Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
MELIPIR


__ADS_3

Seminggu setelah hari raya, Kani mendapatkan kabar bahwa Amarendra sudah sampai di rumah Abahnya. Dia tersenyum dan tak sabar untuk berjumpa.


“Kani,” ucap Bu Ismi memanggil dan Kani lekas menghampiri. Kani memasukkan ponselnya dan melihat Ibunya membawa pakaian baru. “Ibu melihat ini di pasar kemarin, bagus, cocok buat kamu, Nak.”


“Bu...” Kani mendekat. “Sudah Kani bilang, pakai uang yang Kani beri, ya memang sedikit. Tapi, cukup mungkin untuk kebutuhan seminggu. Kenapa malah beli baju?” dia protes.


Kani terkejut saat dagunya dicubit dan ditarik. “Anak Ibu yang sudah besar tapi tak punya pakaian bagus, pakai ini, untuk jalan-jalan dengan teman-temanmu. Apa ini terlalu gelap untuk kulit anak Ibu yang bening ini.” Ia mendekatkan baju tersebut ke dada anaknya dan Kani pasrah.


Tak mau mengecewakan Ibunya, dia menerima baju tersebut, rok berwarna biru gelap dan kemeja lengan panjang berwarna putih.


Malamnya, Kani mewarnai rambutnya dengan warna coklat tua. Tak akan terlalu kentara kecuali di bawah matahari. Warna rambutnya membuat kulit kuning Langsatnya semakin terpancar indah dan dia sudah izin untuk pergi besok pagi ke rumah temannya. Dia terus meminta maaf dalam hati karena mengatakan bahwa teman yang akan dia temui adalah perempuan.


Di rumahnya, Amarendra sudah siap pergi, menatap potret dirinya di cermin. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam. Tak lupa jam tangan kesayangan dan minyak wangi, Kani selalu menempel padanya, tak pantaslah kalau badannya bau kecut. Amarendra menoleh saat ponselnya bergetar. Kani bilang sudah pergi dari rumah dan mereka berdua mengatur janji bertemu di alun-alun. Amarendra lekas berangkat, naik lagi saat dompetnya ketinggalan. Dia gugup dan berharap tak membuat Kani kecewa.


Sesampainya di sana, Amarendra malah bertemu Raihan yang juga akan bertemu dengan pacarnya.


“Sudah setahun lebih kamu dan Kani bersama, belum ada hilal juga aku lihat status hubungan kalian itu.” Raihan mengeluh dan mengingatkan, dia khawatir melihat hubungan keduanya.


“Yang jelas dia sudah nyaman denganku,” balas Amarendra.


“Kalau Kani benar-benar hanya menganggapmu kakak ketemu gede, gimana? Cowok itu banyak dan Kani cantik, kamu nggak takut menjalin hubungan tanpa status lalu Kani melipir pada laki-laki lain?” Raihan serius.


Amarendra mengangkat bahu, mengunyah permen dan tampak berpikir keras. Raihan menggeleng kepala, ingin sekali dia bilang bahwa dia melihat Kalingga sedang berusaha mendekati Kani tapi dia tahan-tahan takut kawannya murung.


“Hubungan yang pasti itu cuman pernikahan, Rai. Aku sudah menunjukkan banyak tanda bahwa aku sayang sama Kani lebih dari sekadar teman tapi dia selalu mengira aku bercanda. Aku harus gimana, Rai?” Amarendra jadi was-was dan Raihan menggeleng, tak tahu.


Keduanya bangun dan berlalu untuk menghampiri tujuan mereka masing-masing. Kani sudah menunggu dan Amarendra meneleponnya. Entah di mana gadis itu. Dia terkesiap dan menarik kerah baju Raihan saat melihat Kani duduk di sana.


“Itu Kani, benar, kan, Rai? Kenapa cantik sekali dia, Rai?” kata Amarendra mengintip dari balik tembok pembatas dan Raihan melihat.

__ADS_1


“Waduh, iya. Cantik banget si Kani.” Raihan cengengesan dan Amarendra menarik wajahnya ke belakang agar berhenti melihat Kani.


“Kurang ajar kamu, Rai.” Amarendra mengintip lagi.


“Ya aku, kan, berhak memuji. Jadi gimana? Masih takut buat bilang sayang sama dia? Kapan lagi, kalian nggak bisa sering ketemu dan mumpung sekarang bisa, cepat bilang sama dia kalau kamu sayang dan cinta,” ujar Raihan dan Amarendra sibuk memperhatikan Kani yang sekarang mondar-mandir menunggunya. “Gue duluan, ya.” Raihan berlalu saat melihat kekasihnya. Amarendra tak mendengar dan kaget melihat temannya sudah menghilang.


