
Najwa memulai kehidupan barunya sebagai abdi ndalem seraya belajar agama dengan Umi Abibah atau pun Rania.
Kegiatannya tak jauh berbeda seperti hari-hari sebelumnya, yang membedakan kali ini ia hanya fokus pada hijrahnya untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi.
Seperti mimpi saat ia dipertemukan dengan Ibunya, Najwa mulai memahami sedikit demi sedikit arti takdir kehidupan yang sesungguhnya.
Siang itu, Najwa tengah membantu Umi Abibah memasak. Dikarenakan putra sulung keluarga ndalem hari ini akan pulang dari abdiannya di pesantren milik sang paman.
"Masak apa lagi Umi ?" Tanya Najwa.
"Ayam kecap sama sambel terasi aja Mbak ! Kebetulan anak Umi suka sekali dengan Ayam," Jawab Umi Abibah.
Najwa hanya mengangguk seraya menyiapkan bumbu yang diperlukan.
Tak terasa 1 jam berlalu, makanan yang mereka masak telah siap tersaji di meja makan.
"Najwa keasrama dulu Umi," Pamitnya.
"Iya Mbk. Nanti sekalian panggilkan Rania ya !"
"Iya Umi. Asalammualaikum."
"Waalaikumsalam," Jawab Umi.
Selepas perginya Najwa, Umi Abibah menyambut kedatangan suaminya yang baru saja pulang dari masjid.
Kyai Arifin adalah pendiri dan penanggung jawab pondok pesantren Ar-Rasyid. Para santri dan orang pesantren sering kali memanggilnya dengan Abah Arif.
"Kenapa lama sekali Bi ?" Tanya Umi seraya mencium tangan suaminya.
"Banyak kegiatan Mi," Jawab Abah Arif.
"Si sulung belum sampe Mi ?"
"Belum Bi, mungkin sebentar lagi."
Tak lama kemudian...
__ADS_1
"Assalammualaikum..."
"Waalaikumsalam wr wb..."
"Masya Allah Fatih, anak Umi." Umi langsung berhambur memeluk anak sulungnya itu yang sudah hampir 2 tahun mengabdi di pesantren milik adik Kyai Arifin.
"Iya Mi, ini Fatih."
"Masuk yuk nak ! Umi udah masakin kesukaan kamu," Ajaknya.
"Na'am Umi.."
Muhammad Al-Fatih, anak pertama Umi Abibah dan Abah Arif. Baru 2 tahun lalu beliau lulus dari kuliahnya di Al-Azhar kairo dan kembali ketanah air langsung mengabdikan dirinya di pesantren milik sang paman.
Fatih mendudukan dirinya di kursi meja makan seraya menatap beberapa makanan kesukaannya yang telah tersaji itu.
"Bukan umi yang masak ya ?" Tanya Fatih menghentikan suapannya.
"Iya Nak, kenapa ? Apa tidak enak ?"
"Tidak Mi, bahkan ini sangat enak. Masakan Umi aja kalah," Ucap Fatih seraya tersenyum.
"Najwa ? Siapa Umi ?"
"Sahabat Rania, dia menjadi abdi ndalem saat ini," Jelas Umi.
Fatih hanya ber-oh ria seraya melahap kembali makanan itu kedalam mulutnya.
"Mbak Najwa belum kesini Mi ?" Tanya Abah Arif.
"Belum Bah, biar Umi panggilkan."
Saat ingin melangkah pergi, seseorang mengucapkan salam dari balik pintu.
"Waalaikumsalam, nah ini yang baru diomongin. Masuk Mbak !"
"Terima kasih Umi, maaf Rania tidak bisa ikut masih banyak kegiatan mengajar," Ucap Najwa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mbak, dia akan menyusul. Yuk kita makan sama-sama !" Ajak Umi dan Najwa hanya mengangguk seraya melangkahkan kakinya mengikuti Umi Abibah.
"Duduk Mbak !" Titah Abah Arif.
Najwa hanya mengangguk seraya menundukkan kepalanya. Sementara Fatih masih fokus melahap makanannya tanpa memperdulikan siapa yang tengah berbicara dengan orang tuanya.
'Apa dia anak Umi ?' Gumam Najwa dalam hati yang sempat melirik seseorang dihadapannya itu.
Karna tidak melihat dengan jelas wajah Fatih, Najwa memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap orang yang ada dihadapannya.
Fatih menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikannya.
Ia pun memberanikan diri menatap seseorang yang telah berani menatapnya secara diam-diam.
Namun saat keduanya saling menatap, Fatih yang daya ingatnya lumayan kuat, ia begitu terkejut setelah melihat seseorang yang pernah ia temui sebelumnya.
"Loh, Mbak yang dulu sempat saya tabrak kan ?"
***Maaf kan Author udah 2 hari gak up..
Karna lagi kurang enak badan jadi gak punya ilham buat nulis....
Hari ini Author bela-belain up walaupun sedikit demi kalian yang selalu setia menunggu " Takdir Najwa"
Do'akan Author moga cepet sembuh biar bisa grazy up lagi*** ....
Tapi......
💕💕Tetap tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya...
Happy Reading guys .
__ADS_1
Bersambung💕💕💕