Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
CUCU


__ADS_3

Aroma masakan merangsang indra penciuman, Pamungkas sudah menunggu di atas kursi plastik, memperhatikan Kakaknya yang begitu telaten memasak. Dia tak mau kecolongan oleh Syamsir yang selalu kalap kalau soal makan.


“Kamu tunggu di sana, sempit, menghalangi jalan.” Kakaknya itu, Kaniraras. Entah sudah berapa kali memintanya menyingkir tapi dia tetap bertahan.


“Kani...ada paket.” Bu Ismi datang dan memberikan paket yang baru dia terima. Kani menatap sejenak dan memberikannya pada Pamungkas.


“Bajumu,” katanya singkat dan Pamungkas baru mau pergi untuk melihat tapi Syamsir mengganggunya, ingin melihat juga. Kani yang mendengar ocehan kedua adik laki-lakinya hanya tersenyum tipis dan melanjutkan pekerjaan.


“Bagaimana tempat kerja barumu? Betah?” tanya Bu Ismi. Kani mengangguk. Dia baru bekerja di tempat baru, Toko Ayas Tamales yang berlantai dua, di sana menyediakan berbagai macam perlengkapan sekolah, perkakas rumah tangga, pokoknya lengkap. Ruangan sejuk dan CCTV terpasang sempurna untuk menghindari tindak pencurian tapi kadang-kadang kecolongan.


 Pamungkas senang dan berterima kasih, mendekap baju barunya di dada. Kani tersenyum dan Bu Ismi diam-diam memperhatikannya.


Bu Ismi mendesah, ingin membicarakan sesuatu, tapi jelas apa yang ingin dia bicarakan akan membuat Kani kesal dan cemberut berhari-hari. Ya sudahlah, dia hanya bisa terus berdoa semoga anaknya lekas menemukan pria baik dan menikah.


Kani dan Bu Ismi mempersiapkan makan malam mereka yang menunya sangat mewah. Seafood ala Kani. Semuanya duduk, Pak Muji yang baru datang juga lekas duduk. Semuanya makan bersama mendengarkan ocehan Pamungkas. Kani mengunyah makanannya dan sesekali Pak Muji menangkap tatapan kosong. Tak bisa menegur walaupun ingin dan setelah selesai, Kani masuk ke kamar, merebahkan tubuhnya. Dia sangat lelah juga mengantuk. Tubuhnya berguling-guling beberapa kali dan diam setelah menemukan posisi ternyaman.


Yana:


Minggu ada acara di rumah, datang, ya.


Kani diam membaca pesan Yana. Entah acara apa yang dia maksud atau mungkin acara ulang tahun anak keduanya, apa iya sudah setahun? Dia merasa baru kemarin anak kedua Yana lahir. Waktu berlalu tak terasa dan sakitnya ditinggalkan oleh orang terkasih masih membekas luka di dalam hatinya.


“Sudah berapa tahun? Aku terus bergumam, apa dia baik-baik saja? Aku tak pernah menemukan jawabannya karena aku tak tahu dia berada di titik bumi sebelah mana. Apa masih mengingatku? Jelas tidak, tapi aku tak bisa melupakanmu.”, Kani berbicara berbisik-bisik sambil menggeser satu-persatu fotonya dengan dia yang teramat dia rindukan.


***


Beberapa hari lalu dia mendengar nama itu lagi, tapi efeknya sampai sekarang, ia tak bisa tidur, memijat tulang hidungnya, rebah dan berguling-guling tapi tetap kantuk tak mau hinggap. Amarendra duduk di kursi dengan kedua kaki naik, tangannya menggantung, menatap jam tangan yang dia lihat setiap pagi, itu mengganggu dan tangannya menurun, dia menjatuhkan jam tangan itu ke tempat sampah. Sepatutnya dia sudah membuang itu sejak lama.


Besok paginya, dia merasa pusing karena tak tidur semalaman, menikmati sarapannya dan sesekali menjawab pertanyaan kedua keponakannya. Dia sudah janji untuk membawa keduanya jalan-jalan jika ada waktu dan Minggu ini dia sedikit santai.


