
Najwa terdiam setelah mendengar apa yang Riki ucapkan. Sejujurnya hatinya terasa sangat sesak mendengar bahwa suaminya tengah makan siang bersama perempuan lain.
"Apa Ibu mau menunggu di dalam bu ?" Tawar Riki.
"Eh, tidak usah Ki, saya pulang saja," Jawab Najwa berusaha tersenyum.
"Baik Bu, mari saya antar !" Ucap Riki dan Najwa pun mengangguk.
Sesampainya di rumah, Najwa meletakan kembali bekal makanan yang tadi ia siapkan untuk suaminya.
Najwa membuka kotak makan itu seraya menyuapkannya kedalam mulutnya.
Tes
Tes
Tes
Air itu mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Hati dan cinta yang selama ini ia bina bersama dengan suami, kini seakan memudar secara perlahan dari genggamannya.
"Aku mengerti kenapa kau begini Mas Re, tapi tidakkah Mas mengingat setiap harinya kebersamaan kita, kebiasaan kita ?" Gumam Najwa lirih disela-sela isak dan tangisnya.
Sore harinya, Najwa menunggu suaminya pulang seraya menyiapkan makanan yang telah selesai ia masak.
"Semoga Mas Re suka," Ucapnya bersemangat.
Benar saja, tak lama dari itu suara bel rumah pun berbunyi.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam Mas." Seperti biasa Najwa menyambut kepulangan suaminya dengan penuh cinta. Ia mengambil alih tas Rehan dan meraih tangan suaminya itu.
"Mau makan atau mandi dulu Mas ?"
"Bisa gak sih, kalau suami pulang kerja itu gak usah diberi pertanyaan ?"
Deg....
Hati Najwa perih, sakit dan sesak rasanya. Selama 3 tahun Rehan tidak pernah bersikap seperti ini pada dirinya. Tidak seperti biasanya pertanyaan sekecil apapun dari Najwa selalu ia jawab dengan senyum yang manis.
"Mas Re kenapa ? Kan Najwa cuma nanya Mas. Kok jawabnya gitu banget,"
"Sudahlah, aku lelah !" Rehan meninggalkan istrinya yang masih terdiam mematung.
"Kenapa Mas Rehan bersikap dingin seperti itu ya ? Apa terjadi masalah dikantor ?" Gumam Najwa berusaha berfikir positif.
Setelah berkutat dengan pertanyaan dalam hatinya, Najwa menyusul suami kedalam kamarnya.
Hal yang mengejutkan terjadi setelah Najwa masuk kedalam kamar.
Suaminya terlihat tengah menelfon seseorang dibalkon kamarnya seraya tertawa bahagia.
"Mas Rehan telfon siapa ? Kenapa terlihat bahagia sekali ?" Tanya Najwa dalam hati.
Najwa masih berfikir positif dengan suaminya. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan siapa suaminya berbicara ditelfon.
__ADS_1
Najwa meletakan tas kerja suaminya diatas meja dan ia pun berlalu kekamar mandi.
30 Menit berlalu, dan kini sudah
1 Jam Rehan masih setia mengobrol dengan seseorang itu.
Saking penasarannya, Najwa mencoba untuk menyusul suaminya di balkon kamar mereka.
"Mas, telfon siapa sih ?"
"Udah dulu ya, nanti sambung lagi. By..." Rehan mengakhiri panggilan telfonnya.
"Bukan siapa-siapa, hanya teman kantor," Jawab Rehan berlalu pergi kedalam kamarnya.
Najwa semakin penasaran dengan siapa suaminya berbicara.
"Apa wanita yang tadi siang makan bersama Mas Rehan ?" Tebak Najwa.
Najwa masuk kedalam kamarnya, terdengar gemercik air dari dalam kamar mandi bahwa ada seseorang di dalam sana.
"Mas Rehan mandi, apa aku cek aja ponselnya ya ?"
Rasa penasaran bercampur takut menjadi satu dalam benak seorang Najwa.
Hingga ia memutuskan untuk melihat nama kontak yang terakhir suaminya melakukan panggilan telfon.
Baru saja ia ingin menyentuh ponsel itu, tiba-tiba...
Tring...
Matanya membulat sempurna, hati yang selama ia jaga hanya untuk suaminya seakan tak berguna setelah ia membaca isi pesan itu.
