Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
HAMIL


__ADS_3

Bunda mendesah dan senyuman di bibir pria itu perlahan menguap.


“Bunda senang melihat kamu sama Kani. Kepingin banget dia jadi menantu Bunda. Kamu jelek tapi dia cantik, pasti anak-anak kalian memiliki paras yang indah seperti Kani.” Bunda cengengesan mendengar Amarendra membuang napas panjang.


“Jelek dari mananya, Bund. Orang-orang bilang aku ganteng, kok. Bunda nggak tahu saja, aku ini suka dikejar-kejar para gadis.” Dia begitu bangga dan Bunda tertawa begitu puasnya. “Kani juga bilang aku ganteng.” Matanya mengerling dan Bunda tertawa lagi.


“Dengar ini, Nak.” Terdengar serius dan Amarendra diam. “Kani anak pertama, dia bukan hanya butuh seorang suami yang menyayanginya tapi juga adik-adik dan orang tuanya. Kamu tahu sendiri, Kani membantu urusan uang untuk biaya hidup keluarganya dan kamu...” Bunda berat tapi dia perlu menyadarkan Amarendra. “Kamu belum mapan, kalian masih sama-sama muda yang dimabuk cinta, menikah itu bukan sebuah penyelesaian tapi memulai. Bukan berarti kalian menikah segala keresahan sirna juga masalah lenyap, tak begitu. Bekali diri secara finansial, mental yang kokoh, dan bangun setinggi-tingginya pendirianmu. Tiga hal yang berat ini saja belum salah satunya kamu miliki dan kamu bermimpi untuk menikahinya dalam waktu dekat?


“Kita tak tahu juga seperti apa sosok laki-laki yang dimau orang tuanya, kamu bahkan ragu untuk menampakkan diri pada keluarganya karena kamu sadar belum siap dan cukup. Jangan memaksakan diri hanya karena takut Kani direbut orang lain, kalau kalian ditakdirkan  bersama, masalah menggunung pun tak akan bisa menghalangi kalian. Pikirkan baik-baik, jangan terburu-buru. Menikah bukan hanya perkara bercumbu dan menjamah. Pernikahan itu badainya sangat kuat, yang lemah selalu kandas walaupun sebelumnya saling mengenal baik, banyak yang gugur dalam ikatan pernikahan yang baru diselami beberapa saat karena yang menjadi pusat pikiran mereka hanya kebahagiaan.”


Amarendra terdiam mendengarnya, itu bukan hanya sebuah wejangan tapi sebuah fakta yang tak bisa dia ubah dalam waktu dekat. Mapan, kerjaan baik, dan yang lainnya kini bertumpuk di atas kepalanya, harus dia taklukan satu-persatu. Dia tersadar dari lamunannya saat Bunda terus memanggil, takut Amarendra tak terima dengan apa yang dia ungkapkan. Amarendra berterima kasih karena itu memang sangat penting baginya kemudian panggilan berakhir.


****


Kani menangis dalam senyap, pusing memikirkan segalanya dan bagaimana respons Bapaknya nanti setelah tahu Ibunya hamil lagi?


“Anak membawa rezekinya masing-masing? yang ada menambah beban dan bikin pusing! Itu hanya ungkapan untuk mereka yang memiliki cukup dunia, tak seperti kami yang semuanya serba pas.” Dia bergumam dalam hati, mengomel dengan apa yang terjadi.


Hanya Kani yang baru tahu, adik-adiknya akan heboh jika mendengar, dia meminta Ibunya diam saja, malu juga jika tetangga tahu. Sudah banyak anak tapi malah tambah lagi. Kani dan Ibunya sepakat untuk memberitahu Pak Muji saat Pak Muji pulang.


Kani menoleh saat ponselnya bergetar, panggilan masuk dari Amarendra. Dia mengangkatnya dengan malas. Kani sedang banyak pikiran, gurauan yang dia dengar dari Amarendra terasa seperti sebuah ejekan sampai dia marah dan Amarendra menelan ludah. Kani beralasan lelah dan tak mau berlama-lama menelepon untuk malam ini. Amarendra mengalah daripada dia memaksakan diri.


 Paginya, Kani merasakan perutnya sakit lagi, lambungnya tak mau berdamai untuk sesaat saja. Satya dan Shahnaz akhirnya membawanya ke rumah sakit. Takut terjadi sesuatu dengan asisten rumah tangga mereka.


