
Kani menunduk saat ada Pak Muji, hubungan hangat itu menguap begitu saja. Rumah bahkan sepi dari canda dan tawa, jelas sekali efek buruk dari semua fitnah mereka. Bu Ismi yang melihat pemandangan tersebut merasa sedih tapi tak bisa melakukan apa-apa dan dia tak tahu bahwa diamnya Pak Muji semakin memupuk rasa kecewa di hati Kani.
Kani masuk sekolah seperti biasa, masih mendapatkan perlakuan tak baik. Dia baru saja melangkah memasuki pintu gerbang, sesekali mencari-cari dia. Kani terkesiap saat ditarik teman-temannya ke belakang sekolah.
“Si Maren melukai kakakku, Kani. Seharusnya kamu menegur dia!” Belum pernah sebelumnya Citra berani membentak dan Kani diam.
“Kalau Arif kenapa-kenapa, dia harus tanggung jawab,” tambah Reva dan Kani diam lagi.
“Sampai main fisik itu nggak benar, Kani. Seharusnya kamu bisa menilai bahwa Maren nggak baik.” Teti menyambung dan Kani menaikkan satu alisnya. Begitu banyak pembelaan untuk Arif lantas untuknya? Ya, dia lupa, bahwa pertemanan ini hanya sebuah sampul tak berarti.
“Terus, apa kalian merasa apa yang dilakukan Arif itu benar? Dia bukan kali ini saja menggangguku, menghinaku, aku yakin kalian semua tahu tapi pura-pura bego. Kalian nggak kenal Amarendra, aku yang dekat saja dengannya selalu berhati-hati menerka seperti apa sosoknya dan selama ini dia melakukan apa yang membuatku juga nyaman, dia melindungiku dari Arif. Ya maaf kalau agak kasar, temanku itu sedikit temperamen jadi diharapkan untuk kalian berhati-hati khususnya pacarmu,” balas Kani sambil tersenyum sinis kemudian menjawil dagu Reva dan Reva menatapnya tajam.
“Kamu lebih memilih Maren yang baru kamu kenal dibanding kami?” tandas Citra tak terima.
Kani menggaruk alis dan menoleh padanya. “Bukan masalah lama dan baru kukenal, aku hanya melihat siapa yang benar-benar bisa aku percaya. Di mana kalian saat aku terkena masalah, setidaknya kalian mendukungku walaupun tak bisa membantu. Ya, aku mendengar bahwa kalian juga sibuk bergosip tentang kabar yang mencuat gara-gara sebatas katanya, dan mungkin benar, aku sekarang lebih baik memiliki teman hanya Amarendra saja tak perlu banyak-banyak karena kita tak bisa melihat rupa sesungguhnya manusia dari apa yang diperlihatkan.” Kani menatap mereka satu-persatu dengan tatapan mata waspada.
Reva memutar bola matanya kesal. Citra sudah maju untuk menimpali dan membalas kesakitan kakaknya pada Kani tapi Kani lebih memilih untuk berlalu daripada membuang-buang waktu.
Reva berteriak sengit dan Kani menyalakan musik sambil terus berjalan menuju ke kelas.
“Entah apa yang dikatakan laki-laki itu tapi Kani jadi berubah, susah sekali mendekatinya sekarang apalagi membuatnya menurut dan setuju dengan apa yang kita katakan,” kata Reva berbisik dan Teti terdiam, matanya sedikit menerawang.
Mereka tak bisa melakukan apa-apa dan takut kehilangan Kani.
Jam istirahat sekolah, Kani dan Amarendra bertemu di belakang sekolah, keduanya duduk di bawah pohon bambu sambil menikmati es krim dan menatap pemandangan di depan, hamparan sawah dan sungai yang terlihat sedikit di bawah sana tapi nyaring sekali suara deras airnya.
__ADS_1
“Maren, cita-citamu ingin menjadi apa?” mendadak Kani bertanya dan Amarendra menggeleng.
“Kamu?” balik bertanya dan Kani tersenyum lebar.
“Pak Dodo guru yang paling aku sukai.”
Amarendra tersenyum miring, tak paham.
“Kamu...suka sama Pak Dodo?” sambil tersengal Amarendra bertanya. Apa dia kurang menarik sampai Kani menyukai guru setengah abad itu dan bahkan akan memiliki cucu.
Kani tergelak dan memukul bahu Amarendra, pertanyaan itu menggelikan. Amarendra diam dan menunggu Kani menjelaskan, tak akan dia biarkan gadis itu pergi sebelum rasa khawatir dan takutnya terobati.
