
"Astagfirullahaladzhim..." Tangan Najwa terluka saat ia tengah mengiris buah.
"Kenapa mendadak perasaanku tidak enak ya ? Ya Allah semoga semuanya baik-baik aja," Ucapnya lagi.
Najwa melangkahkan kakinya untuk pergi kedapur seraya memikirkan perasaannya yang mendadak punya firasat buruk.
Namun suara telfon berhasil membuyarkan lamunan seorang Najwa.
No tidak dikenal
Ia begitu enggan menjawab nomor asing yang menelfonnya itu. Namun setelah beberapa kali ia diamkan, tiba-tiba saja...
Tring...
"Apa betul ini istri dari bapak Rehan ? Mohon untuk segera kerumah sakit Cahaya indah ! Karna beliau baru saja mengalami kecelakaan." Isi pesan itu.
Deg.....
Mas Rehan, ya Allah...Mas Rehan kecelakaan
Najwa segera turun menyusuri anak tangga seraya berlari kecil.
"Mbak mau kemana ?" Tanya Rara.
"Saya pinjem motor kamu sebentar ya ! Mana kuncinya ?"
Rara memberikan kunci motor miliknya pada bosnya itu.
"Mel, mbak Najwa kenapa buru-buru banget ya ?"
"Ada urusan penting kali," Jawab Amel yang memang tidak terlalu memperhatikan Najwa.
...... ......
...^^^ Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, Najwa berhasil memarkirkan motornya didepan rumah sakit Cahaya indah.^^^...
Ia segera masuk dan mencari ruang rawat suaminya itu.
"Maaf Sus, kamar no berapa saudara Rehan Alfariq dirawat ?" Tanya Najwa.
"Sebentar Bu, saya cek," Ucapnya dan Najwa pun mengangguk.
"Kamar no 15 sebelah kanan Bu !" Ucapnya lagi.
"Baik Sus, terimakasih."
"Sama-sama Bu..."
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Najwa menyusuri setiap koridor rumah sakit demi bisa mencapai kamar 15 tempat suaminya itu dirawat.
Ternyata disana sudah ada Karina yang tengah duduk menunggu.
"Karin....!"
"Ngapain kamu kesini hah ? Ini semua itu gara-gara mbak tau gak. Kalau aja mbak sendiri yang antar surat cerai itu, Mas Rehan gak mungkin kecelakaan kayak gini," Bentak Karina pada Najwa.
"Maafkan aku Rin, aku belum sanggup kalau harus bertemu dengan Mas Rehan," Jawab Najwa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Karna keputusan untuk meminta bercerai belum sepenuhnya mbak niatkan, benerkan ? Ck, mau sampai kapan pun aku gak akan sudi untuk berbagi ya mbak. Ingat itu !" Cecar Karina.
"Aku mohon Rin, izinkan kali ini yang terakhir untukku menemui Mas Rehan. Aku mohon Rin !" Pinta Najwa seraya bersujud dan menitikan air matanya.
"Sekali gak ya tetep gak ya Mbak. Udah deh sana pergi jauh-jauh ! Hadirmu tidak dibutuhkan lagi disini, pergi sana !" Karina mengusir Najwa tanpa memikirkan bagaimana saat Rehan sadar nanti.
Dengan linangan air mata, Najwa kembali membawa hatinya yang hampa.
Bahkan 1 kesempatan pun tidak akan Karina berikan untuk bisa bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
Tidak langsung pulang ketoko, Najwa berhenti disebuah taman yang terlihat sepi namun pemandangan yang cukup indah itu memanjakan matanya .
' Bahkan untuk menemui mu yang terakhir kalinya pun aku tidak bisa Mas, sejujurnya aku merindukanmu, sangat mas. Tapi banyaknya halangan untuk kita, hingga aku tak lagi bisa menembus rintangan itu. Semoga cepet sembuh Mas ! Aku pergi....' Gumam Najwa seraya mengusap air mata yang telah membasahi pipinya.
***
1 Jam telah berlalu, Rehan mulai menggerakkan jari serta membuka matanya perlahan.
"Na-najwa...." Ucapnya dengan nada yang sangat lirih.
Ceklek....
"Kamu sudah sadar Mas, syukurlah," Ucap Karina langsung mendekati Rehan yang masih terbaring lemah di atas brankar.
"Ha-haus Rin...."
"Karin ambilkan ya Mas, tunggu sebentar !"
Karina mengambilkan segelas air yang sudah tersedia di dalam sana.
"Minum Mas, Karina bantu !"
Rehan pun menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang dengan dibantu Karina.
"Terima kasih Rin," Ucap Rehan seraya memberikan gelas itu padanya.
"Sudah tugas Karina Mas. Oh ya, Papa Mama mau kesini Mas, mungkin sebentar lagi mereka sampai," Ucap Karina.
"Apa Najwa menjengukku ?" Tanya Rehan yang malah mempertanyakan kehadiran istri pertamanya.
