
Najwa telah memutuskan untuk menata hidupnya kembali seperti dulu disaat ia masih sendiri.
Keputusannya untuk menyerahkan tanggung jawab butik itu pada kedua karyawannya telah ia tekadkan.
Najwa ingin mendekatkan diri dengan yang maha kuasa untuk bisa memantaskan diri menjadi wanita yang berakhlak mulia.
Tidak ingin mengingat hal yang sudah-sudah, Najwa memilih untuk bertilawah kesalah satu pesantren abdian sahabatnya di kota K.
"Mbak hati-hati ya disana ! Pokoknya harus kabarin kita !" Ucap Amel seraya menitikan air matanya.
"Hu hu hu, Kenapa mbak Najwa harus pergi sih ?" Tambah Rara.
"Amel, Rara...saya hanya ingin berhijrah memantaskan diri saya untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi. Butik ini saya percayakan pada kalian, setiap bulannya kalian bisa mentransfer labanya kerekening saya. Jaga diri kalian baik-baik ya !" Ucap Najwa memeluk keduanya.
Selama ini, hanya mereka berdualah yang menjadi pendengar setia keluh dan kesahnya saat ia sudah resmi bercerai dengan Rehan.
Canda tawa keduanya adalah hiburan tersendiri bagi Najwa yang tidak lagi menemukan sosok penyemangat hidupnya.
Najwa memesan taksi online untuk mengantarkannya keterminal bus. Sesuai janji yang ia buat dengan Rania, sahabatnya yang telah mengabdi dipesantren selama bertahun tahun hingga kini ia berhasil menyandang gelar sebagai ustazah.
1 Jam lebih dari butiknya untuk sampai di terminal itu.
Najwa menghubungi nomor Rania yang akan menjemputnya disana.
π
"Assalammualaikum.."
"Waalaikumsalam, kamu dimana Naj ?" Tanya Rania.
"Aku udah sampe Ran," Ucapnya.
"Oke, tunggu disana ! Aku melihatmu."
Najwa mengakhiri panggilan telfonnya seraya menoleh kesana kemari mencari Rania.
"Assalammualaikum sahabatku,"
"MasyaAllah Rania, waalaikumsalam. Ya Allah ini beneran kamu Ran ?"
"Iya dong, terus siapa ?"
"MasyaAllah kamu berniqab, pantes aku cari kesana sini gak ketemu," Ucap Najwa terkekeh.
"Iya, kita makan dulu yuk !" Ajak Rania.
"Boleh."
Keduanya mencari rumah makan yang tidak jauh dari sana.
Dan disanalah Najwa menceritakan semua kisah hidupnya saat ia menikah dengan Rehan.
"Yang sabar Naj, Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuan. Percayalah dibalik takdir kehidupan yang kamu alami saat ini, suatu saat akan ada titik baliknya," Nasehat Rania.
"Terima kasih Ran, andai dulu aku mengikutimu. Mungkin saat ini kehidupanku juga akan jauh lebih baik dari ini. Sejujurnya aku tidak terlalu butuh kehidupan yang bergelimang harta, jika pada akhirnya membawa petaka dalam rumah tangga," Ucap Najwa.
"Tetap berdoa dan berusaha Naj, Allah tidak akan membiarkan hambanya berlarut-larut dalam kesedihan."
"Terima kasih Ran."
__ADS_1
Rania mengangguk seraya tersenyum dibalik Niqabnya.
"Kamu sendiri belum menikah ?" Tanya Najwa.
"Saat ini belum, insyaAllah tidak akan lama lagi."
"Yang bener Ran ? Sama siapa ?"
"Anak pemilik pondok pesantren Naj, tapi saat ini beliau tengah mengabdi di pesantren milik pamannya di kota B. Katanya sih disana kurang pengajar," Jelas Rania.
"Apa kalian sudah tunangan ?"
"Khitbah maksudmu ?" Najwa langsung mengangguk.
"Alhamdulilah sudah," Jawab Rania lagi.
"Wah alhamdulilah, bentar lagi calon pengantin dong hi hi hi," Goda Najwa seraya terkekeh.
"Bisa aja kamu Naj. Bentar lagi Bus berangkat, yuk balik keterminal lagi !"
"Siap..."
Najwa dan Rania kembali menuju bus yang akan membawanya hingga ke kota K.
5 jam perjalanan, sampailah mereka di kota K. Rania langsung menghubungi pihak pesantren untuk menjemputnya.
Setengah jam menunggu, kini jemputan itu telah siap dengan mobilnya. Seorang bapak paruh baya yang mengenakan pakaian ala santri itu membawakan tas Najwa dan memasukannya kebagasi mobil.
