
"Ya, anak kita. Aku tengah hamil anak kamu Mas !"
"Ha-hamil ?" Rehan dengan gagunya berbalik menatap Karina dengan tatapan tidak percaya.
Karina melangkah kembali mendekati suaminya dan memegang tangan Rehan menuntun menyentuh perutnya yang masih rata itu seraya berkata"Iya Mas, aku hamil anak kamu. Ini anak kita Mas, anak yang selama ini kamu impikan," Ucapnya tersenyum dan terus berusaha meyakinkan suaminya.
Rehan masih mematung tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ada rasa bahagia namun juga bimbang dalam hatinya. Anak yang selama 3 tahun ia nantikan bersama Najwa, namun tak kunjung hadir dan ini saatnya kebahagian akan lengkap saat Karina bisa memberikan apa yang dulu Najwa tidak bisa.
Namun tetap saja, kejanggalan pun Rehan rasakan saat mengetahui perselingkuhan istrinya dengan karyawan di kantornya.
Apa aku salah berfikir bahwa anak yang Karina kandung bukanlah anakku ? Gumam Rehan bertanya dalam hati.
"Mas...kamu gak bahagia ya dengan kabar aku hamil ?" Ucap Karina bergelanyut manja.
"A-aku, aku bahagia Karin. Tapi...."
Gawat...
"Mas, ini beneran anak kamu loh ! Dan Mas harus percaya itu !"
"Kenapa begitu yakin, kalau anak yang kau kandung adalah anakku ? Bukankah bukan hanya aku yang telah menanam benih di rahimmu Karina ?"
Pertanyaan sederhana namun begitu memojokan berhasil Rehan ucapkan dengan santai. Karina terdiam sejenak, ia yang lebih tau atas jawaban dari pertanyaan suaminya itu.
Sementara Rehan masih terus menatap manik mata wanita yang ada di hadapannya. Menanti jawaban jujur dari sang istri.
"Kenapa diam ?" Lanjut Rehan lagi.
"Apa kamu gak percaya ini anak kamu Mas ?" Ucap Karina balik bertanya.
"Aku butuh jawaban yang sejujurnya Karin, bukan pertanyaan !"
"Ya jelas ini anak kamulah Mas, mau anak siapa lagi,"
"Anak Bastian, selingkuhanmu."
Skakmat. Karina menutup mulut rapat-rapat saat nama Bastian Rehan sebut.
"Kenapa ? Apa ucapkanku benar hingga kamu terdiam Karin ?" Rehan terus memojokan Karina dengan pertanyaan yang menghunus bagai ujung pedang yang siap tertancap kapan saja ia mau.
"Mas, aku mohon kamu harus percaya sama aku Mas ! Ini beneran anak kamu, bukan anak Bastian," Karina terus saja meyakinkan Rehan dengan kata-kata permohonannya.
Rehan menghempaskan tangan yang tengah menyentuh kedua lengannya itu seraya berkata"Aku butuh bukti Karin ! Tidak semudah itu untuk lagi percaya setelah apa yang telah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku mau tes DNA !"
Wajah Karina terlihat pucat pasi mendengar Rehan yang akan melakukan tes DNA dengan anak yang tengah ia kandung.
Berkali-kali ia meneguk slivanya hanya untuk mencoba menenangkan diri sendiri agar tetap tenang dan tidak terlihat panik.
Sial....harusnya aku tau Mas Rehan gak mungkin percaya gitu aja setelah tau perselingkuhan ku...
Sementara Rehan sendiri masih menanti persetujuan dari Karina untuk secepatnya melakukan tes DNA dalam waktu yang sudah ditentukan untuk bisa melakukan tes.
"Mas, kenapa harus DNA segala sih ? Udah jelas kok ini anak kamu. Harus ya diragukan lagi ?" Ucap Karina masih belum menyerah berusaha meyakinkan Rehan.
"Dengar Karin, aku mungkin bodoh hingga berhasil kecolongan. Tapi setelah bukti terpampang jelas di depan mataku, untuk percaya lagi itu hanya tersisa 25%, dan sisanya hanya bukti yang akan membantu memenuhi kepercayaan itu."
"Tapi Mas, aku hany......"
__ADS_1
"Hanya baru berselingkuh ? Apa itu yang mau kamu ucapkan ? Aku muak Karin, jangan kau fikir dengan diamnya aku di rumah lantas aku tidak tau apapun apa yang sudah kau perbuat di kantor," Nada bicara Rehan yang sedikit tinggi membuat Karina tertunduk takut.
"M-mas, ak-aku....."
"Cukup......! Sudah cukup bicaramu Karina larasati. Sekarang dengarkan ! Setujui tes DNA atau aku tidak akan perduli sama sekali dengan semua ini juga termasuk kamu !" Ucap Rehan kembali memangkas kalimat Karina dengan tegasnya.
