Takdir Najwa

Takdir Najwa
Menyalahkan


__ADS_3

"Tidak Rania, Umi tidak setuju Fatih menikah dengan Mbak Najwa !" Tukas Umi Abibah dengan tegasnya.


Rania sendiri tidak mengerti kenapa Umi Abibah tidak begitu menyukai keputusannya itu.


"Tapi kenapa Umi ?" Tanya Fatih kali ini.


"Kenapa ? Umi punya alasan tersendiri untuk itu. Atau jangan-jangan kamu memang menyukai mbak Najwa ?" Tanya Umi penuh selidik.


Fatih yang kalah telak dengan Uminya hanya terdiam tak berani menjawab apapun.


Sementara Umi begitu memahami sikap anaknya. Jika diam, ada sesuatu yang tengah di sembunyikan darinya.


"Kenapa diam ? Diammu membuat Umi semakin yakin Fatih."


"Umi, sudahlah kenapa harus di besar-besarkan. Mbak Rania sudah memutuskan, kita sebagai orang tua tidak seharusnya memaksa kehendak anak Mi," Ucap Abah Arif menasehati istrinya.


"Baiklah, Umi menuruti apa yang sudah kalian putuskan. Tapi Umi juga tetap pada keputusan Umi, Umi gak setuju kalau Fatih harus menikah dengan Mbak Najwa," Ucap Umi tegas dengan keputusannya itu.


"Iya tapi kenapa Umi ?" Tanya Abah Arif.


"Umi gak bisa jelasin panjang lebarnya Bi, intinya Umi gak setuju !"


Umi Abibah dengan perasaannya yang campur aduk itu memilih pergi meninggalkan ketiganya yang masih duduk diruang tamu.


"Maafkan saya Dek !" Ucap Fatih yang merasa bersalah dengan Rania.


"Gak perlu meminta maaf Gus, sekarang saya sudah memberi jalan untuk kalian. Tinggal bagaimana Gus Fatih menyakinkan Umi untuk memberikan restunya," Jawab Rania seraya tersenyum dibalik Niqabnya.


"Kenapa kamu begitu yakin nak, bahwa Fatih akan berjodoh dengan Mbak Najwa ?" Tanya Abah yang sedari tadi ingin mempertanyakan hal ini pada Rania.


"Sahabat Rania itu sudah menderita sebelumnya Bah, bahkan hidupnya tidak seperti yang kalian bayangkan sebelumnya. Saat ia meminta untuk dijemput dan membawanya kepesantren ini, dari situ Rania sudah yakin bahwa kebahagian Najwa adalah dipesantren ini. Keyakinan itu bertambah saat Gus Fatih selalu memandangnya dengan berbeda, Rania menyadari itu sedari awal Gus. Maaf, bukan Rania bermaksud apapun, tapi hati Rania mengatakan bahwa sebenarnya Gus Fatih lebih tertarik dengan sahabat Rania," Jelas Rania panjang lebar.


Fatih hanya diam seraya memandang sosok akhwat yang ada dihadapannya.


Ia tidak mengerti terbuat dari pada hati wanita ini, ya Tuhan.


Kenapa ia begitu mudahnya melepaskan seseorang yang mungkin saja ia kagumi sejak lama hanya karna sahabatnya.


Sementara Abah Arif hanya mengangguk paham setiap kata yang Rania ucapkan.


"Biar Abah yang akan bicara dengan Umi," Ucapnya.


"Na'am Abah. Kalau begitu Rania pamit. Kasihan Najwa sendirian."


"Na'am silahkan !"


"Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam wr wb..."


Rania merasa lega dengan apa yang sudah ia utarakan pada keluarga Gus Fatih.


Namun ia tidak memikirkan bagaimana kedepannya dengan Najwa.


Najwa yang sudah terbangun dari istirahatnya, ia mencari keberadaan Rania.


"Rania kemana sih ?" Gerutunya.

__ADS_1


Ceklek....


Terdengar suara pintu terbuka.


"Dari mana Ran ?"


"Astagfirullah," Rania terkejut seraya mengelus dadanya.


"Udah bangun ?" Najwa mengangguk pelan.


"Kamu dari mana ?" Tanya Najwa lagi.


"Rumah ndalem," Jawab Rania seraya melepaskan niqabnya dan duduk disamping Najwa.


"Ya Allah, pasti Umi sibuk ya ? Kenapa malah aku enak-enakan tidur sih," Gerutu Najwa.


"Gak kok, aku kesana bukan buat beres-beres."


"Terus ?"


"Aku menyelesaikan yang harusnya aku selesaikan sedari dulu."


"Gak ngerti deh," Ucap Najwa seraya menggeleng.


"Aku memutuskan hubunganku dengan Gus Fatih."


"Apa ?" Ucap Najwa terkejut kemudian melanjutkan lagi kalimatnya." Kenapa ?"