Amarendra melirik asisten rumah tangga yang mengambil baju kotor serta sampah dari kamarnya. Mulutnya berhenti mengunyah dan tangannya terangkat.


“Tunggu, Bi. Aku merasa menjatuhkan sesuatu yang penting semalam.” Dia bangkit dan mendekati wanita itu. Tangannya merogoh kantong plastik tersebut dan keningnya mengerut, jam itu tak ada.


“Kenapa, Mas?” Wanita itu bertanya.


“Ke mana, itu?” Amarendra panik dan memastikan lagi. Wanita itu bingung apalagi mereka yang sedang sarapan sedari tadi memperhatikan.


“Maren, apa yang kamu cari?” seru Lusi dan Amarendra berkeringat dingin. Dia terus mencari tak ada. Menatap wanita itu curiga dan bertanya benda itu ke mana. Berani bersumpah kalau dia tak mengambilnya dan Amarendra masuk ke kamar, dia menyibak tempat tidurnya yang sudah rapi. Mencari-cari dengan wajah penuh peluh dan sesekali meremas rambutnya. Bunda sampai melihat begitu juga dengan Lusi. Dia tetap tak menjawab dan sibuk sendiri.

__ADS_1


Lusi yang takut telat memilih pergi. Bunda membantu mencari walaupun entah apa yang anaknya cari. Mungkin berkas penting atau apalah yang menyangkut pekerjaan karena Amarendra sangat tegang.


Amarendra menepuk keningnya sendiri. Bunda diam memperhatikan. Amarendra baru ingat semalam mengambil jam itu kembali dan memasukkannya ke kotak jam tangan yang dia simpan dalam lemari.


“Sudah ketemu?” tanya Bunda.


“Sudah, Bund.” Dia gugup.


“Lanjutkan sarapanmu,” kata Bunda sambil berlalu dan Amarendra mengangguk. Dia melirik pintu, memastikan Bunda sudah pergi kemudian dia membuka lemari pakaiannya. Di sana dia simpan semalam. Dengan gerakan patah-patah, dia duduk di pinggiran meja, menatap jam tangan itu yang sudah tak berfungsi, bisa-bisanya dia membuangnya sementara orangnya membeli itu dari hasil bekerja setiap hari.


“Sial! Aku tak bisa membuangmu.” Amarendra mengusapnya dengan lembut. Tak lama dia simpan lagi ke dalam kotak dan meninggalkan kamarnya.


Di kantor, jam istirahat, Amarendra tak selera dan hanya meminta segelas susu jahe. Dia diam menatap keluar kaca besar di ruangannya. Kedua tangannya masuk ke saku celana. Dia terlihat tak baik-baik saja setelah pulang ke tanah air enam bulan lalu.


Ketukan pintu membuat lamunannya buyar, dia mempersilakan entah siapa itu agar masuk dan ternyata Kirana.


“Menolak pernikahan lagi?” tanya Kirana dan Amarendra menaikkan sudut kiri bibirnya.


“Apa maksudmu?” balasnya datar.


“Ada Salwa dengan temannya.”


Amarendra memutar bola matanya kesal, sungguh dia akan menyemburkan bisa beracun karena gadis itu berani datang ke kantor, tapi tertahan setelah Kirana mengatakan bahwa ia yang meminta gadis itu ke sini, karena Kirana tahu, Amarendra akan menghindar jika diajak bertemu di luar.


Amarendra melangkah sambil memakai jasnya yang berwarna putih. Sesampainya di ruang tunggu, dia melihat Salwa bangkit dan temannya melipir.


“Mas,” panggilnya lembut.


“Iya, ada apa?”


Temannya Salwa bergidik mendengar suara berat Amarendra ditambah tak ada lembut-lembutnya.


“Aku ke sini mau...” Salwa takut apa yang ingin dia katakan berakibat fatal.


“Saya harus kerja lagi, tolong, cepat sedikit,” kata Amarendra setelah melihat jam tangannya.


“Hubungan ini mau dibawa ke mana, Mas? Sebagai perempuan, aku butuh kepastian, Mas sama sekali nggak ada kabar selama dua Minggu berjalan. Aku bingung, Mas.” Salwa menunduk setelah berani mengungkapkan keluh kesah di hatinya. Dia protes.


