Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
SOSOK AMAR


__ADS_3

Di kamar, Kani sedang berkirim pesan dengan Amarendra.


Kani:


Aku besok berangkat dari sini sama Bapak, kita jangan sampai ketemu di Terminal.


Amarendra:


Iya, maaf untuk sikapku yang agak-agak kurang waras dalam pertemuan kita kali ini. Aku menyayangimu.


Kani:


Aku merindukan pelukan dan kecupanmu.


Amarendra:


Tolong jangan dulu memancingku, sungguh, bukan aku tak berminat apalagi tak bernafsu. Aku takut kita kebablasan, cukup peluk saja dan kecupan di kening, jangan sampai hanyut lagi karena aku akan sulit berhenti.


Kani:


Iya, maaf karena aku sibuk dan mengabaikanmu, aku tak akan melakukan itu lagi. Aku kemarin hanya kesal karena kamu sudah sekali dihubungi juga tak menghubungiku. Aku merasa tak cukup jika kita hanya beberapa kali mengirim pesan, aku terbiasa kamu telepon dan kita bertukar cerita.


 Amarendra:


Pekerjaanku memang agak berat sekarang, akan aku usahakan untuk melakukannya lagi. Tak perlu dibahas asal kamu jangan melakukan itu, itu menyakitkan.


Kamu sangat cantik tadi, semakin kamu tumbuh aku takut kamu direbut orang.

__ADS_1


Kani tersenyum lebar dan berguling di atas kasurnya.


Kani:


Aku bergantung padamu, sudah berapa tahun kita saling melekat, aku tak akan pernah bisa merapat pada pria lain seperti aku merapat padamu.


Kamu semakin matang dan tampan, Maren. Hanya saja agak gosong tak seperti biasanya dan aku ke pikiran dengan tanganmu yang lecet-lecet.


Amarendra:


Terima kasih atas kejujurannya. Mungkin nanti di hari ulang tahunmu, kamu tak akan melihat Amarendra tapi melihat arang gosong berjalan dan memelukmu yang berkulit kuning Langsat, indah, seperti cahaya pagi hari. Awan hitam akan memelukmu...  


Kani menyumpal mulutnya dengan pinggiran selimut, dia tak kuat menahan tawa membacanya. Dia terus meyakinkan bahwa Amarendra tak segosong itu sampai harus menyamakan diri dengan arang dan awan hitam segala.


Di tempatnya, Amarendra menyengir dan masa bodo dengan kulit gosongnya. Dia coba menghindari pun tak akan berguna, tetap gosong juga.


Amarendra meminta Kani istirahat dan Kani juga meminta hal yang sama.


Setelah Amarendra menjelaskan tentang pekerjaannya yang semakin padat, Kani berusaha memahaminya dan berhenti bersikap seperti anak kecil. Dia tak pernah lagi meladeni Kalingga yang memang hanya dia jadikan teman saat dia bosan. Dia tak mau menyakiti Amarendra apalagi jika pria itu mengetahuinya dan Amarendra menepati janjinya, akan bilang kalau sibuk atau tidak, lebih sering mengirimi ia pesan ketika memiliki waktu untuk menyentuh ponselnya.


Kalingga yang lagi-lagi diabaikan oleh Kani tak akan diam lagi, jika saingannya hanya Amarendra si berandalan itu, dia akan mati-matian merebut Kani, batinnya. Dia akan melesak masuk untuk merebut Kani. Kani sudah cukup dewasa, tak seperti dulu, Kalingga bahkan sudah bilang pada Ibunya bahwa dia suka Kani. Kalingga siap mempersunting gadis yang semakin berjaya karena kecantikannya. Kalingga benar-benar takjub melihat perubahan Kani. Jauh berbeda dengan dulu.


*****


Pak Muji memperhatikan sosok Amar yang sedang berjemur di bawah matahari pagi, berselimut kain sarung. Matanya memicing sesekali karena silau. Pak Muji mendekat dan Amarendra tersenyum.


“Maren!!!” teriak mereka teman sekolahnya. Amarendra menunduk dan Pak Muji menatap kedua pemuda itu entah memanggil siapa. Mereka berbelok arah entah ke mana. Paham dengan posisi Amarendra. Amarendra sudah bilang jangan memanggil namanya selain ‘Amar’ di sini. Mereka malah asal bunyi seperti Yana yang selalu keceplosan.

__ADS_1


“Dinginnya...ini Pak.” Haryawan memberikan satu gelas cup teh manis hangat tapi Pak Muji memberikannya kepada Amarendra. Amarendra ragu tapi akhirnya dia terima juga.


“Bapak sangat dihormati semua orang, selama saya di sini, saya belajar banyak dari Bapak. Bapak sudah seperti Bapak dan kakak bagi kami semua,” celetuk Amarendra dan Pak Muji menoleh, dia tatap wajah pemuda itu yang tersiram cahaya matahari.