“Dia guru favoritku,” ucap Kani sambil menggigit sendok es krim dan Amarendra mangut-mangut, dia lega. “Aku dulu merasa bosan dengan apa yang diterangkan Pak Dodo tapi saat aku kelas 2 SMP, aku mendapatkan nilai paling besar saat ulangan Bahasa Indonesia kemudian Pak Dodo memujiku, tak sungkan sampai membuat murid yang lain protes. Mereka bilang kenapa selalu saja aku yang dapat nilai bagus. Sejak itu aku mulai rutin menyimak saat pelajarannya dan aku menemukan banyak fakta mencengangkan.
“Dia guru paling berjasa dan bekerja dengan semestinya, tak seperti guru lain yang kadang hanya sibuk meminta menulis dari halaman ini sampai halaman sekian, atau guru yang tak pernah hadir dan kami di kelas sibuk rusuh. Pak Dodo selalu datang, sesekali telat karena dia berjalan dari Terminal sampai ke sekolah, motornya dijual untuk kelahiran anak keempatnya. Banyak guru yang asal-asalan juga dalam mengajar tapi sibuk menyentak saat murid-muridnya protes atau nakal. Tapi Pak Dodo tak pernah begitu, entah mengapa dia begitu sabar, aku juga ingin menjadi guru yang baik, berguna, mengajari murid-murid dengan benar agar mereka tak menyia-nyiakan waktu untuk bermain saat jam pelajaran. Apa aku pantas menjadi seorang guru, Maren?” pertanyaannya di akhir membuat Amarendra menoleh.
Obrolan mereka akhiri dan Amarendra bangun lebih dulu, membantu Kani bangun dan keduanya berjalan bersama. Kani berhenti dan berbalik saat akan pergi tapi Amarendra meraih jemari tangannya.
“Apa?” ucap Kani bingung.
Amarendra menunjuk wajahnya sendiri dengan gerakan memutar kemudian berkata, “Wajahmu tak sekaku dulu, sekarang selalu dihiasi dengan senyuman manis, pertahankan.”
Kani tersenyum lebar dan mengangguk.
“Hanya untukmu,” katanya singkat kemudian pergi meninggalkan Amarendra yang diam mematung mendengarnya, beberapa detik setelah sadar, ia mengusap tengkuknya dengan bibir yang tak berhenti mengukir senyuman.
__ADS_1
***
Kani mengerjakan soal Bahasa Inggris dengan tenang, tapi teman-temannya kebingungan dan berusaha membuat Kani menoleh sedikit saja tapi gadis itu tak peduli. Guru wanita di depan memperhatikan, sesekali menegur. Baru soal saja mereka yang tak pernah belajar sudah pucat pasi apalagi nanti saat ujian.
Reva dan Teti saling memandang penuh arti, Citra santai karena dia cukup memiliki otak yang bisa digunakan untuk berpikir mencari jawaban sendiri bukan kerjanya menyontek seperti Reva dan Teti.
Guru wanita itu menoleh saat guru lain memanggil untuk ke kantor sebentar.
“Ibu pergi sebentar, awas kalian kalau berbagi jawaban dengan teman-teman kalian,” tandas wanita tersebut dan semuanya mengiyakan.
Kani terkesiap saat Teti dan Reva merubung, terakhir Citra karena jawaban nomor tiga dia tak bisa. Kani sudah mengerjakan lima soal, tinggal dua lagi.
“Ayo cepat Kani sebelum guru kembali,” kata Reva yang sudah siap sedia untuk menyalin jawaban Kani.
Kani dengan kasar menutup bukunya dan mereka bingung.
“Mikir sendiri WOY!” teriak Yana dari tempat duduknya.
“Berisik lo, Yan!” Reva mendelik jengkel.
Kani terus menutup bukunya dan mereka menatap tajam.
“Bukannya sudah diperingatkan untuk mengandalkan diri sendiri, jangan mengandalkanku. Awas.” Kani mendorong mereka agar menjauh, mereka bertiga malu karena murid laki-laki berteriak mengejek.
Reva duduk dan tak berhenti menatap Kani. Kani melirik dengan ekor matanya kemudian kembali mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
“Si Kani berani melawan sekarang,” bisik Rara kepada Rere.
Rosi menunduk, dia masih merasa bersalah pada Kani tapi sungkan untuk meminta maaf. Jika mulutnya tak sembarangan bicara pada Rere, mungkin kejadian itu tak terjadi. Hanya menyesal tak akan pernah bisa mengembalikan situasi apalagi menyembuhkan trauma yang Kani dan keluarganya rasa.