Takdir Najwa

Takdir Najwa
Tawanan preman


__ADS_3

Ditemani sinar rembulan digelapnya malam, Fatih duduk seraya menatap wanita yang tengah duduk dihadapannya itu.


Sementara Najwa, lebih memilih duduk sedikit jauh dari keduanya.


"Dek...."


"Iya Gus," Jawab Rania tak kalah gugupnya.


"Jika dalam waktu dekat ini, Adek saya halalin, apa sudah siap ?" Tanya Fatih dengan keseriusannya.


"Apa tidak terlalu cepat Gus ?"


"Tidak, dek. Sudah saya pikirkan masalah ini secara matang."


"InsyaAllah saya siap Gus," Jawab Rania.


"Baiklah, mahar apa yang Adek minta ?"


"Ar-rahman saja Gus," Jawabnya.


Fatih hanya mengangguk-angguk setelah mendengar jawaban dari Rania.


Bukan tanpa alasan ia menginginkan pernikahan ini dipercepat, ada ketakutan dalam hatinya jika lebih lama lagi untuk menundanya.


Pilihan orangtuanya adalah bakti yang harus ia penuhi. Fatih tidak menolak untuk mengkhitbah Rania, bahkan ia pun memang perlahan mulai mengagumi sosok akhwat yang akan di khitbahnya itu.


Hal berbeda telah ia rasakan saat hadirnya seseorang yang pernah ia temui sebelumnya dalam ketidaksengajaan.


Melihat senyumnya yang tidak biasa membuat Fatih seolah lupa dengan statusnya saat ini.


"Ada lagi Gus ?" Tanya Rania yang memang sudah tidak tenang.


"Emmmm, gak ada dek," Jawab Fatih seraya tersenyum ramah.


"Kalau gitu kami pamit kembali keasrama." Fatih mengangguki apa yang Rania ucapkan.


"Assalammualaikum..."


"Waalaikumsalam wr wb."


Fatih hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa ia sadari, ada seseorang tengah memperhatikannya sedari tadi.


'Apa itu mungkin ?' Gumamnya dalam hati.


***


Keesokan harinya, seperti biasa Najwa menjadi juru masak di dapur umum sebelum ia membantu Umi Abibah di rumah ndalem.


"Mbak Najwa umur berapa ?" Tanya salah satu santriwati yang membantunya memasak.


"25 Ukhty, kenapa ?"


"Mbak Najwa masih kelihatan muda. Apa belum ada niatan untuk menikah ?" Tanyanya.


...Najwa menghentikan aktifitasnya, ia sendiri bingung harus menjawab apa....


Menikah dan jatuh cinta sudah pernah ia rasakan. Namun karna keadaannya lah yang mengakhiri semuanya.


"Mbak bisa cerita ke Maya ! InsyaAllah Maya bisa jaga rahasia," Ucap santriwati itu yang bernama Maya.


Najwa menatap Maya dengan penuh harap, ingin rasanya ia membagi keluh kesahnya pada seseorang yang bisa dipercaya. Namun tidak semudah itu Najwa mampu mempercayai seseorang yang baru ia kenal.


"Belum waktunya May," Jawab Najwa memaksakan senyumnya.


"Ah, mbak Najwa mah gak seru. Padahal kan Maya pengen punya temen curhat juga."


"Memangnya Maya gak punya temen curhat ?"


Maya langsung menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kenapa ?" Tanya Najwa lagi.


"Maya bar-bar kalau kata orang-orang."


"Barbar itu imut tau, Maya percaya gak kalau Mbak Najwa juga barbar aslinya ?"


"Gaklah. Mbak Najwa itu pendiem, gak petakilan kayak Maya."


"Tapi Maya salah, Mbak Najwa aslinya barbar kalau ketemu temen yang sama petakilannya."


"Yey, berarti kita satu propesi dong," Ucap Maya bersemangat.


"Tentu saja," Jawab Najwa tersenyum.


"Mbak, ikhwan yang kayak gimana yang mbak Najwa harepin buat jadi imam ?" Tanya Maya.


"Rejal yang bisa menerima kita apa adanya May. Yang bisa saling memahami satu sama lain, melengkapi kekurangan, bisa terbuka dan saling jujur," Jawab Najwa dengan tatapannya yang kosong.


"Uh, dalem banget Mbak. Tapi kalau menurut Maya semua itu tidak akan lengkap kalau imam kita gak punya pendirian agama mbak. Semua kehidupan, agama adalah pondasinya sebelum didirikannya tiang rumah tangga."


Jleppp


Hati Najwa seraya dicubit setelah mendengar jawaban dari Maya.


Diumurnya yang berbeda 5 tahun itu, pemikiran Maya bahkan jauh lebih dewasa dari pada dirinya.


Apa selama ini aku salah dalam memilih kriteria calon suami ? Pikir Najwa.


"Lelaki yang shaleh, memahami agama, dia pasti tau bagaimana cara menghargai seorang wanita Mbak. Ya meskipun gak semuanya baik sih, tapi segaknya dia memahami arti tentang kehidupan dan sebuah keputusan," Lanjut Maya lagi.


...Najwa hanya bisa mendengar dengan seksama apa yang Maya ucapkan....


Ia memikirkan bagaimana sebelumnya ia mengambil keputusan yang sangat singkat hanya karna lelah hidup sendiri.


