
1 Minggu telah berlalu, saat ini keadaan Rehan pun sudah membaik.
Setelah kejadian dimana Najwa mengirimkan surat gugatan cerai, Karina sebisa mungkin membujuk Rehan untuk segera menandatanganinya dan menyerahkan pada kantor pengadilan.
"Apa lagi yang kamu harapkan dari Mbak Najwa Mas ? Dia sudah tidak perduli lagi denganmu. Bahkan untuk menghubungimu saja tidak ia lakukan," Ucap Karina.
"Maka aku yang akan menemuinya !" Tegas Rehan.
"Percuma Mas, Mbak Najwa tidak akan mau menemuimu," Tambahnya lagi.
"Kenapa ?"
"Ya karna dia sudah tidak lagi peduli, jadi untuk apa menemuimu yang bukan lagi suaminya."
"Saya masih suaminya, Karin. Saya belum menandatangani surat cerai itu apa lagi menyerahkannya pada pengadilan."
Sial.....
"Awas, aku akan menemui Najwa sekarang juga."
Rehan tidak perduli lagi dengan ucapan Karina yang selalu memojokan Najwa bahwa ia tidak lagi perduli dengan suaminya.
Mobil yang ia kendarai melesat jauh dari kediamannya menuju butik NJ.
Tak butuh waktu terlalu lama, Rehan berhasil memarkirkan mobilnya didepan butik milik istri pertamanya itu.
"Pagi pak..." Sapa Amel dan Rara yang memang sudah tau siapa yang datang kebutiknya.
"Pagi, kemana istri saya ?" Tanya Rehan.
"Ada di atas pak, sebentar saya panggilkan."
__ADS_1
"Tidak perlu, biar saya saja yang kesana !" Ucapnya.
Rehan menapaki anak tangga untuk bisa mencapai tempat yang selama ini Najwa tempati setelah keluar dari rumah suaminya.
"Kenapa Mel, ada ap___"
Deg.....
Najwa terpaku setelah melihat seseorang yang sudah 2 minggu ini tidak ia temui.
"Mas Rehan," Gumam Najwa lirih.
Rehan berkaca-kaca melihat sosok yang selama ini ia rindu kehadirannya. Sosok yang sudah 2 minggu ini menghilang dalam pandangannya.
"Mas rindu kamu sayang, tolong jangan menggugat ceraiku Najwa !" Ucapnya seraya berhambur memeluk tubuh yang mulai terlihat kurus itu.
Tak lagi bisa ia tahan, Najwa menangis entah bahagia atau menangis mengingat luka yang Rehan torehkan pada hatinya.
Hati yang sudah terlanjur sakit, tidak lagi bisa ia obati meskipun kembalinya Rehan Alfariq sebagai suaminya.
Bukan hati yang tak mau memaafkan, namun ada hati yang lain juga sangat membencinya.
Najwa tidak bisa harus hidup berdampingan dengan rasa benci dan dendam. Cemburu itu hal yang biasa, namun jika caranya melewati batas, maka tidak ada kata maaf untuk bisa mengubur luka lalu dan membuka lembaran baru.
"Hadirku dalam hidupmu tidak lagi ada gunanya Mas Rehan. Kamu pasti bisa melupakan kenangan kita yang lalu dan membuat kenangan baru bersama dengan Karina dan anak-anak kalian nanti," Ucap Najwa dengan iringan tetesan bening dari matanya.
"Sudah cukup Papa yang menghukumku karna bersikap tidak adil padamu Najwa. Tolong jangan kau buat aku merasa terluka dengan sikapmu yang seolah tidak perduli denganku."
"Kamu mengatakan aku tidak perduli Mas ? Masih tidak sadar diri kamu ya Mas, kemana selama ini disaat aku butuh dukungan dan ketenangan akan kenyataan yang baru aku dapatkan Mas ? Jangan mengatakan aku membuat hatimu terluka Mas Rehan, kalau pada kenyataannya kamulah yang sudah membuat hatiku hancur hingga tidak lagi bisa ku bangun dengan utuh seperti semula. Hiks hiks, aku tidak lagi bisa hidup dalam rumah tangga yang seperti orang asing Mas." Tangis Najwa pecah setelah berhasil mengungkapkan apa yang selama ini Rehan tidak sadari.
"Aku bersikap seperti itu karna aku terlalu terkejut dengan kenyataan yang ada Najwa. Aku belum bisa menerima takdir yang seolah tidak berpihak pada kita ini. Maafkan Mas sayang, Mas mohon cabut gugatan cerai itu !"
__ADS_1
"Keterkejutan tidak akan berlanjut dengan perselingkuhan Mas Rehan. Hatimu telah buta dengan obsesimu yang sangat ingin memiliki seorang anak. Maka saat aku tau kau berselingkuh, aku mulai menata hatiku kembali Mas. Agar hatiku tidak terlalu terkejut saat rumah tangga kita berada diujung tanduk perpisahan. Maafkan aku Mas, sabar yang kumiliki tidak lagi bisa ku pertahankan !" Ucap Najwa dengan hati yang ia coba kuatkan ketegarannya.
"Mas akan lakuin apapun Najwa, tapi tolong cabut gugatan cerai itu. Mas janji akan bersikap adil dengan kalian, Mas mohon Najwa !" Ucap Rehan seraya memohon pada Najwa.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan dariku Mas. Tidak perlu banyak tantangan yang kuberikan padamu, hanya 1 jawaban yang aku minta sebagai penguat hatiku untuk bisa mempertahankan rumah tangga kita."
"Katakan sayang, apapun itu !" Ucap Rehan terlihat bersemangat.
Najwa sangat ragu dengan jawaban yang akan ia terima dari suaminya itu. Namun dengan cara inilah, ia bisa tau bahwa suaminya benar tulus masih berharap hadirnya atau hanya sebuah rindu sesaat karna hal yang terbiasa.
"Katakan Najwa, apa syarat yang harus Mas lakuin untuk bisa mempertahan rumah tangga kita ?" Ucap Rehan lagi yang terlihat sangat tidak sabar.
"Sejujurnya aku seorang wanita bahkan seorang istri Mas, tidak akan bisa sanggup melihat suamiku harus bermesraan dengan perempuan manapun. Cintaku untukmu tulus tak bersyarat Mas Rehan, aku rela terluka demi bisa melihatmu bahagia walau bahagia itu bukan aku yang menciptakan."
Najwa terdiam sejenak setelah mengucapkan beberapa patah kata sebelum hal inti yang ingin ia utarakan itu terucap.
Rehan sendiri masih tidak memahami dengan ucapan Najwa.
Ia hanya terdiam mendengarkan dengan seksama setiap kata dari mulut istri pertamanya itu.
"Aku terpaksa menerimamu menikah lagi Mas Rehan. Dengan arti yang sebenarnya aku tidak rela harus berbagi suami dengan wanita mana pun. Jika aku bertanya padamu untuk memilih salah satu diantara 2 pilihan, jawaban apa yang akan kau berikan untukku Mas ?"
💕💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya !!!
Happy Reading guys...
__ADS_1
Bersambung💕💕💕