
***
“Padahal kamu bisa ke sini besok, Kani.” Shahnaz melangkah dan Kani yang sedang mengecek isi kulkas menoleh, tersenyum. “Bagaimana acaranya?”
“Lancar, Bu.” Kani menunduk dan Shahnaz memperhatikan.
“Dia ganteng, keren, bagus juga seleramu. Kalian sangat serasi, akan kami usahakan untuk hadir di acara pernikahan kalian. Anak-anak pasti senang walaupun kamu akan pergi.” Shahnaz tersenyum dan bersandar pada meja sementara Kani mengernyit heran.
“Memangnya...Ibu tahu?” tanyanya ragu-ragu.
“Yang selalu bertemu denganmu di Alun-alun, pernah mengantarmu juga.” Shahnaz membuka laci dan mengambil gelas. Kani terbelalak dan mengusap rambutnya.
“Siapa yang kamu puji, sayang?” Satya keluar dari ruangan kerjanya dan Shahnaz tertawa.
“Calon suaminya Kani.” Matanya melirik Kani yang menunduk dan Satya mangut-mangut. Kani pamit undur diri dan dia lekas masuk ke kamarnya.
Kani meraih ponselnya. Mengecek apakah... Amarendra mengirimkan sesuatu, sebuah pesan, atau panggilan tak terjawab olehnya. Tapi keduanya tak dia dapat. Kani mencoba memberanikan diri menelepon tapi nomor pria itu tak aktif. Kani meringis, isak tangisnya menyembur tak tertahan. Amarendra benar-benar memutuskan hubungan dengannya? Semudah ini?
Dia selalu sibuk berprasangka dan menyimpulkan salah kaprah sementara pria yang dia rindukan kehadirannya masih terbaring lemas, dirawat oleh Bapaknya.
Pagi ini, Amarendra merasa baikkan, dia masih membelakangi apalagi setelah tahu Pak Muji yang merawatnya. Dia kesal dan ingin menghindar. Kenapa bisa Pak Muji memilihkan pria sembarangan untuk Kani? Dia sangat ingin bertanya tapi tak mungkin bisa.
__ADS_1
“Anak Bapak katanya sudah bertunangan?” Haryawan bertanya. Amarendra yang mendengar meremas selimutnya.
“Iya, acaranya sederhana karena calon besan saya yang laki-laki harus pergi bekerja lagi jadi semuanya dilakukan secara mendadak.” Pak Muji menjawab dengan suara sumbang. Hatinya tak kunjung memberikan persetujuan.
“Jangan lupa undang-undang, Pak.” Yang lain ikut berdialog.
Pak Muji terkekeh pelan.
“In sha Allah secepatnya, saya nggak mau pertunangan lama-lama, takutnya terjadi hal-hal yang tak diinginkan.” Pak Muji tersenyum dan mereka yang mendengar mengangguk mengerti.
“Lebih cepat lebih baik, Pak. Takut karena anak-anak jaman sekarang pada lemah iman.” Pak Jarwo menambahkan dan Pak Muji tak suka dengan apa yang dia sampaikan, itu sebuah penghinaan apalagi ada orang lain di sekelilingnya.
“Ya...kamu memang layak mendapatkan kebahagiaan dan aku belum tentu bisa memberikannya.” Amarendra hanya bisa menguatkan diri. Kehidupannya masih panjang tapi dia malas melakukan apa-apa atau merencanakan sesuatu. Dia harus bagaimana?
Pak Muji berhenti melangkah saat pagi ini Amarendra sudah bangun. Pemuda itu sedang berjemur, menghangatkan tubuh. Amarendra melirik sekilas karena Pak Muji mendekat. Masih hancur hatinya karena hubungannya dengan Kani kandas, dia sedikit malas memandang wajah itu. Tapi dia sangat kurang ajar jika tak tahu terima kasih karena sudah dirawat selama ia sakit.
“Segera isi perutmu lalu minum obat,” kata Pak Muji dan Amarendra diam. Pak Muji memandangi wajah letih pemuda itu kemudian menepuk bahunya. “Kebingungan terlihat jelas di wajahmu, ada masalah apa, Amar?”
