
*Wahai suamiku..
Mungkin aku tak cantik
Aku tak sebaik dan sebijak perempuan lain.
Aku bukan wanita luar biasa, bukan pula wanita yang sempurna.
Aku hanya wanita yang terkadang khilaf dan membuat salah.
Maafkan aku yang terkadang lalai akan kewajibanku, maafkan aku yang terkadang khilaf seakan bisa tanpamu.
Maafkan aku yang terkadang membuatmu terluka, maafkan aku yang selalu merindu dan maafkan semua kekuranganku.
Namun percayalah...
Semenit rasa kesalku, kalah dengan sejuta rasa rinduku.
Rasa gelisah, kalah dengan rasa nyaman berada di sampingmu.
Rasa takut, kalah dengan rasa sayangku.
Terimakasih telah memilihku, terima kasih telah bersabar menghadapiku dan terima kasih atas segalanya.
Semoga engkau selalu mencintaiku dengan segala kekuranganku, walaupun rasa itu telah kau bagi dengan yang lainnya.
Begitu pun aku yang akan selalu mencintaimu dengan segala kekuranganmu.
Semoga rasa lelah dan keringatmu setiap hari, senantiasa menjadi ibadah yang berkah.
Ikatan ini adalah janji kita untuk saling membagi waktu, menjalani hidup bersama dan melewati suka duka bersama.
Meskipun saat ini, janjimu harus terbagi dengan dia, maduku*.
Najwa Almahira.
Ia menutup buku hariannya dengan catatan isi hati seorang istri yang cintanya telah terbagi.
Tetesan demi tetesan air mata itu membanjiri buku yang tengah Najwa tulis.
Pilu hatinya tidak ada yang tau, sakit lukanya tidak ada yang mampu mengobatinya.
Bahkan luka itu dibuat dengan sengaja oleh orang yang selalu ia cintai, orang yang selalu menjadi penyemangat hidupnya.
Rasa rindu yang ia tahan selama seminggu ini, tak lagi bisa ia curahkan selain menuliskannya dengan sebuah rangkaian kata.
Tanpa ada kabar dan balasan pesan yang ia kirimkan pada suaminya.
Hari ini, tepat dihari ke 7 mereka melakukan bulan madunya. Dan selama itu, Najwa hanya sendiri namun terkadang ia disibukan dengan pekerjaan di tokonya.
Ting tong ting tong
Najwa berlari membuka pintu.
Ceklek...
"Mas Rehan." Najwa langsung berhambur memeluk tubuh suaminya.
Pelukan itu adalah rindu yang selama 1 minggu ia tahan.
"Aduh mbak, suami kita ini lagi capek loh. Kok manja banget sih," Celetuk Karina dengan sinisnya.
"Maaf Mas," Najwa melepaskan pelukannya.
"Mas istirahat dulu ya Dek, nanti malam Mas kekamarmu !" Ucap Rehan.
Tanpa menjawab apapun, Najwa hanya mengangguk dengan tatapan sendunya seraya menatap lengan suaminya yang tengah dirangkul mesra oleh Karina.
"Ayo Mas !" Ajak Karina pada Rehan.
__ADS_1
Najwa hanya menatap nanar kemesraan suami bersama dengan istri keduanya.
Harapan ia bisa melepas rindu dengan suami, kini hanya angan belaka yang tidak pernah bisa ia dapatkan.
Balasan pelukan hangat yang selalu ia rindu, kini tak lagi Najwa rasakan.
Hati suaminya yang dulu telah sirna, cinta suaminya yang tulus, telah memudar. Bahkan telah tergantikan dengan sosok Karina yang selalu ada di posisi itu.
Najwa hanya bisa menghela nafasnya seraya bersabar lebih banyak lagi.
"Mungkin benar, Mas Re kelelahan. Aku akan bersabar menunggu giliranku malam nanti. Huh....oke Najwa persiapkan dirimu !" Ucapnya seraya menyemangati diri sendiri.
Siang itu, Najwa memilih pergi kesalon untuk memanjakan dirinya. Ia melakukan perawatan yang menyegarkan tubuhnya. Malam ini akan menjadi malam spesialnya bersama Rehan. Sebisa mungkin Najwa tidak akan mengecewakan suaminya. Semua itu ia lakukan hanya semata-mata ingin mendapatkan perhatian dari Rehan.
"Mbak saya mau pedikur juga ya !" Pinta Najwa.
"Baik mbak, silahkan berbaring !" Titah karyawan salon.
' Ku tunggu kamu nanti malam Mas, semoga dengan begini aku tidak mengecewakanmu ' Gumam Najwa dengan penuh harap.
Selepas dari salon, Najwa memilih pergi ke tokonya mengambil beberapa lingeri untuk ia kenakan malam nanti.
Ia ingat dengan kata-kata suaminya disaat dulu mereka melakukan malam pertama. Bahwa suaminya sangat menyukai Najwa mengenakan lingeri berwarna merah mencolok.
