
Brak..
Dengan sekali tendangan, pintu itu berhasil ia dobrak.
"Siapa kamu ?" Ucap kepala preman itu dengan tatapan ingin membunuh.
"Lepaskan dia sekarang ! Atau gerombolan polisi yang akan membuatmu melepaskan dia," Ancamnya.
"Hahaha polisi ? Silahkan saja panggil polisi kalau berani, sebelum kau melakukannya sudah ku pastikan wanita ini tidak lagi bernyawa !" Ancamnya balik.
Namun saat ingin mulai menggoreskan pisau yang ia bawa pada wajah Najwa,
suara sirine polisi mulai terdengar.
Buru-buru para kawanan preman itu kabur dengan sendirinya.
"Astagfirullah, mbak gak papa ?" Tanyanya.
"Tidak papa."
'Ya Allah ini darurat, pegang dikit gak papa mungkin '
"Afwan mbk, boleh saya bantu lepasin iketannya ?"
Najwa yang sudah merasa lemas akibat lelahnya berteriak dan menangis, hanya bisa mengangguk kan kepalanya tanpa berbicara.
****
Sementara Maya yang sudah berhasil melarikan diri dan sampai di pesantren buru-buru memberitahu kejadian penculikan yang ia alami.
"Astagfirullah Najwa." Rania yang begitu shock karna sahabatnya menjadi korban penculikan itu terduduk lemas seraya menitikan air matanya.
"Umi, Abah kita harus segera kesana !" Ucap Rania.
"Iya nak. Tapi dimana Fatih ?" Tanya Umi.
"Kita tidak punya banyak waktu lagi Mi, nanti biar Fatih coba Abi yang hubungi. Sekarang kita selamatkan dulu mbak Najwa," Ucap Abah Arif.
Semuanya mengangguk setuju. Dengan diantar Mang Ujang, supir pesantren mereka ber-empat menuju lokasi dimana Najwa disekap.
Tak butuh waktu yang lama, mobil itu pun sampai di lokasi.
Ternyata disana sudah banyak para gerombolan polisi yang tengah mengintrogasi Najwa dan Fatih.
Ya, sayangnya yang menolong Najwa adalah Fatih. Saat ia hendak melewati jalan yang sangat sepi itu, Fatih menghentikan motornya karna melihat motor yang sangat ia kenali terparkir dipinggir jalan tanpa ada orang yang membawanya.
Diwaktu yang bersamaan, Fatih mendengar suara teriakan dari sebrang jalan lebih tepatnya di sebuah gudang kosong yang sangat usang dan tidak layak ditempati.
Dengan perlahan tapi pasti, Fatih mulai mendekati gudang usang itu.
Ia dikejutkan dengan seorang perempuan yang keluar dengan berlari begitu cepatnya seraya mengangkat sedikit gamisnya keatas.
Fatih sedikit lega saat perempuan itu berhasil kabur dari gerombolan preman. Ia pun melangkahkan kembali kakinya kejalan utama.
__ADS_1
Namun langkahnya kembali terhenti saat ia kembali mendengar suara teriakan wanita dari dalam gudang.
Hingga ia pun memutuskan untuk mendekati dan mendobrak paksa pintu itu.
"Najwa, ya Allah kamu gak papa ?" Rania berlari menghampiri Najwa seraya berhambur memeluknya.
"Aku gak papa Ran, Gus Fatih sudah menolongku," Jawabnya lirih membalas pelukan sahabatnya.
Kenapa aku merasa ada hal yang aneh disini ? Gumam Rania dalam hati seraya menatap Najwa dan Fatih bergantian dengan seksama.
"Mbak Najwa gak papa ?" Tanya Umi yang juga ikut mendekati Najwa.
"Alhamdulilah gak papa Umi," Jawabnya seraya tersenyum.
Sementara Fatih dan Abah Arif tengah berbincang dengan polisi untuk mengusut tuntas masalah ini hingga para preman itu berhasil ia jebloskan kedalam jeruji besi.
Saat semuanya sudah merasa aman dan tenang, mereka semua memutuskan kembali kepesantren.
Najwa hanya diam tak bergeming setelah kejadian itu menimpanya.
Tak jauh berbeda dengan Fatih, ia hanya bisa mengerutuki dirinya yang sudah sangat kelewat batas.
