
Najwa masih enggan untuk kembali melanjutkan perdebatannya dengan Gus Fatih.
Rasa sakit akan penghianatan yang mantan suaminya lakukan membuatnya harus menutup rapat-rapat hatinya itu.
Tidak lagi butuh kata cinta untuk saat ini, yang ia butuhkan hanya ketenangan hati dan orang-orang yang selalu mendukungnya dari belakang.
Setelah dari rumah Umi Abibah, Najwa buru-buru kembali keasramanya. Ia ingin menceritakan yang sama sekali tidak ia sangka kejadiannya.
"Asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam, dari mana Naj ?" Tanya Rania.
"Dari rumah Umi Ran, aku mau cerita deh. Tadi Umi meminta maaf atas ucapannya yang kemaren itu."
"Alhamdulilah, sesuai dugaanku Naj. Abah gak akan biarin istrinya untuk berlarut-larut menghakimi seseorang, apa lagi jelas-jelas orang itu gak tau apa-apa," Ucap Rania.
Najwa hanya mengangguk, hatinya begitu lega. Dengan begitu kedepannya ia akan seperti biasa menjalani hari-harinya tanpa ada rasa takut dan khawatir.
***
Minggu berganti bulan, sudah hampir setengah tahun Najwa hidup dalam ketenangan dunia pesantren.
Selama itu pula Gus Fatih selalu gencar dengan gombal dan bicara manisnya itu.
Namun Najwa tetaplah Najwa, yang tidak mudah membuka hati setelah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati.
"Udah hampir 6 bulan Naj kamu tinggal dipesantren. Selama itu pula aku melihat Gus Fatih tidak menyerah mengejarmu. Apa sebaiknya tidak kau coba saja membuka hati ?" Ucap Rania saat tengah mempersiapkan dirinya untuk mengajak Najwa belanja kitab.
"Tidak Ran, aku belum bisa. Rasa takut masih menyelimuti, aku takut melakukan kesalahan hingga membuatku harus kembali merasakan bagaimana patah hati," Tolak Najwa.
Rania menghela nafasnya perlahan, ia masih mencoba memahami bagaimana posisi Najwa saat ini.
Pengkhianatan tidak bisa dilupakan meskipun dengan hal yang baru sekalipun.
Najwa enggan membuka hati untuk pria mana pun meski Ustadz sekaligus yang melamarnya.
"Kenapa harus ngomongin masalah hati sih. Jadi gak nih ?" Tanya Najwa mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Jadi dong. Yuk !"
Rania serta Najwa meminta izin untuk pergi keluar mencari kitab yang ia butuhkan.
Dengan menggunakan motor milik Abah Arif, Rania membonceng sahabatnya itu menuju tempat biasa ia membeli buku.
1 Jam perjalanan, hingga akhirnya motor itu berhasil Rania parkirkan didepan toko buku.
"Ditoko ini lengkap Naj, aku biasa membelinya disini," Ucap Rania memberitahu.
Najwa hanya mengangguk paham dengan ucapan sahabatnya itu.
Keduanya memasuki toko dan mulai memilah milih buku yang ia cari.
"Naj, aku cari disana ya ?"
"Na'am," Jawab Najwa.
Keduanya berpisah lorong untuk mencari buku dan kitab yang mereka butuhkan.
Sementara Rania yang sudah menemukan kitab yang ia cari merasa kesusahan untuk mengambilnya.
"Astagfirullah, itu buku tinggi banget sih," Gerutunya seraya meloncat-loncat berusaha mengambil buku itu.
Tiba-tiba tangan besar dan panjang berhasil mengambil buku itu seraya memberikannya pada Rania.
"Afwan, terima kasih Akhi," Ucap Rania seraya menundukan pandangannya.
"Sama-sama, apa ada yang mau diambil lagi ?"
Rania langsung teringat dengan sahabatnya. Pasti Najwa belum dapet kitabnya, gumamnya dalam hati.
"Afwan kalau boleh, ambilkan punya teman saja juga Akhi !"
"Boleh, dimana temannya ?" Tanyanya.
"Ada di lorong sebelah sana !" Ucap Rania.
__ADS_1
"Baiklah, mari !"
Rania jalan lebih dulu untuk menghampiri sahabatnya itu.
"Belum dapet ya ?"
"Astagfirullah, ngagetin deh," Gerutu Najwa.
"Heheh ya maaf. Belum dapet kan ?"
"Udah, itu disana. Tapi tinggi, aku baru aja manggil karyawan tokonya."
"Biar Akhi ini yang ambil kan Naj !"
"Hah ?"
"Afwan Akhi, bisa ambilkan yang itu !" Pinta Rania.
Yang tadinya masih fokus dengan ponsel, lelaki itu tiba-tiba menghentikan kegiatannya saat wanita yang dihadapannya itu meminta kembali mengambilkan buku.
Tiba-tiba pandangannya beradu pada sosok yang selama ini ia rindukan.....
Deg .......
Benarkah itu kamu ?
💕Tinggalkan
Vote
like
Komen kalian ya
Happy reading guys
Bersambung💕
__ADS_1