
Pak Muji berjalan bertelanjang kaki sambil membawa cangkul di pundak. Dia berhenti saat Pak Ganda memanggil. Entah mau apa Kakak iparnya itu.
“Punya anak dibiarkan menginap di rumah laki-laki. Asstaghfirullah hal adzim, kamu sama si Ismi nggak pernah mengawasi anak apa gimana?” sentak Pak Ganda dan Pak Muji menurunkan cangkulnya. Dia melangkah lebih dekat, bingung sekaligus kaget.
“Ada apa ini, A’? Siapa yang menginap di rumah laki-laki?” Suara Pak Muji masih rendah dan Pak Ganda tersenyum mengejek.
“Kaniraras, dia menginap di rumah laki-laki, bisa-bisanya kalian memberikan izin seperti itu. Mau disimpan di mana martabat keluarga kita kalau sudah begini? Anakmu itu sembarangan mengatakan si Rere pacaran begini, begitu. Tahu-tahunya dia yang bahkan lebih murahan!” Pak Ganda terus memaki, merendahkan Kani hanya sebatas aduan anaknya yang tak dibarengi bukti, Pak Muji sudah berkaca-kaca. Apakah benar anaknya begitu? Lalu, kenapa bisa istrinya membiarkannya? Pak Muji nyaris semaput karena makian Pak Ganda. Seluruh kampung sudah tahu karena foto Kani dengan seorang laki-laki tersebar luas. Entah dalam posisi yang seperti apa. Pak Muji enggan menanyakan, takut semua itu terbukti.
Sesegera mungkin Pak Muji pulan bahkan lupa dengan cangkulnya. Air matanya bahkan tak terasa berlinang.
Kani yang sedang menonton televisi sambil makan tersentak saat Bapaknya pulang dengan raut wajah kemerahan karena kemurkaan. Tak pernah dia lihat sebelumnya.
“Ke sini kamu.” Pak Muji berkacak pinggang, meminta Kani bangkit dan Kani menurut walaupun wajahnya sudah pucat.
__ADS_1
Dahlia dan Kenanga saling menatap bingung. Sementara Syamsir ditarik Bu Ismi ke kamar kemudian kedua anaknya yang lain. Entah apa yang terjadi, dia pun tak tahu.
“Teh, Bapak kenapa?” Kenanga menggoyangkan lengan Dahlia.
“Enggak tahu, diam di sini,” balas Dahlia sambil memeluk Syamsir.
Tak lama suara jeritan Kani terdengar, disusul jeritan Bu Ismi. Syamsir ingin melihat tapi ditahan Dahlia. Ketiga anak itu ikut menangis mendengar suara tangisan yang begitu menyakitkan Kani dari ruang tamu. Entah apa yang dilakukan Bapak mereka. Kani sesekali berteriak sakit dan ampun disela tangisan dan erangannya dan Bu Ismi menahan Pak Muji.
“Dari awal kita punya anak, kita sudah membicarakan ini, kan, Bu. Kalau anak kita salah bilang, kita bicarakan baik-baik cara menegurnya harus bagaimana. Tapi kenapa bisa Ibu mendukung anak kita yang sudah jelas-jelas salah. Bapak malu, kecewa, sakit! Bapak miskin, cuman kuli tapi Bapak berusaha menjaga martabat keluarga tapi kenapa Kani tega begini sama Bapak, Bu?
“Bapak mengakui, Bapak nggak becus jadi kepala rumah tangga, nggak bisa membahagiakan kalian semua. Tapi Bapak selalu berusaha, semampu Bapak, Bu. Kenapa begini...Ya Allah.” Pipinya basah kemudian dia melepas pecinya. Pak Muji kini diam dengan tatapan kosong dan Kani terus menangis tersedu-sedu.
