Takdir Najwa

Takdir Najwa
Pemulung ( Penggombal Ulung )


__ADS_3

Najwa tak dapat berkutik setelah Fatih mengatakan hal yang membuatnya kembali bertanya dalam hati.


Ia tidak mengerti dengan sebuah ucapan yang Fatih lontarkan itu.


"Maksud Gus Fatih ?" Najwa kini berbalik seraya menghadap lelaki itu dengan pandanganya yang sedikit menunduk.


"Eh, itu anu, emmmm Mbak Najwa cantik. Eh...." Fatih merasa salah tingkah saat ia ingin mengatakan sesuatu sesuai isi hatinya.


Najwa hanya menggeleng-geleng kepala melihat bagaimana tingkah Fatih seolah seperti maling yang tertangkap basah.


"Afwan Gus, jika ingin merayu bukan pada saya tempatnya, tapi pada yang lebih berhak. Asalammualaikum."


"Mbak Najwalah yang lebih berhak !"


Lagi dan lagi, Najwa menghentikan langkahnya saat Fatih kembali mengatakan hal yang membuatnya sakit kepala.


"Siapa saya ?"


"Najwa Almahira," Jawab Fatih singkat.


"Ish bukan itu maksudnya, saya siapa untuk Gus Fatih ?" Najwa mulai jengah dengan ucapan lelaki itu.


"Calon Makmum," Jawabnya lagi. Najwa hanya mengeryitkan dahinya seraya mengusap kasar wajahnya.


"Saya tegaskan, saya bukan siapa-siapa untukmu Gus apa lagi calon Makmum mu ! karna itu tidak mungkin !" Ucap Najwa dengan tegas disisa rasa kesal yang mulai menjalar dibenaknya.


"Gak perlu marah Mbak, nanti cepet tua loh." Fatih melangkahkan kakinya mendahului tempat Najwa berdiri.


Kemudian ia kembali memundurkan langkahnya dan berkata " Tapi gak papa deh, asal menua bersamaku, ea... Asalammualaikum."


"Gus gesrek," Gerutu Najwa.


"Waalaikumsalam," Ucapnya kembali dan kemudian melangkahkan kakinya untuk kembali keasrama.


***


Najwa merebahkan sejenak tubuhnya itu di ranjang yang hanya muat untuk 1 orang seraya menatap langit-langit kamarnya.


Mengistirahatkan sejenak tubuh dan hatinya yang membuatnya penat juga sesak.


Menghembuskan nafasnya berkali-kali mencoba melupakan ucapan yang membuat ia kembali mengingat kejadian beberapa bulan lalu saat statusnya masih menjadi seorang istri.


Apa begitu buruk status seorang janda yang mandul ? Kenapa banyak sekali orang yang mencemohnya hanya karna status dan kepribadiannya ? Bukankah janda juga manusia yang punya hati, yang ingin dihargai keberadaannya tanpa dipandang sebelah mata ? Pikir Najwa.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Najwa dan membuatnya segera beranjak dari ranjang untuk membuka siapa yang datang kekamarnya.


"Asalammualaikum Mbak," Sapa salah satu santriwati.


"Waalaikumsalam, Afwan ada apa ya ?"

__ADS_1


"Afwan, Mbak dimintak untuk menghadap Umi !" Ucapnya.


"Na'am, saya akan kesana. Syukron sudah memberitahu," Ucap Najwa seraya tersenyum.


"Afwan Mbak, kalau begitu saya permisi. Asalammualaikum."


"Waalaikumsalam wr wb."


Selepas mendapat amanah untuk segera menghadap Umi, Najwa dengan ketegaran hati dan persiapan mentalnya segera beranjak menutup pintu kamarnya itu.


Ia berhenti tepat didepan kamarnya seraya menghela nafasnya berkali-kali.


"Bismillah, semoga Allah selalu melindungiku !" Gumamnya lirih menyemangati diri sendiri untuk tidak terlihat takut apa lagi sedih.


Kakinya melangkah menuju rumah ndalem. Dalam hatinya Najwa terus berkomat kamit merapalkan doa dan harapannya. Semoga tidak mendengar lagi cemohan dan celaan dari orang-orang mengenai statusnya itu.


Tidak dapat dipungkiri, jika hatinya itu mudah rapuh dan terluka.


Namun sebisa mungkin ia tidak menceritakan kepada siapapun masalah yang tengah ia hadapi terkecuali Rania, orang yang memang benar ia percaya sejak lama.


Najwa telah sampai tepat di depan rumah Abah Arif. Setiap kalimat doa tak henti-hentinya ia ucapkan dalam hati. Jujur saja, rasa takut untuk kembali menerima hinaan dari orang-orang begitu menghantui Najwa.


"Asalammualaikum...."