Najwa begitu semangatnya saat mengambil lingeri itu di tokonya.
"Seneng banget kayaknya Mbak Najwa," Ucap Amel karyawan tokonya.
"Suaminya pulang kali, jadi kan ya gitu.." Sambung Rara.
"Kalian kenapa ?" Tanya Najwa yang terheran melihat 2 karyawannya tersenyum saat menatapnya.
"Eh, gak papa mbak. Pak bos pulang ya ?" Tanya Amel.
"Hehhe iya Mel...." Jawab Najwa malu.
"Pantesan Mbak Najwa ambil lingeri hi hi," Sambung Rara terkekeh.
"Kalian ini...."
"Semangat ya mbak !" Ucap Amel dan Rara kompak seraya terkekeh.
"Mbak pulang dulu ya Mel, Ra. Tutup toko seperti biasa aja !" Titahnya.
"Siap mbak Bos....!" Ucapnya kompak memberi hormat.
Najwa kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan toko butiknya itu.
Dengan hati yang tidak sabar, Najwa memilih mandi lebih awal dari biasanya.
Setelah makan malam selesai, Najwa beranjak kekamarnya lebih dulu untuk merias dirinya.
Sangat tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Najwa berusaha tampil secantik mungkin didepan suaminya.
Sejujurnya ia pun sangat merindukan belaian kasih sayang dari Rehan yang sudah hampir 3 minggu ini tidak ia dapatkan.
Najwa bisa memahaminya dengan kondisi Rehan yang mungkin tengah kecewa karna kebenarannya itu. Namun ternyata ujiannya tidak sampai disana, Najwa harus dikejutkan dengan kabar perselingkuhan suaminya bersama sekertarisnya di kantor.
Dipukul 8 malam, Rehan mulai mengunjungi kamar Najwa.
Ceklek...
"Sayang...."
"Mas....Aku sangat merindukanmu Mas," Ucap Najwa memeluk erat tubuh suaminya.
"Mas juga sangat merindukanmu Najwa," Balas Rehan memeluk.
"Kamu cantik sekali sayang,"
__ADS_1
Cup....
Saat tengah melakukan pemanasan, keduanya dikejutkan dengan suara ketukan pintu.
Tok
Tok
Tok
"Mas......."
Tok
Tok
Tok
Ceklek...
"Kenapa Rin, malam ini tolong izinkan aku bersama Najwa !" Pinta Rehan.
"Tapi aku takut petir Mas, aku takut sendiri," Ucap Karina.
"Tidak akan ada apa-apa Karina, tenanglah !" Ucap Rehan berusaha menenangkan istri keduanya itu.
Hati Najwa semakin sakit, bahkan saat malam gilirannya pun ia harus berhadapan lebih dulu dengan madunya.
Rehan melirik kearah Najwa, seolah meminta saran apa yang harus ia lakukan.
Najwa tak memberi kode apapun, ia hanya ingin melihat bagaimana suaminya akan mengambil langkah yang tepat untuk kedua istrinya.
Namun ternyata......
"Najwa, izinkan Mas untuk menemani Karina, setidaknya sampai ia tertidur baru Mas akan kembali kekamarmu !"
Deg......
Apa lagi ini, kenapa Mas Rehan lebih memperdulikan istri keduanya yang sudah lebih banyak menghabiskan waktu bersama ?
Sementara Aku ? Aku hanya butuh 1 malam saja untuk bersama suamiku sendiri, tapi kenapa rasanya itu sulit sekali ?
Ya Tuhan, kau uji bagaimana lagi kesabaranku ini ? Pikir Najwa.
Najwa mengangguk mengalah, ia harus merelakan suaminya lebih dulu menemani istri keduanya.
1 Jam telah berlalu, namun Rehan tak kunjung mendatangi kamarnya. Najwa masih setia menunggu dan bersabar, Rehan sudah berjanji akan kembali kekamarnya setelah Karina tidur, karna itu Najwa yakin bahwa Rehan pasti akan menepatinya.
Jarum jam sudah berada diangka 10, Rehan masih tak kunjung datang kekamarnya.
Hingga Najwa lelah, ia memutuskan untuk menyusul suaminya kekamar madunya itu.
Sampai disana, ia dikejutkan dengan suara ******* Karina yang begitu kerasnya seraya menyebut nama suaminya.
"Ahh, mas Rehan..!"
Deg..
Tes tes tes ' Beginikah janjimu Mas, hiks hiks apa aku sudah tidak lagi penting dalam hidupmu ? Aku hanya butuh 1 malam saja untuk bisa bersamamu Mas Re, kenapa sulit sekali mengabulkan permintaan kecilku ini. Aku berusaha untuk tidak membuatmu kecewa, memakai lingeri, pergi kesalon dan merias diri. Namun ternyata, aku yang kau buat kecewa Mas. Hiks hiks apa salahku ?'
💕💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya
Happy reading guys..
__ADS_1
Bersambung💕💕💕