
Setibanya di Terminal tempat tinggal mereka. Kani turun dan Amarendra membawa tasnya. Kani sudah merasa lapar lagi. Tapi dia terdiam melihat gerai yang dulu itu, ketika dia hendak menjual ponsel Reva.
“Aku ingin membeli ponsel untuk ibu di rumah. Android tak terlalu mahal, bukan?” Kani mendongak.
“Mending cari gerai lain, aku takut dia masih mengenalmu. Akan aku antar nanti supaya dapat ponsel bagus dengan harga murah.” Amarendra janji dan Kani mengangguk menurut.
Abah dari Tokonya memperhatikan kedatangan keduanya. Toko begitu ramai dan Kani tak sadar ada Teti dan Citra sedang membeli minum.
“Mereka masih sama-sama ternyata,” kata Teti berbisik.
“Ke rumah Reva, yuk, gosip bagus nih. Pasti dia akan merasa terhibur.” Citra tersenyum..
“Males, ah. Jangan terlalu sering ke sana, dia punya bayi, nggak bisa kayak dulu.” Teti mengajak Citra pergi dari Terminal dan Citra diam.
Amarendra mengeluarkan motor, dia dan Kani pamit pada Abah. Amarendra membawa Kani ke sebuah gerai ponsel cukup jauh, ponsel Android seharga empat ratus ribu menarik perhatian Kani tapi Amarendra menyarankan yang merk terdahulu, jelas teruji dan terlalu banyak tombol begitu tak akan mudah dipahami Emak-emak. Kani tersenyum lebar, dia mengikuti sarannya kemudian mereka pergi menuju rumah Kani.
“Maren, apa Bunda sehat?”
“Sehat, Bunda di Jakarta, di rumah kakak. Aku lebaran di rumah kakakku karena ada Bunda di sana.”
“Aku jadi ingin ketemu Bunda.”
“Nanti, ya.” Amarendra menahan karena Kirana masih selalu mengganggu, dia takut gadis itu mengganggu Kani, membuat hubungannya dengan Kani kembali diambang kehancuran seperti salah paham waktu itu. Jika ingat, Amarendra selalu tertawa, dia tahu Kani cemburu tapi tak mau mengaku.
__ADS_1
Kani mengangguk dan mereka sampai. Kani turun dan besok, mereka akan bertemu lagi. Amarendra tersengal melihat Pak Muji, dia mencubit lengan Kani yang akan mengajaknya bicara dan Kani mengurungkan niatnya.
“Pak, Assalamu’alaikum.” Kani mendekat, tangannya ke belakang, melambai-lambai agar Amarendra lekas pergi sebelum Bapaknya banyak tanya dan pria itu pergi setelah meletakkan tas dan beberapa kantong plastik.
Pak Muji membalas, memegang bahu anaknya itu, begitu lama sekali Kani tak pulang. Kani akan menceritakannya nanti dan dia dibantu Bapaknya membawa semuanya masuk.
Semua adiknya menyambut, Bu Ismi diam saja dan malah menangis. Dia kesal karena Kani tak ingat pulang.
“Maafin Kani, Bu. Bukan Kani nggak mau pulang, Kani bisa sampai saja harus kabur dulu. Dari Tangerang Kani sendirian ke terminal Bandung kota, Bu. Maaf.” Kani hampir menangis.
“Memangnya dari Terminal Bandung ke sini sama siapa?” balas Pak Muji dan Kani tak memikirkan itu. Ia sedikit tegang.
“Janjian sama temen satu yayasan yang kabur juga, Pak dari rumah majikannya.” Kani menunduk karena dia bohong lagi dan terus. Dia melipir menjauh, takut orang tuanya melihat semu mencurigakan pada wajahnya.
“Apa Bapak nggak bisa menunggu anak kita istirahat dulu?” ujar Bu Ismi. “Biarkan saja mereka di luar mau bicara apa, yang penting kita percaya kalau Kani bekerja dengan baik, halal, di sana.”
“Bapak takut dan khawatir, Bu. Ibu nggak tahu kota itu seperti apa, Bapak takut Kani salah pergaulan. Kita nggak menyaksikannya setiap waktu, apa Ibu sama sekali nggak khawatir?” Suaranya menggelegar dan Kani yang pura-pura tuli tetap saja meneteskan air matanya.