"Ya karna memang gak jodoh," Jawab Rania santai.


"Ran, aku tau bukan itu alesannya. Jujur sama aku, kenapa ?" Najwa terus mendesak Rania untuk mengatakan sejujurnya.


Rania langsung menggeleng dengan cepat." Bukan kok."


"Aku gak mau maksain hati seseorang untuk menyukaiku Naj," Jelasnya.


"Maksudnya Gus Fatih gak suka sama kamu ?"


"Mengagumi Iya, tapi tidak untuk cinta. Gus Fatih gak cinta sama aku Najwa, aku gak bisa maksa dia buat suka sama aku kan ?"


"Ya tapi gak maen putus gitu aja dong Ran. Cinta itu bisa datang dengan sendirinya saat kita sudah terbiasa dengan kebersamaan."


"Mungkin. Tapi tetep aja aku gak bisa ngelanjutin, plis deh jangan bahas itu lagi ya !" Pintanya.


Najwa hanya mengangguk. Dalam hatinya banyak seribu pertanyaan yang ingin ia dapatkan jawabannya segera.


Namun karna Rania nampaknya tidak terlalu bersemangat, Najwa mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya tentang hubungan sahabatnya dengan Gus Fatih.


***


Hari yang sudah menjelang sore, Najwa memutuskan untuk kerumah Umi mengingat hari ini ia belum beberes disana.


Sementara Rania kembali memfokuskan dirinya mengajar para santriwati.


"Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam, eh mbak Najwa. Masuk Mbak !" Titah Abah.

__ADS_1


Najwa mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur untuk memulai pekerjaannya.


Tak berapa lama saat Najwa tengah mencuci piring, munculah Umi dengan membawa beberapa gelas.


"Asalammualaikum Umi," Sapa Najwa.


"Waalaikumsalam."


Najwa terkejut dengan sikap Umi yang tidak seperti biasanya. Bahasanya juga mulai ketus dan datar.


'Apa keluarga ini lagi ada masalah ?' Tanya Najwa dalam hati.


Ia kembali melanjutkan lagi pekerjaannya. Hingga waktu pun telah memasuki ashar, Najwa memilih kembali keasrama untuk mempersiapkan diri shalat berjama'ah. Hari ini rumah ndalem terasa sepi dan sunyi tidak seperti biasanya, Umi yang biasanya selalu mengajak Najwa berbincang seraya bercanda kini tidak lagi ia temukan dirumah itu.


'Apa aku punya salah sama Umi ? Kenapa beliau terlihat sangat ketus begitu ? Tidak seperti biasanya' Najwa kembali bergumam dalam hatinya.


"Bah, boleh Najwa tanya sesuatu ?" Tanya Najwa saat ingin melangkah meninggalkan rumah itu.


"Na'am Mbak silahkan !"


"Umi kenapa ya Bah ? Gak biasanya Umi diem kayak gitu."


Abah Arif yang tengah menikmati kopi buatan Najwa itu seraya melirik kearah Najwa.


"Mungkin Umi lelah Mbak, secara akhir-akhir ini Umi banyak kajian dikampung sebelah," Jawab Abah menutupi.


"Tapi gak biasanya, apa Najwa punya salah ya Bah ?"


Belum sempat Abah Arif menjawab pertanyaan Najwa, seseorang menimpali ucapannya itu dengan datarnya.


"Iya, kenapa menghasut Rania untuk memutuskan hubungan dengan Fatih sih Mbak ? Apa salah sahabatmu itu, bukankah beliau yang selalu ada disaat Mbak Najwa menceritakan keluh kesahnya hidup berumah tangga ? Sahabat macam apa yang tega menyuruh sahabatnya untuk mundur dari sebuah hubungan," Tukas Umi Abibah.


Deg......


Najwa yang tidak mengerti apapun, hatinya bagai ditusuk ribuan jarum.


Bahkan ia sendiri terkejut saat sahabatnya mengatakan telah memutuskan hubungannya dengan Gus Fatih, lalu kenapa beliau yang harus disalahkan dengan adanya perkara ini ?


"Umi........." Bentak Abah Arif.


"Maksud Umi apa, Najwa tidak mengerti ?" Tanya Najwa dengan mencoba bicara baik-baik.


"Karna kamu, Rania harus memutuskan hubungannya dengan putraku."


"Umiiiiiiiii, Abi tidak pernah mengajarkan untuk bicara tidak sopan dan tidak beradab seperti ini kepada orang lain. Mbak Najwa tidak mengerti apapun Mi, dia tidak tau apapun. Lagi pula apa maksud Umi menceritakan keluh kesah berumah tangga, apa Mbak Najwa sebelumnya sudah bersuami ?"


💕💕Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya...


Buah duku buah semangka


Gimana selanjutnya yak ???

__ADS_1


Happy Reading guys..


Bersambung💕💕💕


__ADS_2