
Rehan masih tak percaya dengan kenyataan yang dialaminya, bagaimana mungkin hal ini terjadi dalam kehidupan rumahtangga bersama sang istri.
Dengan langkah gontainya, ia pergi kekantor tanpa sarapan. Hal itu membuat Najwa semakin terluka, pasalnya ini baru pertama kalinya Rehan pergi kekantor tanpa sarapan bersamanya dirumah.
" Apa sebegitu bencikah kamu sama aku Mas ? Kenapa kau mengabaikanku saat ini, aku butuh dukunganmu saat semua orang telah mencaci makiku Mas. Tolong jangan salahkan aku atas ketidaksempurnaanku ini." Ucap Najwa lirih seraya menatap punggung suaminya yang semakin menjauh.
Tes...
Tes...
Tes...
Entah berapa banyak lagi air mata yang harus Najwa keluarkan dalam menghadapi kehidupannya saat ini.
Disaat semua orang menjauhinya, mencaci maki dirinya, kini suami yang sangat sayang padanya pun telah berubah seiring berjalannya waktu. Tidak ada lagi yang peduli keadaan hatinya sekarang, bahkan ia sendiripun sangat tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Namun sekali lagi, hal ini terjadi harus menyalahkan siapa ? Siapa yang harus bertanggung jawab dengan kenyataan ini ?
Seperti biasa, Najwa beberes rumah setelah suaminya berangkat kekantor.
Tak lupa ia juga membeli sayur dipenjual keliling yang setiap harinya selalu mangkal dikomplek rumahnya.
" Mbak Najwa, masih belum hamil juga ya ?" Tanya salah satu pembeli.
" Belum Ibu, mohon do'anya !" Jawab Najwa ramah seraya tersenyum.
" Do'a aja gak cukup mbak, usaha juga perlu. Coba mbak Najwa sama pak Rehan cek kedokter, biar ketahuan alesannya kenapa dan segera diobatin !"
Deg......
Lagi-lagi perkataan tetangganya selalu mengoyak dalam dada Najwa, ingin rasanya ia menangis sejadi-jadinya disana, namun ia tahan mengingat kini tengah ramai pembeli.
" Gak boleh ngomong gitu Bu Ibu, mungkin karna belum dikasih kepercayaan sama yang maha kuasa." Sambung sipenjual sayur.
" Tapi mbak Najwa ini nikah udah 3 tahun loh buk, masa iya belum hamil juga kalau keduanya subur ."
" Iya betul..."
" Betul mbak Najwa, suami bisa berpaling kewanita lain kalau kita gak bisa ngasih keturunan untuknya." Seru yang lain.
" Insya Allah gak Bu, saya percaya suami saya. Kalau begitu saya duluan, Asalammualaikum..."
" Waalaikumsalam..."
...Najwa terus melangkah pulang dengan tatapan yang kosong. Hingga sebuah motor yang melintas pun menyerempetnya....
" Astagfirullah......"
" Ya allah, maaf mbak saya gak sengaja. Mari saya bantu !" Ucap lelaki itu.
" Tidak papa Mas, maafkan saya karna melamun "
" Rumah mbak dimana ? Biar saya bantu bawa belanjaannya !"
" Tidak perlu mas, terima kasih sudah deket kok."
" Oh ya sudah, sekali lagi saya minta maaf mbak..."
" Tidak papa mas ."
__ADS_1
Najwa kembali melangkahkan kakinya menuju rumah. Setelah sampai, ia langsung meletakan belanjaan itu kedapur tanpa menatanya.
Ingatannya kembali pada ucapan para tetangganya, tak mau lagi berlarut-larut dalam kesedihan, Najwa memutuskan untuk segera memasak mengingat sudah biasa suaminya pulang untuk makan siang bersama.
***
Dikantor, terlihat Rehan tengah sibuk dengan beberapa berkas diatas mejanya.
Tok
Tok
" Masuk !"
" Selamat siang pak Rehan ."
" Siang Ki, kenapa ?" Tanya Rehan tanpa menoleh asisten pribadinya itu.
" Saya mau mengantarkan nona ini pak, beliau adalah sekertaris baru anda !"
Deg......
" Ka-karin
" Rehan....."
" Apa bener kamu Karina ?" Tanya Rehan penasaran.
" Iya ini aku Karina Re..." Jawabnya tersenyum.
" Ya Allah maaf maaf, aku hampir saja tidak mengenalimu."
" Baik pak, permisi...." Jawab Riki. Dan Rehan pun mengangguk.
" Silahkan duduk Rin !" Titah Rehan dan Karin pun mengangguk tersenyum.