' Ngapain sih Mas Rehan harus inget mbak Najwa ' Gerutu Karina dengan kesal.
"Tidak Mas. Mbak Najwa gak mungkinlah kesini, padahal Karina udah telfon tadi Mas. Mbak Najwa udah lupa mungkin sama kamu Mas, jadi ngapain juga Mas Rehan harus mikirin Mbak Najwa ?"
' Aku membutuhkanmu Najwa, Mas mohon sayang...cabut gugatan cerai itu. Mas janji akan bersikap adil antara kamu dan Karina '
"Rin, Mas ingin bertemu dengan Najwa sekali saja. Bisa tolong hubungi dia untuk menemuiku sekarang ?"
' Tidak akan kubiarkan kalian bertemu lagi. Bisa-bisa rencana yang selama ini ku susun akan sia-sia '
...Rehan tampak terlihat kecewa dengan jawaban Karina....
Memorinya berputar saat pertama kali ia berkenalan dengan Najwa di taman.
***
Flasback On
"Kalau mau nangis jangan sembunyi gitu dong, bila perlu teriak biar semua orang tau."
"Eh," Najwa mengusap air matanya seraya menggeser duduknya ke tepi bangku.
"Ini......!" Seseorang itu memberikan sapu tangannya pada Najwa.
Najwa mengambil sapu tangan itu dari tangannya. "Terimakasih."
Orang itu hanya mengangguk seraya menatap Najwa dengan penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa ? Kenapa bisa ada di taman dengan hari yang mulai gelap kayak gini ?" Tanyanya.
"Hiks hiks, huaaaaaðŸ˜ðŸ˜. Najwa kangen Ibu sama Bapak, Najwa lelah hidup sendiri. Najwa pengen nyusul Ibu," Ucapnya kembali menangis.
"Memangnya orangtuamu kemana ?"
"Mereka sudah ada di atas sana hidup dengan tenang tanpa beban,"
"Inalilahi, maaf aku tidak tau," Ucapnya yang mengerti maksud dari bicara Najwa.
__ADS_1
"HuaaaaaðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜, Ibu....." Najwa langsung berhambur memeluk seseorang yang tengah duduk disampingnya itu tanpa melihat siapa yang ia peluk.
Deg......
Detak jantungnya terpompa cepat, tidak dapat dipungkiri pelukan itu terasa hangat dengan sesuatu yang sangat menempel pada tubuhnya.
' Ya Allah, cobaan ini sangat berat. Uhhhh apa itu tadi yang menempel ? Rasanya kenyal '
Ia pun membalas pelukan Najwa dengan eratnya menikmati kehangatan yang lain dari pada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
15 menit, Najwa tersadar dengan sikapnya yang terlalu berlebihan itu.
"Astagfirullah, heiii kamu siapa ? Kenapa memelukku ?" Ucapnya seraya bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Bukannya kamu yang tadi memelukku, hem ? Enak ya, hangat" Godanya.
"Ish."
"Kenapa, mau lagi ? Sini !" Ia dengan sengaja merentangkan kedua tangannya meminta Najwa untuk memeluknya kembali.
Namun dengan kesal, Najwa menimpuk wajah lelaki itu dengan sapu tangan yang ia gunakan untuk mengelap ingusnya.
"Heiiiii, kenapa jorok sekali."
"Siapa suruh gombal."
"Boleh kenalan ?" Tanya lelaki itu.
"Kamu pasti Najwa kan ?" Tebaknya.
Mata Najwa melotot dengan lebar seraya menatap lelaki yang ada dihadapannya itu.
' Dia ini peramal atau bukan ? Kenapa bisa tau namaku ?'
"Tau dari mana ?" Tanya Najwa.
Lelaki itu hanya terkekeh melihat tingkah polos Najwa yang terkadang memang pelupa.
"Bukannya kamu menyebutkan namamu sendiri saat menangis dalam pelukanku, hem ?"
' Ya Tuhan, iya benar, isssss memalukan ' Gerutu Najwa.
"Kenapa ? Namamu cantik kok, seperti orangnya. Dan pelukanmu juga hangat ditambah lagi ada yang menempel," Ucapnya dengan terkekeh.
Najwa hanya menyembunyikan wajahnya dengan menunduk menahan malu.
"Aku Rehan !" Ucapnya seraya mengulurkan tangan.
"Najwa...." Najwa pun membalas uluran tangan itu.
Serasa ada gelenyar aneh dalam diri Rehan kala itu. Sudah banyak wanita yang pernah ia dekati, namun tidak ada yang sebegitu menarik seperti perkenalannya dengan Najwa.
Flasback Off
***
Air mata Rehan menetes begitu saja saat memori itu memutar dalam ingatannya.
Najwa yang dulu periang dan ceria, kini tidak lagi bisa ia melihat itu bahkan sosoknya sekalipun.
💕💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya
__ADS_1
Happy Reading guys
Bersambung💕💕💕