Takdir Najwa

Takdir Najwa
Gara-gara shampo


__ADS_3

"Loh, Mbak yang dulu sempat saya tabrakkan ?"


Umi dan Abah menatap keduanya dengan hati yang bertanya-tanya. Betulkah sebelumnya mereka pernah bertemu ?


"Tabrak ? Betul mbak Najwa pernah ditabrak Fatih ?" Tanya Abah memastikan.


"Sebenarnya bukan anak Abah yang salah, tapi Najwa yang jalannya kurang hati-hati dan gak sengaja motor Gus Fatih menyerempet Najwa," Jelasnya.


"Astagfirullah, terus mbak Najwa gak papa ?" Sambung Umi Abibah bertanya.


"Alhamdulilah saya gak papa Umi."


"Kamu gimana sih Nak, kok bisa sampe menyerempet orang ?"


"Afwan Umi, waktu itu juga Fatih buru-buru mau beli kitab," Jawab Fatih merasa bersalah.


"Sekali lagi saya minta maaf mbak !" Ucap Fatih.


"Tidak apa-apa Gus, itu juga salah saya," Jawab Najwa tersenyum.


Deg.....


Pikiran Fatih teralihkan seketika melihat seseorang yang ada dihadapannya itu memberikan sebuah senyuman yang menurutnya sangat luar biasa.


"Ehemmmm..." Umi Abibah berdehem mengalihkan perhatian Fatih.


' Astagfirullahaladzhim...'


"Maaf Umi, Najwa kedapur dulu," Pamitnya.


"Na'am Mbak, silahkan !"


Selepas perginya Najwa, Umi Abibah beralih menatap Fatih.


"Kenapa Umi melihatku seperti itu ?" Tanya Fatih.


"Inget status kamu sekarang Fatih, kamu bahkan sudah mengkhitbah seorang akhwat yang tak lain itu Rania, sahabat mbak Najwa. Umi mohon kendalikan hatimu !" Nasehat Umi.


"Memangnya kenapa dengan hatiku Mi ? Fatih sudah meminta Rania untuk menjadi pendamping hidup Fatih, maka Fatih tidak akan menyia-nyiakan apa lagi mengkhianatinya."


"Sekarang kamu berkata seperti itu Fatih, tapi Umi sebagai seorang Ibu tidak yakin dengan ucapanmu itu," Ucap Umi.


"Umi, gak boleh gitu ! Jodoh, maut, dan rezeki sudah ada yang mengaturnya. Jika Fatih tidak berjodoh dengan Rania, tidak ada yang bisa menentangnya apa lagi melawan takdir." Abah Arif menasehati istrinya itu.


"Dan kamu Fatih, Abi hanya bisa menasehatimu tanpa harus bertindak selagi kamu bisa menyelesaikannya sendiri. Jagalah hati perempuan nak, apa lagi perempuan itu telah kamu khitbah," Ucap Abah beralih menasehati anak sulungnya itu.


"Na'am Umi, Abi. Fatih pasti akan ingat itu," Jawabnya dengan mantap.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Fatih memilih untuk mengistirahatkan sejenak tubuhnya itu.


Sementara Najwa telah pergi keasrama untuk mengantarkan makan siang sahabatnya.


Sudah 3 hari Najwa mengabdikan dirinya di pesantren. Selama itu pula, ia bisa melupakan sedikit demi sedikit masa lalu yang selalu ada dipikirannya itu.


Tidak ada yang tau status Najwa selain sahabatnya dan juga Umi Abibah. Rania tidak ingin semua orang memandang Najwa hanya sebelah mata karna statusnya itu.


"Udah ketemu dengan Gus pesantren ini ?" Tanya Rania seraya menyuap makanan yang Najwa bawa untuknya.


"Sudah," Jawabnya singkat.


"Menurutmu gimana aku dengan beliau Naj ?"


"Gimana apanya ? Bukannya kamu udah dikhitbah ya ? Udah pasti cocokan, kalian juga saling menyukai satu sama lain."

__ADS_1


'Aku memang sudah dikhitbah Gus Fatih Naj, tapi aku tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Semuanya bisa berubah begitu saja sesuai jalannya takdir. Aku hanya perlu menyiapkan diri dan melapangkan hati apapun yang terjadi nanti, aku merasa bahwa kehadiranmu adalah bahagia yang akan kau jemput Naj' Gumam Rania dalam hati.


"Kenapa melamun ? Hubungan kalian baik-baik aja kan ?" Tanya Najwa lagi.


"Alhamdulilah, tidak ada masalah," Jawab Rania tersenyum dibalik niqabnya.


Keduanya bercanda ria hingga tak terasa waktu pun sudah berubah menjadi sore.


Najwa yang hendak mandi, tiba-tiba saja kehabisan sampo.


"Ran sampo ku habis, kamu ada stok gak ?" Tanya Najwa.


"Sayang banget aku juga belum belanja bulanan Naj."


"Yah, gimana dong ?"


"Minta aja sama Umi ! Pasti dikasih kok."