Ia mengscroll isi berbalas pesan antara suaminya dengan Karina, nama yang tertulis dengan jelas di pesan itu.
Karina..
Baiklah Mas, kalau memaksa. Besok jemput aku jam 7 !
"M-mas ? Bahkan ia memanggil suamiku dengan sebutan Mas. Ya Allah, ada apa ini ? Kenapa perasaanku mendadak tidak enak," Najwa bergumam seraya meletakan kembali ponsel suaminya.
"Sedang apa kamu disitu ?" Tanya Rehan tiba-tiba mengejutkan Najwa.
"Astagfirullah, maaf Mas cuma mau ambil charger. Sini biar Najwa aja yang keringkan rambutnya !"
Rehan menurut, iya membungkukan badannya dan memberikan handuk itu pada Najwa.
Najwa merasa sangat bahagia bisa bersikap manis dengan sang suami.
"Mas boleh Najwa tanya ?"
"Tanya apa ?"
"Tadi siang kenapa mas tidak pulang kerumah untuk makan ?"
...Deg........
__ADS_1
Rehan menjauhkan tubuhnya dari sang istri. Ia menatap mata teduh istrinya itu. Rehan tidak tau bahwa Najwa siang tadi telah mengantarkan bekal untuknya kekantor.
Bahkan Najwa telah memperingati Riki untuk tidak memberitahu suaminya bahwa ia datang kekantor.
"Oh itu, ada mitting dengan clien, jadi sekalian makan siang bareng," Bohong Rehan.
Hati Najwa semakin sakit, suaminya tidak berkata dengan jujur atas apa yang telah ia lakukan.
' *Kenapa kamu berbohong Mas, bahkan aku tau siang tadi kau kemana dan dengan siapa. Aku hanya ingin kau menjawab dengan jujur untuk menyakinkan hatiku bahwa kau memang hanya mencintaiku Mas. Aku tidak perduli kau berteman dan bergaul dengan siapapun selagi masih bisa menjaga batasan mu sebagai seorang suami. Apa rumah tangga yang selama 3 tahun kita bangun akan runtuh begitu saja Mas, apa kau tidak mau mendukungku karna kemandulan ku ini* ?' Gumam Najwa dalam hati.
"Tidur yuk, sudah malem !" Ajak Rehan.
Najwa mengangguk pasrah, ia membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu.
1 Jam berlalu, Rehan sudah tertidur lelap dengan mimpinya. Sementara Najwa masih setia dengan pemikirannya, sikap suaminya yang berubah membuat Najwa makin penasaran dengan Karina.
Ia mengambil ponsel Rehan dan kembali membaca pesan mereka yang saling berbalas. Dan panggilan terakhir itu, benar sesuai dugaannya. Nama karina tertulis jelas di daftar panggilan paling atas.
"Kenapa kau harus bersembunyi dariku Mas Re ? Apa cinta yang kau tunjukan untukku perlahan mulai memudar dengan adanya Karina ? Hari ini sikapmu padaku berbeda Mas, kau bukan Rehan suami ku yang dulu, yang selalu memperlakukanku dengan manja dan cinta. Apa perubahan sikapmu juga karna kemandulanku Mas ?"
Tes
Tes...
Najwa kembali menitikan air matanya dalam diamnya.
Dalam gelapnya malam, tidak ada yang tau bahwa hatinya tengah rapuh, hatinya tengah terluka, dan sandarannya pun mulai menjauh.
Sungguh takdir apa yang kau mainkan ini tuhan ?
Kenapa aku harus merasakan kekejaman hidup ini ?
Sampai kapan menunggu Takdir akan mengubah kehidupan seorang Najwa dengan gelimang bahagia ?
Hatinya yang mulai rapuh ini, akan membawa malapetaka dalam hidupnya yang semakin hari semakin runtuh cintanya.
Bahkan sandaran penyemangat baginya, mulai tak perduli dan perlahan menjauh.
Begitu malangkah nasib ku ini ya Allah....
Kuatkan Iman dan taqwaku dalam menghadapinya.
Catatan malam yang kubuat dengan sayatan luka yang mulai membuka rongga hatiku, seraya perih tersiram api yang penuh dengan bara panasnya.
La illa hailla anta subhanaka inni kuntum minalzhalimin
💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya
Happy Reading guys
__ADS_1
Bersambung💕💕💕