Takdir Najwa

Takdir Najwa
Niat Fatih


__ADS_3

Hari-hari telah berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Sudah dua bulan setelah pertemuannya dengan Rehan, kini Najwa sudah mulai bisa melanjutkan hidupnya kembali seperti biasa.


Tidak mudah memang, melupakan seseorang yang sudah tertanam dalam hati. Apalagi setelah sekian lama, seseorang itu kembali muncul dan membuat kenangan yang sudah lalu mendadak melintas begitu saja dalam lamunan.


Najwa yang masih tetap menjadi abdi ndalem, sungguh membuat para santri lainnya merasa iri.


Bukan hanya kecantikan yang Najwa miliki hingga mampu memikat para Rejal terkhususnya Gus Fatih, ustadz idaman pondok pesantren Ar-rasyid.


Akhwat mana yang tidak terpikat akan keshalehannya, tampan juga pintar dalam segala hal.


"Asalammualaikum sahabatku," Sapa Rania yang menghampiri Najwa.


"Eh, waalaikumsalam.."


"Ngelamun ya, hayooo ngelamunin apa sih ?" Tanya Rania seraya mendudukan dirinya di samping Najwa.


Cerita gak ya ? Aku takut Rania cemburu dan sakit hati kalau aku ceritain kejadian tadi pagi..


"Hei...kok malah bengong lagi ? Ada apa Najwa Almahira, cerita sama aku deh !"


"Emmm, ta-tadi...."


"Tadi apa, Gus Fatih ?" Tebak Rania yang ternyata langsung diangguki oleh Najwa.


"Kenapa dengan Gus Fatih ?" Tanya Rania lagi bersemangat.


Awal saat memutuskan hubungan dengan Gus Fatih, Rania masih merasakan betapa sakitnya ia harus mengambil keputusan itu. Keputusan yang ia sendiri sebenarnya tidak menginginkan. Tapi seiring berjalannya waktu ia semakin sadar bahwa jika semakin dipertahankan hidup keduanya tidak akan ada yang bahagia. Perlahan dan pasti, Rania mulai bisa melupakan mantan calon suaminya itu.


Dan saat ini, ia tidak terkejut jika Gus Fatih semakin gencar mendekati Najwa.


Flashback On


Najwa yang sehari-harinya terbiasa di rumah Umi, tidak merasakan canggung saat tengah berada di rumah itu. Apa lagi untuk urusan dapur, Najwa seraya memiliki dunia sendiri di dapur itu.


"Udah selesai, masak udah, beberes juga udah...ngapain lagi ya....?"


"Temenin saya kalau mau Mbak !" Seseorang tiba-tiba muncul entah dari mana.

__ADS_1


"Hah, eh Gus.....maksudnya apa ya ?"


"Temenin saya duduk di pelaminan !"


Blus....


Wajah Najwa mendadak panas, ia menundukan wajahnya yang terlihat mulai bersemu merah layaknya kepiting goreng.


Tidak dipungkiri juga, Najwa tersenyum malu mendengar gombalan ustadz tampan yang satu ini.


"Ehemmm senyumnya malu-malu...Mbak Najwa, boleh saya berkata jujur dan serius ?"


"A-apa Gus...?"


"Saya....saya ingin berta'aruf dengan Mbak Najwa, apa Mbak Najwa mau ?"


Deg...


Jantungnya berdetak dengan kencang, gugup rasanya dalam dada seraya ada yang mau loncat.


Najwa menatap sekilas lelaki yang ada di depannya itu. Meskipun jarak mereka berdiri cukup jauh, tapi Najwa dapat melihat manik matanya sekilas mencari sebuah kejujuran disana.


"A-apa Gu-gus Fatih yakin mau mengajak saya ta'aruf ?"


"Iya saya yakin, apa Mbak Najwa tidak mau saya ajak ta'aruf ?"


Najwa terdiam, sungguh tidak menyangka bahwa seorang gus pesantren yang terkenal menjadi idaman setiap para santriwati itu mengajaknya berta'aruf.


Hatinya masih diselimuti rasa takut, sakit hati yang diberikan mantan suaminya mampu membuat Najwa tidak percaya lagi apa itu cinta. Bahkan untuk membuka hati, ia pun harus memikirkannya seribu kali.


Tapi aku tidak yakin Gus, apa setelah tau keadaanku yang sebenarnya Gus Fatih tetap mau menerimaku ?


Aku seorang Janda, yang diceraikan oleh suamiku karna tidak bisa memberikannya keturunan.


Aku takut, jika di pernikahanku harus kembali menghadapi poligami...jujur saja aku tidak sanggup lagi menerima hal itu...hatiku sudah cukup sakit menerima pengkhianatan dari mas Rehan dan aku tidak mau mengulang hal yang sama untuk kedua kalinya.


"Sebelum Gus Fatih mengambil keputusan sendiri, lebih baik Gus Fatih bicarakan dulu masalah ini pada Umi juga Abah. Ada hal penting yang harus Gus Fatih tau tentang saya !"

__ADS_1


"Hal penting ? Apa itu ?" Tanya Fatih semakin penasaran.


"Saya akan menjawabnya setelah Gus Fatih meminta izin pada Umi juga Abah. Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, saya pamit keasrama Gus, Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Flashback Off


"Lalu apa jawabanmu ? Maksudku, apa sudah kau fikirkan jawabannya ?" Tanya Rania menatap sahabatnya itu dengan serius.


Najwa menggeleng, ia sendiri tidak tau jawaban apa yang harus di berikan untuk gus Fatih.


Ketakutan tiba-tiba saja menyeruak dalam hatinya, ia takut jika kebenaran tentang dirinya membawanya dalam jurang yang curam.


Ia tidak bisa berkata bohong, bahwa ada rasa ketertarikan pada seorang yang menjadi idaman setiap santriwati di pesantren itu.


***


Hari telah berganti malam, Gus Fatih yang bertanya-tanya dalam hati hal penting apa yang ada dalam seorang Najwa.


Ia memutuskan untuk berbicara hal ini pada kedua orang tuanya.


"Umi, Abi....boleh Fatih bicara sesuatu ?"


"Bicara saja nak !" Jawab Umi seraya meletakan kopi untuk suaminya.


"Fatih berniat untuk menta'aruf Mbak Najwa Mi, Bi...apa Abi sama Umi setuju ?"


Uhuk...uhuk.....


"Apa...?"


❣️Tinggalkan


Vote


Like

__ADS_1


Komen oke !


Bersambung❣️


__ADS_2