
Satu jam berlalu, Kani menggeliat, dia memiringkan tubuhnya dan membuka mata. Melihat Amarendra sedang menatapnya. Kani kaget dan melihat jam.
“Kenapa mereka berdua, Maren?” Kani bingung.
“Sudah pulang dari tadi,” jawab Amarendra dan Kani mendesis.
“Aku pulang,” kata Kani dan Amarendra duduk.
“Jangan pergi sebelum kamu jelaskan apa salahku karena aku yakin kamu akan menjauh!” tandas Amarendra dan Kani diam.
“Bukannya kamu punya pacar? Aku takut menjadi batu sandungan bagi kalian, seharusnya kamu bilang agar aku tak menghubungimu setiap waktu dan kamu urus saja pacarmu itu!” sahutnya emosi dan meraih tasnya. Amarendra menahan, memandunya duduk. Dia tak akan membiarkan gadis itu pergi dalam keadaan salah paham.
“Oh, jadi kamu mendengar obrolan kami tadi saat sedang menunggumu? Kamu marah lalu pergi seenaknya, bilang tak kenal aku, tak mau menatap dan berbicara padaku.” Amarendra merasa lega, dadanya yang sesak dan bergemuruh berganti dengan kupu-kupu melayang bebas, dia paham. Kani tetap tak mau mendengar dan Amarendra tak melepaskannya. “Dia sepupuku, aku pernah bilang padamu baru-baru ini kalau kak Lusi tahu aku bekerja. Sebenarnya dia tak senang, dia mengadu pada Om Sutan, Kirana yang tahu terus datang ke restoran. Aku bersumpah Kani, aku tak menyukainya, dekat saja aku malas. Kalau benar aku dengannya menjalin hubungan, lantas kenapa bisa aku denganmu terus terhubung, bertemu, dan aku berani memberikan semua waktuku di sela bekerja hanya untukmu. Coba pikirkan, jika iya aku punya pacar, apa bisa sejauh ini kita terhubung?”
Kani diam, belum luluh juga, tak mau menatapnya.
“Tanyakan saja pada Yana dan Raihan kalau kamu tak percaya, aku memang tak bisa kamu percaya, aku bahkan tak bisa dipercayai oleh Bunda. Aku berandalan,” katanya sambil menatap kosong dan Kani baru mau melihat ke arahnya, ke dalaman mata Amarendra dia selami, sedikit saja ingin menaruh curiga bahwa Amarendra bohong tapi Kani tak menemukan celah untuk melakukan itu. “Jangan begini,” ucapnya serak. Menggenggam tangan Kani erat-erat.
“Aku percaya,” kata Kani dan tak seharusnya dia berpikiran pendek, dia meminta maaf dan Amarendra juga, tak seharusnya dia menyembunyikan itu dari Kani. Janji, akan lebih terbuka untuk menghindari kesalahpahaman dan sekarang, Kani siap untuk pulang, Amarendra yang antar.
Amarendra memakai helm, Kani belanja cukup banyak, dia tak mau mengantar sampai setengah jalan, jika bisa sampai ke sebelah rumahnya dan dia akan pergi, sepanjang perjalanan Kani memperhatikan jalanan yang ria lewati, dia merindukan tempat kelahirannya itu. Amarendra tak mau berhenti dan Kani panik, Amarendra menurunkannya setelah sampai, Kani memukul lengannya kesal dan Amarendra tersenyum. Amarendra buru-buru pergi saat melihat Bu Ismi dan Syamsir yang berlari menyambut Kani.
Kani mengucap salam, menyalami tangan Ibunya, dia dipeluk erat.
“Kamu diantar siapa?” tanya Bu Ismi sambil menyeka air mata.
__ADS_1
“Ojek, Bu.” Kani tersenyum. Bu Ismi lekas mengajaknya masuk. Rara dan Rere yang baru pulang sekolah memperhatikan kepulangan Kami dari jauh.
“Kamu kurus, Teh.” Bu Ismi berkomentar sambil memberikan air minum.
“Aku di sana kerja, Bu.” Kani minum dan membiarkan Syamsir membuka tas dan belanjaan. Anak itu senang dan Dahlia, Kenanga, langsung masuk melihat Teteh mereka sudah ada. Kani mengedarkan pandangan, mencari Pak Muji, tak lama yang dia cari muncul baru pulang dari sawah. Kani tersenyum, menyalami tangannya. Pak Muji termenung melihat anaknya yang begitu kurus.
Kepulangan Kani didengar oleh Kalingga tapi saat mereka berpapasan, Kani bingung karena tidak ada lagi perasaan bahagia itu yang biasa dia rasa ketika melihat Kalingga. Kepalanya sekarang menunduk, melewati Kalingga begitu saja dan malah menelepon Amarendra.
Kalingga tak percaya apa yang terjadi, tak ada lagi rona kasmaran yang sering dia lihat di wajah gadis itu ketika melihatnya.
Sehari kemudian Yana dan Raihan pergi duluan, Amarendra akan berangkat dengan Kani. Bu Ismi dan Pak Muji melarang Kani kembali tapi Kani tak mau. Dia senang ketika bisa membelikan Syamsir peralatan sekolah yang baru, juga Kenanga dan Dahlia. Bukan tak senang Pak Muji dan Bu Ismi melihat anaknya bisa mendapat uang dan berbagi kepada adik-adiknya tapi mereka khawatir karena takut anaknya tak bisa memilah dan memilih pergaulan di sana.