"Waalaikumsalam wr wb, masuk Mbak !" Titah Abah yang memang tengah duduk di ruang tamu.


Najwa mengangguk seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


"Afwan Abah, apa betul Umi menyuruh Najwa kemari ?" Tanyanya dengan hati-hati.


"Najwa permisi Bah," Pamitnya. Dan Abah Arif pun mengangguki ucapan Najwa sebagai jawaban iya nya.


Dengan langkah berat dan sedikit gugup, Najwa memijak kakinya menuju meja makan tempat biasa keluarga Ajengan itu berkumpul.


"Asalammualaikum Umi," Sapa Najwa dengan gugupnya.


"Waalaikumsalam, Mbak....." Umi langsung bangkit dari duduknya dan berhambur memeluk Najwa seraya menitikan air matanya.


"Maafkan Umi Mbak, Umi sudah sangat bersalah. Maafkan Umi !"


Najwa yang merasa kaget sekaligus tidak percaya dengan kejadian ini merasa bingung harus berbuat apa.


Tangannya perlahan membalas pelukan Umi Abibah meskipun sedikit ragu.


"Tidak papa Umi, Najwa memahami bagaimana perasaan Umi sebagai orang tua. Umi pasti ingin yang terbaik untuk Gus Fatih kan, apa lagi sahabat Najwa itu memang wanita yang sangat baik," Ucap Najwa.


Umi Abibah melepaskan pelukannya seraya menatap wajah Najwa dengan seksama. Wajah itu yang terlihat suram, seperti sudah lama tidak ada senyum yang menghiasinya.


Begitu banyaklah luka yang sudah dialaminya ya Tuhan ?


Kenapa wajah yang terlihat cantik ini begitu murung dan redup tanpa cahaya yang menghiasi sebagai penerangnya ?


Kumohon rubahlah takdir wanita ini untuk menjadi yang lebih teristimewa dari yang istimewa ! Gumam Umi dalam hati.


"Kamu juga wanita shalehah yang berakhlak baik Nak, Umi saja yang memandang sebelah mata karna status dan keadaanmu saat ini. Maafkan Umi !"

__ADS_1


Umi Abibah tak dapat menghentikan isak tangis rasa bersalahnya pada Najwa. Ia kembali memeluk tubuh yang lelah itu dan berkali-kali menciumi keningnya layaknya seorang Ibu yang memberikan sebuah curahan kasih sayang pada anaknya.


'YA Tuhan, bolehkah aku menganggap wanita yang tengah memeluk ku ini, Ibuku ? Aku merindukan pelukan dan ciuman hangat dari seorang Ibu untuk puterinya.


Apa aku boleh berharap Ya Allah ?' Gumam Najwa yang juga ikut menitikan air matanya membalas pelukan Umi Abibah.


"Kamu kenapa Nak ?" Tanya Umi yang menyadari bahwa Najwa juga ikut menangis.


"Bolehkah aku menganggap Umi sebagai Ibu ku, Aku merindukan Ibuku Umi. Hiks hiks Aku rindu Ibu."


"Ya Allah, sini sayang ! Anggaplah Umi ini adalah ibumu juga. Maafkan Umi Najwa !"


Lagi dan lagi kata maaf Umi lontarkan seraya memeluk wanita yang malang ini.


"Ehem, Umi apakan calon makmum Fatih ?"


Umi langsung melepaskan pelukannya dan beralih menatap Fatih yang tengah menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tubuh yang menyender di pintu masuk.


"Saya bukan calon makmu mu !" Tegas Najwa seraya mengusap air matanya yang membasahi pipi mulusnya.


"Jodoh loh, Mbak ! Gimana dong ?" Goda Gus Fatih seraya mengedipkan sebelah matanya pada Najwa.


"Fatih, gak boleh goda perempuan kayak gitu. Belum halal !" Tegur Umi Abibah.


"Berarti boleh dong dihalalin, Umi ?"


"Gak usah didengerin pemulung kayak dia Umi !" Sahut Najwa dengan kesalnya.


"Hah, pemulung ?"


"Iya pemulung, Penggombal Ulung." Jelas Najwa di kalimat terjemahannya.


Umi Abibah hanya cengengesan seraya geleng-geleng kepala melihat perdebatan Najwa dengan anaknya itu.


"Apa mereka akan berjodoh ? Ya Allah, berikanlah kebahagian untuk keluarga kami ' Gumam Umi seraya menatap keduanya.


"Hei Ukhty, pemulung inilah yang akan jadi teman hidupmu !"


"PD. Hey Gus pemulung, saya tidak butuh teman hidup gesrek seperti anda !"


💕💕Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya...


Ikan hiu


Muter-Muter...


Pusing dong hi hi hi🤭


Happy Reading guys..

__ADS_1


Bersambung💕💕💕


__ADS_2