"Ih, ya gak enak lah. Timbang sampo doang masa minta, aku beli aja deh !"


"Gak keburu Najwa, kamu ada lalarankan sama Umi ?"


"Ah iya bener juga," Jawab Najwa setelah berfikir ulang.


"Udah gih minta sama Umi aja sana !"


"Temeninlah !"


"Iya iya, aku temenin," Jawab Rania seraya geleng-geleng kepala.


Keduanya berjalan beriringan menuju rumah Umi seraya berbincang.


Najwa dan Rania adalah sahabat dari kecil saat ia dipertemukan disebuah halte saat mengamen dulu.


Berbeda dengan Najwa kala itu, ia lebih menginginkan bekerja untuk bisa menjadi orang yang sukses seperti orang-orang. Hingga hidupnya dipertemukan dengan sosok lelaki yang tak sengaja mengajaknya berbicara saat di taman kota.


Hidup bergelimang harta, Najwa pun merasakan kebahagian duniawi yang tidak ada kurangnya itu.


Namun takdir berkata lain, cobaan justru lebih berat ia alami dari kehidupannya sewaktu masih sendiri. Kemandulan, hingga membuat orang yang ia cintai satu persatu menjauhinya bahkan suaminya sendiri telah terang-terangan tidak bisa menerima kenyataan yang ada dan akhirnya memilih untuk berselingkuh.


"Kenapa diem ?" Tanya Rania yang menyadari sahabatnya itu hanya terbengong.


"Melupakan itu tidak semudah yang aku bayangkan ya Ran ?"


"Perlahan tapi pasti Naj, harus yakin kamu pasti bisa. Aku juga yakin kok, kebahagiaan akan datang padamu dan hal itu sudah kamu jemput Naj," Ucap Rania.


"Maksudnya ?" Tanya Najwa yang tidak memahami ucapan sahabatnya itu.


"Di pesantren ini. Aku yakin, bahagiamu ada dipesantren ini Najwa. Kamu hanya perlu bersabar untuk menunggunya."


"Aku tidak yakin," Jawab Najwa dengan helaan nafas yang panjang.


"Tapi aku yakin !" Jawab Rania.


"Entahlah, udahlah kok malah ngobrol kapan sampenya," Gerutu Najwa.


"Hehe, habisnya kamu duluan yang ngelamun."


Kini mereka telah sampai di rumah Umi Abibah. Dengan perasaan yang was-was, Najwa mendorong-dorong kecil tubuh Rania untuk berjalan lebih dulu di depannya.


"Ih sabar,"


"Kamu aja deh ! Aku takut," Jawab Najwa.

__ADS_1


"Assalammualaikum..."


Ceklek...


" Waalaikumsalam, eh dek Rania. Masuk Dek !" Titah Fatih.


"Syukron Gus," Jawab Rania seraya menunduk.


Fatih melihat Najwa seraya menahan tawanya. Seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal Ibunya dengan menarik-narik baju sang Ibu, Najwa mulai mengikuti langkah Rania untuk menemui Umi Abibah.


Ada-ada aja mbaknya...


"Assalammualaikum Umi..." Salam Rania disusul dengan Najwa di belakangnya.


"Waalaikumsalam, eh ada apa nak ?" Tanya Umi.


"Afwan Umi, apa Umi punya stok sampo ?" Tanya Rania.


"Ada Ran, kenapa ? Kehabisan sampo ya ?"


"Heheh iya Umi," Jawab Rania cengengesan sementara Najwa hanya menahan malu seraya terus menunduk.


"Ada Nak. Bila perlu mandi disini aja !"


"Eh, gak usah Umi, kita mandi di asrama aja. Iya kan Ran ?" Kali ini Najwa yang menjawab dengan menatap sahabatnya untuk mengiyakan ucapannya itu.


"Sebentar Umi ambilkan," Ucapnya dan Rania serta Najwa hanya mengangguk.


Tak lama kemudian, Umi Abibah muncul dari dalam kamarnya dengan tangan yang kosong.


"Maaf Mbak, ternyata sampo Umi juga habis."


"Yah gimana dong ?" Tanya Najwa.


"Di kamar Fatih sepertinya ada," Ucap Umi.


"Kamar yang biasa Mbak Najwa beresin," Ucap Umi lagi.


"Kali ini kamu yang ambil !" Bisik Rania.


"Tapi Umi__"


"Tidak apa-apa Mbak, Fatih juga tidak ada dikamar."


Najwa mengangguk, dengan langkah hati-hati penuh dengan pengelihatan yang tajam, Najwa menuju kamar Fatih untuk mengambil sampo.


"Huh, akhirnya dapet juga," Gumam Najwa saat berhasil mengambil sampo itu.


Najwa segera keluar dari kamar itu setelah berhasil mengambil apa yang ia butuhkan.


Saat keluar kamar dan hendak menutup pintu, tiba-tiba saja....


"Kyaaaaaaaaaa........."


💕💕💕Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya


Happy Reading guys...

__ADS_1


Bersambung💕💕💕


__ADS_2