasukkan dompetnya dan mengajaknya pergi untuk mengambil sepeda yang hari ini baru bisa dia ambil dari Bengkel.
Kani memeluk pinggang Amarendra erat. Pipinya bersandar di punggung Amarendra.
“Jangan menangis atau aku turunkan di sini!” tegas Amarendra menegur saat merasakan punggungnya basah dan Kani lekas mengusap air matanya.
Tak lama, mereka berhenti dan duduk di sebuah kursi rapuh, di bawah pohon jambu, menatap hamparan sawah dan sungai nan jauh di sana. Kani tak kunjung meminum minuman yang diberikan Amarendra. Sementara laki-laki sudah habis meneguknya dan diam membisu. Keduanya tampak ragu untuk berdialog. Amarendra yang kecewa dan Kani yang merasa malu.
Perlahan, Kani menoleh, menatap Amarendra yang tak mau balas menatapnya. Kani memberanikan diri untuk berbicara, mulutnya sudah terbuka tapi dia terhenti saat tangan laki-laki itu terulur dengan lembaran uang berwarna merah.
“Ambillah.” Amarendra masih belum mau menatap. Kani menggeleng dan Amarendra meletakkannya paksa di pangkuan Kani. Dia berdiri dan memegang setang sepedanya, siap untuk mengantar gadis itu pulang.
“Aku nggak bisa terima, ini aneh dan akan mengundang banyak pertanyaan dari keluargaku. Aku nggak mau.” Kani mendekat, memberikan uang itu kembali dan Amarendra menunduk. “Aku juga bisa pulang sendiri.”
Amarendra mengangkat wajahnya yang tak bersahabat itu.
“Jangan membuatku semakin kesal, Kani.” Tatapannya tajam dan Kani membuang muka. Sikap Amarendra berhasil membuat dadanya sesak dan dia sangat ingin menangis tapi dia tahan.
Akhirnya, Amarendra mengantarkannya pulang tanpa bicara dan tanpa pamit setelah Kani turun dari sepedanya.
__ADS_1
Kani berdiri, memandangi kepergian temannya itu dan pipinya basah lagi.