"Silahkan Neng !" Titahnya.
"Terima kasih Mang," Ucap Rania.
"Dia ini Mang Agung Naj, supir pesantren," Ucap Rania memperkenalkan seseorang yang tengah mengemudi itu.
1 Jam lamanya mereka diperjalanan, kini sampailah mobil itu pada sebuah gerbang besar bertuliskan Pondok pesantren Ar-rasyid.
"Yuk turun !" Ajak Rania.
Najwa hanya mengangguk. Ada perasaan was-was dalam benaknya, mengingat saat ini ia berada di tempat yang sangat ketat peraturannya.
"Ayo....!" Rania menarik tangan Najwa yang sedari tadi hanya bengong.
"Rumah siapa ini Ran ?" Tanya Najwa bingung dengan Rania yang membawanya kerumah seseorang.
"Ini ndalem Naj, yang artinya rumah pemilik pondok. Gak usah takut, mereka baik kok."
"Assalammualaikum..."
"Waalaikumsalam." Keluarlah seorang wanita yang umurnya sudah hampir 50 tahunan membuka pintu seraya tersenyum menyambut kedatangan kami.
"Masuk Mbak !" Titahnya.
"Na'am Umi, syukron," Jawab Rania.
Najwa hanya diam tak bergeming. Ia tidak mengerti dengan jawaban Rania atas ucapan seseorang yang ia panggil Umi itu.
"Ini orang yang Rania ceritakan Mi, beliau sahabat Rania."
"Assalammualaikum Umi, saya Najwa Almahira," Ucapnya mengikuti panggilan itu seperti sahabatnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, iya Umi sudah tau mbak. Rania sudah menceritakan tentang sahabatnya yang bernama Najwa itu. Umi tidak menyangka jika yang asli Najwa secantik ini," Puji Umi.
"Ini Umi Abibah Naj, semua orang disini memanggilnya Umi," Jelas Rania.
"Abah kemana Mi ?" Tanya Rania.
"Abah ada kajian di kampung sebelah Nak, mungkin sebentar lagi juga pulang."
"Umi, kalau boleh sahabat Rania dijadikan abdi ndalem saja sambil belajar agama. Dia malu di umurnya yang udah tua ini harus jadi santri katanya hi hi hi," Ucap Rania seraya meledek.
Umi Abibab ikut terkekeh mendengar ucapan calon menantunya itu.
" kenapa harus malu, kita sama-sama belajar. Kalau ada niat, tidak akan memandang usia tua atau pun muda,"
"Na'am Umi, tapi alangkah baiknya Najwa dijadikan abdi ndalem saja. Kan kalau Rania sibuk ngajar ada Najwa yang bantu-bantu Umi," Ucapnya.
"Iya Nak, umi tidak masalah. Nanti tidur sekamar sama kamu ya Ran !" Pintanya.
"Na'am Umi, kalau gitu kami keasrama dulu. Mungkin Najwa butuh istirahat."
"Iya Nak, kamu juga istirahat ya !"
"Na'am Umi, asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam."
Rania mengajak Najwa menuju asrama santriwati, lebih tepatnya menuju kamar yang Rania tempati.
"Semoga kamu betah ya Naj disini," Tutur Rania.
"Amin, bimbing aku ya Ran !"
"Siap sahabatku."
Najwa membaringkan tubuhnya diatas ranjang kecil yang hanya muat untuk satu orang saja seraya menatap langit-langit kamar itu.
' Disini aku mulai menata hidupku, jauh dari keramaian, kebisingan dan rasa duniawi.
Ibu, Bapak...doakan Najwa untuk memulai kembali hidup seperti yang kalian tunjukan.
Disini aku mulai melupakan sosok Mas Rehan yang selama 3 tahun mengisi hidupku....
' Aku tidak percaya lagi apa itu cinta, ketika hal yang lebih menarik telah datang, rasa cinta itu terkalahkan dengan rasa ketertarikan. Bahkan ketulusan pun tidak lagi bisa diperjuangan disaat rasa obsesi mulai berada di titik teratas.
Aku menutup hatiku untukmu para lelaki yang tidak mengerti arti ketulusan cinta tak bersyarat'
**Najwa Almahira
Ada yang bisa menebak bagaimana kehidupan Najwa selanjutnya ?
Takdir seperti apa yang akan menerpa hidupnya ketika ia memilih mengasingkan diri ditempat terpencil dengan ketatnya peraturan ?
ππTinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya...
__ADS_1
Happy reading guys**..
Bersambung πππ