Amarendra menoleh dan menatap lekat. “Lebih tepatnya kesengsaraan, Pak. Terima kasih sudah merawat saya.” Amarendra menatap sejenak kemudian bangkit. Dia pergi begitu saja dan Pak Muji keheranan menghadapi tingkah berbeda pemuda itu.
Amarendra mulai kerja lagi walaupun banyak yang menegurnya. Amarendra merekat bibirnya kuat, tak bisa memikirkan juga sahutan apa untuk membalas mereka dan Kani selalu menantinya, berharap saat membuka mata dia melihat pesan dari pria itu tapi nyatanya nomor Amarendra masih tidak aktif sampai Bunda Sri menelepon Kani, menanyakan Amarendra dan Kani kebingungan serta kecemasan menyeruak dalam dadanya. Tak ada yang tahu Amarendra ke mana, Kani menangis setiap malam memikirkan pria itu yang benar-benar lenyap dari kehidupannya.
__ADS_1
Tapi ternyata tidak, pertahanan Amarendra buyar karena rasa cintanya yang teramat kuat. Dia menyalakan ponselnya dan banyak pesan masuk menanyakan keberadaan juga kabarnya. Dia hanya membalas pesan Bunda. Meyakinkan bahwa dia baik.
Kani yang sedang mendekap erat kedua lututnya dengan punggung bersandar terperanjat saat Amarendra menelepon. Dia lekas mengangkat, menatap jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
“Maren,” ucapnya penuh kelembutan dan Amarendra langsung lemas.
“Aku...”
“Kamu ke mana saja, Maren?” tanya Kani menyela. Amarendra diam mendengarkan embusan napas gadis itu yang terdengar berat atau kaget karena dia menelepon. “Aku takut.”
“Aku di sini. Bisa bertemu di tempat biasa besok?” tuturnya datar dan Kani merasa syok mendengar perubahan yang teramat menyakitkan baginya.
Kani tak berpikir dua kali untuk mengatakan persetujuan lalu panggilan diputus Amarendra tanpa pamit atau memintanya lekas beristirahat seperti biasanya, karena semuanya sudah berbeda. Dia harus melakukan itu agar terbiasa. Juga Kani yang harus mampu menerima.
Besoknya, Kani sudah menunggu Amarendra dan Amarendra sejak tadi di sana, tak jauh, memandangi Kani yang sangat dia sayangi. Rambut gadis itu berayun anggun tertiup angin. Semakin lama Kani mondar-mandir tak karuan. Menatap jam di tangan yang terus berlalu.
“Apa kamu berubah pikiran untuk bertemu denganku?” gumamnya dan dengan lemas berjalan untuk segera pergi tapi Amarendra menampakkan diri dan membuatnya berhenti..
Amarendra mendekat, keduanya sama-sama saling memandang sampai Amarendra berucap serak setelah menguatkan hatinya, “Selamat untuk pertunangan kalian.” Dia menunduk dan Kani terus memandangnya.
“Aku janji akan hadir di acaramu, itu pernikahanmu...” Dia sampai berbicara patah-patah karena itu sebenarnya berat untuk dia katakan. “Jangan benci pada mereka, orang tuamu memilihkan pria yang tepat. Semoga kalian bahagia.” Tak ada senyuman manisnya, tak ada pula kebahagiaan seperti yang Kani lihat saat keduanya bertemu, tetapi yang jelas netra Amarendra masih memancarkan nyala yang sama saat melihat Kani di hadapannya.
__ADS_1
Kani membuka mulut untuk mengeluarkan beberapa bait rindu tapi Amarendra berbalik badan tak mau berlama-lama, dia pergi tanpa ekspresi, tanpa senyum, tanpa menyentuh, dan yang paling membuat Kani sakit dia pergi tanpa pamit. Air mata Kani berlinang melihat punggung pria itu semakin menjauh dan hilang dari jangkauan penglihatannya.