“Tapi ini sangat dibenci anak pertama saya. Dia pernah bilang saya haus pujian orang lain dan tak pernah memikirkan perasaannya. Saya selalu diam ketika tahu dimanfaatkan dan itu yang selalu menjadi percikan pertengkaran kami. Saya diam ketika diinjak-injak bukan karena saya lemah, saya juga sangat ingin melawan ketika anak saya difitnah, saya dipermalukan, dipermainkan tapi saya berpikir lagi bahwa manusia itu saling membutuhkan. Kalau saya mengedepankan emosi entah akan seperti apa jadinya, saya akan dikenang sebagai sosok arogan dan jangankan dihormati, dilirik saja jangan harap.


“Saya orang yang sangat lemah dan tak berarti bagi anak saya. Dia tak tahu saya orang yang paling hancur ketika melihatnya bersedih. Kaniraras, usianya sebentar lagi 19 tahun. Dia sudah melewati banyak masalah dalam hidupnya, saya diam karena jika saya mati-matian membelanya itu akan menciptakan kekacauan jika anak yang saya bela nyatanya memang terbukti melakukan kesalahan. Jika saat itu saya membela, dia tak akan pernah menjadi Kani yang paham bahwa memang kenyataan hidup itu untuk diterima bukan untuk dilawan.


“Seusia kamu, saya juga pemarah, istri saya ketika masih gadis bahkan tak sudi untuk melirik saya yang arogan. Suatu saat, adik sepupu saya mengalami hal yang serupa dengan Kani, disinggung mengenai kehamilan dan masih sekolah. Saya maju untuk membela, lantang mengatakan bahwa adik sepupu saya orang yang suci, taat beribadah, hanya selalu diam di rumah, mana mungkin bisa dia merendahkan dirinya sendiri dengan merelakan kesuciannya kepada pria selain suaminya.


“Tapi nyatanya saya yang bodoh, adik sepupu saya benar-benar hamil. Malu dan kecewanya bukan main, saya merasa segala macam najis tumpah di wajah saya sendiri dan saat Kani juga dituduh hamil, saya marah, saya kelepasan menyakiti fisik dan mentalnya, itu sebuah kesalahan yang paling besar bagi saya setelah terbukti bahwa anak saya tidak hamil. Dia hanya korban fitnah. Saya egois karena tak berani untuk meminta maaf pada anak sendiri, berharap bisa melakukannya dengan seiringnya waktu melalui sikap bahwa saya menyesal dan meminta maaf padanya. Tapi anak saya terlanjur kecewa.”


Pak Muji tersengal, tangannya terayun menggali kecil tanah merah yang dia pijak. Amarendra tak mampu untuk menatapnya dan seharusnya Kani bisa tahu bahwa Bapaknya tak seburuk yang dia pikirkan.


“Saya yakin anak Bapak juga bingung harus bagaimana dan hanya mengekspresikannya melalui kemarahan. Tapi suatu saat nanti, saya yakin anak Bapak tak seharusnya mendapatkan maaf tapi dia yang harus berterima kasih karena jika Bapak tak melakukan itu, dia tak akan pernah bisa berpijak pada kedua kakinya sendiri.” Amarendra tersenyum, tangannya terayun menyentuh pundak kurus itu dan perlahan memijatnya.


Pak Muji diam, kemudian dia tersenyum dan mengamini apa yang diucapkan Amarendra dalam hatinya.


Waktunya bekerja dan keduanya bangkit. Amarendra membungkus rambutnya dengan kain, setengah wajahnya juga. Hanya mata yang dia perlihatkan. Udara sangat dingin tapi satu jam bekerja susah akan membuatnya kegerahan karena keringat belum debu yang membuat hidung serta mata pedih.


Haryawan yang sudah memperhatikan Amarendra dengan Pak Muji perlahan mendekat. Amarendra mendengarkan sapaannya tanpa mengalihkan pandangannya dari apa yang sedang dia kerjakan.


“Pak Muji membahas anaknya yang paling besar sama kamu, Amar?” Haryawan berbisik dan Amarendra menghentikan pekerjaannya.


“Memangnya kenapa? Sesama pekerja wajar bertukar cerita tentang keluarga, aku pun begitu.” Amarendra menurunkan penutup setengah wajahnya dan dari belakang, bahunya ditepuk oleh pria bertubuh pendek yang selalu memasang wajah masam, Jarwo.  


“Saya pernah menawarkan anak saya untuk anak Pak Muji, Pak Muji tak mau, gengsi memiliki menantu seorang kuli juga. Bilang anaknya harus sekolah tinggi, nyatanya menjadi babu!” Dia begitu puas, dan Amarendra mengatupkan bibirnya rapat-rapat. “Cantik juga percuma kalau pribadinya menyebalkan. Beruntungnya anakku tak memaksa ingin menikahi anak pak Muji.”

__ADS_1


“Jangan-jangan sekarang pak Muji sudah sadar bahwa keinginannya untuk menyekolahkan anaknya kalah dengan kenyataan. Kamu akan diperkenalkan dengan anaknya pak Muji, Amar?” Haryawan menambahkan.


“Jangan mau, anaknya pembangkang! Dia bahkan pernah hamil tapi digugurkan. Pak Muji itu sok alim orangnya. Jangan mau, masih banyak gadis lain.” Jarwo menggeleng-geleng, membuat ekspresi seperti jijik dan Amarendra sangat ingin membantahnya, itu tak benar!


__ADS_2