“Dari awal saya sudah bilang kalau saya belum ada niatan untuk menikah. Pertemuan dua Minggu lalu pun saya enggak tahu karena saya hanya ikut Bunda. Enggak tahu itu acara pertemuan keluarga, mengenai saya sama kamu. Saya enggak pernah mengirim pesan atau apa pun karena dari awal saya bilang, saya enggak bisa. Saya kira kamu paham tapi kenapa sekarang datang dan terkesan menekan saya?” tegasnya tak suka dengan apa yang dituntut gadis itu.

__ADS_1


Salwa merasa salah bertanya begitu dia masih mau menjalaninya dan menunggu dengan sabar sampai Amarendra luluh. Tapi kalau sudah begini, malu jika tetap menunggu.


“Jadi, Mas mau kita sampai di sini?” tanya Salwa pelan.


“Tidak ada yang perlu diakhiri karena sejak awal saya tidak menjanjikan apa-apa apalagi sebuah hubungan. Silakan pulang karena saya harus kembali bekerja.” Amarendra emosi dan Salwa menahan tangis. Akhirnya dia pergi dan Amarendra berbalik untuk kembali ke ruangannya.


Malam sepulang kerja, Amarendra merebahkan diri di sofa, di atas karpet keponakannya yang paling kecil bermain dengan mainannya.


“Maren, kemari sebentar.” Bunda memanggil dan Amarendra yang hampir terpejam langsung bangun. Menghampiri Bunda. “Kamu ketemu sama Salwa tadi?”


“Iya.”


“Kamu sudah tua, mau menunggu apalagi, Nak?” Bunda yang lelah berbicara sambil menggoyangkan kedua bahu anaknya itu, agar sadar diri.


“Tua apanya? 30 tahun juga belum.”


“Hampir, Asstaghfirullah hal adzim, Nak. Masih normal, kan, kamu?” Bunda memukul lengan Amarendra dengan matanya yang melotot pula.


“Aku sangat normal, Bunda.” Amarendra tersenyum agak dipaksakan.


“Kamu masih mikirin dia?” Menyelidik dan Amarendra mengalihkan pandangannya.


“Siapa?” Tak mau menatap Bunda karena Bundanya bisa mendeteksi kebohongan dari matanya.


“Mengaku, kamu!”


“Apaan, sih, Bund.” Dia akan melengos tapi Bunda menarik lengannya.


“Bunda belum selesai bicara. Sudah bertahun-tahun, dia sudah menikah, mungkin memiliki banyak anak dan kamu masih melajang? Kamu nungguin dia jadi janda apa gimana?” Suaranya meninggi. “Kamu ngebet banget, Maren. Salwa kurang apa?” tandasnya dan Amarendra mendesah.


“Ya enggak, lah, Bund. Aku enggak segila itu. Aku belum siap menikah, nanti, mungkin 40 tahun.”


Habis lengannya kena cubit dan dia terus meringis.


“Kamu mau menikah nungguin Bunda mati dulu, hah?”


“Bunda... Asstaghfirullah mulutnya. Jangan ngomong kayak begitu.” Amarendra menatap layu dan Bunda menangis.


“Bunda kepingin cucu dari kamu, melihat kamu berkeluarga. Kenapa, sih, Maren. Kamu selalu menunda-nunda, sibuk kerja, punya duit juga buat siapa? Kalau kamu menikah Bunda, tuh, tenang. Kamu ada yang mengurus dan sudah sepantasnya kamu berkeluarga.”

__ADS_1


Bunda benar-benar naik pitam, Amarendra terus meminta maaf tapi Bunda memilih pergi. Dia bingung sekarang dan Lusi dengan suaminya yang baru pulang mendengar segalanya.


Amarendra terus mengacak rambutnya dan Bunda tak mau bicara padanya, berhari-hari dan hari ini waktunya mengajak kedua keponakan jalan-jalan. Baby siter ikut. Kedua anak itu dibawa Amarendra dan orang tuanya memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama di akhir pekan ini tanpa kerepotan dengan anak mereka.


__ADS_2