Tes


Tes


Tes


Sesal bagaimana hidupnya yang tidak beraturan itu, shalat 5 waktu selalu ia jalankan, namun jika tidak mengerti hal yang lainnya semua itu akan sia-sia.


Najwa tidak memahami apapun selebihnya dari yang inti. Setelah mendengar penjelasan dari Maya, kini ia semakin memahami kenapa mimpi itu menunjukan untuk dirinya lebih dekat lagi pada sang maha pencipta.


"Mbak Najwa kenapa ? Cerita Maya sedih ya, gimana ya Maya hibur mbak Najwa biar gak nangis lagi," Celoteh Maya.


"Gak perlu kok ! Cerita Maya membuat Mbak terinspirasi."


"Habis ini, bisa temani Mbak ke pasar gak ? Mbak lagi pengen makan ikan belanak," ucap Najwa


"Astagfirullah mbak, ikan itu gak ada yang beranak, adanya yang bertelor. Mbak mau buat dunia geger gegara ikan beranak ?"


Yah, dia bar-bar nya kumat !


"Ya udah, ikan kembung deh,"


"Mbak Najwa, di pasar itu ikannya kecil-kecil namanya kempes, gak ada yang kembung," jawab Maya lagi.


Sabar Najwa !


"Apa aja deh, ikan baronang pun jadi," ucap Najwa kali ini mulai jengah.


"Astagfirullah, mbak ini mimpi di siang bolong ya ? Ikan memang berenang mbak, gak ada yang jalan kaki apa lagi naek becak !"


"Maya !"


"Apa ?"


"Sabodo theing !" jawab Najwa kesal berlalu pergi meninggalkan Maya.

__ADS_1


Setelah berhasil mendapat izin dari Umi, Najwa ditemani Maya menuju pasar menggunakan sepeda motor milik Abah Arif.


Kejadian tak terduga pun terjadi, segerombolan preman menghadangnya tepat dijalan yang terlihat sangat sepi.


"Mau kemana cantik ?"


"Afwan Bang, saya mau ke pasar. Permisi !"


"Eits, jangan buru-buru gitu dong ! Gimana kalau kita main-main dulu ?" Ucap salah satu preman itu.


Preman yang lain sudah berhasil membekap mulut Maya dengan tangannya.


"Astagfirullah Maya, tolong ! Siapa pun tolong kami !" Najwa berteriak meminta tolong.


"Diam, percuma kamu meminta tolong. Tidak akan ada yang bisa mendengar kalian ha ha ha," Preman itu tertawa bangga karna telah berhasil membekap keduanya.


Maya dan Najwa tidak sadarkan diri karna obat bius yang preman itu berikan pada mereka.


10 menit kemudian, Maya mulai sadar dan mengerjapkan matanya perlahan.


"Astagfirullah, aku dimana ?"


"Ya Allah Mbak Najwa," Ucap Maya setelah melihat Najwa yang masih tidak sadarkan diri.


Maya mulai mencari sesuatu yang bisa memotong tali yang mengikat tangan dan kakinya.


Perlahan dan penuh kesabaran, tali yang mengikat tubuh Maya itu mulai terlepas setelah ia berhasil menggesekkan nya beberapa kali pada ujung meja.


"Mbak, mbak Najwa....!" Panggil Maya seraya menepuk pelan pipi Najwa.


Najwa mulai mengerjapkan matanya seraya menoleh kanan dan kiri.


"Astagfirullah, Maya kamu gak papa ?" Tanya Najwa dengan khawatir.


"Maya gak papa Mbak. Biar Maya banyu lepas iketannya !" Maya mulai melepas ikatan satu persatu tali yang ada di tangan dan kaki Najwa.


Tali yang ditangan Najwa berhasil Maya lepas, namun saat beralih pada kaki, tiba-tiba ada seseorang yang memasuki ruangan itu.


"Maya kamu cepet keluar dari sini !" Pinta Najwa dengan suara berbisik.


"Tapi Mbak Najwa gimana ?"


"Jangan pikiran Mbak May, selamatkan dirimu lebih dulu. Saat sudah keluar nanti, carilah bantuan buat nolongin Mbak !" Ucap Najwa.


Maya mengangguk. Saat salah satu preman membuka pintu, Maya telah bersembunyi dibalik pintu.


"Bang, saya mohon lepasin saya !" Ucap Najwa seraya memohon.


"Cuih, ngelepasin kamu tanpa ku nikmati lebih dulu ? Tidak akan !" Jawabnya.


Najwa terus saja mengajak preman itu berbicara untuk mengalihkan perhatiannya.


Maya yang mengerti maksud Najwa, segera keluar dari balik pintu dan berlari secepat mungkin.


"Hei jangan kabur, kamu cepet kejar dia !" Titah kepala preman itu pada anak buahnya.


"Temanmu sudah berhasil lolos dari cengkraman kami, gimana kalau kamu saja yang jadi tawanan gantinya ?" Ucap Kepala preman itu pada Najwa seraya tersenyum licik dengan tatapan yang menuntut.


"Saya mohon jangan Bang !" Ucap Najwa seraya memohon dengan isak tangis yang sudah membanjiri wajahnya.


💕💕💕Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya..


Happy Reading guys..

__ADS_1


Bersambung💕💕💕


__ADS_2