Sementara Rania yang melihat raut wajah keduanya mendadak diselimuti dengan banyak pertanyaan dalam hatinya.
' Ya Allah ampunilah hamba yang khilaf ini !' Bathin Fatih seraya menatap langit-langit kamarnya.
' Apa yang sudah hamba lakukan ya Allah, bagaimana kalau Rania tau ? Apa dia mau memaafkan kekhilafanku ini ?' Gumam Najwa dalam hati.
' Aku menyadari perasaanmu yang sebenernya wahai rejal. Maka kedepannya sudah kuputuskan untuk memberikan kebahagianmu yang sesungguhnya. Aku ikhlas....lilahita'ala' Gumam Rania.
"Naj, aku mau ngomong deh," Ucap Rania mendekati ranjang Najwa seraya mendudukan dirinya disana.
Najwa menoleh dan menatap manik mata sahabatnya dengan lekat. Ia kemudian mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Kamu percaya takdir Najwa Almahira ?"
"Iya aku percaya."
"Kamu percaya, bahwa Gus Fatih adalah jodohmu yang sesungguhnya ?"
Najwa langsung menjauhkan dirinya dari Rania. Ia menatap dengan lekat manik mata itu.
Rania meraih kedua tangan Najwa seraya mengelusnya pelan.
"Kenapa Naj, kamu percaya gak ?"
"Untuk itu aku gak percaya Ran. Gus Fatih sudah mengkhitbahmu, mana mungkin ia akan berjodoh denganku. Ucapanmu itu, sungguh gak lucu," Ucap Najwa.
Rania terkekeh mendengar apa yang Najwa ucapkan. "Khitbah itu belum halal Naj, apapun masih bisa terjadi seiring berjalannya waktu. Tapi kalau Gus Fatih memang jodohmu, aku ikhlas kok. Demi sahabatku ini," Ucap Rania dengan ketegaran hatinya seraya menoel dagu milik Najwa.
"Apaan sih. Aku gak maulah, pokoknya aku gak mau ya...meskipun kamu paksa, kayak gak ada laki-laki lain aja." Gerutu Najwa.
"Lagian ya, aku gak mau menikah dalam waktu dekat Ran. Masa iddahku belum selesai, lagi pula aku ingin memfokuskan diriku belajar agama dan menjadi wanita yang lebih baik lagi. Untuk kembali menikah, itu belum ada dinota rencana ku saat ini."
__ADS_1
Rania mengangguk-angguk paham, namun tetap saja ada yang mengganjal dalam hatinya.
Mungkinkah aku harus putuskan masalah ini sendiri ? Pikir Rania.
****
Sementara di rumah ndalem, Abah mencoba untuk mengajak anak sulungnya itu bicara dari hati kehati sebagai sesama lelaki.
Tok
Tok
Tok
"Boleh Abi masuk ?" Tanya Abah Arif saat mengetok pintu kamar Fatih.
"Masuk aja Bi, gak dikunci !"
Ceklek...
Abah membuka pintu setelah mendapat izin dari anaknya. Ia mendudukan dirinya di tepi ranjang seraya menatap Fatih dengan banyak pertanyaan yang telah ia siapkan.
"Boleh Abi tanya sesuatu, Fatih ?"
"Na'am Abi, silahkan !"
Abah Arif terlihat menghela nafasnya berulang kali mencoba memberikan pertanyaan pertamanya itu.
"Apa kamu yakin dengan Rania Nak ?"
Fatih membenarkan posisi duduknya dan menatap lekat netra abinya.
Seraya menggaruk-garuk tengkuk lehernya Fatih berkata " Kenapa Abi bertanya seperti itu ? Bukankah sudah jelas Fatih mengkhitbah Rania ?"
"Mulut pandai mengelak Fatih, tapi sikap dan hatimu tidak bisa membohongi Abi," pungkasnya.
"Maksud Abi ?"
"Akhir-akhir ini Abi selalu perhatikan sikap kamu yang mulai salah tingkah saat berbicara dengan Mbak Najwa, betul begitu ?"
Hayo loh, Najwa sama Fatih ngapain ya ???
💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya...
Biar Author makin semangat Up nya...
Happy Reading guys...
__ADS_1
Bersambung💕💕💕