" Kamu apa kabar Re, denger-denger udah nikah ya ?" Tanya Karin.
" Kabar baik Rin, iya aku udah nikah ." Jawab Rehan sedikit lesu.
" Kok jadi lesu gitu, kenapa cerita dong sama aku, kitakan sahabat !" Ucap Karin tersenyum seraya meyakinkan Rehan.
Karina adalah teman Rehan sewaktu ia kuliah dulu. Mereka sempat dekat bahkan sangat dekat, hingga beberapa teman kampusnya mengira bahwa Karin dan Rehan memiliki hubungan khusus. Namun semua itu adalah salah, Karin dan Rehan hanya sebatas sahabat karna Karin pun telah memiliki kekasih waktu itu.
... ...
... " Aku bingung harus menceritakan dari mana Rin ." Jawab Rehan yang terlihat menghembuskan nafasnya berkali-kali....
" Santai aja Re, cerita dari awal pastinya..." Jawab Karin terkekeh.
" Kamu masih sama seperti dulu ya Rin, harus tau apa masalah yang tengah aku hadapi !"
" Iya dong kita kan sahabat, selalu ada duka atau pun duka. Iya gak ?" Karin mengedipkan sebelah matanya pada Rehan.
Kamu tambah cantik Rin
" He he I-iya..." Jawab Rehan salah tingkah.
__ADS_1
" Istriku dinyatakan mandul Rin, dia tidak bisa memberiku seorang anak. Apa yang harus aku lakuin Rin ?" Ucap Rehan dengan tatapan sendunya.
Karin bangkit dari duduknya dan mendekati Rehan seraya mengelus pundaknya.
" Sabar Re, ada hikmah dalam setiap cobaan yang kita hadapi. Jalani saja seperti biasa, istrimu butuh dukungan Re, jangan tinggalkan dia disaat dia sendiri pun merasa terluka !"
" Aku memang sedikit kecewa Rin, tapi harus siapa yang kusalahkan dalam kekecewaanku ini.."
" Tidak perlu menyalahkan siapapun Re, ini sudah takdir yang harus kalian terima."
" Yang sabar ya !" Ucap Karin lagi.
" Terima kasih Rin, aku sedikit lega setelah membagi masalahku denganmu. Boleh aku meminta no ponselmu Rin ?"
" Boleh dong, nih...." Karin memberikan ponselnya pada Rehan.
" Save ya...!" Pinta Rehan setelah mengetikan nomor nya pada ponsel Karin.
" Siap...." Ucap Karin seraya tersenyum.
" Udah jam 1 nih, gimana kalau kita makan siang bareng !" Usul Rehan pada Karin.
" Boleh, kebetulan aku juga laper he he ."
" Ya udah yuk !" Ajaknya dan Karin pun mengangguk.
Sementara dirumah, Najwa tengah menunggu kepulangan suaminya sambil terus menatap jam dinding yang tak jauh dari duduknya.
Najwa terus menghubungi nomor suaminya namun tidak ada jawaban.
" Mas Re kemana sih, biasanya jam segini dia udah pulang buat makan siang." Gumam Najwa seraya terus menghubungi Nomor Rehan.
" Apa aku antar aja ya kekantornya, emmmm iya deh antar aja, mungkin mas Re sibuk."
Najwa segera menyiapkan rantang dan mengisi makanan untuk suaminya.
Namun sebelum itu ia telah memesan taksi online untuk mengantarnya kekantor.
...... Tak membutuhkan waktu lama, Najwa telah sampai didepan kantor suaminya itu. Karna semua karyawan sudah mengetahui bahwa Najwa adalah istri dari bos mereka, maka kedatangannya pun disambut dengan penuh hormat.......
" Siang Buk Najwa...." Sapa semua karyawan yang melihatnya.
" Siang....." Jawab Najwa ramah seraya tersenyum.
Najwa segera masuk dalam lift dan menekan tombol angka 13 untuk bisa sampai diruangan suaminya.
" Siang Buk ." Sapa Riki.
" Siang Ki, apa suami saya ada ?" Tanya Najwa sebelum masuk dalam ruangan suaminya.
" Maaf Bu, pak Rehan tengah makan siang."
" Makan siang ?" Tanya Najwa sekali lagi dan dijawab anggukan oleh Riki.
" Sama siapa ?"
" Kalau tidak salah, Karina Buk. Dia sekertaris baru pak Rehan, katanya teman kuliah bapak dulu.." Jawab Riki sopan.
__ADS_1
Deg.......
' Apa kamu tidak mengingatku yang selalu menunggu saat makan siang Mas ?'