Ponselnya berdering dan dia lekas mengangkat.


“Aku sudah di sini, kamu di mana?” Kani kesal dan Amarendra memasuki alun-alun.


“Aku di sini,” katanya serak dan Kani mengedarkan pandangan. Alun-alun sangat ramai dan dia tersenyum saat melihat Amarendra. Amarendra diam dan memperhatikan Kani melangkah ke arahnya sambil tersenyum tipis seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Amarendra melangkah sampai keduanya berhadapan.


“Kenapa?” tanya Kani bingung dan Amarendra menggeleng.


“Aku merasa pangling melihatmu.” Dia terus menatap lekat dan Kani tersenyum, melangkah kemudian mengempit tangan Amarendra. “Lapar?” ia gugup.


“Ini masih pagi, pasti sangat dingin. Mending kita jalan-jalan dulu, mau ke toko buku? Kita sudah lama tak mengobrol di antara rak-rak buku.” Amarendra memberikan usul yang bagus, membuat Kani tak ragu untuk mengangguk.


Tiga puluh menit perjalanan, Kani melihat Toko buku cukup besar, Amarendra bilang dia pernah ke sini sekali. Kani terus memperhatikan dan Amarendra melepas helmnya, dia rapikan lagi rambut Kani yang sedikit berantakan.


“Bagaimana warna rambut baruku?” Kani ingin dipuji.


“Itu bagus, membuat kulitmu semakin cerah. Dua bulan bekerja di kota kamu sudah pandai berhias?” Amarendra menatap wajah Kani dan Kani tersenyum.


“Aku baru mencobanya, punya Ibu.” Kani cengengesan dan Amarendra tertawa lebar.


“Nanti aku belikan make-up yang cocok untuk kulitmu yang masih sehat ini, jangan asal memakai kosmetik.”


“Memang kenapa?” Kedua matanya membulat dan menarik lengan Amarendra.

__ADS_1


“Nanti kulitmu rusak.”


“Kenapa kamu tahu?” Kening Kani mengerut.


“Kakakku pernah mengalaminya, ya sekitar seusiamu begini mulai coba-coba berdandan eh malah rusak.”


Kani meringis, menepuk pipinya tapi Amarendra menahan. Dia menggeleng dan memujinya, itu bagus dan jangan dihapus.


Keduanya masuk, melihat-lihat. Amarendra mengambil satu buku novel ber-genre Fantasi. Tebal dan Kani tak mengambil apa pun.


“Ambil yang mana saja, sesukamu.” Amarendra berbisik dan Kani menggeleng. Amarendra mengedarkan pandangan kemudian dia mencondongkan badannya. “Masih canggung padaku?”


Kani diam memandangi wajah itu tepat di atasnya.


“Aku merasa kamu semakin tinggi.” Mengalihkan pembicaraan.


Amarendra mendelik dan menjauh. Kani menyimpul senyum dan mengekor di belakang tubuh Amarendra dengan tangan yang terus digenggam. Setelah membayar, keduanya keluar.


Kani memeluknya erat di atas motor, keduanya berhenti di minimarket, Amarendra membawa Kani keluar lagi padahal Kani ingin es krim. Mereka akhirnya pergi ke pasar dan di sana ada toko besar yang menjual berbagai macam produk kecantikan. Jelas aman dan Kani malah diam.


“Aku mau pembersih wajah untuk perempuan, kulitnya normal, jadi berikan itu.” Amarendra seolah tahu segalanya dan Kani tertegun melihatnya. Amarendra cengar-cengir saat melihat lipstik merah dan Kani tidak mau. “Kalau kamu pakai ini nanti kayak Tante, Tante.”


“Aku nggak mau.” Kani menutupi bibirnya.


Amarendra tersenyum dan merasa puas menggodanya kemudian mereka pergi setelah membeli empat produk. Amarendra menunggu Kani meminta tapi Kani seperti biasa hanya diam, karena bertemu dengan Amarendra sudah cukup baginya. Mereka meninggalkan pasar dan menuju tempat wisata yang ingin Kani kunjungi. Membeli es krim dan camilan dulu. Keduanya duduk dan Amarendra sesekali melirik gadis itu.


“Maren, nanti pulang aku mau mampir ke rumah Abah. Mau ketemu Bunda sama Abah, kan habis hari raya,” ucap Kani.


“Bunda di Malang,” katanya membalas dan Kani tersentak.

__ADS_1


__ADS_2