"Sekarang juga ikut aku kedokter kandungan !" Ucapnya lagi.
Karina pasrah dengan apa yang Rehan ucapkan. Ia mengikuti langkah suaminya menuju mobil.
Dengan cepat mobil Rehan melaju membentang luasnya jalanan menuju dokter spesialis kandungan.
Tidak ada percakapan di dalam mobil itu, keduanya sama-sama terdiam dengan pemikiran masing-masing.
25 Menit kemudian, mobil Rehan terparkir rapi di rumah sakit besar kota Jakarta.
"Turun !" Pinta Rehan seraya melepaskan shit belt miliknya.
Dengan berat hati Karina pun membuka pintu mobil dan mulai menapakkan kakinya. Sementara Rehan sudah menunggu Karina di depan mobilnya.
Keduanya mulai memasuki rumah sakit itu dan mulai bertanya pada resepsionis yang tengah berkutat di depan komputernya.
"Selamat siang Sus..." Sapa Rehan ramah.
"Siang, ada yang bisa saya bantu pak ?" Jawabnya.
"Apa dokter Hera ada di ruangannya ?"
"Dengan siapa pak ?"
"Baik pak, mohon tunggu sebentar !"
Resepsionis itu terlihat menelfon dokter yang akan Rehan temui. Kebetulan dokter Hera adalah sahabat orang tua Rehan, hingga mudah saja baginya untuk bertemu tanpa membuat janji.
"Dokter Hera ada di ruangannya pak, bapak Rehan diminta untuk menemuinya !" Ucapnya.
"Terima kasih Sus."
Tanpa berlama-lama, Rehan langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter Hera.
Tok
Tok
Tok.....
"Masuk !"
Ceklek..
Rehan membuka pintu ruangan dokter Hera.
"Selamat siang dok.."
"Siang, eh nak Rehan. Gak usah formal itu manggilnya !" Ucap Dokter Hera dengan senyum tipisnya.
"Eh, iya Tante.."
__ADS_1
"Ini....." Hera melihat wanita yang tengah berdiri dibelakang Rehan.
Rehan sendiri memahami maksud ucapan dokter Hera, ia pun langsung menjawabnya "Ini Karina Tan, istri Rehan."
Hera melongo tidak percaya, pasalnya ia hanya tau bahwa istri Rehan adalah Najwa.
"Rehan udah cerai dengan Najwa Tan," Lanjut Rehan lagi setelah melihat reaksi dokter Hera yang penuh banyak pertanyaan.
Dokter Hera hanya mengangguk-angguk tanda ia mengerti. Sebenarnya ia sangat ingin menanyakan kenapa pada Rehan, namun waktu dan tempat tidaklah tepat saat ini.
"Silahkan duduk !" Titah dokter Hera.
Rehan mengangguk, ia mendudukkan dirinya di kursi yang telah disediakan dan kemudian disusul oleh Karina.
"Nak Rehan mau konsultasi apa ?"
"Begini Tante, emmm...masih hamil apa bisa melakukan Tes DNA ?"
Raut wajah dokter Hera kembali menunjukan keterkejutannya, kemudian ia menjawab "Bisa, asal umur kandungannya sudah 12 Minggu," Jawab dokter Hera.
Rehan mengangguk, kemudian kembali berkata"Tolong periksa kandungan istri Rehan Tante !"
Dokter Hera sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada rumah tangga anak dari sahabatnya itu.
Ia pun mengangguk dan meminta Karina untuk berbaring di atas brankar.
Dokter Hera mulai memeriksa kandungan Karina. Dan tak lama kemudian pemeriksaan itu selesai, ia kembali kemeja kerjanya seraya menulis laporan pemeriksaan setiap pasiennya.
"Gimana Tante ?" Tanya Rehan tidak sabar.
"Janinnya sehat, perkembangannya juga bagus. Mulailah meminum susu ibu hamil untuk membantu perkembangan janin !"
"Usia kandungannya berapa Tante ?"
"Usia kandungan istri kamu sudah 8 Minggu Rehan, artinya kurang lebih sudah 2 bulan," Jawab Dokter Hera.
"Apa......du-dua bulan ?"
***Hallooo para Readers tecuintahh...
Mulai saat ini dan kedepannya insya Allah akan aktif lagi update...
Tetep setia baca yahhhh
Jangan lupa
like komen
dan votenya loh ! biar Author makin semangat up...
Dan yang paling penting..
Taqobballahu minna wa minkum barakkalahu fiikum
Minal aidzin walfaidzin ya...mohon maaf lahir dan bathin
Bersambung...❣️❣️❣️***
__ADS_1