Syahdunya Cinta Pertama

Syahdunya Cinta Pertama
PENCURI


__ADS_3

***


Mata Kani memicing dengan tangan terkepal kuat-kuat. Dia memperhatikan seseorang yang sedang melihat-lihat isi Toko tapi tangan jahilnya memasukkan penghapus, pensil, dan benda-benda lainnya ke balik kerudung. Kani mendesis, melirik teman kerjanya yang siap menyergap juga tiga pegawai yang lain. Mungkin wanita itu buta ada CCTV tapi masih nekat mencuri. Dia tak tahu, yang harus mengganti setiap barang yang hilang adalah para pegawai. Kani sudah dongkol dengan kejadian begini.


“Cepetan!” Kani berbisik-bisik saat wanita itu akan pergi menyelinap keluar karena toko memang sedang ramai. Kani melangkah lebih dulu dan mengejar wanita itu.


Sesampainya di luar, wanita itu meringis ketika sikunya dicekal hanya dengan dua ujung jari Kani.


“Ampun.” Wanita itu berbalik dan Kani menarik kerudungnya yang juga dia jadikan penutup wajahnya. Keduanya sama-sama kaget dan Kani mengendurkan cengkeramannya.


“Reva? Kamu ...” Kedua matanya membulat juga memancar tuduhan yang membuat Reva menunduk malu. Reva memberikan tas di balik kerudungnya. Dia kabur dan kedua kaki Kani lemas untuk mengejar. Kenapa harus mencuri untuk barang-barang sepele begini? Kani menatap jeri. Dia biarkan daripada Reva menjadi bulan-bulanan. Dia tahu ada sesuatu yang mendesak karena dia juga pernah melakukannya dulu dan bahkan lebih buruk.


Kani berbalik dan teman-temannya mendekat. Merubung, menanyainya.


Kekhawatiran menyergap Amarendra yang baru menepi. Sangat ingin turun untuk melihat apa yang terjadi pada Kani. Dia membuang napas lega melihat gadis itu yang terhalangi menyembul dan pergi masuk ke Toko.


“Aku langsung berkeringat takut kau kenapa-kenapa.” Kekhawatirannya tak pernah luntur, masih sama dan selalu berlebihan seperti dulu. Amarendra diam menunggu karena dia tahu Kani sebentar lagi pulang.


Amarendra diam melihat Kani dibonceng seorang wanita sama-sama pekerja. Mereka berlalu dan dia mengikuti.


Amarendra memperhatikan jalan yang dia lewati, ini jalan menuju tempat tinggal Kani. Tapi Kani mendadak turun dan temannya menginterogasi dia mau ke mana. Kani tak menjawab dan temannya memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


Amarendra diam dan beberapa langkah wanita itu berhenti. Amarendra baru sadar bahwa itu jembatan yang dulu saat kejadian menakutkan. Kani hampir melompat untuk mengakhiri hidup. Karena tadi dia bertemu dengan Reva, Kani merasa ingin diam sesaat di atas jembatan itu. Dia menarik ikat rambutnya dan rambutnya berayun tertiup angin yang tak ramah, rambutnya berantakan dan dia menyisir, menyibaknya ke belakang.


Hangat dekapan Amarendra dia merasakannya. Lelaki itu memeluknya erat sambil menangis. Takut benar-benar kejadian dia melompat ke bawah sana dan Amarendra, berkaca-kaca, dia juga ingat jelas kejadian itu.


“Semakin lama aku perhatikan, kenapa kamu selalu suka sendirian? Berdiam diri dengan tatapan kosong. Gairah untuk menikmati kehidupan seolah tak ada, kamu sangat tertekan dan tak bisa mengungkapkan kepada siapa-siapa. Aku benar-benar salah karena membiarkanmu begini bertahun-tahun.