Amarendra yang mendengar hal tersebut tak tenang, dia bahkan tak fokus kerja dan menunggu Kani menghubungi. Gadis itu menelepon setelah merasa baikkan dan Amarendra seperti biasa menjauh dari yang lain.


“Aku akan pulang dulu, Maren. Kembali ke sini di hari kedua puasa.”


Amarendra mengurut keningnya kuat-kuat. “Aku ingin bertemu, aku khawatir, Kani.”


“Enggak bisa, aku tak diizinkan pergi.”


Amarendra mendesah pasrah.


“Jangan sampai telat makan lagi, minum obatnya. Mungkin kita akan bertemu nanti setelah hari raya.”


“Iya, aku juga rindu tapi aku tak bisa memaksakan diri.”


“Jangan, aku juga tak mau. Sudah malam, istirahatlah. Aku sayang kamu, Kani.”


“Aku juga, aku mencintaimu.”


Amarendra tersenyum dan panggilan usai. Dia kembali mendekat pada teman-temannya.


“Mau pulang kamu, Dam?” tanya Haryawan dan pemuda itu mengangguk.

__ADS_1


“Dia mau mengapel,” seru yang lain dan pemuda itu tersenyum.


“Kalau mau mengajak anak gadis orang yang benar, Dam. Izin sama orang tuanya, jemput dan pulang sampai rumahnya jangan kayak anak muda yang lain, nganterin cuman sampai tepi jalan, nggak izin sama orang tuanya sampai si perempuan harus bohong sama keluarganya. Aduh! Bahaya itu.” Pak Muji menepuk bahu Dam dan Dam melirik Amarendra yang langsung pucat pasi.


Dam tahu hubungan Amarendra dan Kani. Sejak masa sekolah sampai sekarang dan Pak Muji tak tahu Amarendra kekasih anaknya.


“Saya juga punya anak perawan, ya Allah, itu pacarnya nggak ada sopan santunnya. Ngajak main nggak pernah izin, kan malu sama tetangga mereka ketemuan di tepi jalan, anak saya harus jalan kaki juga, apa susahnya minta izin. Saya kasih asal dijaga!” tandas pria seumuran Pak Muji dan Amarendra semakin ciut, merebahkan tubuhnya perlahan. Tak mau ikut nimbrung. Dia merasa jadi tersangka yang sedang dihukum dengan sindiran bertubi-tubi.


***


Sebelum puasa, Pak Muji pulang, dia terkejut melihat Kani sudah di rumah. Bu Ismi mengatakan Kani pulang sendirian. Sedang sakit dan Pak Muji khawatir.


Malamnya, rumah didatangi oleh Kalingga, membawa martabak manis juga gorengan. Dia mendengar Kani pulang dan sedang sakit. Kani yang wajahnya pucat itu duduk di kursi berbeda. Pak Muji dan Bu Ismi di depan televisi, mata mereka ke depan, tapi telinga terbuka lebar-lebar.


“Kamu pulang sendirian, kenapa nggak minta aku buat jemput? Aku bisa datang ke rumah tempat kamu bekerja, di luar Bandung saja aku susul apalagi kalau masih daerah Bandung.” Kalingga menatap cemas dan Kani menyibak rambutnya ke belakang punggung.


“Aku sudah baikkan, Mas. Pulang sendiri sudah biasa, kok,” kata Kani setengah malas dan Kalingga tersenyum.


“Semoga cepat sembuh, nanti berangkat lagi sama siapa? Barengan, ya, sama aku. Aku mau ke Jakarta, kerja lagi.” Dia tetap lembut walaupun Kani jutek dan tak mau memandangnya lama, itu kesempatannya untuk memandangi sepuasnya.


“Enggak usah, Mas. Kani mau pergi sama Bapak.” Kani menggigit bibirnya kelu.


“Kani.” Bu Ismi bangkit dan Pak Muji memperhatikan. “Bapak berangkat sore, kamu berangkat pagi saja sama Mas Lingga. Naik motor nggak lama kayak kamu naik Bus.” Begitu mendukung pendekatan yang dilakukan Kalingga, membuat pria itu jelas bahagia mendapatkan samar-samar lampu hijau dari Bu Ismi.