Bu Ismi masih bingung dan terus memegang tangan suaminya yang bergetar hebat. Beberapa saat kemudian, Pak Muji menceritakan apa yang dia dengar dan Kani langsung mendekat, memeluk kedua kaki Bapaknya itu, membantah segalanya dan Bu Ismi juga tak pernah mengizinkan Kani atau anaknya yang lain menginap sembarangan. Pak Muji tak percaya karena ada buktinya. Bu Ismi teringat saat Kani pulang-pulang dalam keadaan menangis dari rumah Rosi. Tapi anaknya tidak menginap itu Fitnah.
__ADS_1
Bukan malam itu yang dimaksud mereka tapi malam Senin tanggal merah, Kani pagi-pagi buta sudah di tepi jalan dengan seorang laki-laki. Bu Ismi menjelaskan lagi bahwa itu bukan menginap, itu ke pasar bersamanya, ada Ibunya Yana juga yang bisa dijadikan saksi jika perlu karena mereka berangkat bersama.
Tapi ocehan Pak Ganda berhasil membuat semua orang menyangka Kani benar-benar rendahan, dan Pak Muji membiarkannya. Gosip memalukan tersebut sampai dibawa-bawa ketua kampung segala dalam sebuah acara, menyindir Pak Muji, dan ditambah Pak Ganda yang terus menjadi kompor merasa anak-anaknya paling suci tidak seperti Kani. Pak Muji merasa anaknya melemparkan kotoran ke wajahnya sendiri karena sindiran dan teguran dari para tetangga, membuat Pak Muji semakin dingin sikapnya, bahkan dia melarang Kani keluar dari kamar dan menunjukkan diri di hadapannya.
Yang lebih parahnya adalah Kani dituduh hamil, entah siapa yang pertama kali mengatakannya. Kani yang dirundung dan didera tatapan sinis semua orang di kampungnya merasa tertekan apalagi Bapaknya tak mau bicara padanya apalagi untuk percaya. Kani merasa semua orang meninggalkannya dan yang paling menyakitkan adalah saat dia melihat tatapan jijik dari pria yang dia sukai, Kalingga. Kalingga juga terhasut, padahal dia sudah menaruh harap.
Pak Ganda meminta hal tersebut dimusyawarahkan, jika bisa Kani lekas dinikahkan. Perilakunya merusak dan kehamilannya adalah AIB. Setelah dia menikah terserah si lelakinya mau membawa Kani ke mana. Ada yang setuju ada yang tidak, ada yang percaya bahwa Kani tak begitu. Karena bukti yang janggal dan juga sekadar Katanya mana bisa dijadikan bukti yang valid.
Heri yang mendadak diundang ke kampung tersebut bersama orang tuanya kalang kabut, dia tahu ini fitnah, ini salah paham, dan dia semakin merasa menyesal pada Kani.
Kani tak sekolah berhari-hari, ponselnya dimatikan, semua orang meragukannya, bahkan Dahlia pun ikut-ikutan menjauhinya. Bilang bahwa dia malu punya kakak begitu. Bahkan gosip tersebut sudah diketahui beberapa guru dan teman-teman Kani di sekolah. Ada yang biasa saja karena Kani memang sering bergaul dengan Amarendra. Ada yang tak percaya karena Kani dan Heri hanya berhubungan sebentar. Tak mungkin sampai mau diajak menginap apalagi hamil.
Kani bingung harus melakukan apa, fitnah itu diperkuat dengan dia yang sudah dua Minggu telat haid. Rasanya dia ingin mati saja, tak sanggup lagi, tapi Bu Ismi dengan setia memeluk dan menenangkannya. Percaya bahwa Kani tak begitu, semuanya Fitnah dari mereka yang tak suka pada anaknya dan pada keluarganya dan yang paling membuat Bu Ismi kesal adalah para tetangga menyarankan agar dia membuat air ketumbar, itu ampuh untuk menggugurkan kandungan mumpung masih awal. Bu Ismi menolak dengan beringas, berteriak dan bersumpah atas nama Tuhan dan Rasul bahwa anaknya tidak hamil dan yakin semuanya akan terungkap di waktu yang tepat.
__ADS_1