“Teh.” Kenanga memberikan air minum dan dia menerimanya. Kani menoleh saat melihat Syamsir ragu untuk membuka semua yang dia bawa. Padahal biasanya dia selalu bersemangat, pun dengan Dahlia dan Kenanga.
“Buang saja semuanya kalau kalian mengira Teteh membeli ini dari hasil jual diri!” Kani tersengal dan Ibunya keluar. “Apa bisa kita hidup cukup hidup saja, nggak perlu mendengar apa yang orang bilang. Kalau Teteh ceritakan apa yang Teteh alami selama bekerja, kalian semua pasti menangis!!” tandas Kani sambil bercucuran air mata. Dia menarik tas ransel berisi pakaiannya.
“Buang saja semuanya Bu. Buang!” kata Kani lantang dan dia keluar dari rumah. Bu Ismi berlari keluar dan melihat anaknya pergi sambil mengusap air matanya sesekali.
__ADS_1
Pak Muji yang mendengar kemarahan anaknya hanya bisa diam saat istrinya ikut marah juga.
Kani terus berjalan pergi. Amarendra yang belum jauh karena bertemu dengan teman-temannya juga Yana dan Raihan yang akan kembali ke Jakarta. Amarendra menarik tubuh Yana saat dia melihat sekilas gadis itu.
“Loh, Kani mau ke mana lagi?” Raihan bertanya. “Dia baru sampai kan, Ren?” Dia menggoyangkan bahu Amarendra.
“Iya, bareng sama aku tadi. Kenapa dia?” Amarendra menyalakan motornya dan Kani berhenti saat melihatnya. Dia ujug-ujug naik dan meminta dibawa pergi. Amarendra bingung dan semua temannya memperhatikan.
Kani menangis dengan kening menempel di punggung Amarendra. Amarendra mendelikan mata saat berpapasan dengan Kalingga. Amarendra tak membawa Kani jauh, keduanya kini duduk di bawah pohon sambil melihat kolam ikan.
“Aku mau balik ke yayasan sekarang,” kata Kani.
Amarendra meraih tangannya, dia tahu Kani sedang marah. “Jangan gegabah, cerita ada apa? Baru juga sampai sudah begini. Tenangkan diri dulu, jangan main pergi, ini sudah jam berapa? Kamu mau bikin aku khawatir?” lirihnya dan Kani terus terisak hebat.
“Aku menyesal karena pulang, seharusnya aku diam saja di sana sampai mati!!”
“Hush!” Amarendra murka. “Ngomong apaan kamu? Mati, mati, segala.”
Kani menepis tangannya dan Amarendra melipat kedua tangannya di dada. Kani malah memukul bahunya bertubi-tubi.
“Kan kamu yang nggak mau aku pegang, ya udah, nggak bakalan aku pegang. Terserah.” Amarendra mendelik. Kani menarik lengannya tapi dia tahan sampai pria itu mengalah dan kembali menggenggam tangan mungil itu, rasanya tak lembut di awal, sekarang agak kasar sedikit, meninggalkan jejak jelas betapa dia bekerja keras selama ini.
“Kamu tahu, kan, aku bekerja setiap hari. Aku juga pernah sakit. Tapi bisa-bisanya aku baru pulang bapak malah mengulang kesalahannya yang sama, lebih mementingkan penilaian orang lain ketimbang menjaga perasaan anaknya sendiri. Ada yang bilang aku melakukan pekerjaan yang nggak bener, Maren. Lagi-lagi aku difitnah, lantas jika aku diam di rumah, siapa yang akan membantu meringankan beban keluargaku? Aku capek, Maren. Bapak malah sudah mencarikan calon suami untukku.” Ia tersengal dan menyeka air matanya. Tak tahu, wajah Amarendra sudah pucat pasi mendengarnya.
__ADS_1
“Kamu mau? Menikah muda dan kita...” Amarendra berhenti saat Kani menoleh. “Pisah?” Dia lemas, merasa sekujur tubuhnya tak bertulang. Dia sandarkan punggungnya kemudian merenung.