“Anaknya pak RW yang sudah bekerja di pabrik pulang pergi itu menanyakanmu,” ujar Bu Ismi yang baru selesai memasak. Kani diam, menonton televisi. “Dia anak yang baik, ganteng, in sha Allah yang cocok buat kamu.”
Kani terpancing untuk menoleh, dia tak suka disinggung mengenai pernikahan muda. “Jangan terlalu terlena dengan apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar, Bu. Mana ada yang mau sama Kani, nggak sekolah, pekerjaan cuman jadi babu,” tutur Kani dan membuat Bu Ismi merasa tercambuk. “Kani mau menikah dengan pria yang benar-benar bisa menerima Kani dan keluarga kita, kalau cuman bisa terima Kani saja buat apa. Kani nggak mau menikah sebelum melihat adik-adik selesai sekolah, takut mereka putus sekolah seperti Kani.”
“Kenapa kamu sibuk seolah semua itu tanggung jawab kamu!” Pak Muji dari dalam kamar menyentak, tak lama dia keluar dan Kani terdiam. “Itu tugas Bapak sebagai kepala keluarga, kamu berhenti sekolah karena ketidakberdayaan Bapak. Cukup pikirkan saja hidup kamu, adik-adikmu masih mampu Bapak urus.” Pak Muji tersinggung dan berlalu pergi keluar dari rumah.
“Lihat, Bapak marah.” Bu Ismi memandang Kani dan Kani pergi ke kamarnya.
“Sudah jelas sakit tapi merasa mampu mengurus segalanya sendiri!” Kani mengomel dan mengemasi barang-barangnya, besok dia berangkat.
“Siapa yang sakit, Teh?” Dahlia bertanya dan Kani menelan ludah. Dia menoleh dan menatap adiknya itu.
“Bikin kan Teteh kopi susu, nggak ada yang sakit. Lupain.” Kani menunduk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Dahlia pergi dan terus berpikir.
__ADS_1
***
Besoknya, Kani diam menatap keluar kaca Bus, Amarendra di sebelahnya tertidur dengan tangan terlipat di dada. Kani perlahan menoleh dan menyenderkan kepalanya, menggenggam tangan pria itu dan Amarendra tersenyum tipis. Keduanya terlelap dan dibangunkan oleh kenek bus. Sebentar lagi sampai di terminal kota. Tadinya Amarendra ingin membawa motor tapi dia tak punya SIM. Kena tilang berabe.
Keduanya turun dan mampir untuk makan siomay.
“Kita berpisah di Terminal Rambutan, ya? Tak usah mengantar sampai yayasan, aku hafal, kok, jalannya.” Kani melirik Amarendra.
“Beneran bisa?” Amarendra tak percaya dan Kani mengangguk kuat-kuat. Amarendra diam dan melihat ponsel Kani menyala, dia tersenyum melihat fotonya dengan gadis itu. Sementara Kani melihat siapa yang mengirimi ia pesan.
“Kenapa dia tahu nomorku, ya?” celetuknya.
“Siapa?” tanya Amarendra.
“Kalingga,” singkat Kani dan Amarendra langsung berubah mimik wajahnya.
“Oh.” Lesu.
Kani tak membalas dan kembali menikmati makanannya. Setelah itu mereka pergi dan berpisah di tempat yang disebutkan Kani. Amarendra diam memperhatikan, menunggu gadis itu masuk ke dalam angkot dan berulang kali mengingatkan agar berhati-hati lalu dia melanjutkan perjalanan.
Kani, sesampainya ia di yayasan. Petugas yayasan tersenyum. Kani meminta waktu untuk beristirahat, tak mungkin sekarang atau besok dia akan menerima dikirim untuk bekerja.
Saat dia ke lantai dua, dia melihat Purwa. Purwa tersenyum dan Kani mengernyit. Menanyakan kenapa dia ada di sini, sama seperti Neng. Purwa dipulangkan oleh majikan mereka, dibayar seadanya tapi pihak yayasan hanya memberikannya separuh.
“Kalau aku memang dari awal minta majikanku kemarin agar membayar langsung, tidak melalui yayasan. Kalau lewat mereka, jelas dipotong sembarangan.” Kani berbisik-bisik dan Purwa sedih.
__ADS_1
“Aku diminta pulang ke kampung tapi aku nggak bisa,” kata Purwa. Kani mengusap-usap bahunya dan Neng pun murung. Keduanya tak akan mengambil pekerjaan merawat orang yang sudah tua, akan mencoba merawat anak atau jadi asisten rumah tangga. Kani hanya bisa mendukung dan menyemangati, kemudian untuk menghibur keduanya, dia mengajak mereka pergi untuk makan bakso. Keduanya senang dan Kani tersenyum melihat wajah murung itu memudar.
Kani selalu berbohong karena dia tak memiliki cara lain untuk menghadapi para manusia rakus pengurus yayasan itu, jika dia pasrah dan diam saja, mungkin juga dia akan ditindas seperti saat kerja di rumah Gun dan Sartika. Kani tersenyum karena Amarendra yang selalu mengarahkannya harus berbuat bagaimana. Jika dia tak memiliki tempat segala hal seperti Amarendra, mungkin ia juga sudah tersesat di Kota.