
Najwa terduduk lemas ditepi ranjangnya, air matanya luruh begitu saja setelah mendapati pesan di ponselnya itu.
Dunianya menjadi gelap, tidak ada kehidupan lagi di atas sana.
"Hiks...hiks...." Tak dapat berkata apapun selain tangisan yang hanya bisa ia tunjukan dengan suasana hatinya yang begitu sesak rasanya.
Mata Najwa begitu sembab setelah lamanya ia menangis hingga berjam-jam.
Tak ingat lagi kata lapar atau menunggu kembali suaminya pulang. Ia hanya berdiam diri dalam keadaan yang gelap, merenungi nasib kehidupan yang mengakibatkan rumah tangganya berada di ujung tanduk.
...Hingga suara deru mobil mulai terdengar. Sengaja Najwa tidak mengunci pintunya, ia tidak ingin melihat suaminya yang baru saja bermadu kasih dengan tubuh wanita lain. Entah bagaimana ia harus mempertanyakan ini pada Rehan, menatapnya saja aku tidak sanggup, hatiku benar-benar sangat terluka. Ya Tuhan, jikalau jodohku dengannya hanya sebatas ini, ku ikhlaskan ia pergi bersama yang lebih sempurna dariku....
"Asalammualaikum..."
"Kemana Najwa, dek, Mas pulang !"
Ceklek....
"Tumben gak dikunci ?" Gumam Rehan seraya membuka pintu.
"Najwa, dek, kamu dimana ?" Panggil Rehan.
Sementara Najwa berada di kamar atas, sebenernya ia mendengar panggilan dari suaminya itu, namun enggan rasanya ia bertatap muka dengan Rehan yang telah berani melukai hati istrinya.
Rehan pun memutuskan untuk naik menuju kamarnya.
Ceklek...
"Najwa, apa kamu sudah tidur ?" Tanya Rehan.
Mendengar suara suaminya, Najwa makin tak bisa berkata apa pun selain menangis dibalik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Suara yang Rehan ciptakan bersama wanita itu terus terngiang-ngiang ditelinga Najwa.
Setelah tau Najwa telah tertidur, Rehan memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket itu.
10 Menit ritual mandinya pun telah selesai, ia membaringkan tubuhnya disamping sang istri seraya memunggunginya.
Tidak ada lagi kebiasaan yang saling peluk dan ucapan selamat malam. Semuanya telah sirna bersama dengan penghianatan yang Rehan lakukan.
Najwa semakin terpukul dalam diamnya, ia sangat berharap suaminya akan bersandar di pelukannya menghilangkan penatnya seharian di kantor. Namun saat sadar, ternyata Rehan lebih dulu tertidur dengan nyenyaknya.
Najwa membalikan tubuhnya untuk bisa melihat wajah tampan milik suaminya itu. Ia meraba satu persatu bagian yang ada diwajah suaminya seraya dengan menitikan air mata.
"Dulu, semua ini hanya milikku Mas, yang kamu miliki hanya untukku. Bahkan kau sangat tidak sudi membaginya dengan orang lain. Tapi semua yang kau punya, semua yang pernah aku rasakan darimu, kini kau pun membaginya dengan yang lain. Hiks hiks, apa salah Najwa Mas Re ? 3 Tahun Mas kita menjalani kehidupan yang damai dan rukun, tak perduli dengan cemohan orang lain. Bahkan kau tidak akan segan untuk membelaku siapa saja yang berani melukaiku. Kau menjadi panglima di garda terdepan untuk melindungi ku Mas, kemana semua itu Mas Re, kemana ? Hiks hiks, hari ini kau telah menghancurkan perasaanku dengan bukti perselingkuhanmu, besok kau akan melukai ku dengan apa lagi ? Sejujurnya aku lelah Mas, dari umurku yang baru 14 tahun aku harus merasakan pedihnya hidup. Aku mengira dengan aku memiliki suami, kau bisa menjagaku sebagai pengganti orangtuaku. Tapi nyatanya aku salah, kau lebih kejam menyakitiku dari pada hidupku yang penuh dengan penderitaan selama aku hidup sendiri. Aku benci kamu Mas, aku benci kamu hiks hiks.." Najwa bergumam seraya melihat wajah yang selama ini ia rindukan kasih sayangnya.
***
Keesokan harinya, seperti biasa Najwa akan bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
Ia masih berharap, suaminya akan menyempatkan waktu untuk sekedar minum teh bersama di pagi hari.
Tak lama kemudian, Rehan turun dengan pakaian yang sudah sangat rapi.
"Pagi sayang !" Sapa Rehan.