“Bapak berangkat sore?” Kani bertanya sambil menatap Bapaknya.


“Iya, kan, Pak?” ucap Bu Ismi penuh penekanan, dia menyambar begitu saja dan melotot pula agar suaminya tak merusak situasi tersebut. “Bisa, kan, Mas Lingga membawa Kani?” Bu Ismi melembut dan Kalingga mengangguk kuat-kuat.


Setelah satu jam lebih di rumah Pak Muji, Kalingga pergi dan Kani ke kamar, berkirim pesan dengan Amarendra.


“Ibu apa-apaan? Bapak berangkat pagi, sore dari mana?” Pak Muji protes dengan tegas.


“Sudah ada tanda-tanda anak kita mau dipersunting, Bapak jangan merusak itu, biarkan Kalingga sama Kani memahami satu sama lain. Anaknya ada yang deketin kok, nggak senang?” Bu Ismi kesal. Pak Muji terdiam dengan wajah terlipat. “Bapak mau anak kita terus bekerja sementara sekarang lambungnya terus sakit?”


Pak Muji jelas menggeleng kepala.


“Kalingga tetangga kita, dia akan menjaga Kani dan kita akan selalu dekat dengan Kani. Ibu nggak mau lagi Kani mengemban segalanya, dia berhak bahagia walaupun sepertinya akan sulit membujuknya apalagi sekarang Ibu lagi hamil.”


Pak Muji kaget bukan main, lekas dia tarik tangan istrinya itu agar duduk di sebelahnya.


“Ibu hamil lagi? Anak kita yang kelima?” Tangan Pak Muji menyentuh perut istrinya. Bu Ismi mengangguk dan Pak Muji mengucap syukur tak henti-henti.


“Bapak yang ngehamilin tapi Kani merasa ini tanggung jawab dia, tolong, Pak. Biarkan Kalingga mendekat agar anak kita bahagia, masa mau bikin anak terus, Ibu kepingin cucu!”


Pak Muji tak bisa menjawab, dia bahagia dan bersyukur, di sisi lain dia bingung dengan kehidupan anak itu kelak dan juga, ketika Bu Ismi hamil, Pak Muji selalu segan untuk membantah ucapannya. Mau bagaimana lagi? Kalingga sudah mapan, ganteng, dan kepincut anak perawannya yang pertama itu. Dia hanya bisa mendoakan, jalan hidup sudah ada yang mengatur dan tak mungkin dia ubah apalagi protes. Semoga jika iya Kani dengan Kalingga, dia harap keduanya akan bahagia.

__ADS_1


Di kamar, Kani sedang menunggu respons Amarendra saat dia meminta izin setelah memberitahu besok akan berangkat tapi Ibunya mendesak agar dia diantar Kalingga.


Kani:


Maren, kamu marah? Kalau kamu nggak suka, aku nggak bakalan mau. Aku akan berangkat dari rumah tapi turun di jalan besar. Jangan mengira aneh-aneh, Abang!!!!!!


Amarendra:


Aku yakin Ibumu menyukai Kalingga


Kani:


Tapi aku enggak! Aku cuman kepinginnya sama kamu. Ibu cuman khawatir.


Amarendra;


Aku takut, rasanya ingin sekali menghilang dan ada di hadapanmu. Membawamu pergi!


Kani:


Aku nggak bakalan mau, kok. Tenang, ya. Jangan marah lagi.


Kani cemberut karena Amarendra tak membalas.


Kani:


Abang sayang....


Amarendra:


Geli banget sumpah 😭😭😭 Kenapa manggilnya Abang terus, sih?


Abang siomay???


Kani:


Aku mau membiasakan diri, masa nanti kalau kita menikah manggil nama, nggak sopan banget. Abang Maren🙂


Amarendra:


Aku cium kamu nanti! Eh enggak, deh. Iya nanti, setelah akad🙃


Ya sudah, boleh. Aku juga khawatir kalau kamu pergi naik Bus sendirian. Kamu boleh menerima ajakan dia. Catatan; Jangan kamu peluk, jangan menyender! Jangan mau diajak mampir.


Kani:

__ADS_1


Oke, Bos!


Kani tersenyum dan mematikan ponselnya, Amarendra bilang sudah mengantuk begitu juga dengan dirinya.


__ADS_2