“Aku selalu menanti bibir mungilmu menyimpulkan senyuman manis, tapi kenapa aku tak kunjung melihatnya? Warna indah pada wajahnya pun sangat sulit aku temukan. Dia sibuk bermuram durja karenaku. Tak akan Kani, aku ingin melihat keceriaanmu yang sudah terkubur itu, aku di sini.” Amarendra mendorong pintu mobilnya setelah menguatkan tekad untuk menyeka air mata perempuan yang dia sayangi.


Kani berbalik sedikit dan menyeka air matanya. Dia menangkap sosok pria memakai masker dengan kacamata hitam. Kerutan halus terlihat di keningnya karena bingung kenapa pria itu berdiri di sebelah mobil dengan memandang ke arahnya. Kani memutar tubuh, benar, tak ada siapa-siapa kecuali dirinya.


Kani melangkah ke belakang. Dalam hitungan ketiga dia benar-benar akan berlari kencang setelah menduga bahwa pria itu akan berbuat jahat padanya.


“Masih mengenalku?” Kaget mendengar suara berat yang selalu ingin dia dengar. Kani mundur sedikit, menunduk. Dia bermimpi? Berhalusinasi? Dia gila?


Amarendra menarik kedua tangannya, Kani tersentak membentur tubuh itu kencang. Napasnya benar-benar tersengal.


“Ini aku.” Amarendra menatap sendu. “Lihat aku baik-baik.”


Kani terdiam dan matanya terus menyusuri wajah di hadapannya. Dia sentuh pipi pria itu dan terkejut karena bisa merasakannya.


“Aku kembali, aku hanya milikmu.” Matanya bergerak naik turun memperhatikan lekuk wajah Kani yang sekarang menjadi pucat. Amarendra merapatkan keningnya dan keduanya menangis bersama. Kani tersenyum merasakan bibir pria itu mengecup keningnya. Jemarinya yang bergetar perlahan menyentuh pipi pria itu, Amarendra menutup matanya, menciumi jemari itu berulang kali. Wajah keduanya sembab dan basah.

__ADS_1


“Aku minta maaf, aku mencintaimu, Maren,” lirih Kani sambil terus memeluk tubuh besar itu erat-erat. Amarendra membalasnya tak ragu dan membalas ungkapan cinta dari bibir wanita itu kemudian dia mengajak Kani pergi, mereka perlu berbicara.


Di sebuah restoran dengan suasananya yang nyaman. Keduanya duduk berseberangan. Terhalang meja tak terlalu lebar tapi memanjang dari sudut kiri ke sudut kanan. Keduanya duduk bersila dan terus melemparkan senyum serta tatapan. Kani tak pernah merasa bahagia seperti sekarang setelah menuai kesakitan buah dari kelakuannya sendiri.


Amarendra terus memandangnya sambil menyuap dan mengunyah. Sesekali dia mempersilakan Kani menikmati makanannya dengan santai saja.


“Bagaimana kabar Bunda?” Kani membuka percakapan.


“Baik, selalu mendesakku agar segera mengakhiri masa lajang.”


Kani tersentak dan lekas minum. Mencoba menetralkan kekagetannya.


“Kamu, belum menikah?” dia ragu. Terbata-bata.


“Apa ada yang melakukan hal tadi setelah sekian tahun tak berjumpa jika dirinya sudah beristri?” Nadanya penuh penekanan bahwa dia jelas masih membujang.


“Aku tak berpikir ke sana, ya aku kira kamu melakukannya hanya karena tak tahan padaku dan melupakan istri serta anak-anakmu,” gumamnya bercanda dan Amarendra menghentikan tangannya. Kani mengangkat wajah perlahan, melihat pria itu menopang siku pada meja dan jemari menghalangi bibirnya yang terus menyeringai lebar. “Kenapa?” Kani mendelik dan menyuap lagi.


“Bisa-bisanya berpikiran begitu.” Amarendra menggeleng kepala sambil terus cengar-cengir dan makan lagi.


Hening sesaat dan Kani gugup saat jemarinya diraih kemudian digenggam.

__ADS_1


__ADS_2