"Pagi...." Jawab Najwa tanpa melihat suaminya.
"Tumben gak bikin nasi goreng dek ?" Tanya Rehan.
"Siapa yang mau makan Mas ? Aku tidak akan bisa menghabiskannya sendirian," Jawab Najwa.
Deg.....
Sontak jawaban Najwa membuat hati Rehan tersentil. Pasalnya belakangan ini ia tidak sempat sarapan bersama dengan sang istri karna harus menjemput Karina lebih dulu. Dan mereka sering menghabiskan waktu paginya untuk sarapan bersama diluar.
"Maafkan aku....!" Ucap Rehan merasa bersalah.
"Tidak masalah Mas, aku tau," Jawab Najwa.
"Tau ? Tau apa ?" Tanya Rehan penasaran.
"Mungkin kamu tidak akan berkata jujur jika aku tanya Mas. Tapi sudahlah, aku sudah tau semuanya."
Deg....
Perkataan Najwa membuatnya semakin takut, jika perselingkuhannya dengan Karina akan terbongkar.
"Ma-maksud kamu apa Dek ?" Tanyanya memastikan dan sedikit khawatir.
"Kamu yang akan jelaskan atau aku yang akan ceritakan Mas ?" Ucap Najwa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Hatinya begitu sakit, suaminya tidak mau jujur dengan apa yang sudah ia lakukan dibelakangnya.
Lagi dan lagi air mata itu menetes dengan sia-sia.
Tak tahan lagi Najwa menahan tumpukan luka yang ia pendam sendiri.
"Kenapa Mas hiks hiks, kenapa kamu tega sama aku ? Apa salahku Mas ?" Najwa begitu terpukul dengan kenyataan yang ia ketahui, terlebih lagi kebenaran itu bukan Rehan yang mengatakannya.
"Maksudnya apa sih Dek, Mas gak ngerti ?" Rehan masih mencoba mengelak dengan ucapan istrinya.
Ia masih takut dengan apa yang akan terjadi nantinya jika semua itu diketahui oleh Najwa.
"Apa lagi yang akan kamu sembunyikan dariku Mas ? Apa lagi ? Apa kamu tidak akan mengakui jika telah berbagi peluh dengan wanita lain, hah ? Jawab aku Mas !" Teriak Najwa penuh dengan emosi yang terus saja mengendalikan dirinya.
Pyarrrrrrrr
__ADS_1
Bagai disambar petir dipagi hari, Rehan tak dapat berkata apapun. Tuduhan dari Najwa memang benar adanya, ia telah berselingkuh dibelakang istrinya dengan Karina, sahabatnya dulu yang kini telah menjadi sekertaris di kantornya.
"Jawab aku Mas, hiks hiks !"
"Maafkan aku Najwa, aku bersalah !"
"Hiks hiks, apa semua itu karna kemandulanku Mas ?"
"Aku menginginkan keturunan Najwa, aku butuh pewaris keluarga. Maafkan aku !"
Jantung Najwa berhenti seketika, hatinya semakin sesak mendengar apa yang telah Rehan ucapkan.
Ternyata benar, perselingkuhan yang suaminya lakukan karna kemandulannya.
"Hiks hiks, apa karna hal ini kamu menduakan ku Mas Re ?"
"Maafkan aku Najwa, sejujurnya aku pun jatuh cinta kembali dengan sahabatku saat kuliah dulu. Dia adalah Karina, sekertarisku di kantor," Jawab Rehan jujur.
Bagaimana hatimu, jika suamimu sendiri mengatakan terang-terangan mencintai wanita lain ? Sedangkan ia telah memiliki seorang istri.
Bahkan mereka telah berani melakukan hubungan diluar batas layaknya sepasang suami istri...
Author mah udah mewek Da...huaaaaaaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Najwa berusaha tenang meskipun hatinya teramat sangat sesak. Ia menghela nafasnya berkali-kali memutuskan untuk memberi keputusan yang terbaik untuk rumah tangganya.
"Aku memang wanita tidak sempurna Mas, aku tidak bisa memberimu keturunan. Jika kau mencintainya, aku izinkan kau berbagi cinta Mas. Insyaallah aku rela dimadu."
Tes
Tes
Tes....sekuat tenaga dan hati, Najwa memberikan keputusan yang mutlak bahkan sangat menyakitkan untuk hati seorang istri pada umumnya. Duri yang ia jaga untuk tidak menginjak kakinya, kini tak mampu lagi ia halau. Bahkan duri itu, akan Najwa pijak setiap harinya.
Hu hu hu ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya !!!
Happy Ready guys
Bersambung💕💕💕
__ADS_1